Lembar Bahagia di Halaman Terakhir

Saat dalam perjalanan pulang dan di depan mereka terpampang papan petunjuk rest area, Karin segera meminta Aryan agar mereka mampir ke tempat tersebut.

Aryan pun menuruti permintaan Karin. Begitu mobil mereka terparkir sempurna di antara mobil lainnya di rest area jalan tol tersebut, Karin segera melangkah turun dari mobil.

Karin bilang ia harus ke kamar mandi. Aryan yang khawatir tadinya ingin mengantar Karin. Namun mengingat tidak ada yang menjaga anak mereka yang tengah terlelap di jok belakang, akhirnya Karin mengatakan tidak masalah ia pergi sendiri.

Meskipun sebenarnya Aryan masih cemas karena Karin nampak pucat dan istrinya itu bilang bahwa kepalanya sedikit pusing, tapi Aryan akhirnya mengiyakan.

Pandangan Aryan tidak lepas melihat ke arah toilet wanita berada yang tidak jauh dari posisi mobilnya terparkir. Sudah hampir 10 menit, tapi Karin belum kunjung kembali.

Saat Aryan hampir saja menyusul Karin, pertanyaan Svarga yang tiba-tiba terjaga dari tidurnya menghentikan aksinya. Svarga bertanya mengapa mereka berhenti di rest area dan ke mana perginya sang mama.

“Mama lagi ke toilet, Sayang. Kita tunggu dulu ya sebentar,” ujar Aryan memberi Svarga penjelasan. Anak sulungnya ikut khawatir pada Karin, bahkan sempat meminta Aryan menyusul Karin dan tidak perlu mengkhawatirkan dirinya dan adik-adik.

Saat Karin akhirnya kembali dan mendapati Svarga yang khawatir, ia segera memberi penjelasan bahwa dirinya sudah lebih baik. “Mama nggak kenapa-napa, Sayang. Sweet banget sih Kakak,” ucap Karin sambil mengusap puncak kepala Svarga sekilas.

“Sayang, kamu beneran nggak papa?” tanya Aryan begitu mereka sudah kembali melanjutlsn perjalanan. Hanya sisa mereka berdua, Svarga telah pulas lagi setelah tahu mamanya sudah baik-baik saja.

Karin menoleh ke arah Aryan, lalu tangannya terarah untuk mengusap lengan suaminya itu. “Aku nggak papa, Sayang. Papa sama anaknya nggak beda jauh ya, sama-sama sweet.”

Aryan yang mendengar itu segera mengulaskan senyum lebarnya.

“Makasih ya, hebat banget suamiku,” ujar Karin lagi.

Begitu mereka keluar dari tol dan kini tengah bergabung dengan kendaraan lainnya di jalan besar, Aryan menoleh sekilas ke arah Karin. Ia menatap wanitanya yang kini nampak berseri-seri.

Aryan lantas mengernyit heran, padahal beberapa menit lalu Karin nampak tidak bersemangat akibat kondisi badannya yang kurang fit. Aryan berpikir mungkin Karin begitu karena faktor kelelahan, mereka baru saja menghadiri acara pernikahan Nayna dan William dari pagi jam 10 sampai jam 8 malam.

“Sayang,” ujar Aryan kemudian.

Karin langsung menoleh ke arah Aryan. “Iya?”

“Kamu mau pakai aroma terapi atau kamu butuh sesuatu? Udah baikan belum?”

“Udah, Sayang. Tadi aku bawa minyak kayu putih di tasku, udah aku pake.”

Aryan pun segera mengangguk. Oke, terhempas sudah semua kekhawatirannya. Aryan selalu ingin memastikan bahwawanitanya baik-baik saja, dan pria itu telah melakukannya selama hampir 11 tahun pernikahan mereka. Hal itu rupanya juga turun ke anak-anak mereka juga. Ketiga putra mereka perlahan-lahan tahu caranya menyayangi dan menghargai seorang perempuan.

***

Karin baru saja selesai mengantar Svarga ke kamarnya dan memastikan anaknya telah tertidur nyaman di sana. Dalam hal mengurus anak, Karin dan Aryan telah sepakat bahwa mereka akan selalu membagi tugas.

Aryan tadi kebagian menemani River dan Taura sampai mereka tidur di kamar. Dua anaknya yang masih kecil itu masih harus dibimbing agar cepat tidur, kalau tidak mereka bisa bermain sampai larut malam. Akhirnya Karin memutuskan menemani Svarga karena anak sulungnya itu sedang bersikap manja terhadapnya belakangan ini.

Kini Karin tengah menghampiri Aryan di kamar milik Taura yang memiliki connecting door dengan kamar River. Di sana tampak senyap, jadi dapat dipastikan anak-anaknya sudah tertidur. Oh, suaminya telah melakukan perkerjaan luar biasa, begitu pikir Karin. River dan Taura, perpaduan si aktif dan si penuh akal, adalah kombinasi komplit yang seringkala membuat Aryan maupun Karin kualahan.

“Hei,” ucap Karin begitu ia sampai di sana.

Halus dan hangat tangan Karin yang menyentuh pundak Aryan, langsung membuat pria jangkung itu menoleh.

You did a great job. River sama Taura berhasil kamu taklukin. Kamu lebih hebat dari aku lama-lama,” ucap Karin.”

“Aku dapet hadiah apa udah bisa nidurin mereka? Padahal tadi River sama Taura udah sempet aktif mau main lagi.”

“Hadiah? Orang nidurin anak sendiri, masa harus dapet hadiah sih. Kelakuannya juga ya nurunin kamu,” ucap Karin diselingi tawa pelannya.

Detik berikutnya, masih dalam posisi Aryan yang duduk di tepi kasur, lelaki itu menghela lembut pinggang ramping Karin untuk mendekat padanya.

I want to live forever with you,” ucap Aryan, nadanya terdengar begitu tulus.

Selama beberapa detik, Karin hanay mengamati paras Aryan. Kemudian Karin meletakkan tangannya di satu sisi wajah Aryan, “Aku juga mau hidup selamanya sama kamu,” balas Karin diiringi senyum simpulnya.

Karin menatap tepat di iris indah Aryan, dengan sukarela ia membiarkan dirinya tenggelam di sana. Setiap pancaran mata Aryan ketika menatapnya, membuat Karin selalu bisa merasakan cinta dan kasih yang dipancarkan untuknya.

“Udah sebelas tahun kita nikah. Nggak kerasa ya, Sayang. Kamu masih deg deg-an kalau ngeliat aku?” tanya Aryan.

Karin pun terdiam sesaat. Ia mengerti maksud pertanyaan Aryan itu. Menjalani pernikahan untuk waktu yang lama bukan tidak mungkin setiap pasangan akan merasa bosan. Sparks pernikahan diprediksi hanya sampai 5 tahun, sisanya yang dapat bertahan adalah karena komitmen. Namun Aryan tetaplah Aryan yang blak-blakan terhadap apa yang pria itu rasakan, jadi ia menanyakannya pada Karin.

“Uhmm ... gimana yaa ...” gumam Karin. Aryan menatapnya dengan tatapan penuh selidik, lalu Karin tertawa mendapati wajah kebingungan Aryan itu.

“Ya masihlah Kak. Kalau nggak, ngapain aku masih di sini, masih di depan kamu.”

Aryan lantas menggangukinya. Benar juga sih kalau dipikir-pikir. Mereka masihlah dua orang yang sama, yang saling mencintai. Mungkin cara mencintai saja yang berbeda, Karin cenderung jarang mengucapkannya, tapi lebih melakukan aksi yang menunjukkan kasih sayangnya pada Aryan.

“Anak-anak udah tidur Sayang. Kita pacaran yuk,” celetuk Aryan.

“Mau ngapain emang?” tanya Karin, kedua alisnya menyatu.

“Mau cuddle sama kamu.”

“Bener ... cuddle doang?” tanya Karin sangsi.

“Bener, Sayang. Kamu kan hari ini lagi nggak enak badan, mana mungkin aku ngajakin kamu berhubungan. Meskipun aku mau sih.”

“Atau kamu udah sehat?” tanya Aryan saat Karin belum menjawabnya.

“Udah sih. Tadi masuk angin doang.” Jawaban Karin tersebut langsung mengundang binar bahagia di mata Aryan.

Detik berikutnya, Karin merasakan tubuhnya melayang di udara. Aryan tengah menggendongnya ala bridal style. Dengan posisi dan jarak seintim ini, Karin dapat menghirup aroma parfum dari tubuh Aryan. Harum itu selalu membuat Karin candu.

Sampai akhirnya mereka sampai di kamar, sebelum Aryan merebahkan Karin di kasur king size milik mereka, Karin berujar di dekat Aryan, “Suami aku ganteng banget sih, makin-makin deh udah kepala tiga.”

Aryan masih menggendong Karin, dan tanpa dapat Aryan cegah, pipinya memanas dan tampak semburat kemerahan di sana berkat ucapan Karin barusan. Di usianya yang ke 32 tahun, Aryan tampak semakin tampan. Tubuh tinggi nan atletisnya, pinggang kecilnya, wajah tegas, semuanya terasa sempurna. Karin pikir suaminya itu pantas mendapat julukan hot papa anak 3. Makin tua makin jadi, begitulah kira-kira sebutannya.

I'm fell in love with you and still falling,” bisik Karin lagi, kali ini perempuan itu memangkas habis jarak di antara mereka, Karin merebahkan kepalanya di dada bidang Aryan.

“Kebanyakan orang bilang, 5 tahun setelah pernikahan, yang tersisa itu adalah komitmen. Kalau pun sparks cinta itu masih ada, itu jarang banget terjadi di mayoritas pasangan. Tapi bagi aku nggak kayak gitu.” Karin menjeda ucapannya sesaat.

“Komitmen sama cinta berjalan bersamaan, Kak. Dari awal, aku berkomitmen untuk mencintai kamu, untuk dampingin kamu, untuk hidup sama kamu sampai kita sama-sama tua. Sparks cinta itu masih ada karena aku akan selalu berusaha menumbuhkannya untuk kamu. You always tried to be a great husband and father for our kids, and I'm very grateful for that. I love you, always and forever, Kak.”

Dengan jarak mereka yang sedekat ini, Karin pun jadi bisa mendengar dentuman jantung Aryan yang menggebu di dalam rongga dadanya. Saat Aryan melayangkan tatapan meminta izinnya pada Karin, perempuan itu lekas menjawab dengan sebuah anggukan kecil.

Mereka pun segera mencumbu bibir satu sama lain. Dari ciuman kali ini, rasanya ada hasrat yang cukup besar yang begitu ingin disalurkan. Aryan selalu menginginkan Karin seindah ini. Caranya memperlakukan Karin, mengingat setiap detail kecil yang disukai perempuan itu ketika mereka memadu kasih, membuat Karin ingin memberikan cintanya yang besar untuk Aryan. Karin ingin memberikan afeksi yang utuh untuk Aryan, dan hanya Aryan, lelaki yang Karin inginkan selamanya.

Setelah 5 menit berlalu, akhirnya Aryan membaringkan Karin di ranjang, usai ciuman mereka yang cukup panas. Aryan tidak berniat berlama-lama untuk menyusul wanitanya ke sana.

Aryan kembali bergerak mencium Karin dengan lembut, terasa tidak ingin menyakiti. Aryan menahan tubuh besarnya agar tidak sampai jatuh menimpa Karin. Dari posisi Aryan saat ini, Karin dapat menyaksikan sosok indah ciptaan Tuhan tepat di depan matanya dan nampak begitu dekat. Gerakan demi gerakan Aryan ketika mencumbunya, tangan lelaki itu yang membelai lembut rambutnya lembut, membuat Karin terhanyut.

Kini hembusan napas keduanya terdengar tidak beraturan. Seperti yang sudah terjadi, mereka akan menjauh untuk mengambil napas karena yang tadi lumayan cukup intens.

“Karin, I'm sorry. I really want you this night. I just broke my promises,” ucap Aryan dengan wajah penuh penyesalannya. Kemudian pandangan Aryan tertuju pada gaun Karin yang terlepas sudah sampai sebatas bahunya. Aryan yang barusan melakukannya, tanpa ia sadari, ia hampir saja memintanya dari Karin. Padahal ia telah berjanji dan dirinya juga khawatir terhadap kondisi Karin yang sedang kurang fit.

Aryan menjauh dari Karin dan nampak menarik rambutnya kebelakang dengan satu tangannya, terlihat sedikit frustasi.

“Sayang, maaf,” ucap Aryan kemudian, ia juga akhirnya membantu Karin memasang kembali resleting gaun di tubuh wanitanya. Kemudian dengan gerakan cepat, Aryan menarik bed cover tebal, ia menyelimuti Karin dan memastikan istrinya berada dalam posisi yang nyaman.

“Hei, it's oke,” ucap Karin, ia merubah posisinya menyamping agar bisa sepenuhnya menatap Aryan. Karin mengulaskan senyum hangatnya, mengisyaratkan bahwa Aryan tidak perlu khawatir soal apapun yang tengah menyerang pikirannnya.

“Kak, sebenernya aku kepengen juga,” ucap Karin.

Setelah mendengarnya, Aryan nampak tidak percaya. Sebelumnya Aryan berpikir bahwa istrinya sedang tidak ingin melakukannya.

“Tapi ada alasan kenapa sebaiknya kita nggak mgelakuin itu dulu,” cicit Karin pelan.

“Alasan? Kamu baru aja datang bulan, Sayang?” tanya Aryan.

Karin menggeleng. Wah, Aryan semakin dibuat bingung ketika Karin memintanya untuk menunggu. Karin lantas beranjak dari kasur dan mengambil sesuatu dari dalam tas tangan hitamnya.

“Aku mau ngasih tau kamu sesuatu,” ucap Karin. Detik berikutnya, Karin menunjukkan dua buah benda panjang berukuran sedang di tangannya. Aryan mendapati bahwa itu adalah testpack, alat yang digunakan untuk melakukan tes kehamilan. Aryan segera melihat garis di alat itu dengan seksama. Ada dua garis berwarna merah di sana dan testpack satunya lagi menampilkan sebuah kata. 'Pregnant', itulah yang tertulis di layar kecilna.

Aryan pun nampak terkejut, dua belah bibirnya sukses terbuka. “Sayang, ini beneran? Kamu hamil lagi?” tanya Aryan.

Sambil tersenyum bahagia, Karin pun menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Aryan barusan.

“Hasil testpack-nya sih positif. Dari sebelum pernikahan Nayna, aku sempet nggak enak badan, aku pikir masuk angin biasa. Pas tadi di jalan, aku mual banget, akhirnya aku mutusin buat tes di toilet rest area. Makanya aku agak lama kan, itu aku tes dulu.”

Karin juga menjelaskan bahwa ia sudah telat datang bulan hampir satu minggu. Biasanya Karin selalu tepat waktu mendapat menstruasinya. Setelah mendengar semua penjelasan Karin tersebut, lalu tanpa aba-aba, Aryan segera merengkuh tubuh Karin ke dalam pelukannya. Kemudian Aryan juga menghujani Karin kecupan lembut di beberapa area di wajahnya. Terakhir, Aryan menyematkan sebuah kecupan di kening yang terasa begitu bermakna bagi seorang perempuan untuk mendapatkan perlakuan tersebut.

Aryan lalu mengurai pelukan mereka, tangannya menangkup halus dua sisi wajah Karin. “Sayang, aku bahagia banget. Makasih ya,” ucap Aryan.

Karin lantas mengulaskan senyum hangatnya, ia mengusap tangan Aryan yang masih setia berada di sisi wajahnya. “Selamat ya Sayang, kamu akan jadi Papa dari 4 anak, beberapa bulan kedepan lagi.”

Aryan mengangguk sekali. “Besok kita kasih tau anak-anak kalau mereka akan punya adik lagi.”

“Oke.”

“Sekalian kita ke dokter kandungan juga, gimana Sayang? Kita harus pastiin keadaan dia di rahim kamu kan?”

“Iya, boleh. Besok kita ke obgyn. Ohiya, beberapa bulan kamu harus puasa dulu lho, Kak. Kita nggak bisa berhubungan sementara,” ucap Karin begitu teringat akan hal tersebut.

Alright. It's totally oke, Sweety. I will take care of you, aku bisa cuti kerja kalau kamu butuh aku di samping kamu. I'm ready for you, Sayang.”

***

Keesokan harinya …

Kebiasaan yang dilakukan para anak-anak ketika melihat orang tua mereka pulang ke rumah setelah pergi hanya berdua, dilakukan juga oleh ketiga anak mereka. Apalagi hari ini Aryan libur bekerja, hal itu semakin mengundang pertanyaan dari anak-anak mereka mengapa papa dan mama pergi berdua, tapi tidak mengajak ketiganya. Biasanya Aryan dan Karin dapat langsung menjawab, tapi kali ini tidak.

Boys, dengerin ya. Papa sama Mama punya kabar bahagia yang akan kita sampaikan ke kalian,” ucap Aryan memulai. Karin yang duduk di sampingnya hanya mengulaskan senyum misterius yang justru membuat ketiga anaknya semakin merasa penasaran.

“Oke, jadi gini. Kalian akan punya adik lagi,” Aryan menjeda ucapannya, ia menatap Karin lalu mengarahkan tangannya untuk mengusap perut istrinya yang masih rata itu.

“Di perut Mama, sekarang ada adik. Papa sama Mama tadi baru ke dokter, dokter bilang adik kalian di sini sehat,” sambung Aryan.

Mereka berlima kini saling melempar pandangan. Dari ketiga anak mereka, belum ada yang membuka suara untuk memberi tanggapan. Sampai akhirnya Taura yang lebih dulu meerespon kabar tersebut.

“Mama, Papa, aku nggak mau punya adik,” ujar Taura, bibirnya mencebik lucu.

“Lho Sayang, kenapa Nak? Kenapa Taura nggak ingin punya adik?” tanya Karin sambil mengusap sayang puncak kepala anak bungsunya itu.

Taura langsung bergerak untuk memeluk tubuh Karin. Ia seperti bayi kecil yang manja, tidak mau jauh dari mamanya. “I don’t like baby, Mama. Anak bayi butuh perhatian yang banyak, Mama harus lebih sayangin adik nanti kalau dia udah lahir. Taura nggak mau,” jelas Taura.

Karin dan Aryan akhirnya hanya tersenyum mendengar kalimat Taura itu. Kemudian Aryan membiarkan Karin yang memberi penjelasan pada Taura.

“Waktu Mas Svarga, Mas River, dan Taura masih kecil, kalian sama-sama pernah jadi bayi. Taura inget nggak, waktu itu Mama perhatian dan sayangin Taura.”

Taura nampak berpikir sejenak, kemudian tidak lama anak lelaki itu mengangguk.

“Sayangnya Mama dibagi sama ke semua anak. Taura anak hebat dan pinter, Taura paham kalau adik butuh kasih sayang dan perhatian lebih dari Mama. Tapi walaupun seperti itu, rasa sayang Mama ke Mas Svarga, Mas River, dan ke Taura, nggak akan berubah atau berkurang. Kita semua saling sayang. Taura sayang kan sama adik?”

“Aku sayang adik, Mama,” celetuk Svarga yang langsung membuat Taura langsung menoleh ke arah kakaknya itu.

“Aku juga sayang adik. Adiknya perempuan atau laki-laki Mah?” tanya River nampak begitu antusias.

“Belum tau perempuan atau laki-laki, Nak. Nanti kita cek lagi ya kalau adiknya sudah agak besar. Oke?” ujar Aryan.

“Oke, Pah. Aku nggak sabar adik lahir, mau aku ajak main,” sahut River lagi.

Perlahan-lahan akhirnya Taura mengurai pelukannya di tubuh Karin. Ia menjauhkan wajahnya sedikit agar bisa menatap mata mamanya itu. “Mama, aku sayang adik juga,” ucap bocah itu akhirnya. Ucapan lembut Taura dan tatapan tulusnya, seketika mampu membuat Karin terenyuh.

Taura yang begitu penyayang membuat Karin yakin bahwa anaknya itu mana bisa menolak calon adiknya. Sebenarnya hati Taura tulus menyayangi adiknya, tapi terkadang pikiran kritis dan jeniusnya seringkali mendominasi dan membuat bocah itu mempertanyakan apa yang mengganjal di pikirannya.

“Iya, makasih ya, Mas. Mas Taura sayang sama adik ya.” Lantas mereka semua di sana menyaksikan tingkah Taura dengan sebuah senyuman bahagia dan hati yang terasa menghangat.

“Mama, Papa, aku mau adiknya perempuan,” ucap Taura.

“Kenapa Sayang? Kok maunya perempuan?” tanya Aryan.

“Kakak laki-laki pasti lebih kuat buat jagain adik perempuan. Taura mau jagain adik,” jawab Taura.

Karin yang mendengarnya seketika tersenyum penuh haru. Kemudian ia memberi kecupan di kedua pipi Taura. Setelah itu tatapannya bertemu dengan Aryan, suaminya juga tengah tersenyum terharu sama sepertinya. Apa yang Aryan dan Karin usahakan selama ini, rupanya telah berhasil. Mereka mendidik anak-anak mereka dengan kasih sayang dan memberi mereka ruang untuk menjadi diri sendiri, untuk mengungkapkan perasaan mereka.

Kepribadian seorang anak, caranya berbicara, merupakan hasil didik dari orang tua yang berperan sangat besar dalam hal itu. Aryan dan Karin bahagia, mereka berhasil mewujudkan cita-cita yang mereka bangun bersama sebelumnya. Cerita inilah yang keduanya ingin tulis di halaman terakhir kisah mereka, dan mereka telah berhasil sampai di lembar bahagia itu.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷