Konsekuensi dari Sebuah Perbuatan
Dua hari yang lalu, Nayna menyampaikan niatnya pada Karin untuk menemui Kina. Nayna bilang ia akan turun tangan, ia ingin memberitahu Kina agar perempuan itu tahu batasannya. Sudah cukup Kina mengganggu hubungan Aryan dan Karin. Sesuai tekadnya sejak awal pernikahan kakaknya, Nayna akan menjadi garda terdepan untuk mendukung hubungan kakaknya dengan Karin.
Nayna sudah mengetahui bahwa Aryan dan Karin membatalkan niat mereka untuk membawa kasus Kina ke jalur hukum. Awalnya Nayna sudah setuju dengan keputusan itu, toh mereka memiliki bukti yang kuat kalau sewaktu-waktu ingin menjebloskan Kina ke penjara. Namun Kina kembali berulah. Ia mengirim ancamana bahwa dirinya akan menyebarluaskan foto-fotonya bersama Aryan di masa lalu.
Saat Nayna berencana menghampiri Kina secara langsung, Karin menyampaikan rencana yang ia milikinya. Nayna akhirnya setuju, ia akan menjalankannya sesuai dengan yang Karin beritahu padanya. Rupanya mengenali lawan adalah hal yang sangat dibutuhkan sebelum menjalankan aksi, tentunya dibarengi juga dengan rencana yang matang dan terperinci.
Siang ini di parkiran basement Universitas Pelita Bhakti, Nayna sudah menunggu kemunculan Kina di sana. Rupanya perkiraannya cukup tepat, sepuluh menit setelah menunggu, Nayna mendapati sosok Kina berjalan keluar dari lift.
Tepat saat Kina mengarahkan kunci di tangannya ke arah mobil miliknya, Nayna sudah muncul di hadapannya. Kina yang mendapati kehadiran Nayna di sana, melemparkan tatapan datarnya, seolah merasa tidak ada urusan yang penting yang perlu diselesaikan di antara dirinya dan Nayna.
“Kak Kina, you have a business with me. Let me to say it to you,” ucap Nayna sambil menatap Kina tepat di matanya. Tatapan Nayna terasa mengintimidasi, tapi Kina berusaha tidak memperlihatkan kelemahannya.
Saat Kina ingin membuka pintu mobilnya, Nayna menahannya. Rupanya perempuan delapan belas tahun itu cukup kuat, pikir Kina.
Kina nampak kesal, ia akhirnya menyerah dan membatalkan niatnya untuk pergi begitu saja dari hadapan Nayna.
Nayna berdeham sekali, lalu menatap Kina dari atas sampai bawah. Tentu perilaku Nayna tersebut dapat membuat Kina merasa terintimidasi. Nayna kemudian mengangkat dagunya sedikit, lalu ia mengulaskan senyum tipis di wajah cantiknya.
“Awalnya kak Aryan udah mau bawa kasusnya jalur hukum, tapi Kak Karin yang cegah itu semua. Satu hal yang perlu Kak Kina tau, aku bisa kapan aja bongkar kasusnya, sekali pun kak Karin yang akan larang aku. Aku bisa ngelakuin itu, kalau Kak Kina masih ganggu hubungan kak Karin dan kak Aryan.”
Nayna menjeda ucapannya selama beberapa sesaat. Nayna berdeham sekilas, lalu ia kembali bersuara, “Dari awal, waktu keluargaku tau apa yang udah Kak Kina lakuin, mereka udah punya niat kuat buat bawa kasusnya ke pihak berwenang. Tapi Kakak beruntung karena kak Karin bersikap baik ke kakak, orang yang dulu pernah kak Karin anggap sebagai teman.”
“Soal foto Kakak dan kak Aryan, silakan kalau mau nyebarin itu. Tapi aku yakin, Kak Kina tau banget soal background keluargaku. Aku akan berusaha bawa kasusnya ke jalur hukum, toh papaku mau bantu semua prosesnya.” Mendengar rentetan kalimat Nayna, Kina pun nampak mengepalkan tangannya dan raut wajahnya tampak begitu kesal.
“Nayna, kamu ngerti apa. Kamu masih kecil. Kamu tau, Karin udah membodohi Aryan dan keluarga kalian—”
“Kak, you better shut up. Stop talking or you will be regret someday,” potong Nayna sebelum Kina sempat menyelesaikan ucapannya.
“Do everything want you want to do,” ujar Nayna dengan tatapannya yang masih intens tertuju ke Kina. Perempuan berambut sebahu itu lantas membenarkan posisi totebag di pundaknya, lalu kembali berujar, “But you have to make sure that you knew the consequence.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Nayna akhirnya melangkah pergi, menyiskan Kina yang berdiri mematung di sana dengan seluruh amrah dan rasa kesal di dalam dirinya.
***
Karakter dalam diri seseorang adalah sesuatu tidak mudah untuk berubah. Seseorang mengalami berbagai hal di dalam hidupnya. Salah satunya, adalah kejadian yang dapat dijadikan sebuah pelajaran berharga, agar kedepannya bisa menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Namun kita tidak bisa mengharapkan perubahan itu terjadi, sekalipun orang itu tahu konsekuensinya, terkadang beberapa orang masih mengabaikannya.
Setelah kelas terakhir Karin, Kina menghampirinya. Kebetulan mereka satu kelas di mata kuliah ini. Karin mengatakan pada Aulia untuk menunggu sebentar selagi Karin berbicara dengan Kina di dalam kelas. Aulia bertanya pada Karin sebelum memutuskan benar-benar melenggang keluar.
“Rin, lo yakin mau ngomong sama dia?” bisik Aulia di dekat Karin.
“Iya, gue yakin. Sebentar aja kok, habis itu kita beli makanan di kantin,” ucap Karin.
“Oke deh. Gue tunggu di luar ya,” putus Aulia.
Setelah mendapat anggukan Karin, Aulia pun berlalu. Kini di kelas itu tersisa Karin dan Kina. Karin mempersilakan Kina untuk berbicara, perempuan itu mengambil tempat di kursi di hadapan Karin.
“Are you enjoy all of this, Karin?” tanya Kina. Kina tidak terima mengetahui bahwa keluarga Aryan memegang semua bukti perbuatannya. Kina takut karirnya akan hancur kalau sampai kasusnya terbongkar. Seorang publik figur yang bekerja untuk industri kreatif, dituntut untuk memiliki citra yang baik. Ibaratnya ini seperti sebuah konsekuensi karena apa yang ada pada diri publik figur dapat menjadi contoh bagi para audiens yang melihatnya. Resiko dapat ditanggung sendiri apabila nama menjadi buruk, karena mereka bekerja untuk publik, maka publik mempunyai peran besar dalam menentukan apa yang ingin mereka konsumsi dan apa yang tidak ingin mereka konsumsi. Ditolak oleh masyrakat berkat sebuah perbuatan buruk, tentunya dapat menjadi sebuah kehancuran besar bagi seorang publik figur.
“Kina, semua yang terjadi adalah karena perbuatan yang udah kamu rencanain sendiri. Seharusnya kamu tau setiap perbuatan punya tanggung jawab di baliknya,” ujar Karin.
“Lo ngerencanain semua ini sejak awal, kan? You teased my boyfriend first, you made him fell in love with you. You did it well, Karin.”
Karin membiarkan Kina mengatakan semuanya. Karin akan mengumpulkannya terlebih dulu dan menyusun kalimat yang dengan sendirinya akan membuat Kina bungkam.
“You are like your mom did in past, Karin. Lo nggak lebih dari seseorang yang merebut lelaki orang lain. Lo pikir kenapa almarhum om Roland nikahin nyokap lo? That’s because only one reason, you are like her. Everything is just clear right now,” ucap Kina panjang lebar tanpa beban sama sekali. Kina masih mengulaskan senyum simpul di wajahnya, merasa bahwa dirinya tengah berada di atas awan.
“Tante Vanessa dan kak Syerin terlalu baik sama lo. Lo nggak pernah tau kan, kalau sebenarnya lo cuma beban untuk mereka?” Kina tertawa pelan.
“Kamu udah selesai?” tanya Karin kemudian.
Kina seketika terdiam mendapati tatapan datar Karin padanya, hal itu juga membuat Kina sedikit menjauhkan posisinya dari Karin.
“Aku udah selesai,” ujar Kina berusaha menutupi rasa terintimidasinya.
Karin lantas berdeham, lalu ia berujar, “Oke, sekarang giliran aku. Aku tegasin sebelumnya sama kamu, aku nggak pernah jadi perebut lelaki orang. Kamu nggak bisa ngomong sembarangan tentang keluargaku, mamaku, papaku, dan keluarga mama sambungku. Apa yang kamu bicarain, udah cukup ngejelasin kamu orang yang seperti apa.”
Karin menjeda ucapannya sesaat. Tiba-tiba dadanya terasa begitu sesak. Karin tidak terima jelas-jelas Kina berbicara mengenai keluarganya. Tidak seorang pun dapat berbicara sembarangan mengenai dirinya, apalagi keluarganya.
Karin menatap Kina tepat di iris matanya, lalu ia kembali berujar, “Kamu ingat waktu kamu menolak lamaran kak Aryan?” Karin memberi waktu bagi Kina untuk berpikir. Di rasa Kina tidak akan menjawab, Karin memutuskan untuk melanjutkan ucapannya.
“Aku yakin kamu nggak akan lupa. Malam itu juga, kamu udah rencanain semuanya, kan?” ujar Karin.
Karin mengambil dompetnya dari dalam totebag miliknya, lalu ia bergerak dari posisi duduknya. Karin menatap Kina sesaat sembari berucap, “You know what? A the day you hurt him, you’re already lost him, Kina.”
Tanpa Kina sadari, dirinya telah kehilangan Aryan malam itu, tepat di saat dirinya menyakiti Aryan dengan menolak lamarannya. Padahal Aryan tulus mencintai Kina pada saat itu. Namun Kina lebih memilih mengutamakan dirinya. Kina mementingkan ego dan rasa cemburu sosialnya pada Karin, hingga membuatnya lupa apa yang lebih berharga yang sebelumnya telah perempuan itu miliki.
Kina tidak dapat menghargai ketulusan Aryan padanya. Kebersamaannya dengan Aryan semata karena Kina menganggapnya sebagai sebuah keuntungan, bukan sebuah cinta yang benar-benar tulus dari dalam hatinya.
Karin pun berlalu dari hadapan Kina. Kina masih duduk di kursinya, memikirkan semua ucapan Karin. Logika dan egonya berusaha menampik semua itu, tapi hati kecilnya, tempat di mana kejujuran seseorang terletak, justru membenarkannya.
Rasa benci serta ego yang besar yang menguasai Kina, telah mendatangkan kehancuran baginya. Apa yang ia lakukan adalah hal yang salah, perbuatannya pada Karin bukan hanya merugikan dan menyakiti orang lain, tapi rupanya juga merugikan dirinya sendiri, bahkan rasanya berkali lipat lebih besar dari yang Kina berikan pada Karin.
Kina pun mendapat hukumannya, mungkin sejak malam itu, takdir telah digariskan, dan garis itu tidak dapat dihapus ataupun diubah. Kina telah kehilangan seseorang yang tulus mencintainya. Kina merasa begitu hancur dan baru menyadari semuanya sekarang. Kina tidak tahu apa yang benar-benar ia inginkan.
Berbagai pertanyaan lantas berkecamuk di dalam benak Kina. Apakah benar selama ini ia tidak sungguhan mencintai Aryan? Apakah ia hanya terobsesi pada Aryan dan bersama lelaki itu hanya untuk merasa beruntung? Kenapa Kina harus mengalami semua hal yang justru menghancurkan dirinya sendiri? Mungkin kejadian ini akan menjadi pelajaran sekaligus penyesalan terbesar di dalam hidupnya.
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷