Manisnya Kalah Sama Kamu
Tidak terasa, sebentar lagi Aryo akan menjadi seorang ayah. Usia kehamilan Tiara saat ini sudah menginjak usia 38 minggu. Mereka telah konsultasi dengan dokter dan memutuskan agar kelahiran anak mereka dilakukan dengan operasi caesar. Tidak ada alasan khusus sebenarnya, Aryo dan Tiara menginginkan kelahiran anak pertama mereka lebih well prepared. Selain itu, jika mengambil jalan operasi, keduanya bisa menentukan tanggal kelahiran anak mereka.
Sekitar satu tahun yang lalu, Aryo merasa bahwa dirinya adalah pria yang luar biasa. Ketampanan, harta, dan jabatan yang di dimilikinya menjadikannya pria yang arogan. Ia tidak menganggap bahwa komitmen dalam suatu hubungan itu penting.
Sampai suatu saat ia bertemu dengan Tiara. Akibat perbuatannya, skandalnya dan Tira pun muncu. Rasanya ia bukan siapa-siapa kecuali pria pengecut dan bejat jika saja waktu itu ia memilih lari. Namun akhirnya kejadian tersebut membuat Aryo mempertanggungjawabkan apa yang telah ia lakukan dan menikahi Tiara.
Aryo pikir semua rentetan kejadian itu adalah takdir yang sudah digariskan. Tuhan telah mempertemukannya dengan Tiara dan menjawab semua keraguannya akan sesuatu bernama pernikahan. Kini ia memiliki kehidupan yang bahagia bersama orang yang sangat dicintainya dan Aryo sangat bersyukur atas itu.
Sesuai dengan tanggal yang Aryo dan Tiara inginkan, malam ini mereka berangkat ke rumah sakit dengan membawa berbagai perlengkapan yang dibutuhkan untuk pasca bersalin. Jadwal operasi dilakukan besok pagi pukul 9. Tiara baru saja kembali ke ruang inapnya setelah melakukan pemeriksaan yang dibutuhkan sebelum melakukan operasi besok.
Aryo mengambil tempat di samping Tiara yang tengah berbaring di ranjang rawatnya. “Sayang,” ujarnya.
“Iya?”
“Kamu mau makan apa lagi sebelum puasa? Biar aku beliin,” ucap Aryo.
Tiara menoleh ke arah Aryo, “Kamu di sini aja. Minta tolong Egha yang beliin,” ujar Tiara sambil memegang lengan Aryo.
“Oke, nanti aku minta tolong Egha beliin. Kamu kasih tau aja yaa,” putus Aryo diiringi senyumnya.
“Besok pagi mama sama bunda jadi kesini?” tanya Tiara.
“Iya, kita kan mau doa bersama sebelum kamu masuk ruangan operasi.”
Tiara pun mengangguk. Ia memerhatikan Aryo yang sedang menghubungi Egha setelah Tiara memberitahu makanan yang ia inginkan. Sekarang pukul 8 malam, Tiara ingin tidur untu beberapa saat, tapi matanya tidak mau terpejam. Tiara sedikit kepikiran soal operasi besok.
“Kenapa Sayang? Nggak bisa tidur ya?” tanya Aryo.
“Aku mau tidur sebentar aja, tapi nggak bisa. Kepikiran operasi besok,” ungkap Tiara.
“Yaudah, nggak papa. Nanti habis makanannya dateng, kamu makan, baru coba tidur lagi ya,” tutur Aryo sambil membantu Tiara untuk merubah posisinya menjadi duduk. Aryo juga menyetel ranjang rawatnya dan menyesuaikannya dengan posisi Tiara agar istrinya itu nyaman. Selang 20 menit kemudian, terdengar sebuah ketukan di pintu. Aryo pun bergegas membukanya dan menerima makanan yang dibawakan oleh Egha.
“Sayang, ini makanannya,” Aryo meletakkan bungkusan plastik di nakas samping ranjang. Ia mendapati Tiara baru selesai menyisir rambut lalu menggulungnya ke atas dan menjepitnya.
“Makasih, Sayang,” Tiara lantas mengambil makanan itu dan mulai menyantapnya. Aryo mengamati kedua mata Tiara yang nampak berbinar ketika perempuan itu baru saja melakukan suapan pertama.
“Hmm ... enak banget nih, Sayang. Kamu mau? Sini aku suapin,” ujar Tiara. Aryo pun mendekat dan menerima suapan dari Tiara.
“Paling tau ya kamu jajanan enak,” celetuk Aryo setelah mengunyah makanan di mulutnya.
“Iya dong,” balas Tiara sambil menampakkan cengirannya. Tiara sudah selesai dengan makanannya dan kini ia merasa begitu kenyang.
“Bayinya happy nih pasti, kamu kasih makan terus,” cetus Aryo sembari mengarahkan tangannya untuk mengusap perut bulat Tiara. Aryo mengambil tempat di sisi ranjang Tiara, mereka duduk bersebelahan dan Aryo memeluk istrinya dari samping.
“Nggak nyangka ya Ra besok aku jadi Papa,” ucap Aryo.
Tiara menyunggingkan senyumnya mendengar ucapan Aryo, “Cie ... yang mau jadi Papa. Seneng banget yaa?” tanyanya sambil mengusapkan tangannya di sisi wajah Aryo. Aryo merebahkan kepalanya di bahu Tiara, tampak begitu nyaman di sana.
Aryo meraih satu tangan Tiara, membawanya mendekat, lalu ia menyematkan sebuah kecupan di punggung tangan itu.
“Aryo, barusan anak kita nendang,” ucap Tiara yang seketika membuat Aryo mengangkat kepalanya. Keduanya pun kembali menunggu anak mereka melakukan hal yang sama. Ekspresi mereka tampak begitu bersemangat menantikan momen itu.
Dua detik berikutnya, Tiara merasakan pergerakan di perutnya bahkan satu bagian di perutnya nampak menonjol akibat aksi bayi mereka. Keduanya menyaksikan hal itu bersama dan kala itu terjadi, Aryo dan Tiara mematung, mereka melihat kejadian itu dengan tatapan takjub. Jantung keduanya terasa meletup-letup karena perasaan bahagia.
Aryo mendekatkan dirinya di perut Tiara dan berujar pada anaknya, “Hai, bayi. Kamu nggak sabar ya ketemu Papa dan Mama? Besok kita ketemu ya, Jagoan. Kamu jadi anak baik di dalam perut Mama, oke?”
“Aryo, tuhan itu hebat yaa,” ucap Tiara. Aryo pun mendongak dan mempertemukan pandangan mereka.
Aryo mengangguk setuju. “Tuhan ngasih lebih dari apa yang aku minta, Ra. Tuhan hebat dan baik banget sama umatnya,” ujar Aryo.
Tiara bergerak memeluk Aryo dari samping, “Dulu aku pernah kecewa sama Tuhan. Aku sudah salah menilai dan meragukannya. Tapi akhirnya aku sadar, apa yang menyakiti kita hari itu adalah proses kita untuk sampai pada kebahagiaan. Tuhan akan menggantikannya dengan yang lebih baik.”
“Ra,” ujar Aryo di dekat Tiara. “I want to live with you forever. I want to hug you and loving you, as much as I can,” ujar Aryo.
Beberapa detik berikutnya, Tiara mengangkat wajahnya untuk menatap Aryo, “Pantes tadi makanan aku kurang manis lho Sayang,” ujar Tiara.
“Masa sih?” Aryo nampak kebingungan. Ia tidak merasakan hal yang sama dengan yang Tiara ucapkan barusan, “Perasaan manis kok Sayang.”
“Iya, kurang manis tau. Orang manisnya diambil sama kamu semua,” detik itu juga Tiara menampakkan senyum jenakanya di depan Aryo.
Aryo pun menghela napasnya sembari mendekap Tiara lebih erat lagi, “Gombal banget sih kamu. Nanti aku balas ya, liat aja,” ujar Aryo sambil melayangkan tatapan gemasnya pada Tiara.
“Oke,” Tiara mengacungkan ibu jarinya di hadapan Aryo, “Aku siap kok menunggu balasan gombal dari Ayang. Tapi harus lebih sweet ya, awas aja lho kalau enggak.”
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷