Luka yang Hebat
Di tengah kehamilan mudanya, Karin tetap ingin berjuang untuk mendapat penghasilan. Karin memutuskan untuk mengambil job photoshoot dengan sebuah clothing line dan bekerja sama dengan brand fashion ternama untuk mempromosikan produk akhir tahun mereka. Beberapa merek masih memberikan kepercayaannya pada Karin dan ingin bekerja dengannya.
Saat ini Karin sedang berada di ruang ganti bersama dua orang stylist yang membantunya untuk mengganti pakaian. Karin masih ada pemotretan untuk beberapa pasang baju lagi. Sekitar 15 menit kemudian, Karin pun selesai memakai outfit-nya dan mendapatkan sedikit touch-up makeup di wajahnya.
Saat Karin menunggu gilirannya untuk difoto, ia mendapati Naya dan Jihan datang ke lokasi pemotretannya. Kedua sahabatnya itu sengaja datang ke studio untuk mengiriminya makanan dan minuman kesukaan Karin.
“Nih, gue bawain red velvet union kesukaan lo. Habisin yaa, biar bumil sama debaynya makin happy,” ujar Jihan sembari meletakkan sebuah bungkusan kue di meja yang ada di dekat Karin.
“Makasih Jihan,” balas Karin sambil mengulaskan senyumnya ke arah Jihan.
Naya pun ikut meletakkan dua buah minuman kesukaan Karin, yakni minuman mango frappe with jelly dan chocolate mousse yang merupakan minuman favorit Karin.
“Rin, lo habis ini masih ada kerjaan atau langsung balik?” tanya Naya.
“Ini yang terakhir. Habis ini gue langsung balik kok,” jawab Karin.
Naya pun menganggukkan kepalanya. “Nice. Lo jangan kecapean dulu ya, Rin. Gue sama Jihan tungguin lo sampai beres, nanti kita anter lo balik ke apart.”
“Gue balik sama Dara pakai supir kok nanti. Kalian nggak perlu repot-repot,” ucap Karin seraya menatap sungkan kepada dua sahabatnya.
Naya dan Jihan memang sudah mengetahui soal apa yang terjadi. Karin pun paham sahabatnya sangat peduli kepadanya. Namun Karin tidak enak hati jika dirinya hanya terus menjadi beban untuk keduanya.
***
Sekitar dua puluh menit yang lalu, Karin telah selesai dengan photoshoot-nya. Kini ia dalam perjalanan pulang bersama Dara. Karin tengah menikmati minuman coklat yang diberikan oleh Naya. Sebuah senyum pun terlukis di wajah Karin. Dara yang mendapati aksi Karin itu ikut menyunggingkan senyumnya. Hatinya tersentuh melihat Karin bahagia meskipun hanya melalui hal yang sederhana.
Karin menoleh pada Dara dan bertanya, “Dar, besok gue ada kerjaan nggak?”
“Untuk besok nggak ada. Lo bisa full seharian istirahat di apart,” jelas Dara.
“Oke, thank you ya Dar.”
“Rin,” ujar Dara.
“Iya?”
“Lo yakin lo bisa membesarkan anak lo sendiri?” tanya Dara. Perlahan-lahan netra Dara pun berubah menjadi berkaca-kaca berkat pertanyaannya sendiri. Beberapa minggu ini Dara telah menahan semuanya, ia hanya memperlihatkan sisi kuatnya di hadapan Karin. Padahal yang terjadi sebenarnya, Dara sangat tidak tega melihat kondisi rekan kerja sekaligus sahabatnya itu. Karin harus tetap bekerja disaat perempuan itu tengah mengandung, itu bukanlah suatu hal yang mudah.
“Gue yakin gue bisa,” ujar Karin menjawab pertanyaan Dara.
“Lo bilang keluarganya Aryan nggak akan biarin lo hadapin ini sendiri. Tapi kenyataannya cowok brengsek itu malah nyuruh lo gugurin kandungan gitu aja,” ucap Dara.
“Dari awal di antara gue sama dia, emang cuma kecelakaan, Dar. Dia punya hak untuk nggak menerima anaknya. Tapi sebagai ibunya, gue juga punya hak untuk mengambil keputusan,” Karin menjeda ucapannya, ia menurunkan pandangannya ke arah perutnya, “Gue mau mempertahankan anak ini, gue sayang banget sama dia, Dar.”
***
Karin sampai di apartemennya dan langsung melenggang menuju kamarnya. Hari ini kegiatan yang dijalani Karin terasa cukup melelahkan baginya. Ketika sampai di apartemen, hari pun sudah gelap dan Karin merasa sekujur tubuhnya terasa begitu pegal.
Setelah mengganti pakaiannya dengan sebuah dress tidur bunga-bunga sebatas lutut, Karin melangkahkan kakinya menuju ranjang berukuran queen size yang berada di kamarnya. Karin ingin langsung memejamkan matanya dan berharap ketika bangun nanti, tubuhnya dapat terasa jauh lebih baik. Namun tiba-tiba Karin justru terbayang akan kejadian malam itu. Malam di mana dirinya dan Aryan terjebak di dalam sebuah kamar hotel. Sekelabat bayangan itu mendatangi Karin seperti sebuah kepingan-kepingan puzzle.
Entah kenapa saat Karin mengingatnya kembali, matanya seketika terasa memanas. Hatinya begitu sakit kala mendapati Aryan menolak anaknya. Seharusnya tidak begitu, bukan? Karin tidak perlu memikirkan itu dan hanya perlu memfokuskan perhatian pada bayinya saja.
Karin bergerak bangun dari baringannya dan menyandarkan punggungnya di sandaran kasur. Karin pun mengusapkan tangannya di perutnya yang masih terasa rata itu, “Hai, anak Mama.” Senyuman lembut Karin seketika terukir di parasnya. “Mama harap suatu hari nanti, kamu baik-baik aja seandainya keluarga kita nggak lengkap. Nggak papa ya Nak, kalau kamu cuma punya Mama di dunia ini.” Karin menghembuskan napasnya dan mengusap ujung matanya, berusaha menahan air mata yang rasanya mendesak untuk kelaur dari pelupuk matanya.
Setelah sekali lagi memberi sebuah usapan lembut di perutnya, Karin pun memutuskan untuk kembali berbaring. Karin mulai mencoba memejamkan mata bersamaan hatinya yang terasa begitu sakit. Namun menit berikutnya, Karin merasakan rasa sakit yang menyerang perutnya telah mengalahkan rasa sakit di hatinya.
“Arghh,” rintih Karin bersamaan dengan sebuah kernyitan yang muncul di keningnya. Karin menggigit bibir bawahnya guna melampiaskan rasa sakit yang kini mendatanginya. Lama-lama rasa nyeri yang mirip seperti menjelang masa haid yang dirasakan Karin terasa semakin intens, hingga mengakibatkan bulir-bulir keringat mulai merembas di kedua pelipisnya. Dengan segala usahanya, Karin pun akhirnya berhasil bangun dari baringannya.
Ketika Karin melihat ke bagian bawahnya, matanya langsung menangkap sebuah cairan kental berwarna merah yang mengalir di pahanya hingga perlahan turun sampai ke betis.
Karin pun berusaha bergerak untuk mengambil ponselnya. Nomor yang ia hubungi pertama adalah nomor Aryan. Bagaimana pun Aryan perlu tahu apa yang terjadi dengan anaknya. Karin tidak ingin menjadi orang tua yang egois dengan hanya memikirkan hatinya yang terluka.
Beberapa kali Karin telah mencoba untuk menghubungi Aryan, tapi tidak ada satu pun panggilannya yang diangkat. Aryan tidak mengangkat telfonnya atau pun membaca pesannya. Karin tidak ingin menyerah terhadap rasa sakit yang itu, ia akan berjuang demi anaknya. Karin pun berusaha menghubungi Nayna dan Leon. Sekitar lima menit kemudian, akhirnya Nayna membalas pesannya dan Leon pun menjawab panggilan telfonnya. Leon mengatakan bahwa dirinya dalam perjalanan menuju apartemen Karin dan berusaha untuk sampai ke sana secepat mungkin.
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷