Memulai Lembar di Buku yang Baru

Aryan mengerti mengapa Karin tidak membiarkannya untuk turun dari mobil. Selama Karin bertemu dan berbincang dengan Rey di kafe, Aryan menunggunyadi mobil. Karin mengatakan bahwa ia memikirkan perasaan Rey. Rey adalah masa lalu bagi Karin yang hanya akan menjadi kenangan. Aryan pun menghargai masa lalu milik Karin tersebut. Aryan berpikir bahwa buku yang dimiliki Karin dan Rey telah menemui akhir kisahnya. Kini Karin akan memulai lembar di buku yang baru bersama Aryan.

“Kak,” ujar Karin yang seketika memecah pikiran Aryan.

Tanpa menoleh ke samping karena harus fokus menyetir, Aryan lantas menanggapi panggilan Karin, “Iya?”

Karin memperhatikan Aryan yang tengah menyetir menggunakan satu tangannya. Kemudian Karin mendekatkan dirinya, ia bergerak memeluk satu lengan Aryan yang bebas. Aksi Karin tersebut membuat Aryan menjadi kurang fokus terhadap jalanan di depannya. Aryan, lo harus fokus nyetir, ucap Aryan di dalam hatinya.

“Nggak papa aku gini?” Karin bertanya dengan nadanya yang terdengar sedikit sungkan.

“Nggak papa,” jawab Aryan cepat. Dalam hatinya, Aryan merasa begitu senang mendapati perilaku Karin terhadapnya.

Karin dan Aryan kini telah sepakat untuk memulai lembar kehidupan mereka yang baru. Setelah masing-masing mengakhiri hubungan dengan pasangan mereka, Aryan dan Karin memutuskan untuk belajar saling mencintai. Mereka akan membuka hati dan menjalani kehidupan berumah tangga bersama. Karin akan belajar untuk mencintai Aryan, setelah lebih dulu Aryan mengungkapkan perasaan lelaki itu terhadapnya.

Aryan dan Karin melakukannya untuk masa depan keduanya dan juga anak mereka kelak. Bayi di dalam kandungan Karin akan membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya. Jika Aryan dan Karin sebagai orang tua saja tidak tahu rasanya saling mencintai, bagaimana bisa bersamaan memberikan cinta tersebut untuk sang bayi? Itu terdengar agak mustahil untuk terjadi. Aryan dan Karin telah memutuskan untuk memberikan kasih sayang terbaik untuk satu sama lain dan juga untuk anak mereka nantinya.

Aryan menoleh sekilas ke arah Karin dan melihat Karin nampak memejamkan matanya. Kepala Karin mendusel di lengan Aryan, nampak nyaman, mirip seperti bayi koala.

“Karin, kamu ngantuk?” tanya Aryan dengan suara pelan.

Mendengar pertanyaan Aryan, Karin segera mendongakkan kepalanya. Mata mereka bertemu dan Karin mengurai pelukannya di lengan Aryan. Saat ini mobil mereka sedang berhenti karena lampu merah di depan, jadi Aryan bisa memberikan fokus penuhnya kepada Karin.

“Mau peluk aja. Aku nggak ngantuk sih sebenarnya,” jawab Karin diiringi senyum kecilnya.

Alright, peluk aja,” balas Aryan sembari mengusap sekilas pipi Karin. Jeda dua detik berikutnya, Aryan pun nampak mengulaskan senyumnya. Senyum tersebut tampak begitu alami, hingga Karin sedikit terkejut dibuatnya. Melihat senyum itu, hati Karin rasanya berantakan, persis seperi lemari pakaiannya ketika ia belum sempat merapikannya.

Karin akhirnya memutuskan untuk kembali memeluk lengan Aryan ketika lelaki itu mulai memanuver mobilnya, rupanya lampu lalu lintas sudah berubah warna menjadi hijau.

Apa yang Karin lakukan tersebut berdasarkan apa kata hatinya. Tiba-tiba Karin ingin merasakan bagaimana hangatnya berada di pelukan Aryan. Lebih dari yang Karin bayangkan, ternyata rasanya begitu nyaman sekaligus membahagiakan.

Di tempat duduknya, Aryan sedang berusaha mengatakan pada dirinya sendiri untuk tetap fokus menyetir. Rupanya aksi kecil Karin tersebut mampu menciptakan dampak yang cukup besar bagi Aryan. Halus kulit Karin yang bersentuhan dengan kulit lengannya, tutur lembut ketika perempuan itu berucap, sukses membuat jantung Aryan membuncah bahagia di dalam sana.

***

Karin baru saja kembali ke kamar setelah mengganti pakaiannya. Sedikit belum terbiasa, jadi Karin masih melakukannya di dalam kamar mandi. Kamar yang beberapa bulan lalu hanya ditempati olehnya seorang diri, kini keadaannya nampak berbeda. Karin tidak sendirian lagi, ia tahu, ketika akan tidur akan ada seorang yang memandang wajahnya. Ketika ia membuka mata, akan ada sosok yang menatapnya sembari mengulaskan senyum surgawinya yang nampak begitu teduh dan indah.

Ketika Karin sudah menjamah kasur lebih dulu, tidak lama setelah itu Aryan pun bergerak menyusulnya.

“Kak, kamu pakai parfum yang mana?” tanya Karin sembari menautkan alisnya.

“Parfum aku yang biasa. Kenapa? Kamu kurang suka ya sama aromanya?” tanya Aryan.

Karin seketika menggeleng. “Suka kok,” ujar Karin.

“Parfumnya masih nempel banget, padahal kamu udah ganti baju,” tambah Karin lagi.

“Bagus dong, kalau gitu. Selama kamu suka sama aromanya,” celetuk Aryan dengan lugas.

Ucapan spontan Aryan itu seketika membuat keduanya terdiam. Dengan cepat dan tanpa bisa dicegah, kedua belah pipi Karin terasa memanas dan muncul rona kemerahan di sana.

Aryan pun juga baru sadar akan ucapannya barusan. Keduanya seketika teringat momen kemarin malam, di mana saat mereka tidur bersama dan entah siapa yang memulainya lebih dulu. Ketika pagi hari tiba, Aryan dan Karin sama-sama bersemu mendapati keadaan mereka yang tengah berpelukan. Entah gaya tidur macam apa yang telah mereka coba, sampai-sampai seharian Karin dapat merasakan wangi parfum Aryan menempel hampir di seluruh bagian tubuhnya.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Aryan dan Karin akhirnya telah sama-sama berbaring di kasur dengan posisi saling membelakangi. Sepertinya mereka memiliki pikiran yang sama. Entahlah, tapi kalau ingat malam itu, memang masih membuat keduanya malu.

Beberapa saat berlalu, Karin pun membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Aryan. Rupanya Karin belum tidur. Begitu pun dengan Aryan. Biasanya Aryan lebih cepat terlelap dibandingkan Karin, tapi kini Aryan justru hanya menatapnya lekat dengan matanya yang masih nampak segar.

“Karin, can I hug you?” tanya Aryan.

Pupil mata Karin nampak melebar kala mendengar pertanyaan tersebut. Waktu itu mereka melakukannya tanpa kesadaran dari masing-masing pihak. Namun kini dalam keadaan seratus persen sadar, Aryan meminta pada Karin untuk melakukannya.

Tidak sampai lima detik berselang, akhirnya Karin mendekatkan dirinya terlebih dulu. Dengan perlahan tapi pasti, Karin akhirnya bergerak melesak ke dalam pelukan Aryan. Lengan Karin melingkari torso Aryan, kemudian Karin menyandarkan kepalanya di dada bidang Aryan.

Ruang yang sebelumnya hadir di antara mereka, kini telah menghilang begitu saja. Mereka saling mengisi satu sama lain, saling mendekap untuk menyalurkan kasih dan kehangatan. Ketika Karin sedikit mendongakkan kepalanya untuk kemudian meletakkan dagunya di bahu Aryan yang lebih tinggi, Aryan membalasnya dengan mengeratkan pelukannya di tubuh Karin.

Karin dapat merasakan Aryan memberikan usapan lembut yang terasa sangat menenangkan di punggungnya. Satu tangan Aryan yang lain berada di pinggang Karin, memeluknya mesra di sana.

Tanpa frasa apa pun, sebuah gestur cukup untuk menunjukkan sebuah perasaan. Orang yang mendekap Karin saat ini, adalah orang yang Karin yakini di dalam hatinya. Kurang lebih selama empat bulan, rasanya itu merupakan waktu yang singkat, tapi Karin yakin hatinya tidak pernah salah memilih. Aryan bukanlah lelaki yang sempurna, tapi ketulusannya telah membuat Karin mencintai sosoknya. Aryan menunjukkan sosok yang apa adanya di hadapan Karin.

Karin melihat perjuangan Aryan dan pria itu mau belajar dari kesalahan di masa lalu. Perjuangan yang Aryan lakukan tidak sia-sia, itu membuahkan hasil. Perlakuan sederhana Aryan pada Karin, caranya memberi perhatian, telah menyentuh sisi terdasar ruang di hati Karin.

Saat Karin merasakan pelukan Aryan sedikit mengendur, Karin pun sedikit menjauhkan wajahnya agar dapat menatap wajah Aryan. Rupanya Aryan telah tertidur, helaan napas pria itu terdengar beraturan dan begitu damai.

I never expected that I will fall in love with you like this. Kak, I love you, truly, madly, and deeply,” ucap Karin dengan suara pelan. Karin ingat, ia pernah meminta takdir agar tidak berpihak untuknya dan Aryan. Karin ingin ia tidak jatuh cinta kepada Aryan. Namun Karin lupa meminta untuk tidak membuat Aryan memiliki perasaan terhadapnya.

Karin menyadarinya, sekeras apa pun dirinya berusaha, hatinya tetap akan memilih orang yang tepat. Seseorang yang telah ditakdirkan untuknya akan datang padanya, sekuat apa pun tembok yang sebelumnya memisahkan mereka.

Setelah puas dengan pikiran monolognya, Karin memutuskan untuk memejamkan matanya. Namun belum sempat itu terjadi, pergerakan Aryan kembali membuat Karin terjaga.

Rasanya perasaan ini masih lucu, tapi itu lah adanya. Karin akan menghabiskan hidupnya dengan mendapati paras ini setiap matanya terbuka, di setiap ruang di hidupnya, Karin telah merelakan tempat tersebut diisi oleh Aryan.

“Karina, I love you,” ucap Aryan dengan matanya yang nampak sayu.

Suddenly?”

I just want you to know,” jelas Aryan.

I knew it,” ujar Karin pelan.

Oke, that’s good.”

Karin tertawa kecil berkat tingkah random yang beberapa kali Aryan tunjukkan di depannya. Setelah tawanya mereda, Karin pun mendapati Aryan menatapnya dalam-dalam. “Karin, can we try something?”

Something what?” tanya Karin.

A kiss,” jawab Aryan kemudian.

Aryan memperhatikan reaksi Karin usai ucapannya tersebut. Kedua pipi Karin nampak berubah warna menjadi merah muda, terlihat sangat kontras dengan kulit cerahnya.

Kemudian tatapan intens Aryan pada Karin, perlahan-lahan mampu mendobrak pintu pertahanan Karin. Karin awalnya mengatakan malu untuk melakukannya, tapi ia ingin mencoba. Karin ingin menunjukkan perasaannya kepada Aryan. Setelah keraguan yang menguap itu, Karin pun akhirnya setuju untuk melakukannya.

Keduanya lantas sama-sama melemparkan sebuah senyuman. Rasanya membahagiakan dan seperti ada yang menggelitik di dalam perut. Aryan menatap Karin dengan lekat, Karin pun membalas tatapan itu. Berikutnya Aryan pun memangkas jarak di antara mereka. Pandangan Aryan perlahan turun menuju ke arah bibir Karin, itu sukses membuat jantung Karin berdegup dengan kencang.

Begitu Aryan memajukan wajahnya mendekat, Karin dapat merasakan helaan napas hangat Aryan yang menyapa permukaan kulitnya.

Aryan mengarahkan tangannya untuk menangkup satu sisi wajah Karin, perlakuan Aryan itu dapat menghidupkan gelora asmara yang selama ini ada di dalam diri Karin. Seperti ketika berada di dalam pesawat yang akan lepas landas, dentuman jantung Karin begitu terasa keras dan perutnya terasa geli.

Berkat suasana yang hening tersebut, Aryan tersenyum kecil karena mendengar degup jantung Karin yang tidak seperti biasanya. Lantas Aryan kembali mendapati Karin bersemu malu.

You are so cute,” ucap Aryan pelan.

It’s gonna be our first time, Kak. I'm a little bit nervous,” cicit Karin.

“Nggak papa, Karin. Kamu percaya sama aku?”

Karin menatap Aryan sejenak, tidak lama kemudian, Karin pun menganggukkan kepala. “Aku percaya sama kamu,” ucap Karin seraya menyunggingkan senyum manisnya.

Karin merelakan sepenuhnya dirinya, ia telah memberikan kepercayaannya kepada Aryan. Tidak sampai lima detik kemudian, dengan perlahan dan pasti, Aryan pun sukses memangkas habis jaraknya dengan Karin. Gerakan Aryan begitu lembut saat lelaki itu mempertemukan bibirnya dengan bibir ranum Karin.

Sesuatu yang lembap dan kenyal itu mengulum bibir Karin, sensasinya membuat Karin serasa ingin terbang ke langit. Pertemuan tersebut terasa begitu indah, dan selama beberapa detik, Karin akhirnya mulai bisa merasa rileks dan menikmatinya. Awalnya memang terasa canggung dan sedikit malu, tapi keinginan kuat lebih mendominasi Karin. Rasa cintanya pada Aryan, mendorong Karin untuk melakukannya. Karin pun bahagia bisa melakukannya bersama Aryan.

Setelah hampir lima menit berlalu, bibir Aryan saat ini masih setia mengulum bibir Karin. Aryan melakukannya dengan lihai, tapi tetap terasa lembut, hingga membuat Karin terbuai. Di sela-sela kegiatan itu, Aryan mengurainya sejenak untuk berujar pada Karin.

“Kalau kekencengan, kamu bilang ya, atau kasih kode,” ucap Aryan yang lekas di angguki oleh Karin.

Mereka kembali mencobanya. Masih sama lembutnya, Aryan mulai mencium kembali bibir Karin. Dari kegiatan keduanya tersebut, Karin dapat merasakan afeksi yang ingin Aryan berikan padanya. Karin merasa Aryan menginginkan lebih, tapi lelaki itu masih berada di fase yang sama, masih mengecup dengan lembut dengan tempo yang cukup pelan.

Sepertinya Karin berhasil membuat Aryan si professional menjadi seorang pemula. Mereka layaknya anak kecil yang baru saja mempelajari hal yang baru. Learning by doing, itu lah yang sedang mereka lakukan.

Kegiatan tersebut bukan hanya sekedar menyalurkan kasih, melainkan sebuah bentuk komunikasi antara kedua pasangan. Masing-masing perlu mempelajari apa yang pasangan sukai, apa yang tidak disukai, guna menumbuhkan rasa empati dan perasaan yang nyaman untuk kedua belah pihak.

Saat Aryan akan melepaskan pagutannya, gerakan dari Karin yang membalas ciuman itu dengan cukup lihai, membuat Aryan mengurungkan niatnya untuk menjauh.

Kini belah bibir Karin mengecup bibir Aryan terlebih dulu. Karin menggerakkan bibirnya di atas bibir Aryan dengan irama yang terasa indah. Karin memiringkan kepalanya sedikit, guna memudahkan segala kegiatan mereka. Penyatuan itu tidak terjadi terlalu lama, tapi mampu membuat Aryan merasa bahagia, mendapati Karin yang sukarela dan berani mencoba untuk memulai pergerakan terlebih dulu.

Begitu keduanya menjauh, Aryan mengusapkan tangannya yang masih berada di sisi wajah Karin. Cara Aryan menatapnya, Karin selalu menyukai itu. Karin dibuat jatuh cinta berkali-kali setiap detik Aryan menatapnya seperti ini.

You are so amazing. Karin, terima kasih,” ucap Aryan.

You are amazing too. You’re did it very well,” balas Karin.

Aryan lantas menyunggingkan senyum bahagianya. Hatinya dan hidupnya kini terasa sangat lengkap. Merasa begitu dicintai oleh seseorang yang dicintai, adalah hal yang tidak ternilai bagi Aryan.

“Kamu ngantuk? Kita tidur ya sekarang,” ucap Karin, ia memperhatikan wajah Aryan yang terlihat sedikit sayu.

“Nggak ada ronde dua?” tanya Aryan.

“Aku kira tadi udah 3 ronde,” jawab Karin.

Aryan lekas menggeleng. Bibirnya sedikit mencebik dan ekspresinya dibuat seolah lelaki itu kini sedang bersedih.

“Kamu mau lagi emangnya?” tanya Karin.

Aryan lekas mengangguk. Namun rupanya yang dimaksud Karin adalah ciuman di pipi. Karin pikir Aryan akan menolaknya dan kecewa, tapi lelaki itu segera mendekatkan wajahnya ke arah Karin. Aryan memberi isyarat supaya Karin mencium pipinya.

Karin akhirnya mendekatkan diri untuk memudahkan yang akan dilakukannya. Karin juga mengalungkan lengannya di bahu Aryan, dan dua detik berikutnya, Aryan pun merasakan sesuatu yang lembut mendarat di permukaan kulit pipinya. Dua kali, tiga kali, sampai lima kali, Karin memberikan ciuman itu untuknya. Aryan pun tidak bisa menahan senyuman lebar untuk terbit di wajahnya.

“Udah, kan? Atau masih mau lagi?” tanya Karin.

“Engga.”

“Oke.”

Karin menjauhkan dirinya sedikit dari Aryan. Jarak mereka masih minim, Aryan masih bisa melihat mata indah Karin yang selalu berbinar itu. Ketika Karin mengulaskan senyumnya, nampak dua buah eye smile yang begitu cantik di parasnya.

“Maksudnya engga sekarang, tapi besok. Boleh ya?” ujar Aryan.

Karin mengusap pelan pipi Aryan yang sebelumnya menjadi sasaran bibirnya, lalu Karin tersenyum dan mengangguki permintaan Aryan itu. “Iya, boleh,” ucap Karin yang langsung membuat Aryan tersenyum cerah.

Sebelum mereka akan pergi tidur, Aryan mengatakan ingin berbicara pada anaknya. Aryan merubah posisinya, satu tangannya di gunakan untuk menopang kepala, dan satunya lagi mengarah ke perut Karin. Begitu tangan Aryan mendarat di sana, hatinya pun membuncah bahagia. Aryan lantas mengusap perut Karin pelan, kemudian ia berujar di dekatnya, “Kamu seneng kan, Sayang?” tanya Aryan, lalu tatapannya tertuju ke arah Karin.

Aryan nampak menaik turunkan alisnya. Karin yang tidak mengerti maksud lelaki itu, lekas melemparkan tatapan tanya.

“Anak kita seneng, Karin. Papa sama Mamanya sekarang udah pacaran,” jelas Aryan.

“Ada-ada aja sih kamu. Kita kan udah nikah,” ujar Karin.

“Iya, kita udah nikah. Tapi kan baru pacaran sekarang. Atau … kamu udah naksir aku duluan ya dari awal kita nikah?” serbu Aryan, nadanya terdengar jenaka menggoda Karin.

“Enggak tuh,” Karin berusaha menghindari tatapan Aryan. Kalau tidak, mungkin ekspresinya bisa begitu jelas menggambarkan jawabannya.

It’s oke. Kapan pun kamu mulai punya perasaan ke aku, itu nggak terlalu penting, Karin,” terang Aryan.

“Terus yang penting apa?” tanya Karin.

“Yang paling penting adalah waktu saat ini yang kita jalani. Kita punya masa lalu untuk disimpan, masa sekarang untuk dijalanin, dan masa depan untuk ditunggu. Kita nggak tau apa yang bisa terjadi nanti, tapi aku akan selalu berusaha mewujudkan masa depan yang baik untuk kita dan anak-anak kita nanti,” Aryan menjeda ucapannya sejenak. Ia mengarahkan tangannya untuk mengusap lembut puncak kepala Karin, lalu Aryan kembali berujar, “Keluarga yang lengkap yang kamu inginkan, aku ingin aku yang bisa mewujudkan itu.”

Selama dua puluh tahun dalam hidupnya, setiap hari Karin selalu berharap dan berdoa. Karin ingin memiliki keluarga yang hangat dan lengkap. Karin pun berusaha menjadi pantas untuk seseorang yang akan bersamanya nanti, itu sudah menjadi tekadnya. Karin akan melakukannya untuk seseorang yang akan menjadi sandaran baginya dan bisa bersandar juga padanya.

Karin segera melayangkan tatapannya kepada Aryan, ia mengamati setiap detail paras tampan itu. Alis tebal yang melengkung rapi, kedua mata kecil yang berbentuk sabit, hidung mancung, serta bibir penuh yang tampak begitu sempurna.

“Kamu beneran suami aku nggak sih?” celetuk Karin dengan nada jenakanya.

“Maksud kamu? Aku kan emang suami kamu,” ujar Aryan nampak heran.

“Ohh iya, kamu bener suamiku. Ganteng banget ya suamiku,” puji Karin sembari mengamati setiap celah dan proporsi wajah Aryan. Sempurna, hanya itu yang terlintas di dalam benak Karin.

“Kalau nggak ganteng, kamu masih mau nggak sama aku?” cetus Aryan tidak kalah jenaka.

Namun Karin lebih pintar untuk merangkai jawaban di kepalanya. “Nggak mau, lah. Nanti anakku nggak ganteng dong kalau papanya nggak ganteng.”

“Aku beruntung dong karena ganteng?” tanya Aryan.

Karin mengangguk dengan cepat, tapi sebenarnya Karin sedang berusaha untuk menahan senyumnya. “Aku juga beruntung, Kak.”

“Karena?”

“Aku beruntung karena Tuhan ngasih kamu buat aku. Kamu dan anak kita, kalian adalah jawaban dari semua doa-doa aku selama ini. Tuhan ngasih aku lebih dari apa yang aku minta,” terang Karin.

Masa lalu yang cukup berat dan menyakitkan yang Karin alami di usia remajanya, kini telah digantikan oleh sesuatu yang lebih indah. Karin ingat ketika ia menghadapi masa sulitnya, terlebih saat harus sendiri melewati masa mudanya. Karin harus terlihat kuat di hadapan Kavin, ia adalah pengganti orang tua untuk adiknya. Berpura-pura kuat hanya akan membuat seseorang semakin hancur di dalam. Namun rupanya Karin berhasil bertahan dengan kehancuran itu dan perlahan-lahan bisa bangkit.

Karin ingat satu hal bahwa ia tidak menyukai hujan. Menurutnya hujan hanya akan mengacaukan segalanya, membuat orang-orang repot, membuat seragam dan sepatu sekolah Karin basah ketika hujan turun begitu saja. Saat teman-temannya diantar ke sekolah oleh orang tua mereka, Karin hanya bisa menatap kejadian tersebut dengan tatapan nanar. Tanpa seorang pun yang mengulurkan payung atau menyelipkan jas hujan di tas sekolahnya, Karin pada saat itu adalah seorang gadis yang pernah menyalahkan keadaan.

Karin merasa bahwa kehadirannya di dunia tidak diharapkan oleh siapa pun. Sama halnya dengan hujan yang datangnya kurang diharapkan, bisa dihitung hanya beberapa orang yang menyukai kehadirannya. Namun tanpa hujan, Karin tahu bahwa sebuah pelangi tidak akan pernah muncul. Pelangi tersebut dapat diibaratkan layaknya sebuah kebahagiaan. Meski pun harus melalui rasa sakit, kehadirannya adalah sesuatu yang patut untuk ditunggu.

Sebelum memejamkan matanya, Karin menatap Aryan dalam-dalam, lalu ia berucap, “Kak.”

“Iya, kenapa?” balas Aryan.

I love you,” ungkap Karin. “I’m forever yours,” pungkas Karin sembari menyematkan sebuah kecupan penuh afeksi di sisi wajah Aryan.

Aryan nampak terkejut mendapati ungkapan Karin yang tiba-tiba itu. Namun tidak lama setelahnya, Aryan segera membalasnya, “Aku juga sayang kamu. I love you more, Karin,” ucap Aryan seraya memberi sebuah kecupan di kening Karin. Kecupan di kening tersebut terasa sangat bermakna untuk Karin. Rasanya ia begitu disayangi, dilindungi, sekaligus dicintai.

Aryan dan anak mereka, merupakan anugerah tidak terduga sekaligus tidak ternilai dalam hidupnya. Tuhan telah menjawab doa-doa Karin selama ini, bahkan memberinya lebih dari apa yang Karin pinta. Sesungguhnya orang yang benar-benar mencintaimu adalah orang yang selalu berusaha mewujudkan keinginanmu, dan hanya dengan bersama, kamu percaya bahwa mimpi-mimpi tersebut dapat diwujudkan.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷