Langkah yang Tepat
Kaldera sedikit tidak percaya begitu mendapati bahwa Raegan sore ini menjemputnya di sekolah. Raegan tidak mengatakan banyak hal, pria itu hanya meminta Kaldera untuk pergi bersamanya. Belum cukup dengan kemunculan Raegan di hadapannya, Kaldera kembali dikejutkan ketika Arjuna membelokkan setir mobilnya ke sebuah tempat yang Kaldera ketahui adalah sebuah rumah tahanan negara.
Rumah Tahanan Negara merupakan tempat tersangka atau terdakwa ditahan selama proses penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan. Ketika mereka masuk ke sebuah tempat untuk mengunjungi tahanan, sudah ada seorang pria yang kemudian Kaldera ketahui adalah pengacara yang ditugaskan Raegan untuk menangani kasus Zio.
“Untuk apa kita ke sini?” tanya Kaldera yang belum dapat menebak situasi yang tengah terjadi di depan mata. Tidak lama berselang, akhirnya Kaldera menemukan sendiri jawaban atas pertanyaan di dalam benaknya.
Aksa, lelaki yang ditahan karena menjadi tersangka kasus pembunuhan Zio, hadir di sana setelah petugas memberinya izin untuk bertemu dengan pengunjung.
Kaldera masih nampak bingung, sampai akhirnya Erwin menjelaskan pada Kaldera alasan Raegan membawanya ke sini. Mereka ingin mendengar cerita lengkap kejadian malam itu dari Kaldera, yang mana Kaldera merupakan satu-satunya saksi yang kemungkinan melihat kejadian malam itu.
“Kaldera, hanya satu pertanyaan saya untuk kamu. Jawab ini, apa kamu ada di sana sebelum kejadian atau sesudah kejadian?” tanya Erwin.
Kaldera tanpa ragu pun menjawab pertanyaan Erwin. “Sebelum kejadian, aku udah sampai di sana,” ujar Kaldera. Kemudian dengan sebuah anggukan pasti, Kaldera pun menceritakan apa yang malam itu ia lihat. Kaldra yakin betul dengan apa yang dilihatnya di depan matanya. Raegan, Aksa, dan Erwin pun mendengarkan dengan seksama rentetan kejadian yang disaksikan oleh Kaldera.
“Bukan Aksa pelakunya, aku ngeliat itu dengan jelas. Orang itu kabur setelah melakukannya.” Kaldera pun mengakhiri ceritanya.
“Tapi saat ini bukti di tempat kejadian mengarah ke Aksa. Cara satu-satunya untuk membuktikan Aksa nggak bersalah adalah menyerahkan bukti yang kuat ke pengadilan. Cara itu juga bisa kita gunakan untuk mengetahui dan menangkap pelaku yang sebenarnya,” jelas Erwin.
Usai mendengar penjelasan Erwin, Kaldera segera mengeluarkan ponselnya dan meletakkan benda pipih itu di atas meja. Sontak ketiga lelaki di hadapannya itu menatap ke arahnya.
“Kamu punya bukti itu di hp kamu?” tanya Raegan.
Kaldera pun mengangguk, ia segera memperlihatkan foto yang sempat dirinya ambil saat di tempat kejadian perkara. Sebagai seorang pengacara yang handal, Erwin mengatakan bahwa bukti foto itu nampak kurang jelas. Ada kemungkinan kejaksaan akan meragukan bukti tersebut.
“Kita bisa cari bukti lain sebagai cadangan dari bukti foto ini. Pasti ada bukti di tempat kejadian yang bisa dijadikan alternatif,” ungkap Raegan. Namun kenyataannya Erwin kurang setuju dengan ide Raegan tersebut.
“Kenapa? Apa cara itu nggak bisa?” tanya Raegan.
“Ada cara yang lebih mudah dan kemungkinan ini dapat lebih kuat dari pada bukti itu, Raegan.”
“Cara yang lebih mudah?” Raegan mempertanyakannya, tanpa bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran pengacaranya itu.
Tatapan Erwin seketika beralih kepada Kaldera. Begitu juga dengan Raegan dan Aksa, mereka mengarahkan tatapannya pada Kaldera.
“Saya rasa Anda sudah tau apa yang ada di pikiran saya, Pak Raegan. Kita punya saksi mata yang bisa memberikan kesaksiaannya di persidangan nanti. Untuk memperkuat kesaksian, kita bisa menggunakan bukti foto itu,” jelas Erwin panjang lebar.
***
Saat di perjalanan pulang, Kaldera mengatakan pada Raegan bahwa ia bersedia untuk menjadi saksi di persidangan. Sesuai yang dikatakan oleh Erwin, itu adalah cara yang cukup mutakhir, jika kemungkinan bukti foto di ponsel Kaldera tidak cukup kuat untuk membebaskan Aksa.
“Kaldera, saya tidak mengizinkan kamu untuk melakukan itu,” ucap Raegan. Pria itu meletakkan ipadnya dan kini menatap Kaldera tepat di matanya.
“Alasannya?” tanya Kaldera.
Kaldera tidak mengerti mengapa Raegan melarangnya. Mereka sudah berada di langkah yang tepat dan tidak bisa membiarkan pelaku itu berkeliaran bebas, setelah apa yang dilakukannya terhadap Zio. Kaldera ingin menghukum orang itu, sama seperti Raegan, jadi Kaldera pikir kini mereka telah berada di kapal yang sama.
Begitu Arjuna memberhentikan mobilnya tepat di depan gang rumah Kaldera, Raegan meminta Kaldera untuk turun dari sana. Namun Kaldera bersikukuh dan tidak bergerak dari posisinya sedikit pun.
“Kaldera, kamu bisa turun sekarang. Kita udah selesai bahas ini,” ucap Raegan, nada bicaranya terdengar tidak terbantahkan. Raegan mengalihkan tatapannya dari Kaldera, ia enggan melihat kedua mata itu.
“Mas, aku akan berusaha terus yakinin kamu, sampai kamu izinin aku buat jadi saksi di pengadilan. Tolong, kita udah semakin dekat untuk menangkap pelakunya. Aku cuma ingin orang itu dapat sesuatu dari apa yang udah dia perbuat ke Zio,” ujar Kaldera.
Raegan masih diam dan tidak merespon ucapan Kaldera sama sekali. Namun rupanya Kaldera tidak ingin menyerah. Sampai akhirnya Raegan menoleh dan menatap Kaldera. Raegan menyaksikan kedua mata Kaldera, terdapat guratan kesedihan dan luka dalam yang terpancar dari kedua mata bulat itu.
“Malam itu aku liat sendiri di depan mataku, gimana orang itu nyakitin Zio. Sampai sekarang, aku nggak bisa ngelupain kejadian itu,” ujar Kaldera dengan suaranya yang terdengar agak parau.
“Kaldera, kamu nggak ngerti. Ini terlalu berbahaya. Orang itu bukan sembarang orang seperti yang kamu pikirkan,” terang Raegan.
“Siapa orang itu sebenarnya?” tanya Kaldera.
“Kamu nggak perlu tau. Yang jelas, saya tidak akan melibatkan kamu ke dalam hal ini,” tukas Raegan.
***
Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮
Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜
Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂