Kekhawatiran Akmal
Tiara bersyukur ia masih mempunyai alasan untuk keluar dari tempat tinggalnya, yakni berkuliah. Tentu Tiara akan memanfaatkan waktu tersebut dan tidak langsung kembali ke rumah ketika perkuliahan sudah selesai.
Tiara sedang berada di kantin bersama Adrian dan Sandi sembari menunggu kelas selanjutnya dimulai. Biasanya Valdo selalu menempel dengan Sandi, tapi entah kemana perginya bocah itu kali ini. Kalau ada Valdo, mugkin cowok itu jadi yang paling ingin tahu soal pernikahan Tiara dan malam pertamanya. Tentu Tiara akan malas menjawab pertanyaan itu.
“Pulang ngampus lo nggak bareng Akmal lagi dong Ra?” tanya Adrian sebelum ia menghembuskan asap rokoknya. Memang biasanya Tiara pulang kampus bareng Akmal karena rumahnya dan Akmal searah dan jaraknya cukup dekat.
“Ada Akmal suruh matiin tuh rokok,” Sandi memperingati Adrian. Dengan berat hati cowok itu pun menurut. Adrian mematikan rokoknya yang baru ia hisap setengahnya itu. Biasanya tidak lama Akmal akan datang dimana itu ada Tiara.
Tiara merasakan pundaknya ditepuk dan ia langsung menoleh pada sosok yang kehadirannya saat ini tidak ia harapkan. “Gimana Ra, nikah enak nggak?” seru Valdo.
Valdo mengambil tempat duduk di sampingnya dan menaruh tasnya di atas meja. Pria itu tersenyum pada Tiara dan minta perempuan itu untuk menjawab pertanyaannya.
“Nggak enak, karena nggak sebebas sebelum nikah,” jawab Tiara apa adanya.
“Yahh, bakal susah nongkrong lagi dong sama kita,” celetuk Sandi sambil nampilin wajah sok sedihnya.
“Nanti gue pulang bareng sama Akmal,” celetuk Tiara.
“Akmal kayaknya sampe malem di kampus Ra, soalnya dia ada rapat. Dia kan ketua pelaksana acara untuk orientasi maahasiswa baru,” ujar Adrian.
“Iya, gue nunggu Akmal selesai rapat dulu,” timpal Tiara menanggapi ucapan Adrian.
***
Tiara dan Akmal berjalan bersisian menuju parkiran motor yang berada di belakang gedung fakultas mereka. Setelah selesai dengan rapat kepanitiannya, Akmal menepati janjinya untuk pergi berdua dengan Tiara.
Mereka sampai di parkiran dan Akmal pun memberikan sebuah helm bogo berwarna putih kepada Tiara.
“Masih lo bawa aja nih helm,” celetuk Tiara setelah selesai memakai helm di kepalanya.
“Eangnya lo nggak mau pulang bareng gue lagi?”
“Lo lupa gue udah jadi istri orang,” gumam Tiara diiringi tawanya sebelum Akmal menancapkan kunci di motornya.
Akmal menghadap Tiara dan tangannya bergerak memastikan pengait helm milik Tiara telah terpasang dengan sempurna.
“Ra, jangan buru-buru ngejalanin rencana ini,” Akmal wajahnya menampakkan kekhawatiran. Tiara mengerti arah kalimat yang diucapkan oleh Akmal tersebut.
Tiara mengulas senyumnya untuk meyakinkan Akmal semuanya akan baik-baik saja. Tiara menceritakan pada Akmal mengenai perjanjian yang telah ia sepakati dengan Aryo. Perjanjian itu berguna untuk mencegah resiko buruk yang bisa terjadi selama mereka menjalankan rencana.
“Jadi lo punya perjanjian sama dia?”
“Hmm. Gue akan berusaha untuk dapetin informasi tanpa Aryo curiga dan tau soal rencana kita.”
“Gimana caranya lo dapet informasi itu kalau ada jarak antara lo sama dia karena perjanjian itu?”
“Gue bisa ngelakuinnya dengan cara yang halus. Kayak yang di bilang dosen kita di mata kuliah marketing, it's called soft selling.”
“Gimana cara kerjanya?”
“Sekarang gue adalah istrinya. Pertama, gue akan bikin Aryo percaya sama gue dan pelan-pelan hubungan kita. Terus gue akan cari informasinya saat gue udah punya akses kesana. Nanti kita bahas ini lagi, kita harus berangkat sekarang nanti kita telat nontonnya lho,” Tiara menepuk pundak Akmal untuk menyadarkan cowok itu dari diamnya.
“Tunggu, Ra.” Akmal menahan pergelangan tangan Tiara dan menatap tepat ke manik mata coklat gelap milik gadis itu.
“Kenapa?”
“Gue cuma takut lo salah langkah dengan ngambil cara ini. Gue nggak bodoh untuk mengerti maksud kata-kata lo, Tiara.”
“Lo khawatir soal apa?” Mereka saling bertatapan dan Tiara tidak mengerti dimana letak kekhawatiran sahabatnya itu.
Akmal menggelengkan kepalanya, kemudian ia menancapkan kunci pada motornya dan meminta Tiara naik ke boncengan. Tiara yang tidak mengerti perkataan cowok itu hanya menurut dan naik ke boncengan motor milik Akmal.
***
“Makasih ya, hari ini udah nemenin gue,” ujar Tiara setelah mengembalikan helm yang ia pakai kepada Akmal.
“Gue masuk dulu ya, lo hati-hati di jalan Mak,” timpal Tiara sebelum berjalan ke arah bangunan yang saat ini menjadi tempat tinggalnya. Tiara meminta Akmal menurunkannya di jarak seratus meter lebih dari bangunan tingkat tiga itu.
“Tiara,” Akmal memanggilnya dan Tiara menoleh. Akmal turun dari motornya lalu berlari kecil untuk menghampirinya.
“Ada yang ketinggalan Mal?” tanya Tiara dan Akmal hanya menggeleng sebagai jawaban.
“Ohiya, anak-anak bilang satu bulan kedepan lo bakal sibuk ya sama acara.” Tiara teringat pembicaraan di kantin siang tadi dengan teman-temannya.
“Gue bakal sedikit sibuk. Tapi kalau ada apa-apa, lo bisa hubungin gue Ra,” ucap Akmal yang dijawab Tiara dengan sebuah anggukan. Akmal mengarahkan tangannya ke puncak kepala Tiara lalu menepuk pelan disana dan mengusapnya sekilas.
“Gue bakal kangen lo dan semua memori yang kita punya. Mungkin sekarang kita nggak bisa kayak dulu. Apa gue kedengeran kayak orang yang egois, Ra?”
“Kita tetep bisa kayak dulu kali, Mal. Selama lo bisa jagain gue, Aryo bolehin gue punya kebebasan sesuai dengan perjanjiannya,” jelas Tiara.
Keduanya pun sama-sama mengulas senyum, lalu Tiara sungguhan harus masuk. Akmal membiarkan Tiara pergi dari hadapannya dengan perasaan khawatir yang sebenarnya akan selalu ia sematkan untuk gadis itu.
Apalagi mengingat Tiara harus menyimpan rekaman memori pahit mengenai masa lalunya. Tiara adalah teman masa kecilnya yang perlahan memasuki relung hatinya. Perasaannya kepada Tiara berubah menjadi perasaan antara laki-laki dan perempuan yang sudah sama-sama dewasa.
Akmal tidak pernah menduga ia akan mencintai sahabatnya seperti ini. Gadis kecil yang dulu sangat ingin ia lindungi, kini sudah bertumbuh dewasa dan begitu cantik. Akmal bukanlah pria beruntung yang menikahi gadis itu. Namun disatu sisi, Akmal ingin mewujudkan keinginan Tiara, agar gadis itu tidak mendapatkan mimpi buruknya lagi.
Ketakutannya mengenai rencana Tiara barusan terasa terlalu berlebihan dan tidak berdasar untuk saat ini. Pria itu menyisir kebelakang rambut hitam legamnya dengan jari-jari tangannya sembari menghembuskan napasnya panjang. Sebelum pergi dari sana, Akmal memastikan punggung kecil Tiara tidak terlihat lagi oleh jarak pandangnya.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷