Let’s do it Tonight, Tomorrow, Even Until We're Get Older
Tiga bulan kemudian …
Sebenarnya apa definisi sebuah impian bagi seseorang? Apakah semata hanya tentang benda atau sesuatu yang sangat diinginkan? Setiap orang tentunya memiliki impian yang berbeda, dan juga mereka punya pemahaman masing-masing mengenai definisi sebuah impian. Latar belakang juga dapat mempengaruhi impian seseorang. Menurut Karin sendiri, impian baginya tidak hanya berarti soal barang yang berwujud.
Karin punya impian untuk memiliki keluarga yang utuh. Dulu keluarga adalah hal terdengar asing bagi Karin. Namun Karin tahu bahwa impiannya hanya akan menjadi bunga tidur, kalau ia tidak berupaya untuk mewujudkannya. Karin percaya bahwa melakukan yang terbaik yang mampu kita lakukan adalah hal terpenting untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Kebaikan sekecil apapun yang kita lakukan, Tuhan pasti akan menghargainya dan membayarnya dengan sesuatu yang lebih besar.
Satu persatu impian Karin telah terwujud. Karin memiliki keluarga kecilnya sendiri, keluarga yang hangat yang sebelumnya hanya menjadi angan bagi Karin. Suami yang mencintainya, anaknya yang sebentar lagi akan lahir kedua, tempat tinggal baru, serta masih banyak mimpi-mimpi lain akan Karin wujudkan bersama Aryan. Itu sudah menjadi tekad kuat yang Karin dan Aryan telah sepakati.
Karin melangkah ke dalam rumah lebih dulu begitu mereka sampai. Aryan mengatakan bahwa ia akan menyusul Karin setelah mengambil belanjaan di bagasi mobil.
Dari garasi mobil menuju pekarangan rumah, Karin melewati jalanan setapak yang di kanan dan kirinya terdapat jalanan berumput hijau pendek yang telah di pangkas begitu rapi.
Begitu langkah Karin akhirnya sampai di teras rumah, ia melepas sandalnya dan melangkah masuk ke dalam. Karin langsung bertemu dengan mbak Fitri yang sedang berada di dapur kecil yang bersebelahan dengan ruang tamu.
“Non, tadi jadi belanja bulanan sama mas Aryan?” tanya mbak Fitri pada Karin.
“Jadi, Mbak,” jawab Karin.
Mbak Fitri yang mengetahui hal tersebut pun segera bergegas menghampiri Aryan untuk membantu membawakan belanjaan.
Setelah seminggu yang lalu resmi pindah ke rumah ini, kak Syerin telah sepenuhnya menyerahkan mbak Fitri untuk ikut bersama Karin. Asisten rumah tangga kakaknya itu ditugaskan untuk membantu mengurus urusan rumah tangga di rumah ini. Selain itu, anjing puddle berbulu putih kesayangan Karin, Molly, telah ikut tinggal bersama Karin lagi. Karin merasa begitu senang, aspek-aspek penting dalam hidupnya perlahan tertata lengkap dan semuanya terasa lebih indah dari apa yang ia impikan.
Sementara saat Karin sedang mengambil gelas dan mengisinya dengan air dingin dari kulkas, tidak lama berselang, nampak Aryan memasuki rumah dengan dua buah shopping bag di tangannya. Karin pun terdiam di tempatnya begitu merasakan sesuatu mendekap tubuhnya dari belakang.
Karin meletakkan gelas minumnya, kemudian satu tangannya mengusap lengan Aryan yang melingkar di pinggangnya. Pandangan Karin pun lantas mengarah pada tangan keras dengan jalar urat yang begitu menonjol yang mendekapnya itu.
“Belanjaannya ditaruh di mana Kak?” tanya Karin.
“Aku minta tolong mbak Fitri buat bantu bawain ke dapur besar, terus aku nyusul kamu ke sini deh,” jelas Aryan.
Karin pun bergerak membalikkan posisi tubuhnya untuk menghadap Aryan. “Kak, itu kan sebagian belanjaannya ada yang mau aku taruh di dapur kecil. Ada buah-buahan sama susu hamil aku lho di situ,” ujarnya kemudian.
“Oh gitu ya? Maaf ya Sayang, aku tadi lupa. Aku minta mbak Fitri bawain lagi deh kesini ya?” Saat Aryan akan bergerak menjauh dari Karin, perempuan itu justru menahan pergerakannya. Karin menghela Aryan agar kembali memeluk tubuhnya, tidak membiarkan lelaki itu untuk pergi.
“Nggak papa, nanti aja aku yang bilang ke mbak Fitri,” ucap Karin.
Aryan pun segera menyunggingkan senyum semringahnya mendapati kelakuan Karin barusan. Karin yang seperti ini, yang menunjukkan sisi manjanya dan terlihat begitu menikmati waktu saat bersamanya, membuat Aryan merasa begitu berharga dan dicintai.
Di tengah-tengah suasana itu, kehadiran mbak Fitri di sana menginterupsi keduanya. “Maaf Non, ini ada belanjaan buah-buahan sama susu ibu hamil, apa mau di taruh di dapur kecil aja?” tanya mbak Fitri.
Mbak Fitri mau tidak mau menyaksikan pemandangan dua majikannya yang sedang bermesraan itu. Perempuan berusia 40 tahunan itu lantas tidak dapat menahan senyumnya.
“Maaf yaa Non, Mas, saya jadi ganggu waktunya. Ini saya taruh di dapur besar dulu aja ya. Buah-buahannya biar saya cuci dulu, nanti saya bawa lagi ke sini.”
“Oh iya Mbak, buah-buahannya di cuci aja dulu. Makasih ya Mbak,” ucap Karin yang segera diangguki oleh mbak Fitri. Beliau pun segera berlalu dari hadapan Aryan dan Karin, membawa kembali belanjaan di tangannya.
Sepeninggalan mbak Fitri, kini di ruang tamu rumah itu hanya tersisa Aryan dan Karin. Karin yang merasa di perhatikan oleh Aryan menjadi sedikit gugup. Pasalnya seperti yang sudah-sudah, Aryan itu suka lepas kendali dan tidak tahu tempat. Mbak Fitri adalah korban kedua setelah pak Hamdi, supir keluarga yang pernah memergoki keduanya sedang bermesraan. Bukan sekedar bermesraan biasa, tapi ini tentang hubungan yang dilakukan di antara suami dan istri saja.
“Gimana tinggal di rumah ini? Kamu suka?” tanya Aryan sambil menatap Karin lekat.
“Suka. Sebenarnya aku suka tinggal di mana aja, asal masih ada atap sama lantainya sih,” jawab Karin.
“Maksud kamu?”
“Iyaa, aku suka tinggal di mana aja, asal tinggalnya sama kamu.”
Senyuman di wajah Aryan spontan mengembang begitu mendengarnya. Kemudian dengan gemas Aryan mengarahkan jarinya untuk menjepit pelan ujung hidung Karin.
“Papa bilang, rumah ini hadiah buat kita. Waktu papa tanya soal desain sebelum pembangunan, aku nggak masalah desainnya mau kayak gimana. Jadi aku bilang aja ke papa kalau rumah ini khusus dibikin untuk kamu, so semua desainnya biar kamu yang nentuin.”
Pandangan Karin seketika berubah terharu mendengar perkataan Aryan, tampak kilatan di kedua bola matanya. Sekitar tiga bulan yang lalu, papa mertuanya menyampaikan niat untuk memberikan hadiah kepada Aryan dan Karin. Rencananya papa memang ingin memberikan sebuah rumah hunian dan beliau mengatakan bahwa rumahnya akan dibangun cukup besar. Papa mengatakan rumah tersebut haruslah cukup untuk tinggal anak, menantu, dan cucu-cucunya kelak.
“Papa bilang beliau pengen punya cucu banyak lho, Sayang. Rumah ini besar banget, kira-kira kamu mau kita punya anak berapa?” tanya Aryan.
Rumah ini dibangun dengan desain yang diinginkan Karin, yakni dengan gaya amerika modern. Terdapat halaman di depan dan di belakang, serta pohon-pohon yang ditanam membuat area sekitar rumah sangat asri dan sejuk. Papanya memberi hadiah rumah ini berkat melihat itikad baik yang Aryan dan Karin telah lakukan untuk mempertahankan rumah tangga keduanya. Wujud cinta yang Aryan dan Karin telah tunjukkan, telah begitu menggerakkan hati papanya. Papa begitu bangga dengan mereka. Selain itu, alasan lainnya adalah Aryan berhasil diangkat menjadi karyawan tetap di Harapan Jaya Group. Aryan mencapainya berkat usaha dan kegigihannya dalam menunjukkan skill dan kinerjanya selama menjadi karyawan magang di perusahan itu.
“Kak, aku udah mutusin sesuatu,” ujar Karin sembari menatap Aryan dan menyisir pelan rambut Aryan menggunakan jemarinya.
“Soal apa?” tanya Aryan.
“Mulai besok aku udah ngambil cuti untuk semua kerjaan aku.”
Sebelumnya Karin memang telah mendiskusinnya pada Aryan. Kini ia akhirnya telah memutuskan untuk mengambil waktu istirahat untuk pekerjaannya. Karin ingin fokus terhadap kandungannya karena beberapa bulan lagi anaknya akan segera lahir.
“Kamu ambil cuti kuliah juga?”
“Aku belum tau sih Kak. Menurut kamu gimana?”
Aryan pun memberikan saran bahwa Karin bisa tetap kuliah dan dapat menggunakan liburan panjang akhir semester yang berdekatan dengan hari perkiraan lahir anak mereka, untuk persalinannya nanti. Mengenai urusan merawat anak, Aryan mengatakan bahwa Karin tidak perlu khawatir. Aryan akan membantunya dan mengambil peran yang saling melengkapi untuk merawat anak mereka. Selain itu mereka juga bisa meminta bantuan suster untuk itu. Sebagai seorang ibu baru, Karin juga masih harus banyak belajar. Maka pilihan meminta bantuan kepada ahlinya dirasa adalah opsi yang cukup baik.
“Kak,” ujar Karin lagi.
“Iya, Sayang?”
“Aku kayaknya ngidam sesuatu deh.”
“Oh, iya? Kamu ngidam apa? Bilang aja, aku bakal usahain buat turutin.”
“Kamu serius?” tanya Karin memastikan.
Aryan dengan cepat menganggukkan kepalanya. “Iya, Sayang. Aku serius. Kalau aku nggak sanggup nurutin, aku bisa minta bantuan papa. Aku yakin papa bisa ngelakuin apa pun.”
“Ada-ada aja sih kamu.” Karin pun tergelak.
“Lho, kamu nggak percaya? Nanti kalau aku udah sehebat papa, aku nggak akan minta bantuan papa lagi. Aku akan berusaha sendiri untuk nurutin semua keinginan kamu.”
Bagi Aryan ia akan melakukan apa pun dan memberikan segalanya yang ia mampu untuk Karin. Namun sebenarnya bagi Karin, kehadiran Aryan di hidupnya sudah lebih dari cukup. Materi dapat dibeli, tapi waktu dan cinta tulus seseorang adalah hal yang tidak akan ternilai dan dapat digantian oleh uang.
***
Aryan tidak terpikirkan bahwa permintaan Karin adalah hal yang begitu sederhana. Persiapan yang mereka perlu dilakukan pun sangat lah mudah. Sebuah bathtub yang cukup luas yang cukup untuk mereka berdua, lilin aroma terapi, serta busa-busa yang banyak berkat bathbomb beraroma jasmine, Karin dan Aryan akan berendam bersama.
Karin menyandarkan tubuhnya di dada bidang Aryan, dengan kedua lengan lelakinya yang memeluk tubuh polosnya dari belakang. Karin memejamkan matanya, nampak begitu nyaman dengan posisi mereka.
Bathtub talk, itu lah yang ingin Karin lakukan di saat waktu siang menjelang ke sore ini. Mereka telah membicarakan beberapa hal. Sesuai kesepakatan keduanya, mereka ingin selalu memiliki waktu seperti ini, saling bertukar pikiran, dan terbuka satu sama lain.
Karin membuka matanya perlahan, lalu ia merubah posisinya hingga kini berhadapan dengan Aryan. Kemudian dengan satu tangannya, Karin mengambil gumpalan busa dan mengusapkannya ke satu sisi wajah Aryan. Karin tertawa kecil, ia nampak begitu senang dengan kegiatan mereka tersebut.
Aryan lantas ikut tertawa, ia hanya menikmati apa yang terjadi, apa yang dirinya lakukan bersama Karin.
“Kak, aku mau tanya satu hal sama kamu. Boleh?”
“Boleh. Mau tanya apa?”
Karin pun bertanya mengenai perasaan Aryan padanya saat di awal. Mereka saling menatap, netra Karin yang berbinar ketika memandangnya, berkali lipat membuat Aryan jatuh cinta.
“Aku bakal jawab jujur,” ujar Aryan.
Karin mengangguk kemudian. Karin memajukan tubuhnya sedikit agar lebih dekat dengan Aryan.
“Awalnya aku belum tau pasti soal perasaanku. Aku belum sadar itu, sampai Leon yang akhirnya nyadarin aku,” ucap Aryan.
Leon yang notabenenya adalah sahabat Aryan sejak lama dan telah begitu mengenalnya, tentu dapat menyadari perasaan Aryan kepada Karin. Aryan mungkin sadar soal perasaannya, tapi logikanya sering kali lebih dominan dan menampik semua itu.
“Aku butuh waktu untuk mastiin semuanya. Bukan soal aku aja, tapi ini tentang kamu juga. Aku nggak mau sampai sesuatu nyakitin kamu lagi. Kayaknya udah cukup semua rasa sakit yang pernah aku kasih ke kamu,” ungkap Aryan.
Perlakuan Karin kepada Aryan, rasa percaya, rasa menghormati, dan peduli, telah membuat Aryan jatuh hati. Aryan akui pada akhirnya, bahwa hatinya sepenuhnya adalah milik Karin. Rasa cinta tersebut tumbuh dan berkembang semakin besar. Kepribadian Karin lah yang telah membuat Aryan jatuh cinta padanya. Semata-mata bukan karena Karin cantik. Kecantikan Karin itu adalah bonus baginya.
“Akhirnya aku tau dan benar-benar bisa pastiin semuanya. Kalau pun kamu nggak milih aku, aku akan nerima itu, Karin. Apa pun pilihan kamu, yang paling penting itu buat kamu bahagia,” ucap Aryan lagi.
Aryan tahu bahwa Karin menyayanginya sejak perempuan itu selalu ada untuknya di kala Aryan hilang arah, saat Aryan merasa tidak dicintai dan tidak berharga. Karin menerangi kembali dunia Aryan yang tiba-tiba saja menjadi gelap. Aryan tahu dan mempercayai hal tersebut di hatinya, bahwa Karin sungguh-sungguh mencintainya.
Aryan telah mengakhiri jawaban atas pertanyaan Karin padanya. Lelaki itu lantas memperhatikan ekspresi terharu di wajah Karin. Aryan tahu bahwa Karin bukan meragukannya, sesekali wanita memang memerlukan validasi. Aryan akan dengan sukarela memberi tahu Karin. Sekali pun Karin meminta Aryan mengutarakan perasaannya setiap satu bulan sekali atau satu minggu sekali, Aryan akan dengan sukarela melakukan itu.
***
Sekitar setengah jam yang lalu, Aryan dan Karin memutuskan untuk membilas badan, setelah itu mereka segera beranjak dari bathtub. Setelah mengenakan pakaian dan mengeringkan rambut, keduanya menuju kamar dan pergi tidur. Namun kini begitu Aryan terjaga dari tidurnya, ia mendapati Karin tengah terjaga juga. Kedua netra bulat Karin nampak segar, padahal tadi Karin mengatakan bahwa ia mengantuk dan jadilah mereka mengkakhiri kegiatan berendam.
“Aku nggak bisa tidur,” ucap Karin pelan.
Dengan tatapan mengantuknya, Aryan masih berusaha meladeni Karin. “Kenapa nggak bisa tidur? Anak kita gerak-gerak lagi ya?”
“Iya, tadi dia nendang. Aku agak kaget, jadi kebangun. Sekarang aku nggak bisa tidur lagi,” jelas Karin.
“Sakit nggak perut kamu? Mau aku usapin?” tawar Aryan.
“Mau,” balas Karin sembari menganggukkan kepalanya, bibirnya sedikit mencebik lucu. Detik berikutnya, Karin bergerak mendekat pada Aryan, memudahkan pria itu untuk mengusap perutnya.
Karin memejamkan matanya begitu tangan Aryan mulai mengusap perutnya dengan gerakan searah. Karin merasa nyaman berkat apa yang Aryan lakukan itu. Satu tangan Aryan yang bebas tidak tinggal diam, telapak tangan yang hangat dan besar itu bergerak mengusap sisi wajah Karin.
Karin selalu suka ketika Aryan melakukannya, itu membuatnya lebih cepat tidur. Semenjak usia kehamilannya semakin tua, Karin jadi lebih sulit tidur. Padahal Karin mudah merasa lelah, ia butuh banyak istirahat. Namun perutnya yang sudah membesar, membuatnya sering merasa sesak dan napasnya terasa agak berat.
Aryan masih di sana, ketika akhirnya Karin membuka kelopak matanya. Netra Karin menatap Aryan lekat, penuh arti.
“Masih nggak bisa tidur ya?” tanya Aryan, tatapannya terlihat khawatir.
“Kak,” ucap Karin sembari meraih tangan Aryan yang masih berada di wajahnya. Gerakan Aryan memberi usapan di sana pun terhenti. Karin menyelipkan jemari mungilnya di antara jemari Aryan, lalu menggenggam erat jemari Aryan di sana.
Dari tatapan Karin, Aryan akhirnya mengerti apa yang istrinya inginkan. Aryan menatap Karin dalam-dalam, kemudian ia bertanya untuk memastikan. “Beneran mau?”
Karin nampak berpikir sesaat. Setelah tersenyum kecil, Karin akhirnya memberi jawaban, “Iya, mau.”
“Oke,” balas Aryan, senyum bahagia pun tidak dapat luntur dari wajah tampannya. “Aku siap-siap dulu ya. Kamu tunggu sebentar.”
“Kak, aku mau siap-siap juga.”
Aryan mengarahkan tangannya untuk mengusap puncak kepala Karin, lalu Aryan mengulaskan senyumnya.
Sebelum beranjak dari kasur, Aryan menyematkan sebuah kecupan di bibir Karin. Aryan dapat merasakan lipbalm manis di bibir Karin yang tertransfer ke bibirnya. Keduanya lantas saling melempar sebuah senyuman.
Ketika Aryan ingin memberikan yang terbaik untuk Karin, maka Karin juga ingin memberikan yang terbaik untuknya. Tanpa Karin mengatakannya, Aryan tahu bahwa ia telah memiliki Karin seutuhnya. Raga dan jiwa Karin, perempuan itu telah menyerahkan sepenuhnya hanya untuk Aryan.
***
Karin menatap pantulan dirinya di cermin meja rias putih di kamar. Karin menghela napasnya lalu menghembuskannya. Ia sedikit gugup. Meski ini bukan pertama kali ia dan Aryan akan melakukannya, gelora cinta dalam diri Karin selalu sukses membuatnya berdebar seperti ini.
Ketika Karin selesai menggunakan beberapa wewangian di tubuhnya, tepat saat itu ia mendapati Aryan melenggang memasuki kamar.
Sesampainya Aryan di hadapan Karin, lelaki itu menangkup kedua sisi wajah Karin. Detik berikutnya, Karin pun beranjak dari posisi duduknya, dengan gerakan lembut Aryan pun menarik pinggang Karin mendekat padanya.
Aryan lantas sedikit menunduk, lalu perlahan-lahan mulai mengecup mesra bibir ranum Karin. Tubuh Aryan yang sedikit lebih tinggi dari Karin, membuat Karin harus berjinjit untuk mengimbangi tempo ciuman yang Aryan lakukan.
Desahan yang terdengar begitu seksi lolos dari bibir Karin saat Aryan memperdalam ciumannya. Satu tangan Aryan menghela tengkuk Karin, guna mempermudah kegiatan yang sedang mereka lakukan. Tangan Aryan yang bebas bergerak mengusap aset milik Karin yang terasa begitu sintal di bagian belakang itu. Kegiatan Aryan itu membuat Karin seketika menjengitkan tubuhnya, dengan seruan dari dalam dirinya, Karin pun menghela Aryan untuk beralih mencumbu area lehernya.
Setelah ciuman yang mereka lakukan selama hampir sepuluh menit, Aryan kini telah membawa tubuh Karin ke ranjang. Sambil menjelajahi wajah Karin, Aryan pun berujar, “Karin, kamu cantik banget.”
Suara berat Aryan yang memujanya, pandangan Aryan yang begitu terlihat mendamba kala melihatnya, membuat iris mata Karin langsung berkaca-kaca.
“Kamu hamil gini, jadi makin seksi,” ujar Aryan lagi, tatapannya gemas, nada bicaranya sedikit jenaka.
“Masa sih? Bukannya aku jadi gendut?”
“Kamu nggak gendut, Sayang, tapi seksi. Aku suka kamu kayak gini, istri aku selalu cantik,” puji Aryan lagi.
Perlakuan Aryan yang menghargai Karin seperti ini, selalu mampu membuat Karin merasa nyaman dan spesial. Aryan tidak pernah lupa memperlakukan Karin dengan spesial, memuji, menuruti keinginannya, semua itu bentuk cinta yang Karin terima hampir setiap hari.
Bibir Aryan yang penuh dan terasa lembap itu, kini turun perlahan-lahan ke dari rahang Karin hingga ke lehernya. Aryan mengecup leher Karin dalam-dalam di sana, rasanya begitu nikmat, hingga menghadirkan reaksi alami dari tubuh Karin. Karin dengan pintar merespon setiap pergerakan yang Aryan lakukan, mereka saling mengapresiasi satu sama lain, dari sana lah terjadi komunikasi antar pasangan yang begitu intim. Hubungan tersebut tidak hanya sepihak, mereka saling memberi respon yang baik, itu lah yang membuat keduanya menghabiskan waktu hingga lebih dari dua puluh menit sendiri untuk kegiatan foreplay.
“Kak, gimana kalau kita coba posisi baru?” ujar Karin sembari menyibak helaian rambut Aryan yang turun menutupi keningnya. Aryan lantas nampak sedikit terkejut mendengar ucapan Karin barusan.
“Kamu mau posisi apa emangnya?” tanya Aryan.
“Woman on top. Gimana?”
Tidak lama kemudian, Aryan mengangguk menyetujuinya. Lelaki itu mengatakan pada Karin bahwa ia percaya untuk mereka melakukannya. Dari jurnal-jurnal yang mereka baca dan hasil konsultasi dengan dokter, posisi woman on top dapat memberikan kepuasan yang lebih kepada wanita. Seorang wanita akan memegang kendali hampir sepenuhnya, sehingga lebih tau titik kepuasannya. Posisi ini akan membuat gerakan pria tidak terlalu intens dan ejakulasi menjadi tertunda. Jadi dalam posisi ini pria tidak hanya memberi, tapi juga menerima.
Sebelum Karin bergerak ke atasnya, Karin membiarkan Aryan untuk melucuti pakaiannya. Itu sangatlah mudah bagi Aryan. Gaun sutra pendek berwarna merah gelap yang dikenakan Karin, hanya membutuhkan lima detik untuk berhasil tanggal ke lantai. Sama yang dilakukan oleh Aryan, Karin pun melepaskan satu persatu pakaian Aryan.
Setelah adegan melepaskan pakaian itu, Karin kembali mengecup bibir Aryan, sambil tangannya menyentuh setiap bagian tubuh keras dan berotot pria itu. Ini babak kedua dari foreplay, lagi dan lagi, keduanya sama-sama merasa terbang ke atas langit. Setiap gerakan mereka begitu terasa indah dan memabukkan.
Babak kedua terjadi lebih lama dari babak pertama. Aryan selalu melakukannya seperti itu, memberi Karin service spesial sampai perempuan itu puas lebih dulu.
Setelah pemanasan tersebut berakhir, kini Karin telah berpindah posisi menjadi di atas Aryan. Surai panjang Karin yang sudah menjadi lembap berkat cucuran keringatnya, membuat Karin terlihat semakin seksi. Begitu Karin mencium bibir Aryan lagi, helai rambut Karin yang jatuh mengenai wajah Aryan, memberikan sensasi nikmat tersendiri untuk pria itu.
Dengan satu tangannya dan sisa kekuatannya, Karin menyilakan rambutnya. Rambutnya sedikit menghalangi Karin dengan kegiatannya. Pergerakan Karin menyilakan rambutnya itu sukses membuat Aryan tidak berkedip. Karin sangat cantik. Sendi-sendi lutut Aryan seketika melemah, rasanya kedua kaki miliknya kini telah berubah menjadi jeli.
“Karin ... “ lenguhan itu lolos begitu saja dari bibir Aryan.
Kode tersirat dari Aryan itu lantas ditangkap dengan baik oleh Karin. Karin pun segera melakukannya lebih jauh, ia sudah menggenggam milik Aryan dengan satu tangannya. Napas mereka saling beradu, itu semakin intens, ketika Karin menggerakkan milik Aryan dengan tangannya dengan gerakan naik turun.
Bibir keduanya masih saling memagut ketika Karin mulai memasukkan milik Aryan ke dalam miliknya. Tetesan peluh Karin di pelipisnya yang turun hingga ke dadanya, membuat tangan Aryan basah kala ia memainkan dua benda milik Karin di sana. Mereka sudah sama-sama basah seujur tubuh dan ingin segera sampai ke pelepasan yang sesungguhnya.
“Kak, I love you,” ucap Karin dengan sedikit napas yang terengah, saat akhirnya milik Aryan berhasil menyentuh titik sensitifnya.
“I love you,” balas Aryan. Selama itu terjadi, netra mereka saling menatap, mereka menyalurkan cinta dan kasih dari tatapan itu. “I love you more, Karin,” sambung Aryan sembari mengusap puncak dada Karin dengan gerakan lembut.
Karin menangis di tengah-tengah kegiatan itu. Melihat air mata Karin membasahi belah pipinya, Aryan segera mengarahkan jemarinya untuk menyekanya dengan lembut. Gerakan Karin di atas Aryan terasa begitu sempurna, Aryan sangat menikmatinya. Semua yang Karin lakukan saat ini adalah hal terindah untuk Aryan. Aryan tahu bahwa Karin mencintainya dan lebih dari cukup baginya.
Setelah sekitar sepuluh menit lebih penyatuan tersebut terjadi, keduanya memutuskan untuk beristirahat. Karin merebahkan tubuhnya di samping Aryan, mereka saling berhadapan dan melempar pandangan.
“Sayang, kamu hebat banget. You are great, thank you for everything,” ucap Aryan.
Karin lantas mengulaskan senyumnya, ia mengambil tangan Aryan dan memberikan kecupan di punggung tangannya.
“Kita mau udahan atau nanti lanjut lagi?” tanya Aryan.
“Hmm … mau lanjut lagi,” jawab Karin.
“Kamu nggak capek emangnya?”
“Capek sih. Sedikit sakit juga. Kamu mau lagi, atau udah?”
“Kalau kamu capek, kita masih bisa lanjutin nanti malem atau besok. Nggak papa Sayang, kasian kamu lagi hamil juga.”
Karin akhirnya mengangguk setuju. Mereka memutuskan menyudahinya, tapi tidak langsung beranjak tidur. Meskipun matanya terasa berat, Aryan berusaha untuk tidak terpejam. Aryan tahu Karin suka mengobrol setelah mereka melakukan hubungan badan.
Tangan Karin yang tengah memegang lengan Aryan, secara tiba-tiba mencengkramnya dengan cukup erat, membuat Aryan sedikit terkejut. Karin nampak meringis dan berujar kesakitan.
“Kak, barusan bayinya nendang lumayan kenceng,” ucap Karin.
“Ohiya?”
Aryan yang bersemangat setiap merasakan anaknya bergerak, segera mendekatkan dirinya agar sejajar pada perut Karin.
“Hei, anak papa. Kamu aktif banget ya dari kemarin. Kamu lagi ngapain sih di dalem perut Mama?”
“Kamu sabar ya, sebentar lagi kita ketemu. Kalau kamu udah lahir, nanti Papa ajak kamu main bola sama mobil-mobilan. Papa sama Mama nggak sabar banget ketemu sama kamu,” oceh Aryan lagi.
Usai berbicara pada anaknya, Aryan kembali mensejajarkan posisinya dengan Karin. Mata sabit indah milik Aryan, kini menatap teduh ke arah Karin.
“Sayang, dokter bilang kalau kita makin sering kita berhubungan, itu bagus buat bayinya, kan?”
“Iya. Kata dokter bisa buat mancing kontraksi dan pembukaan jalan lahir,” jawab Karin.
Jawaban Karin itu segera menghadirkan sebuah senyuman cerah di wajah Aryan. Karin yang memperhatikan itu lantas ikut mengulaskan senyum cantiknya. Karin senang bahwa yang mereka lakukan dapat membuat Aryan bahagia. Karin telah memberikan seluruh dirinya untuk Aryan, yang lantas dibalas pria itu dengan cinta yang lebih besar.
Sebenarnya tidak ada yang tahu seberapa besar patokan cinta itu. Cinta tidaklah berwujud. Lucu memang, tapi begitulah adanya. Namun cinta itu sendiri yang pada hakikatnya menghasilkan bentuk-bentuk yang lebih besar dari apa yang bahkan tidak manusia duga. Cinta menghasilkan suatu wujud yang membuat manusia bertahan, melestarikan keturunan, dan memungkinkan dua orang yang sebelumnya jauh sekalipun, menjadi dekat, guna melengkapi dan mengasihi satu sama lain.
“Sayang, mau cium,” ucap Aryan.
Karin memperhatikan bibir Aryan yang berucap, padahal mata pria itu kini telah terpejam.
“Masih kurang? Mau cium di mana lagi emangnya?” balas Karin kemudian. Karin mengalungkan lengannya di pundak Aryan, menghapus ruang yang sebelumnya ada di antara mereka. Merasakan sentuhan Karin di tubuh polosnya, Aryan segera membuka matanya.
Aryan lalu mengarahkan telunjuknya untuk menunjuk bibirnya, “Di sini.” Kemudian jarinya segera beralih, ke pipi, kening dan terakhir di dekat rahang. “Di sini juga Sayang. Sebenarnya bebas kamu mau cium di mana. You are a pro and you always amazing when we’re did it.”
Karin tertawa sekilas. “Berkat ajaran kamu selama ini.”
Aryan kemudian tersenyum bangga. “Are you willing for it? I can teach you more.”
Karin nampak berpikir sejenak, dengan jenaka, perempuan itu menjauhkan wajahnya dari Aryan saat Aryan bergerak ingin menciumnya.
“I’m forever yours, Kak. Let’s do it tonight, tomorrow, even until we get older together. Are you willing for it?” ujar Karin.
Aryan lantas mengangguk. “Yes, Baby. Let's do it for sure,” ucap Aryan.
Sebagai pengantar tidur keduanya, mereka kembali saling mencumbu satu sama lain. Netra Aryan mulai terpejam dan tampak begitu lelap, tapi bibirnya masih setia bergerak mengulum bibir Karin di sana.
Bibir Aryan yang penuh dan besar itu, Karin begitu menyukainya. Suatu hari, jika anaknya lahir dan akan mewariskan bibir Aryan ini, Karin yakin anaknya akan menjadi lelaki yang tampan, persis seperti papanya.
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷