Luka yang Hebat
Di tengah-tengah kehamilan mudanya, Karin tetap ingin berusaha dan berjuang untuk mendapatkan penghasilan. Karin memutuskan mengambil job photoshoot dengan clothing line dan kerja sama dengan brand untuk mempromosikan produk mereka. Beberapa merek masih percaya padanya dan ingin bekerja dengannya.
Saat ini Karin sedang berada di ruang ganti bersama dua orang stylist yang membantunya untuk mengganti pakaian. Ia masih ada pemotretan untuk beberapa pasang baju lagi. Setelah selesai dengan outfit-nya, Karin pun melakukan sedikit touch-up makeup di wajahnya.
Saat Karin menunggu gilirannya untuk difoto, ia mendapati Naya dan Jihan mendatanginya. Kedua sahabatnya itu sengaja datang ke studio untuk mengiriminya makanan dan minuman kesukaan Karin.
“Nih, gue bawain red velvet union kesukaan lo. Habisin yaa, biar bumil sama debaynya makin happy,” ujar Jihan. Ia meletakkan sebuah bungkusan kue yang nampak premium itu di meja yang berada di dekat Karin.
“Makasih Jihan,” balas Karin diiringi senyumnya.
Naya pun meletakkan 2 minuman kesukaan Karin, yakni minuman mango frappe with jelly dan chocolate mousse yang merupakan minuman favorit Karin.
“Rin, lo habis ini masih ada kerjaan atau langsung balik?” tanya Naya.
“Ini yang terakhir. Habis ini gue langsung balik kok,” jawab Karin.
Naya pun menganggukkan kepalanya. “Nice. Lo jangan kecapean dulu ya, Rin. Gue sama Jihan tungguin lo sampai beres, biar kita anter lo balik ke apart.”
“Gue balik sama Dara pakai supir kok nanti. Kalian nggak perlu repot-repot kayak gini,” ucap Karin. Ia menatap kedua sahabatnya dengan tatapan sungkan.
Naya dan Jihan memang sudah tahu mengenai kehamilannya dan apa yang terjadi pada Karin. Karin paham sahabatnya ingin berbaik hati padanya dan sangat peduli. Namun Karin tidak enak hati jika dirinya terus menjadi beban untuk sahabatnya.
***
Sekitar satu jam yang lalu Karin telah menyelesaikan photoshoot-nya. Kini ia dalam perjalanan pulang bersama Dara. Karin tengah menikmati minuman coklat yang di berikan oleh Naya. Sebuah senyum pun terukir di wajah Karin. Dara yang melihat aksi Karin itu ikut menyunggingkan senyumnya. Hatinya tersentuh melihat Karin bahagia meskipun hanya melalui hal kecil.
“Dar, besok gue ada kerjaan lagi nggak?” tanya Karin sambil menoleh pada Dara.
“Untuk besok nggak ada. Lo bisa full seharian istirahat.”
“Oke, thank you Dar.”
“Rin,” ujar Dara.
“Ya?”
“Lo yakin lo bisa membesarkan anak lo sendiri?” tanya Dara. Perlahan-lahan netra Dara pun nampak berkaca-kaca akan ucapannya sendiri. Beberapa minggu ini Dara telah menahan semuanya, ia sok kuat di hadapan Karin. Padahal kenyataannya ia sangat tidak tega melihat kondisi partner kerja sekaligus sahabatnya itu. Karin harus bekerja disaat perempuan itu tengah mengandung, itu tidak lah mudah.
“Gue yakin Dar,” ujar Karin menjawab pertanyaan Dara.
“Lo bilang keluarganya Aryan nggak akan biarin lo hadapin ini sendiri. Tapi nyatanya tuh cowok brengsek banget ya nyuruh lo gugurin gitu aja.”
“Dari awal antara gue sama dia, emang cuma kecelakaan, Dar. Dia punya hak untuk nggak menerima anaknya. Tapi sebagai ibunya, gue juga punya hak untuk memilih,” Karin menjeda ucapannya, ia menurunkan pandangannya ke arah perutnya, “Gue milih buat pertahanin anak ini, gue udah sayang banget sama dia.”
***
Karin sampai di apartemennya dan langsung menuju ke kamarnya. Hari ini kegiatan yang dijalaninya cukup melelahkan bagi Karin. Dari pagi sampai siang, ia ada shooting untuk kampanye brand. Setelah itu dilanjut untuk photoshoot clothing line sampai akhirnya sore menjelang. Ketika sampai di apartemen, hari pun sudah gelap dan Karin merasa sekujur tubuhnya kini terasa pegal.
Karin melangkahkan kakinya menuju ranjang ukuran queen size di kamarnya. Ia ingin langsung memejamkan matanya, berharap ketika bangun nanti, tubuhnya dapat terasa jauh lebih baik. Namun tiba-tiba justru ia terbayang kejadian malam itu, dimana dirinya dan Aryan terjebak di dalam kamar hotel. Sekelabat bayangan itu pun datang padanya seperti sebuah kepingan-kepingan puzzle.
Teringat kembali entah kenapa seketika membuat mata Karin terasa memanas. Hatinya begitu sakit ketika mendapati Aryan menolak anaknya. Harusnya tidak begitu, bukan? Harusnya Karin tidak perlu memikirkan itu.
Karin bergerak tidak nyaman dalam posisinya. Ia berusaha untuk bangun dari baringannya dan menyandarkan punggungnya di header kasur. Kemudian Karin mengarahkan tangannya ke perutnya yang masih terasa rata. “Hai, anak Mama,” ucapnya sambil tersenyum kecil. “Mama harap, suatu hari nanti kamu baik-baik aja seandainya keluarga kita nggak lengkap. Nggak papa ya kalau kamu cuma punya Mama di dunia ini.”
Setelah memberi sebuah usapan di perutnya, Karin memutuskan untuk kembali membaringkan tubuhnya. Ia mulai mencoba memejamkan mata bersamaan hatinya yang terasa sakit. Namun menit berikutnya yang terjadi adalah rasa sakit di hatinya berganti dengan rasa sakit di perutnya.
“Arghh,” rintih Karin bersamaan dengan sebuah kernyitan di keningnya. Rasa sakit itu lama-lama terasa semakin intens, hingga mengakibatkan bulir-bulir keringat mulai turun membasahi pelipis Karin.
Karin berusaha bergerak dari posisinya untuk mengambil ponselnya. Nomor yang ia hubungi pertama kali adalah nomor Aryan. Bagaimana pun Aryan perlu tahu keadaan anaknya. Karin tidak ingin menjadi orang tua yang egois dengan hanya memikirkan hatinya yang terluka.
Namun harapan kembali menghempaskan Karin. Aryan tidak mengangkat panggilannya atau pun membaca pesannya. Karin tidak ingin menyerah dan kalah terhadap rasa sakitnya. Ia pun berusaha menghubungi Nayna dan Leon. Tidak lama kemudian, Nayna membalas pesannya dan Leon menjawab panggilan telfonnya. Leon mengatakan bahwa dirinya dalam perjalanan menuju apartemen Karin dan akan berusaha untuk sampai ke sana secepat mungkin.
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷