Love and Perfectness

Karin baru saja selesai memastikan Svarga tertidur dengan pulas di kamarnya. Setelah acara di rumah orang tua Aryan, mereka pulang ke rumah saat hari sudah beranjak sore. Kini waktu menunjukkan pukul 5, langit tampak berwarna jingga dan matahari sudah dalam perjalanan pulang ke peradabannya.

Ketika Karin menutup pintu kamar Svarga dan berbalik, ia menemukan Aryan di sana. Aryan menatapnya, lalu meraih tangan Karin dan menggenggamnya ringan. Aryan juga memberikan usapan di punggung tangan Karin, lalu sambil masih menatap iris mata Karin, Aryan berujar, “Sayang, makasih ya buat hari ini. Mungkin ada banyak kata terima kasih lainnya yang akan aku ucapkan ke kamu. Kamu dan Svarga, kalian adalah anugerah terbesar di hidup aku.”

Aryan mengatakan bahwa keluarga kecil mereka, Karin dan Svarga, merupakan wujud dari rasa syukurnya yang paling besar. Wujud paling besar kedua adalah orang tua dan keluarganya yang lain. Jadi akan ada banyak kata terima kasih, entah berapa jumlahnya. Selama Aryan masih hidup di dunia ini, ia akan sukarela mengutarakannya. Terutama kepada Karin, perempuan itu telah begitu banyak membawa berkat ke dalam hidupnya.

Sebenarnya tadi Karin mengira Aryan sudah tidur dan Karin akan menyusul ke kamar. Namun rupanya bayi besar Karin tersebut belum ingin terpejam. Karin memiliki tugas setelah menjadi istri dan seorang ibu. Karin akan memastikan bahwa kedua lelakinya mendapat kasih sayang yang cukup darinya, mendapat makanan enak, tidur dengan pulas, dan hal-hal lainnya sebagai wujud cintanya terhadap mereka.

Kini Aryan dan Karin saling berhadapan, mereka berpelukan ringan di bawah selimut tebal di atas kasur berukuran king size di kamar mereka. Mereka akan melakukan pillow talk sebelum tidur, salah satu kebiasaan yang menyenangkan dalam kehidupan pernikahan.

“Kak, aku bangga banget sama kamu,” ucap Karin. Karin menjeda ucapannya sesaat, ia mengamati paras Aryan dengan seksama, tatapannya terasa begitu dipenuhi oleh afeksi. “Kamu orang yang aku kagumin bukan cuma karena kamu suami dan ayah dari anak aku. Tapi aku kagum sama kamu secara personal. Kamu sosok yang tekun, pintar, dan bijaksana,” ungkap Karin.

Karin lalu mengatakan, ada sebuah kalimat dari lagu yang begitu menggambarkan perasaannya terhadao Aryan. Don’t want to give my heart away to another stranger. Salah satu kalimat dari lagu I’ll Never Love Again yang dinyanyikan oleh Lady Gaga tersebut, dapat begitu menggambarkan perasaan Karin terhadap Aryan. Aryan adalah orang asing terakhir yang membuat Karin rela memberikan seluruh hatinya. Aryan adalah orang yang terakhir yang ingin Karin sentuh, nama terakhir yang ingin selalu Karin ucapkan di dalam hatinya, serta cinta terakhir yang membuat Karin tidak ingin mencintai orang lain lagi.

“Kak,” ucap Karin tiba-tiba.

“Iya, Sayang? Kenapa?” Aryan lantas sedikit menjauhkan dirinya agar bisa sepenuhnya menatap paras wanitanya.

“Kamu pernah ke Maldives sama Kina berdua aja?” tanya Karin kemudian.

“Iya, pernah. Tapi nggak cuma berdua waktu itu,” jawab Aryan.

“Ngapain ke Maldives?”

“Kina ada kerjaan di sana, jadi aku temenin dia.”

“Kan ada Freya, managernya Kina.”

“Dulu kan aku pacarnya Kina.”

“Sekalian liburan berdua dong ya,” ucap Karin.

“Engga gitu, Sayang,” Aryan tergelak begitu saja.

“Nggak mungkin. Satu kamar pasti,” cicit Karin.

“Beneran, engga, Sayang,” Aryan tertawa lagi. Saat tawanya berangsur mereda, Aryan pun berujar lagi, “Aku sama Kina tetap punya boundaries. Kita beda kamar, Kina sekamar sama Freya.”

Karin kemudian hanya mengangguk sekali. Sela beberapa detik kemudian, Karin berujar lagi, “Harusnya aku gitu juga ya sama Rey. Waktu Rey ke Bali lima hari, aku ikut aja. Daripada nahan kangen.”

“Rey di Bali kerja?” tanya Aryan.

“Iya. Waktu itu ada project photoshoot di sana.”

“Kalau waktu itu kamu ikut Rey, emang kamu mau ngapain?”

“Mau cuddle lah malamnya di hotel,” ujar Karin sambil berusaha menahan senyumnya.

Cuddle doang, aku sama Rey juga punya boundaries, Kak,” Karin tertawa melihat ekspresi Aryan yang seketika berubah menjadi masam.

“Aku tau, Sayang. Aku tau kamu perempuan yang terhormat. Kamu nggak akan pernah melakukan itu,” ujar Aryan sambil mengulaskan senyum simpulnya.

“Tapi akhirnya aku melakukan itu sama pacarnya Kina, di Bali,” ujar Karin.

“Aku dulu pacarnya Kina. Tapi sekarang kan aku suami kamu.”

Senyum Karin seketika mengembang mendengarnya, “Takdir nggak terduga banget ya, Kak. Kapan dan di mana kita ketemu sama seseorang yang tepat. Kamu punya masa lalu sama Kina, aku punya masa lalu sama Rey. But at the end, we are together.”

Aryan pun menganggukinya. Aryan yang jadi penasaran akhirnya bertanya pada Karin, “Jadi apa alasan kamu tadi tiba-tiba tanya soal aku dan Kina?”

“Aku habis liat instagram Kina. Udah hampir lima tahun, Kina masih nyimpan kenangannya sama kamu. Terus aku pengen iseng aja nanya ke kamu.”

“Di instagramku udah aku hapus lho, Sayang,” ujar Aryan.

“Iya, aku udah liat, kamu udah hapus semuanya. Aku keliatan kayak istri posesif banget yaa Kak? Maaf ya, kamu pasti jadi nggak nyaman,” ujar Karin akhirnya.

“Nggak papa. Aku malah suka kamu jujur sama apa yang kamu rasain. Selama masih batas wajar, it’s totally oke, Sayang,” tutur Aryan.

“Cowok biasanya nggak suka di posesifin lho.”

“Oh iya? Tapi aku suka lho kamu cemburu kayak tadi. Asal masih dalam batas yang wajar, Sayang.”

“Siapa yang cemburu? Nggak ada, aku nggak cemburu tuh,” kilah Karin.

“Yaudah, iya. Kamu nggak cemburu.”

Jeda dua detik berikutnya, Aryan mendekatkan dirinya pada Karin dan memeluk torso wanitanya dengan erat.

“Kak, aku cemburu,” aku Karin akhirnya.

Aryan seketika tidak bisa menahan tawanya. Karin yang mendapati Aryan tertawa, lantas memanyunkan bibirnya sedikit.

Aryan bilang Karin itu lucu. Apakah perempuan memang seperti ini? Dia yang memulai, tapi akhirnya dia juga yang justru semakin uring-uringan.

“Sayang, gini ya. Dengerin aku,” Aryan menghela satu sisi wajah Karin, meminta perempuan itu menatapnya.

“Kamu nggak perlu pikirin itu. Kina cuma masa lalu aku. Aku udah punya masa sekarang dan menanti masa depan yang bahagia sama kamu. Menanti anak-anak kita lahir, kita mau punya anak banyak, kan Sayang?”

They staring to each other, deeply. Mata Karin nampak berkaca-kaca, perempuan itu akhirnya menganggukkan kepala sembari mengulaskan sebuah senyum simpul.

Aryan pun menjelaskan pada Karin bahwa ia telah meninggalkan seseorang yang pernah ia cintai untuk menemukan sosok yang mencintainya. Karin adalah sosok yang berhasil membuat Aryan seribu kali lipat akhirnya merasakan jatuh cinta yang begitu dalam.

Aryan telah menemukan pasangan dengan cara menemukan dirinya sendiri. Saat seorang lelaki sudah merasa lelah karena terus mencari sosok yang ia inginkan, sampailah pada suatu ketika ada seorang perempuan yang terlihat begitu cantik di mata lelaki tersebut. Perempuan itu nampak cantik dengan caranya sendiri. Dia punya daya pikat yang berbeda, yang akhirnya membuat si lelaki tertarik.

Dari pada mencari orang di luar sana dan berusaha menjadi sosok lelaki yang diinginkan oleh perempuan yang ia sukai, kenapa tidak mencoba mengenal diri sendiri. Hal itu dilakukan dengan tujuan untuk menaikkan value dan potensi yang ada di dalam dirinya. Sosok Karin yang apa adanya, sifat penyayangnya, sikapnya yang lembut, membuat Aryan ingin melakukan hal yang sama untuk Karin. Aryan ingin memberikan versi terbaik dirinya, ia ingin menjadi dirinya sendiri dan itulah wujud terbaik yang sesungguhnya.

Selesai dengan pikirannya, Aryan kembali menatap Karin. Berikutnya Karin bergerak dari posisinya untuk dapat menjangkau Aryan, lalu Karin memberikan kecupan lembut di pipi Aryan.

‘Cuph cuphh cuph’ bunyi menggemaskan itu terdengar kala Karin mengecup pipi Aryan bertubi-tubi .

Cara Karin menunjukkan kasih sayangnya, dapat membuat Aryan merasa begitu dicintai. Aryan berharga karena dirinya memiliki Karin yang mencintainya setulus ini.

“Kak, kamu punyaku,” ucap Karin.

“Iya, emang punya kamu,” balas Aryan sembari mengulaskan senyum tampan nan menggoda khasnya.

Tatapan keduanya lantas bertemu di satu titik yang sama. Aryan dan Karin, mereka adalah dua orang yang telah saling menemukan satu sama lain. Aryan dan Karin memiliki akhir yang bahagia. Even what they through is not easy, mereka punya kemauan untuk melalui itu dan berjuang demi mencapai sesuatu yang lebih baik di masa depan. Aryan menemukan takdir bahagianya. Masa lalu telah mengajarkannya, ia menjalani masa sekarang dengan baik, dan akan menuai yang lebih baik untuk masa depan.

“Kak, kira-kira kamu mau kita punya anak berapa?” tanya Karin.

Aryan sempat berpikir sejenak, ia belum memiliki jawaban itu di dalam kepalanya. “Kalau menurut aku, sampai kita punya enam atau tujuh anak, aku sanggup menghidupi kamu dan anak-anak kita. Tapi keputusannya ada di tangan kamu Sayang, karena kamu yang akan mengandung dan melahirkan mereka. Aku nggak ingin membebani kamu, kebahagiaan kamu tetap yang nomor satu bagi aku.”

Aryan begitu mencintai Karin dan anak mereka. Ada penyesalan kenapa dirinya dulu sempat tidak menginginkan anaknya. Kenyataannya, setelah Svarga lahir, hidup Aryan berubah menjadi jauh lebih baik. Orang di sekitar Aryan yang positif tentunya menghasilkan energi positif juga untuk dirinya. Aryan mendapatkan sumber cintanya yang tulus menyayanginya, yakni Karin dan Svarga. Aryan loves them both so much. He takes them to his number one priority.

Karin akhirnya menyetujui itu. Karin begitu takjub akan pemikiran Aryan. Karin mencintai Aryan dengan semua yang ada pada diri lelaki itu.

Bagi Aryan, jika seseorang mencari pasangan yang sempurna, maka orang itu akan terus mencari. Cinta itu hadirnya sederhana, hanya saja seringkali pikiran manusia yang menjadi terlalu rumit. Manusia ingin terus mencari yang sempurna, padahal tanpa disadari, cinta tidak selamanya tentang kesempurnaan. Justru sebaliknya, cintalah yang akhirnya bisa membuat seseorang merasa begitu sempurna.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷