Obat dari Sebuah Luka
Pagi ini Aryo mengantar Tiara ke kampusnya. Ketika mereka sampai di parkiran, Aryo mengatakan ingin mengantar Tiaa sampai ke gedung fakultasnya, tapi perempuan itu tidak mengizinkannya.
Aryo tergelak ketika Tiara memegangi lengannya saat ia memaksa ingin turun dari mobil.
“Kamu anternya sampai sini aja,” ucap Tiara sambil menggelengkan kepalanya.
Aryo menyatukan alisnya. “Alasannya?”
“Nggak ada alasan. Udah yaa, aku turun dulu. Dosen aku lima menit lagi sampai kelas. Aku nggak mau kehilangan absen cuma karena telat beberapa menit.” Sebenarnya Tiara tidak ingin satu fakultasnya menjadi heboh karena melihat suaminya.
“Oke,” putus Aryo.
Sebelum turun dari mobil, Tiara mengambil tangan Aryo dan mengecupnya di sana.
“Nanti kamu dijemput Egha ya,” ujar Aryo.
“Siap Pak Bos. Kamu pulang kantor jam berapa?”
“Belum tahu. Nanti aku kabarin kamu.”
Tiara lanats menghambur memeluk Aryo dan pria iu sedikit terkesiap. Namun sesaat kemudian, ia balas melingkarkan satu tangannya ke punggung Tiara dan tangan satunya lagi mengusap sayang kepala gadis itu.
“Bye. Kamu hati-hati di jalan ya,” ucap Tiara saat ia mengurai pelukannya.
“Tiara,” panggil Aryo sebelum gadis itu membuka pintu mobil.
“Nanti aku telat lho—” ucapan Tiara tertahan ketika Aryo mencondongkan tubuhnya untuk memberikan kecupan di pipinya.
Tiara tidak bisa menahan sebuah senyum terbit di wajahnya. Senyum itu begitu cerah, hingga membuat Aryo khawatir banyak pria lain yang akan tergila-gila dengan senyum wanitanya.
“Cantik banget sih istri aku,” celetuk Aryo.
Tiara mengulaskan senyumnya, “I must go. Bye.”
“No kiss for me?” Aryo matanya masih tidak beralih sedikit pun dari Tiara.
“You're lucky today, Sir,” Tiara mendekatkan tubuhnya untuk memberi sebuah kecupan di pipi Aryo. Kemudian gadis itu membuka pintu mobil dan beranjak dari sana.
Aryo menunggu Tiara sampai perempuan itu memasuki gedung fakultasnya. Kemudian Aryo menghubungi Egha dan mengatakan bahwa
ada yang harus pria itu persiapkan sebelum menjemput Tiara.
Selesai mengakhiri sambungan telfonnya, Aryo pun memanuver Jeep Rubicon putihnya untuk meninggalkan pelataran kampus.
***
Kelas Tiara berakhir pukul 6 sore dengan mata kuliah marketing dan bisnis internasional. Miss Jessica menutup kelas hari ini dengan mengumumkan bahwa ujian akhir semester mata kuliahnya diadakan minggu depan.
Tiara memerhatikan teman-teman sekelasnya yang sempat terhenti ketika melewati pintu kelas untuk melihat sesuatu di sana.
Sosok yang jadi penarik mata itu berdiri tegap sambil memerhatikan satu persatu mahasiswa yang keluar dari kelas tersebut.
Tiara mengemasi barang-barangnya dan bergegas keluar. Akmal yang melihat Tiara berjalan keluar dari kelasnya lantas menyusulnya dan berniat menawarkan tumpangan.
“Non Tiara, Tuan Aryo ngasih saya tugas untuk menjemput Non,” ucap sosok yang rupanya sedari tadi menarik atensi anak-anak kelasnya.
“Oke,” jawab Tiara setelah mendapati bahwa pria itu adalah Egha.
“Biar saya bantu bawakan barang-barangnya Non,” ucap Egha.
“Ra, lo pulang sama siapa? Gue baru mau nawarin bareng,” ujar Akmal yang mendapati Tiara bersama Egha.
“Makasih ya udah nawarin. Gue pulang sama Egha.” Tiara memberi tahu pada Akmal bahwa Egha adalah orang yang bekerja untuk Aryo, jadi Tiara akan aman bersamanya.
Egha yang berdiri di samping Tiara menerima dua tas bawaan Tiara yang perempuan itu berikan padanya. Tiara mengatakan pada Akmal kalau ia harus segera pulang. Akmal pun mengiyakan, tapi tetapannya tidak lepas dari punggung Tiara yang bergerak menjauhinya.
***
Tiara membaca pesan yang dikirim oleh Akmal padanya. Pria itu mengatakan bahwa ia akan mengikuti Tiara dari belakang untuk menjaganya. Tiara merasa aneh akan sikap Akmal yang berlebihan kepadanya, tapi Tiara pikir pria itu hanya bergurau.
Mal, gue aman kok. Lo nggak perlu ikutin gue, it’s oke
Sent
Tiara menaruh ponselnya di kantung celana jeans-nya setelah membalas pesan dari Akmal. Kurang dari 30 detik setelahnya, terdengar suara tembakan yang cukup kencang. Ternyata tembakan peluru itu mengenai kaca bagian belakang mobil, tapi tidak sampai menembus ke dalam karena tembakannya melesat. Egha yang menyetir di sampingnya tidak terlihat terkejut sama sekali dan hanya meminta Tiara untuk tetap tenang.
“Egha, sebenarnya ada apa?” tanya Tiara. Egha tidak menggubrisnya, justru pria itu berkomunikasi menggunakan earphone wireless yang terpasang di telinganya.
“Lapor. Satu tembakan mengenai mobil bagian belakang. Sampai tujuan sekitar 10 menit lagi,” ujar Egha.
Setelah mendengar perintah dari ujung sana, Egha kembali bicara. “Lapor. Non Tiara aman. Perintah diterima dan akan dilaksanakan.”
“Non, tolong pakai jaket anti peluru yang ada di jok belakang,” perintah Egha pada Tiara.
Tiara yang tidak sempat meminta penjelasan pada Egha hanya menuruti perkataan pria itu. Tiara lantas memakai jaket anti peluru yang ia ambil dari jok belakang.
“Jangan telfon Tuan Aryo, Non. Tuan saat ini tidak bisa menjawab panggilan Anda,” ucap Egha lagi.
“Tuan sengaja nyimpan semuanya dari Non Tiara karena nggak ingin membuat Non khawatir,” sambung Egha.
Diluar prediksi Egha, jarak tempuh untuk sampai tempat tujuan dengan kecepatan mengemudinya, tidak dapat mengimbangi frekuensi tembakan peluru yang menembaki mobil dari sisi kanan, kiri, maupun belakang.
Saat Egha fokus menyetir dan menambah kecepatan mengemudinya, seorang pengendara motor menyalip mobilnya hingga menghadang mereka dan mobil pun berhenti. Tiara dan Egha mendapati pengendara itu adalah Akmal.
Akmal menghampiri pintu di samping Tiara dan membuka helm full face-nya. Tiara yang mendapati pengendara itu adalah sahabatnya, segera membuka jendelanya.
“Apa yang lo lakuin? Ini bahaya, Mal. Lo bisa celaka,” ucap Tiara.
“Gue akan nganter lo sampai tujuan. Gue pastiin lo aman,” tutur Akmal.
“Itu pilihan yang lebih baik untuk sekarang, Non. Saya akan ngalihin perhatian mereka untuk melindungi keselamatan Non Tiara,” ucap Egha.
Tiara pun menurutinya. Ia segera turun dari mobil dan menaiki motor Akmal setelah memasang helm di kepalanya. Akmal mengendarai motornya dengan kecepatan penuh setelah Tiara melingkarkan tangannya di pinggangnya.
***
I love him.
Tiga kata itu rasanya terus berputar di dalam benaknya. Setelah menyelamatkan gadis yang ia cintai dan mendapat pernyataan bahwa gadis itu mencintai lelaki lain, harapannya pupus detik itu juga.
Sebuah kenyataan yang harus ia terima, bahwa selama lima tahun tidak ada sedikit pun tempat untuknya di hati Tiara. Memang menyakitkan, tapi Akmal lebih tidak bisa melihat Tiara dalam bahaya atau ada yang menyakitinya. Bila kebahagiaan Tiara bukan bersamanya, Akmal akan mencoba untuk merelakan itu.
Akmal mengendarai motornya dengan kecepatan penuh menembus jalanan senja. Tiara mengatakan, gadis itu akan berjuang untuk cintanya, meski Akmal juga tahu bahwa itu akan sulit.
Cinta tidak membuat seseorang menutup matanya, bagi Tiara. Perempuan itu mengatakan bahwa sebuah cinta telah mengobati luka belasan tahun di hatinya—yang sebelumnya Tiara tidak tahu cara mengobati luka itu. Meskipun harus berdarah dan menghadapi berbagai tantangan, cinta akan bersedia untuk melaluinya.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷