Menghindari Wasiat
Satu minggu kemudian
Bel pulang sekolah telah berbunyi beberapa saat yang lalu. Di kelas 12 IPS 3, Kaldera masih merapikan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas putihnya. Icha, teman sebangku Kaldera, menatapnya dengan tatapan khawatir. Pasalnya kondisi Kaldera tampak mengkhawatirkan.
“Kal, lo habis ini nggak langsung balik, kan?” tanya Icha yang sudah lebih dulu selesai merapikan barang-barangnya.
“Iya, Cha. Gue harus nemuin bu Tata dulu di ruang guru,” ucap Kaldera.
“Gue temenin lo sampe selesai ya? Gimana? Nanti kita pulang bareng aja,” ujar Icha sambil menampakkan cengiran kecilnya.
“Nggak papa Cha, gue bisa balik sendiri kok. Lo pulang aja ya,” ujar Kaldera sembari mengulaskan senyum kecilnya.
Icha mau tidak mau menerima keputusan yang dibuat Kaldera. Mungkin sahabatnya memang sedang membutuhkan ruang untuk sendiri. Kehilangan seseorang yang disayangi memang tidak mudah. Melupakan pun juga membutuhkan waktu. Namun sepertinya, sosok Zio selamanya tidak akan bisa terlupakan di hidup Kaldera.
***
Kaldera sedang menjalani hukuman yang diberikan oleh bu Tata, guru mata pelajaran matematika di sekolahnya. Kaldera kedapatan melamun di kelas dan tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan gurunya. Berakhirlah saat ini Kaldera harus menulis rumus mencari Quartil 2 pada 3 lembar kertas folio, sebagai tanda bahwa ia menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.
Tiba-tiba tangan Kaldera yang sebelumnya menulis terhenti, begitu ia teringat akan sesuatu. Kaldera memang paling lemah di pelajaran matematika. Kala itu ada seseorang begitu sabar yang rela mengajarinya sampai ia mengerti.
Redanzio.
Kaldera teringat lelaki itu lagi. Baru satu minggu sejak kepergian Zio, rasanya Kaldera sudah begitu rindu. Rindunya terasa begitu menyakitkan, karena ia tidak dapat bertemu sosok itu lagi untuk selamanya.
Kaldera menghembuskan napasnya panjang, lalu ia memutuskan untuk kembali melanjutkan menulis. Kaldera ingin cepat pulang ke rumah dan pergi tidur, berharap rasa sakitnya dapat reda atau ia bisa bertemu dengan Zio meskipun hanya di dalam mimpi.
Berada di sekolah semakin mengingatkannya kepada Zio. Tempat ini telah menyimpan begitu banyak kenangan untuk Kaldera dan Zio. Tempat yang dulu paling suka Kaldera datangi, kini justru berubah menjadi momok baginya.
“Kaldera, apa tugas dari Ibu sudah selesai?” suara bu Tata membuat Kaldera menoleh.
“Sudah saya selesaikan, Bu,” ucap Kaldera sembari menyerahkan kertas di tangannya kepada bu Tata.
Wanita yang merupakan gurunya itu lantas tampak terkejut begitu melihat cairan merah kental mengalir dari hidung Kaldera.
“Kaldera, kamu mimisan, Nak. Ibu antar kamu ke UKS sekarang ya, yaampun kamu kenapa nggak bilang kalau sakit,” ucap bu Tata dengan raut paniknya.
Kaldera tidak sadar tentang kondisinya sendiri. Apakah benar ia sakit? Namun mengapa tubuhnya seolah sudah kebal hingga tidak dapat lagi merasakan perasaan sakit tersebut?
***
Perlahan-lahan Kaldera mencoba untuk membuka matanya. Tubuhnya terasa kurang bertenaga dan kepalanya sedikit pusing. Begitu menoleh ke sampingnya, Kaldera tidak menemukan siapa pun di ruang UKS sekolahnya itu. Namun samar-samar dari balik bilik pembatas, Kaldera dapat mendengar suara percakapan petugas kesehatan UKS dengan seseorang.
“Saya sudah coba menghubungi kontak walinya Kaldera. Tapi beliau tidak mengangkat telfonnya. Jadi saya menghubungi nomor terakhir yang ada di riwayat panggilan hp nya Kaldera.”
“Apakah Bapak walinya Kaldera? Atau mungkin Bapak bisa jelaskan pada saya hubungan Anda dengan Kaldera?”
Itu adalah suara wali kelasnya, Bu Nurhayati. Beberapa detik setelah itu, Kaldera dapat mendengar jawaban dari orang yang berbicara dengan wali kelasnya.
“Perkenalkan Bu, saya Raegantara. Saya adalah walinya Kaldera.”
“Baik, Pak. Saya ingin menyampaikan sebuah hal, beberapa kali Kaldera sempat pingsan saat di sekolah. Jadi saya harap, Bapak dapat memperhatikan kondisi kesehatan Kaldera.”
***
Siang tadi Raegan mendapat telfon ketika ia sedang berada di kantornya. Telfon itu berasal dari nomor tidak dikenal yang ternyata adalah wali kelas Kaldera. Raegan akhirnya datang ke sekolah Kaldera setelah dapat informasi bahwa Kaldera sakit.
Saat ini Raegan dalam perjalanan bersama Kaldera. Raegan sudah mengatakan bahwa ia akan melakukan yang diminta oleh wali kelas Kaldera.
“Ayo, kita turun,” ucap Raegan setelah tangannya menarik rem mobilnya. Kaldera masih diam di tempatnya, ia memandang bangunan rumah sakit yang kini berada di hadapannya.
Kaldera lantas mengangguk pelan, ia tidak bisa menolak saat Raegan membawanya untuk berobat ke rumah sakit. Begitu mereka sampai di ruangan dokter dan Kaldera di periksa, dokter tersebut meminta agar Kaldera melakukan test lab karena gejala yang dialami Kaldera merujuk pada penyakit tipes.
Kaldera dan Raegan menunggu hasil lab, mereka duduk bersebelahan di kursi ruang tunggu. Tidak ada yang memulai percakapan, sampai akhirnya Kaldera mengucapkan kalimat permintaan maaf pada Raegan.
“Maaf udah ngerepotin kamu,” ucap Kaldera sambil menoleh ke arah Raegan.
“Kenapa kamu nggak angkat telfon dari saya?” Raegan malah mempertanyakan hal lain. Kaldera terlihat sedikit terkejut mendapati pertanyaan Raegan itu.
“Kamu juga mengabaikan chat dari saya,” tambah Raegan lagi.
Kaldera sedikit bersyukur begitu seorang perawat menghampiri mereka. Hasil laboratoriumnya telah keluar, jadi pembicaraannya dan Raegan terhenti. Kaldera jadi bisa menghindari pertanyaan Raegan, soal mengapa ia mengabaikan pesan Raegan saat lelaki itu membahas wasiat yang Zio berikan.
***
Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮
Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜
Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂