Pagi Penuh Kejutan

Netra Karin masih terpejam dengan rapat, begitu ia merasakan sesuatu yang kenyal dan lembap menempel di atas bibirnya. Alam bawah sadarnya memerintahkan otaknya untuk membalas pergerakan tersebut. Satu tangan Karin bergerak menghela sesuatu di hadapannya utuk mendekat padanya, guna memudahkan aktivitas yang sedang berlangsung.

Saat Karin membalas ciuman itu, ia dapat menghirup perpaduan aroma segar citrus dengan floral di sekitarnya, harum itu membuat Karin betah. Rasanya ia tidak ingin beranjak dan bangun begitu saja, lagipula sekujur tubuhnya saat ini terasa pegal dan nyeri.

Perlahan-lahan Karin tidak merespon kecupan lembut itu lagi, ketika kabel-kabel di otaknya mulai terhubung satu sama lain. Sebuah sinyal dari kepalanya memerintahkan Karin untuk membuka matanya, untuk mengecek apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Betapa terkejutnya Karin kala mendapati seorang lelaki tengah bersamanya di atas kasur. Belum cukup dengan itu, Karin menemukan tubuhnya telah polos tanpa sehelai benang pun, hanya di tutupi oleh sebuah bed cover putih tebal.

Jantung Karin berdetak kencang, matanya terasa memanas, dan sesuatu seperti mencekat tenggorakannya, hingga ia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya.

Isakan kecil yang keluar dari bibir Karin, perlahan membuat Aryan membuka matanya. Pria itu menatap Karin dengan pandangan tidak kalah terkejut dari Karin. Aryan menghela napasnya dan menghembuskannya sebelum membuka suaranya, “Kenapa kita bisa di sini? What we have done?” kalimat itu lah yang terlontar dari Aryan pertama kali, setelah lidahnya beberapa detik lalu terasa kelu.

Aryan tidak mendapat jawaban apapun dari Karin. Ia hanya mendapati perempuan itu bergerak menjauhinya dan isakan senantiasa keluar dari bibirnya.

Aryan bergerak bangun dari posisinya. Ia berusaha menjangkau pakaiannya yang tercecer di atas lantai. Karin membuang pandangannya dari Aryan saat pria itu bergegas menuju kamar mandi.

Karin pun melakukan hal yang sama. Setelah menemukan dimana keberadaan gaunnya, perempuan itu segera mengambilnya dan memakainya di kamar mandi yang satunya.

Ketika selesai dengan pakaiannya, Karin mendapati harum gaunnya telah berubah. Aroma parfum citrus berpadu dengan floral itu melekat di gaun hitamnya. Itu parfum yang ia temukan sesaat sebelum terbangun tadi, ketika bisa-bisanya ia tidak sadar dan masih melakukannya bersama Aryan. Rasanya Karin ingin memaki dirinya sendiri.

Karin keluar dari kamar mandi dan mengambil tasnya di sofa. Aryan juga telah kembali dengan tubuhnya yang sudah terbalut pakaian.

Karin terlihat sedang memikirkan sesuatu, ia berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. Orange juice yang ia minum telah memberikan reaksi aneh pada tubuhnya dan seseorang mengantarnya ke kamar ini untuk beristirahat.

“Kamu ingat sesuatu? Ini kamarku, kamu tiba-tiba masuk ke sini semalam,” ucap Aryan.

Karin lantas menoleh ke arah Aryan. “You've planned all of this?” tanya Karin sambil menatap Aryan dengan tatapan selidiknya.

Aryan berdecak, “I don't understand what you talking about, Karina. “I know you. Kamu temannya Kina, right?”

Karin tidak tahu bahwa ternyata Aryan mengetahui namanya. Oh, jelas. Kemungkinan Aryan memang tahu namanya. Pria yang tidur bersamanya ini adalah kakak tingkat di jurusannya sekaligus kekasih Shakina, teman sesama influencer-nya.

You've said that I was planned all of this?” tanya Aryan.

Of course. Aku yang dijebak di sini,” balas Karin.

Aryan mengambil jam tangan Daniel Wellington miliknya di nakas samping kasur. Setelah memakainya, lelaki itu meraih ponselnya dan terlihat menghubungi seseorang. Karin yang mendengar Aryan meminta seseorang untuk mencari tahu siapa yang telah menjebaknya, segera bergerak untuk menahan apa yang lelaki itu lakukan.

Aryan menatap Karin dengan matanya yang menyipit. “Kenapa kamu nggak ingin kejadian ini dicari tau? Kalau kamu merasa kamu dijebak, harusnya kamu biarin aku buat cari tau siapa dibalik semua ini,” ucap Aryan.

Karin mendongakkan wajahnya, ia menatap Aryan tepat di matanya, “Kamu pikir cuma kamu yang dijebak?”

Karin berdeham sebelum kembali berujar, “Kamu bisa jamin namaku aman kalau skandal ini sampai bocor?”

Aryan tidak dapat menjawab pertanyaan Karin tersebut. Tidak lama kemudian, Aryan mengambil kembali ponselnya dari tangan Karin.

“Oke, aku nggak akan cari tau,” putus Aryan. Air mukanya terlihat menahan amarah, genggaman tangannya di ponselnya pun terlihat mengerat.

Karin menghembuskan napasnya panjang, “ Kita bisa bersikap seolah nggak ada yang pernah terjadi semalam,” ucap Karin tanpa berniat melihat ke arah Aryan sama sekali. Karin berlalu dari hadapan Aryan, ia menuju ke cermin yang ada di kamar itu dan bergerak merapikan tatanan rambutnya.

“Karina, you have to know that I've never planned all of this,” ujar Aryan setelah beberapa detik hanya hening yang terjadi di antara mereka.

Karin selesai dengan kegiatannya, ia berbalik dan kini menghadap Aryan. “Ya, I know. Aku tadi kebawa emosi dan akhirnya nuduh kamu. Aku tau kamu pacarnya Kina dan apa yang terjadi diantara kita adalah rahasia. Aku nggak mau Kina atau siapa pun sampai tau soal ini,” jelas Karin.

Aryan mengangguk setuju, “Sure. We can keep this as a secret.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷