Membuka Lembaran Baru

Aryo mengendarai mobilnya dan sampai di kantor pagi ini. Di gedung pencakar langit berlantai 65 tersebut, cerita keluarganya belasan tahun yang lalu telah di mulai. Mereka membangun bersama sebuah perusahaan keluarga yang kini dikenal dan memiliki nama yang besar. Nama awal perusahaan itu adalah Prawira Group, yang kemudian diubah menjadi Harapan Jaya Group. Perubahan tersebut terjadi berkat usaha Reynaldi untuk menutupi semua perbuatannya di masa lalu.

Aryo bertemu Rama di lobi dan mereka menaiki lift bersama ke lantai 20.

Di dalam lift, beberapa karyawan dan petinggi perusahaan yang merupakan keluarganya, menatap Aryo dengan tatapan yang sedikit berbeda.

“Sudah lihat berita di media?” ujar seseroang.

“Sudah, Direktur.”

“Berita itu akan memberi dampak besar ke perusahaan. Saya nggak habis pikir,” ujar yang lainnya.

“Benar, harga saham kita bisa turun kalau begini terus. Presdir yang melakukan tuntutan itu. Harusnya perusahaan jadi prioritasnya.”

“Rumornya korban kecelakaan itu adalah ayah kandung istrinya Presdir. Mungkin itu alasannya.”

Aryo maupun Rama mau tidak mau mendengar percakapan orang-orang orang itu di lift. Aryo mengarahkan tatapannya pada Rama di sampingnya, mengisyaratkan lelaki itu untuk tidak melakukan apapun.

Saat sampai di lantai 20, Aryo melangkah keluar lift diikuti oleh Rama.

“Kesel banget gue. Mereka jelas-jelas ngomongin lo kayak gitu, tapi lo diem aja,” serbu Rama ketika keduanya sampai di ruangan Aryo.

“Nggak ada yang salah dari omongan mereka, Ram. Apa yang mereka bilang memang benar,” ujar Aryo.

Rama menghela napasnya kasar. “Kalau bukan orang tua, udah gue kasih pelajaran tuh orang,” ujar Rama yang masih terlihat kesal.

“Gimana?” tanya Aryo.

“Apanya?” Rama terlihat bingung atas pertanyaan yang dilontarkan oleh atasannya itu.

“Dampak berita itu ke perusahaan. Apa udah muncul?” tanya Aryo.

Mendengar penuturan Aryo tersebut, Rama lantas membuka laptopnya dan memperlihatkan laporan yang telah ia buat kepada Aryo.

“Harga saham kita udah turun lumayan drastis,” Rama menunjuk grafik saham yang mengalami penurunan di layar laptopnya. “Nama perusahaan jadi trending topic dimana-mana, di media offline maupun online. Ada rumor beredar kalau Erlangga adalah ayah kandungnya Tiara, padahal kasus dan persidangan dilakukan secara tertutup. Nggak habis pikir gue, info gampang banget bocor,” sambung Rama.

“Ada lagi?” tanya Aryo.

“Sebagian distributor besar kita ngajuin penarikan produk dari display store mereka. Brand impression kita menurun, ada pembatalan pesanan produk dan kerjasama antar brand,” papar Rama. Pria itu menutup layar laptopnya dan berusaha mengendalikan emosi serta perasaan kalut di dalam dirinya.

Aryo terdiam beberapa saat. Ia belum terpikirkan apa yang harus ia lakukan untuk memperbaiki semua ini.

“Masyarakat nggak akan percaya kalau kita bicara soal kebaikan perusahaan. Lo tau piring yang pecah nggak akan bisa balik lagi utuh, kan?” ujar Aryo.

Rama mengangguk. “Gue paham. Terus apa yang bakal lo lakuin untuk perbaiki semua ini?”

“Gue nggak akan berusaha untuk mengembalikan citra baik perusahaan. Tapi gue akan berusaha untuk membuka lembaran yang baru,” ucap Aryo.

***

Usaha bertahun-tahun yang selama ini sering dilakukan oleh keluarganya guna menutupi yang buruk demi citra yang baik, semua itu kini terasa sia-sia.

Eyang putri dan eyang kakung siang ini datang ke kantor dan menemui Aryo di ruangannya. Eyang putri menatap cucunya sekilas, lalu beliau menghembuskan napasnya pelan.

“Kamu rela melawan keluargamu sendiri dan menaruh posisi perusahaan di dalam bahaya, hanya untuk mengungkap kasus ini,” ujar Nurmala.

“Eyang putri kecewa sama kamu,” tutur Nurmala dengan suaranya yang sedikit bergetar.

Kini giliran eyang kakung yang menatapnya, “Aryo, ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Prawira.

“Ada, Eyang. Ada dua hal yang akan Aryo sampaikan,” ucap Aryo.

“Silakan kalau begitu,” ujar Prawira.

Aryo berdeham lalu menatap Nurmala dan Prawira secara bergantian. “Eyang Putri, Eyang Kakung, apa yang sudah terjadi tidak bisa ditutupi. Sekalipun kita menghabiskan seluruh uang atau aset yang kita punya,” Aryo menjeda ucapannya.

Kalimat pertama yang Aryo lontarkan terasa seperti tamparan keras untuk Prawira dan Nurmala.

“Posisi Aryo adalah presdir Harapan Jaya dan Aryo punya tanggung jawab atas kesejahteraan usaha ini. Aryo akan berusaha memberikan yang terbaik untuk perusahaan di lembaran yang baru,” Aryo menjadi ucapannya.

“Yang kedua, Aryo melakukan semua ini bukan semata karena memikirkan keluarga Aryo sendiri. Pilihan yang Aryo ambil adalah pilihan yang Aryo yakini benar. Akan ada yang pro dan kontra terhadap apapun yang kita lakukan, Eyang. Tapi berada di jalan yang benar, akan selalu jadi pilihan untuk Aryo,” tuturnya.

Prawira yang semula menundukkan kepalanya, kini mendongak dan menatap Aryo dengan tatapan terharunya.

“Aryo,” ujar Prawira.

“Iya, Eyang?”

“Eyang mungkin belum sanggup mendidik anak-anak Eyang dengan baik,” ujar Prawira. Lelaki paruh baya itu menatap Aryo sebelum melanjutkan perkataannya, “Tapi Edi dan Feli sudah begitu berhasil mendidik kamu,” ujar Prawira.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷