Now and Future
Setelah memberi tahu ayah dan bunda, Aryo dan Tiara menuju penthouse yang Aryo katakan akan menjadi kediaman mereka yang baru. Mereka juga telah mengambil bebebrapa pakaian untuk di bawa. Andi dan Alifia perlu tahu soal rencana yang akan Aryo jalankan untuk mengungkap kejadian sebelas tahun yang lalu. Kejadian dimana Ayah kandung Tiara mengalami kecelakaan yang mengakibatkan Tiara kehilangan ayahnya, kemudian disusul oleh kepergian bundanya.
Saat diberitahu mengenai rencana tersebut, Andi dan Alifia sempat khawatir, tapi Aryo meyakinkan mereka. Ayah dan bundanya akhirnya menerima rencana itu. Ayahnya meminta maaf pada Aryo karena sebelumnya telah ragu pada pria itu dan beliau mengatakan keraguannya adalah hal yang keliru.
Alifia mengatakan pada Tiara saat mereka hanya sedang berdua, bahwa Aryo adalah menantu idamannya sejak awal pria itu datang melamar putrinya. Maka dari itu, sebenarnya bundanya yang paling kecewa saat mengetahui fakta bahwa orang yang menyebabkan kepergian Erlangga masih memiliki hubungan saudara dengan Aryo.
“Bunda bisa liat, dia benar-benar sayang sama kamu, Nak. Bunda sungkan bilangnya, jadi Bunda titip ke kamu ya. Bilang ke suami kamu, Bunda bahagia dan bangga banget memilikinya sebagai menantu. Dia keliatan sangat mencintai kamu dan bisa menjaga kamu dengan baik.” Begitu kira-kira perkataan Alifia. Tiara ingat ekspresi bundanya yang semringah ketika mengungkapkannya. Tiara merasa sepertinya Aryo memiliki mantra yang bisa membuat Andi dan Alifia seketika luluh.
Aryo dan Tiara menempuh perjalanan sekitar satu jam untuk sampai di sebuah penthouse eksklusif yang hanya terdiri dari 2 unit yang terdapat di lantai paling atas bangunan ini.
Sampai di lantai 50 dimana unit mereka berada, Aryo meminta bodyguard-nya untuk meletakkan barang-barang pentingnya di sudut ruang tamu.
“Gimana, Sayang? Kamu suka tempat tinggal kita yang baru?” tanya Aryo sambil menatap Tiara.
“Suka banget,” jawab Tiara.
“Lebih suka ini atau rumah kita yang dulu?”
“Aku suka dua-duanya. Tapi rumah itu besar banget. Aku takut kalau sendirian nggak ada kamu,” ungkap Tiara.
“Bilang aja kamu kangen aku. Tiara yang aku tau adalah perempuan pemberani.”
“Dimana aja aku suka sih, asal sama kamu,” balas Tiara.
Kali ini Tiara yang berhasil membuat Aryo nampak salah tingkah. Aryo mengalihkan tatapannya dari Tiara yang mana jika ia menatap matanya, Aryo tidak tahu lagi akan seaneh apa reaksinya.
“Kamu beneran baru beli penthouse ini?” tanya Tiara berusaha mengalihkan pembicaraan ketika ia juga merasa jantungnya berdebar hebat di dalam sana. Tiara merutuki ucapannya yang sebelumnya. Namun ia juga merasa senang karena gantian dirinya yang menggoda Aryo setelah berkali-kali suaminya berhasil dengan mudah membuatnya bersemu.
“Aku udah lama beli penthouse ini, tapi belum pernah di tempatin permanen.” Aryo mengikuti langkah Tiara yang antusias melihat-lihat tempat tinggal mereka yang baru.
“Sayang, jangan langsung tidur lho. Mandi dulu baru tidur, oke?” seru Tiara memperingati Aryo.
“Gimana kalau kita mandi bareng Ra?” tanya Aryo diiringi senyum jahilnya.
“Astaga,” Tiara tertawa disusul wajah merah padamnya.
“Kamu mandi duluan aja, biar aku siapin tempat tidur. Jadi, habis mandi kamu bisa langsung tidur.” Tiara meletakkan telapak tangannya di sisi wajah Aryo yang tampak lelah.
“Mandi barengnya kapan?” rengek Aryo dengan nada manjanya. Pria itu mencebikkan bibirnya yang otomatis membuat Tiara gemas melihatnya.
Tiara lantas mengulaskan senyumnya, “Besok. Udah sana kamu mandi dulu.”
“Cium dulu boleh?” pinta Aryo.
“Boleh, mau cium dimana?”
Aryo langsung menunjuk bibirnya dan lekas diangguki oleh Tiara. Lengan kekar Aryo menarik pinggang ramping istrinya untuk mendekat padanya, lalu ia mulai mencumbu bibir ranum Tiara dengan sensual. Tiara membalasnya, menikmati setiap sesapan yang diberikan Aryo dan mengusap lembut tengkuk suaminya.

Aryo lekas berlalu dari hadapannya setelah mereka saling memuaskan dan menyalurkan kasih. Sebelum menghilang dari hadapannya, pria tampan itu melemparkan sebuah senyum gemas kepada Tiara.
Tiara pun melenggang untuk melakukan tugasnya setelah memastikan Aryo masuk ke kamar mandi. Sebenarnya Tiara yakin setiap penjuru tempat ini telah dibersihkan dan dirawat secara berkala, tapi ia tetap akan menyiapkan tempat tidur mereka malam ini.
Tiara menuju kamar utama yang terletak di lantai atas. Tidak memakan waktu lama baginya untuk menyiapkan kasur karena memang semuanya sudah tertata rapi dan bersih. Tiara menyalakan humidifier yang terdapat di kamar itu supaya suasananya lebih nyaman dan rileks. Tiara juga akan mempersiapkan baju tidur untuk suaminya dan juga untuk dirinya.
***
Setelah kurang lebih 20 menit, Aryo selesai dengan kegiatannya dan ia mendapati boks besar berisi barang-barang pentingnya tidak ada di ruang tamu. Sambil masih mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil, Aryo mencari keberadaan Tiara.
Aryo menemukan Tiara di kamar utama di lantai atas. Ia melihat istrinya itu sedang merapikan barang-barang penting miliknya. Boks tersebut berisi beberapa berkas saat Reynaldi menjabat sebagai presiden direktur sekaligus CEO sebelas tahun yang lalu.
“Sayang, kamu liat isinya?” tanya Aryo dan seketika Tiara menoleh menatapnya.
Tiara menggeleng menjawab pertanyaan Aryo. Aryo lantas mengambil alih beberapa file yang ada di tangan Tiara dan pria itu menuju ruang penyimpanan yang terdapat di samping walk in closet.
“Di dalam boks ini, isinya beberapa bukti yang akan aku pakai untuk mengungkap perbuatan Reynaldi. Kamu mau lihat isinya?” tanya Aryo saat Tiara mengarahkan tatapannya pada file besar di tangannya.
Tiara tampak gugup. Sejujurnya ia memang ingin melihatnya, tapi entah mengapa sesuatu dalam dirinya masih menolak itu. Ada sebagian dalam dirinya yang masih merasakan trauma. Dengan melihat sesuatu yang berhubungan dengan Reynaldi akan membuatnya teringat lagi masa lalu itu.
“Kamu nggak perlu maksain diri, kalau itu bisa bikin kamu ingat kamu masa lalu kamu.”
“You’re right. Kayaknya untuk saat ini aku belum sanggup,” ujar Tiara.
Aryo pun mengangguk, lalu ia memasukkan file tersebut ke dalam brankas besar miliknya dan menguncinya. Aryo mengenggam tangan Tiara dan mereka keluar dari ruangan penyimpanan itu.
Aryo sedang berganti pakaian dan Tiara menunggu suaminya itu sambil memerhatikan isi pakaian yang ada di walk in closet.
“Baju yang ada disini style kamu banget. Tempat ini juga bersih dan rapi,” ujar Tiara saat suaminya telah berganti stelan dengan piyama biru dongker yang telah Tiara siapkan.
“Sebenarnya aku lumayan suka penthouse ini dan aku beberapa kali nginep di sini.”
“Kalau ruangan di sana itu apa?” tanya Tiara penasaran pada sebuah connecting door yang terdapat di ruangan walk in closet.
“Kamu mau ke sana?”
“Boleh emangnya? Aku pikir itu ruangan rahasia. Soalnya cuma pintu ruangan itu yang dikunci.”
“Ruangan itu emang ruang rahasia. Aku punya niat, suatu hari aku akan tunjukin ruangan itu ke orang yang spesial.”
Aryo memasukkan sebuah kode untuk membuka kunci pintu ruangan tersebut. Saat memasukinya dan melihat isi di dalamnya, Tiara dibuat terpana. Melalui sebuah tombol yang di tekan Aryo, lampu dan langit-langit di ruangan ini berubah warna menjadi seperti galaksi di angkasa.

Aryo mengajaknya melihat barang-barang yang ada di ruangan itu. Tidak terlalu banyak barang di ruangan ini. Namun bagi Aryo yang ada disini adalah yang pernah berarti dalam hidupnya.
Di sudut kanan terdapat lemari yang berisi koleksi minuman milik Aryo. Pria itu mengatakan bahwa minuman ini di dapatkannya dari teman-teman semasa kuliahnya dan beberapa dari kolega bisnisnya. Karena minuman-minuman ini berasal luar negeri, sehingga langka dan mahal, Aryo menyimpannya dengan apik. Terdapat juga koleksi vape, shisha dan tumpukan kotak rokok yang disusun rapi di dalam sebuah lemari kaca. Aryo mengatakan semua itu miliknya, tapi hanya digunakan untuk teman-temannya jika mereka berkunjung ke sini.
“Beneran, Sayang. Aku nggak konsumsi itu lagi,” ucap Aryo meyakinkan Tiara.
“Sesekali aja kalau lagi ingin,” sambung Aryo. Ia juga mengatakan, ia hanya minum beberapa minuman saat dirinya sedang merasa kalut. Maka Aryo akan ke ruangan ini dan minum sendiri.
“Terakhir kapan?” tanya Tiara.
“Aku lupa. Tapi kayaknya udah lama. Sebelum ketemu sama kamu, aku pernah ke sini sekali, minum, terus ketiduran sampai pagi di ruangan ini.”
“Artinya itu belum lama, Aryo.”
“Iya, itu belum lama. Tapi sekarang aku nggak ingin semua ini lagi. Aku simpan untuk teman-temanku aja karena mereka bisa gila kalau aku jual atau buang.” Aryo terkekeh karena mengingat kelakukan teman-temannya yang sangat mencintai barang-barang seperti ini.
“Kenapa kamu nggak ingin lagi? Karena setauku, teman-temanku juga susah banget lepas dari benda-benda kayak gini.”
“Aku nggak tahu alasan pastinya. Tapi sejak menikah, aku udah janji sama Tuhan. Aku akan menjaga kamu dan ingin berubah jadi yang lebih baik buat kamu. Selain itu untuk keluarga kecil kita kedepannya.”
Tiara terharu mendengar penuturan tersebut. Ia tidak pernah menyangka dan rasanya masih seperti mimpi bahwa ia dipertemukan dengan Aryo dan menikahi pria itu. Tiara mencintainya dan mendapat balasannya dengan merasa begitu dicintai oleh Aryo setiap harinya.
Aryo menunjukkannya sebuah jar yang berisi sebuah kertas. Di dalam kertas itu, terdapat 9 list yang Aryo buat saat dirinya berusia 17 tahun.
“Aku belum pernah nunjukin ini ke siapapun,” ungkap Aryo.
“Ini apa?” tanya Tiara ketika Aryo menyerahkan jar itu ke genggamannya.
“Kamu boleh buka dan baca isinya.”
Tiara lantas membuka kertas tersebut dan sebuah foto berukuran 3x4 meluncur dari dalam lipatan kertasnya. Tiara mengambil foto itu yang ternyata sebuah foto seorang perempuan.
“Kamu masih nyimpen foto mantan kamu. Kamu masih sayang dia?” ujar Tiara yang mendapati itu adalah potret Aurorae.
“Enggak gitu, Sayang. Ak-aku niat mau buang kok. Aku udah minta Erza buang ini tapi ternyata belum dibuang.”
Tiara lantas membuka kertas itu dan membaca isinya yang bertuliskan “9 Things I Will Do With My Wife”.
“Harusnya Aurorae yang baca ini, gitu?”
“Kamu jangan marah dong, Sayang. Ini cuma masa lalu. Sekarang yang aku nikahin kan kamu, cuma kamu yang aku sayang.”
“Tetap aja. Kamu udah bikin aku bete.” Tiara menyerahkan kertas itu pada Aryo, lalu berbalik meninggalkan Aryo di ruangan itu sendiri.
Aryo bergegas menyusul langkah Tiara. Aryo mana tahu tiba-tiba foto itu ada di sana. Sungguh diluar ekspektasinya. Padahal suasananya sudah romantis dan momentum yang tepat untuk menunjukkan tulisan yang ia buat kepada istrinya.
***
Beberapa menit kemudian, Aryo menyusul Tiara ke kamar setelah ia membiarkan Tiara meredam emosinya. Aryo memerhatikan istrinya yang sudah berganti stelan tidur gaun sutra bunga-bunga itu. Semerbak harum bedak yang lembut dan parfum vanilla campur coklat khas Tiara mengilhami indera penciuman Aryo. Kalau seperti ini, Aryo bawaannya ingin langsung memeluk Tiara. Namun sepertinya istrinya itu masih marah terhadapnya.
“Kamu masih bete?” tanya Aryo.
“Menurut kamu aja.” Tiara baru saja selesai melakukan kegiatan skincare malamnya, lalu ia beranjak ke kasur, menaikkan selimut sampai sebatas bahunya dan coba memejamkan matanya.
“Jangan lama-lama dong betenya, Sayang. Maafin aku yaa,” ucap Aryo lagi. Kali ini ekspresinya seperti anak anjing yang baru saja diomeli oleh empunya.
“Aku udah terlanjur liat, Aryo. Gimana nggak bete coba.” Tiara sebenarnya juga mempertanyakan dalam hatinya, kenapa ia bersikap begitu kekanakan seperti ini. Kalau dipikir-pikir, itu memang hal yang sepele. Aryo juga sudah jujur bahwa foto itu hanyalah sebuah masa lalu.
“Yaudah deh, kamu bete aja dulu, puasin ya. Tapi aku harap besok kamu nggak marah lagi sama aku,” ucap Aryo dan setelah itu Tiara tidak mendengar suara suaminya lagi. Apakah suaminya itu sudah tidur lebih dulu?
Tiara membalikkan tubuhnya dan mendapati Aryo sudah memejamkan matanya. Tiara memutuskan untuk tidur juga, tapi yang terjadi adalah apa yang direncanakan tidak sesuai kenyataan. Tiara tidak bisa terpejam begitu saja.
Kedua mata Tiara menangkap kertas biru di meja kamar. Kertas itu adalah 9 list yang ditulis oleh Aryo. Rasa penasaran pun mendorong Tiara beranjak dari tempat tidur dan mengambil kertas tersebut, lalu ia membacanya.
“Kamu kenapa belum tidur?” sapa sebuah suara yang membuat Tiara berbalik. Ia menemukan Aryo dengan wajah kantuknya saat Tiara hampir selesai membaca 9 list itu.
“Aku nggak bisa tidur.”
“Kamu baca tulisan aku?”
“Belum aku baca, aku cuma liat karena ada disini.”
“Kamu baca list itu, Tiara.”
“Okey, iya aku baca,” ucap Tiara akhirnya yang memang tidak bisa berbohong kepada Aryo.
“Kamu nggak beneran tidur ya dari tadi?” selidik Tiara.
“Aku tau kamu belum tidur, jadi mana aku bisa tidur. Kamu mau wujudin tulisan aku yang ada di list itu? Kayaknya kita bisa lakuin hal yang pertama.”
“Playing UNO at midnight?”
***
Aryo dan Tiara memainkan UNO sebanyak 4 kali dan setiap babaknya Tiara yang menang. Tiara nampak senang karena ia dapat mengalahkan Aryo.
“Gimana bisa kamu bikin list mau main UNO tapi kamunya kalah terus,” ujar Tiara.
“Aku pura-pura kalah aja, Sayang. Biar kamunya seneng.”
“Alasan kamu mah.”
“Mau main sekali lagi?” tawar Aryo.
“Besok kan kamu harus kerja, gimana kalau kita udahan aja?” Aryo pun menyetujui saran Tiara. Memang benar besok pagi dirinya harus ke kantor dan ini sudah pukul 1 malam.
“Terima kasih, Tiara,” ujar Aryo.
“Untuk?”
“Karena kamu udah jadi istri aku.”
“Sama-sama,” Tiara lantas mengulaskan senyumnya.
“Aku tau kamu marah karena kamu cemburu,” ujar Aryo.
“Siapa yang cemburu, nggak ada tuh.”
“It’s your emotion. When women show her emotion, it means she’s really love you.”
“Fotonya kamu buang kan nanti?”
“Iya Sayang, astaga. Kamu serem ya kalau udah cemburu. Ohiya, aku mau tanya sama kamu. Apa kemungkinan insomnia kamu datang karena suatu hal?”
“Aku nggak tahu pasti. Mungkin karena udah lama. Dulu waktu ayah pergi, bunda udah tidur, tapi aku nggak bisa tidur. Bunda kebangun karena aku, dan akhirnya beliau peluk aku sampai bisa tidur,” cerita Tiara.
“Apa ada hubungannya sama berkas-berkas itu?”
“Nope, it’s oke. Lagian harusnya aku nggak mindahin barang-barang kamu tanpa bilang dulu ke kamu.”
Aryo menatap Tiara lekat, “Ra, aku nggak akan pernah tahu rasanya apa yang kamu alami sebelas tahun lalu. Itu pasti berat banget untuk kamu.” Aryo membayangkan apa yang terjadi pada Tiara pada saat itu. Saat mengetahui Tiara harus melewati hal tersebut, Aryo ikut merasakan rasa sakit di hatinya, meskipun ia tahu tidak akan sebanding dengan apa yang dirasakan Tiara.
Aryo meraih tangan Tiara, menyelipkan jemarinya di antara jemari Tiara, “I wish I could remove your sadness, Ra,” ujarnya sambil menatap ke iris legam wanitanya.
“Kok kita jadi mellow gini sih? Kamu mah.” Tiara yang awalnya merasa biasa saja, malah terbawa suasana karena tatapan Aryo padanya. Tatapan itu seperti ada rasa marah, sedih, dan hancur secara bersamaan.
Tiara lantas menatap Aryo sembari mengulaskan senyum simpulnya, “You already do. You removed my sadness and all my pain. Life with you is my happiness,” ungkap Tiara.
Aryo spontan mengulaskan senyumnya mendengar ungkapan Tiara. Ia merasa begitu bahagia mendapati bahwa dirinyalah alasan Tiara bahagia.
“Oh iya, aku jadi ingat sesuatu. Waktu malam pertama setelah kita resepsi,” ujar Aryo.
“Kenapa?”
“Kamu nggak bisa tidur, persis kayak gini. Waktu aku tanya, kamu bilang itu bukan urusanku. Yaudah aku tidur duluan.”
“Kamu nggak peka.”
“Wanita emang sulit untuk dipahamin. Walaupun aku mau banget meluk kamu saat itu, tapi aku pikir kayaknya bukan itu yang benar-benar kamu butuhin. Sekarang aku bisa meluk kamu kapan aja, kayak gini.” Aryo lantas merengkuhnya ke dalam pelukan hangatnya.
“Kamu benar. Tapi gimana ya, kalau pertemuan kedua kita bukan aku yang nolongin kamu.”
“Aku udah punya niat untuk ungkapin perasaan aku ke kamu.”
“You kiss me that night. Jadi waktu itu kamu main-main doang atau serius sih?”
“Pengaruh alkohol itu tinggal sedikit, kayaknya karena aku habis dipukulin preman-preman itu. Aku sadar sepenuhnya saat aku menginginkan kamu,” Aryo sangat ingat bahwa ia bersama Tiara dan menginginkan gadis itu tahu bahwa ia memiliki perasaan terhadapnya.
“Aku mau tau perasaan kamu ke aku. Waktu itu aku sama Aurorae udah nggak ada hubungan apapun. Tapi dia datang ke bar untuk nemuin aku.”
“Kenapa kamu putus sama Aurorae?”
“Kita nggak bisa bareng lagi. Kadang sesuatu yang terlalu kuat, nggak bisa jamin bisa jadi satu.”
Tiara mengangguk paham akan perumpamaan yang Aryo jelaskan.
“Who is your first kiss?” tanya Tiara tiba-tiba.
“Ada beberapa bagian masa lalu yang seharusnya memang dibuang. Kamu harus tau, kamu adalah perempuan pertama yang aku cium dan ingin aku nikahi,” ujar Aryo. Ia mengakui bahwa dirinya bukanlah pria yang sempurna, ada bagian dalam hidupnya sebelum menikah yang ia sesali dan ingin perbaiki kedepannya.
“Tapi kenapa kamu berani cium aku padahal kita baru kenal?”
Aryo tertawa mendengar penurutan Tiara. “Maaf ya, aku udah lancang sama kamu. Aku lumayan kacau malam itu dan kamu datang lebih mengacaukan semuanya.” Aryo mengungkapkan rasa penyesalannya sekaligus perasaan jujurnya.
“Maksudnya aku pengacau gitu?”
“Iya, kamu buat hati aku kacau.”
“Kamu tau nggak, ayah bisa aja habisin kamu, kalau kamu nggak nikahin aku,” terang Tiara.
“Kamu tenang aja, itu nggak akan terjadi, Ra. Aku udah bertekad akan membuat kamu suka sama aku. Sesuatu yang diawal keliatan buruk, ternyata punya rencana indah di akhir,” ujar Aryo dan Tiara setuju tentang itu.
Tiara mengulaskan senyumnya sambil menatap Aryo, “Apapun masa lalu kamu, itu cuma akan jadi sebuah memori. Kamu berhak untuk memilikinya. Kamu yang ada di sini sekarang, adalah kamu suami aku. I love what you are now and what you will be in the future.”
Aryo menatapnya dengan tatapan bahagia dan terharu, lantas ia menyematkan sebuah kecupan di kening Tiara.
“Aku mau tanya satu hal,” ujar Tiara.
“Apa itu Sayang?”
“Kamu yakin banget bisa buat aku suka sama kamu?”
“Yakin. Buktinya bisa, kan? Kalau kamu nggak suka sama aku, si bayi nggak akan hadir sebagai anugerah untuk kita di sini,” ucap Aryo sambil mengusapkan tangannya di perut Tiara. Aryo dapat merasakan ada gundukan kecil di sana yang seketika menciptakan desiran hangat di rongga dadanya.
“Aryo, aku mau wujudin 9 list yang kamu buat.” Tiara meletakkan telapak tangannya di sisi wajah Aryo, ibu jarinya bergerak untuk mengusap lembut permukaan kulit pipi suaminya.
“Oke. Kita akan ngelakuin delapan sisanya setelah aku berhasil mengungkap perbuatan Reynaldi terhadap ayah kamu.”
“Bukannya perjalanan itu masih panjang? Mungkin akan makan waktu yang lama sampai kasusnya selesai.”
“Kamu benar, kita masih harus cari bukti yang kuat. Aku kepikiran satu cara yang mungkin bisa menjebak Reynaldi, supaya kita selamatin om Rudi secepatnya.”
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷