Kenangan Masa Lalu dan Tempat Ternyaman

Aryo masih ingat kapan terakhir kali ia minum dan itu sudah cukup lama. Malam itu adalah malam dimana ia bertemu kembali dengan Tiara. Hubungannya dan Aurorae telah berakhir beberapa hari sebelumnya. Aryo merasa dirinya begitu brengsek dengan tiba-tiba mencium Tiara, tiba-tiba jatuh cinta, dan berakhir mengajak Tiara menikah, padahal mereka baru saja mengenal.

Malam ini Tiara mengambil keputusan yang tidak Aryo sangka. Tidak pernah terbesit di pikiran Aryo, bahwa Tiara lah yang justru membiarkannya menyentuh kembali benda-benda dari masa lalunya. Padahal Aryo telah mencoba untuk tidak kembali, demi dirinya dan keluarga kecilnya.

Di basement rumahnya, Aryo menuju ke salah satu ruangan yang cukup besar. Ia membuka pintunya dengan 4 buah kode angka.

Aryo memasuki ruangan itu dan matanya langsung di suguhkan pemandangan botol-botol minuman yang disusun apik di dalam lemari bersekat. Benda-benda yang ia simpan apik layaknya koleksi dan dulu begitu ia gemari.

Ruang Penyimpanan Minuman Aryo

Aryo menyapukan pandangannya dan ketika menangkap salah satu minuman yang ia ingat memiliki harga fantastis itu, ia segera mengambilnya. Itu adalah Russo Baltique Vodka, minuman alkohol termahal dari Rusia yang dikemas dengan botol keemasan yang berukuran cukup besar. Bahkan tutup botolnya sendiri terbuat dari emas murni.

Aryo membawa minuman senilai 14M itu menuju meja bar yang terletak di sudut area basement. Di sana Tiara sudah mengambilkan sebuah gelas sloki untuknya.

“Mau aku tuangin buat kamu?” tanya Tiara.

Sure,” ujar Aryo mempersilakan Tiara. Sementara istrinya menuangkan minuman untuknya, Aryo mengambil salah satu vape miliknya.

“Ra, aku nggak mau ngevape di depan kamu. Habis aku minum, kamu ke kamar aja ya. Nanti aku nyusul,” tutur Aryo.

Tiara pun mengangguk setuju. Gelas sloki yang telah ia isi dengan minuman berwarna kuning itu, ia geser untuk mendekat pada Aryo. Mereka duduk berhadapan di batasi sebuah meja bar melingkar.

Bar Table

Aryo menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku lalu ia mengambil gelas sloki di hadapannya. Ini kali pertama ia minum di hadapan Tiara, padahal ia telah berjanji pada dirinya untuk meninggalkan masa lalu yang kurang baik.

Aryo menatap Tiara sejenak sebelum akhirnya meneguk vodkanya. Aryo hanya meneguk satu tegukan dan minuman itu masih tersisa di gelasnya.

“Nggak dihabisin?” tanya Tiara setelah lima detik tidak ada tanda-tanda Aryo kembali meneguk minumannya.

Aryo terdiam dan menundukkan kepalanya. Terdengar helaan napas beratnya dan Tiara hanya membiarkan itu terjadi. Kedua lengan Aryo bertopang di atas meja, lalu ia menjauhkan gelas sloki itu dari hadapannya.

Tidak lama kemudian, Aryo membawa gelasnya dan membuang isinya ke wastafel. Tiara yang menyaksikan itu sedikit terkejut, pandangannya pun tidak lepas dari Aryo, sampai pria itu kembali ke kursinya.

“Kadang aku masih kepikiran masa lalu aku, Ra. Tapi sekarang aku sadar, semua ini cuma keinginan sesaat. Aku nggak butuh mereka untuk bersandar atau melampiaskan apa pun. Aku nahan itu dan melakukannya atas kehendakku sendiri. Tapi delapan puluh persennya ada campur tangan kamu. Aku mau jadi lebih baik untuk kamu, dan juga calon anak kita,” ujar Aryo sambil menatap Tiara. Tiara balas menatapnya dengan tatapan bahagia bercampur terharu, dimatanya nampak kilatan air mata yang siap tumpah.

Aryo mengatakan bahwa dirinya sempat merasa begitu jatuh, tapi ia memang tidak menunjukkan itu di hadapan siapa pun. Hanya di hadapan Tiara, ketika perempuan itu datang padanya, Aryo dapat menunjukkan sisi tergelapnya. Tiara adalah tempat Aryo menyandarkan kepala, tempat ternyamannya untuk menangis dan mengungkapkan semua yang ia rasakan.

Tiara bergerak dari kursinya dan memutari meja untuk berhadapan dengan Aryo. Ia menatap lembut sosok pria yang dicintainya itu.

“Pemimpin nggak memilih tahtanya sendiri. Aku percaya kamu akan nemuin cara untuk buat perusahaan jadi lebih baik. Sebagai istri kamu, aku juga punya cara dan ternyata itu berhasil,” ujar Tiara.

“Maksud kamu?” tanya Aryo yang tidak paham maksud kalimat terakhir Tiara.

“Aku mau biarin kamu untuk coba benda-benda ini lagi. Aku yakin kamu akan tahu sampai mana batasnya. Kenyataannya kamu yang memutuskan sendiri, kalau kamu nggak membutuhkannya lagi,” jelas Tiara.

“Jadi kamu sengaja?” Aryo melebarkan matanya lalu ia tertawa. Detik berikutnya, Aryo menyunggingkan senyum tipisnya dan kini Tiara yang justru menjadi sedikit panik. Tiara mencoba menepis pemikiran itu. Ah, mungkin saja hanya dirinya yang merasakannya.

“Tiara,” ujar Aryo.

“Apa?”

“Kok kamu keliatan gugup gitu?” Aryo menyipitkan matanya dan menatap Tiara intens.

“Ya, habis kamu liatin aku kayak gitu.”

“Kayak gimana? Aku selalu ngeliat kamu kayak gini, kan?” ujar Aryo dengan seringai di bibirnya.

Tanpa aba-aba, Aryo menghela tubuh Tiara sehingga perempuan itu duduk di atas meja bar. Kemudian Aryo meletakkan kedua lengan kekarnya di kedua sisi tubuh Tiara, hingga Tiara tidak punya ruang untuk lolos.

Aryo meminta Tiara untuk menunggunya sebentar. Tiara tidak kepikiran apa yang akan Aryo lakukan, katanya sih cuma sebentar. Tiara menunggu Aryo kembali dan perasaannya menjadi gugup. Saat Aryo kembali, Tiara menangkap sepasang mata sayu Aryo tengah menatapnya.

Aryo menghela pinggangnya agar Tiara mendekat padanya. Kemudian dengan satu tangannya, Aryo mengusap lembut di area sekitar leher Tiara. Aryo menatapnya seolah meminta izin. Mau tidak mau Tiara menyemburkan tawanya yang terdengar agak tertahan itu.

Tiara pun mengangguk dan senyum kecil terbit di wajahnya. Aryo mengulaskan senyumnya sebelum mulai menyesap bibir Tiara. Tangan Aryo masih setia di lehernya, mengisyaratkan pada Tiara untuk tetap berada di posisinya. Menggunakan kedua lengannya, Tiara pun menarik Aryo mendekat hingga tidak ada lagi jarak diantara keduanya.

Aryo dan Tiara Kissing

Napas keduanya saling beradu dan hembusan itu terasa membangkitkan gairah mereka. Saat bibir Aryo dan Tiara menjauh sesaat, Tiara mengernyitkan alisnya.

“Aku kira rasa vodka, ternyata mint,” bisik Tiara di dekat Aryo.

I already cleaned it, Sayang. Aku kira kamu nggak akan suka rasa vodka,” balas Aryo.

“Yaa, aku kan nggak bisa rasain vodka langsung. Aku penasaran deh sama rasanya,” ujar Tiara sambil mencebikkan sedikit bibirnya.

Should I bring vodka to you?

What do you mean?

“Kamu mau rasain vodka, right? Tapi kata dokter kamu nggak boleh, Sayang. Kamu kan lagi hamil. So I'm going to show you, how you get the taste without you actually drinking it.

Tiara tidak tahu kini sudah semerah apa wajahnya. Darahnya seperti mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala dan seluruh permukaan kulitnya terasa menghangat. Setelah mengalihkan tatapannya dari Aryo karena perasaan gugupnya, kini Tiara kembali menatap lelakinya. “I'm pretty curious about that. You can show me how then.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷