Paradise Between Us

“Terima kasih ya,” ucap Karin sebelum melangkahkan kakinya memasuki kamar berpintu putih itu. Tim Clairs Beauty yang mengantarnya pun berlalu dari sana setelah memastikan Karin masuk.

Karin melangkah lebih jauh ke dalam ruangan yang lebih besar dari dugaannya itu. Baiklah, tempat ini sangat lebih dari cukup untuknya beristirahat sejenak.

Karin meletakkan tas hitam kecil yang dibawanya di sebuah sofa. Sejauh apa lagi ia harus masuk untuk menemukan kamarnya? Tempat ini lebih pantas disebut penthouse ketimbang kamar hotel.

Karin berniat melepaskan high heels yang terasa menyakiti tumitnya, tapi kegiatannya itu tertahan ketika matanya menangkap 2 buah botol minuman alkohol di atas lantai marmer kamar itu. Aroma alkohol yang menguar di dekatnya, membuat Karin seketika mengernyit karena kembali merasakan pusing di kepalanya.

Karin berusaha berdiri tegak dan mengatur pernapasannya yang terasa tidak beraturan. Detik berikutnya, Karin mendengar derap langkah kaki yang mendekat padanya. Karin mendongakkan kepalanya dan bertemulah pandangannya dengan sosok bertubuh tinggi di hadapannya, mungkin tingginya hanya sebatas dada bidang lelaki itu.

How you can get here? Who are ... you?” tanya suara bernada rendah itu. Tanpa perlu lebih dekat, Karin dapat menghirup aroma alkohol yang menguar dari tubuh lelaki di hadapannya ini.

Jantung Karin rasanya berdetak lebih cepat dari biasanya, kala lelaki itu menyipitkan matanya dan memandangi wajah Karin lamat-lamat.

Karin balas menatap paras oriental di hadapannya itu. Alis rapi, mata sipit, serta bibir penuhnya membuat Karin meneguk salivanya dengan susah payah. Karin berusaha menepis sesuatu yang mendorong dirinya dari dalam. Karin sangat mengerti sinyal yang diberikan oleh tubuhnya, tapi sisa pikiran warasnya telah mencegahnya untuk melakukannya.

“Aku yang harusnya tanya ke kamu. Kenapa ada laki-laki di ruangan ini? Kamar ini khusus untuk tamu Clairs Beauty,” racau Karin dengan matanya yang setengah terpejam.

Hello, it's my room. Kamu yang masuk ke sini dengan keadaan mabuk,see,” balas lelaki itu sambil menghembuskan napas beratnya.

“Kamu yang mabuk,” Karin mengambil dua botol yang isinya telah habis di lantai, lalu ia menunjukkannya di hadapan lelaki itu.

Lelaki itu bergerak mendekat padanya, hendak mengambil botol yang ada di tangan Karin. Otomatis Karin pun melangkahkan kakinya mundur untuk menjauh. Tanpa perkiraan yang matang, tubuhnya sudah menyentuh salah satu dinding di kamar. Itu bertambah buruk saat lelaki tersebut memangkas jaraknya dengan Karin, membuat jantung Karin kembali berdetak tidak karuan di dalam rongga dadanya.

Karin tidak menyadari bahwa kini tangannya telah terbebas dari botol alkohol. Karin kembali memerhatikan paras tampan lelaki itu dan pandangannya pun turun pada bibir tebalnya. Karin berpikir bahwa bibir itu dipahat dengan sangat hati-hati, hingga tercipta bentuk yang begitu indah. Sempurn dan tanpa celah, ujar Karin dalam hati.

God was happy when he created you,” cetus Karin. Setelah mengucapkannya, kepala Karin hampir saja jatuh ke lantai kalau saja Aryan tidak menahannya. Aryan mengangkat wajah Karin menggunakan satu tangannya. Aryan Sakha, lelaki yang mengatakan bahwa kamar ini adalah miliknya, kini tengah menelusuri wajah Karin menggunakan iris hitamnya.

I'm dying when I'm try to not looked at you,” ucap Karin ketika netranya kembali bertemu dengan netra Aryan.

I want to taste you, but it's feels so wrong ... “ sambung Karin lagi.

You want it?” Aryan mengusapkan tangannya di pipi Karin. Ia dapat merasakan hawa panas di permukaan halus kulit perempuan itu. Karin pun menatap Aryan, ia mendapati mata pria itu terlihat sayu dan tatapannya menggelap.

Karin menjawab pertanyaan Aryan dengan sebuah anggukan. Perlahan tapi pasti, tangannya pun bergerak menarik kerah kemeja hitam Aryan agar pria itu mendekat padanya.

Detik berikutnya, Karin dapat merasakan deru napas Aryan di dekat rahangnya. Itu menciptakan sensasi menggelitik bagi Karin, ada sebuah desiran yang terasa hangat di rongga dadanya.

Aryan menatap Karin dalam-dalam, sebelum akhirnya mendekatkan diri dan mulai mengecup bibir Karin dengan mesra. Karin memberikan respon terkejutnya, tapi ia menikmati sensasi itu. Pertama kali dalam hidup Karin, seseorang tengah mencium bibirnya. Karin tidak dapat mendeskripsikan bagaimana rasanya, ia hanya berusaha membalas lumatan yang Aryan lakukan. Aryan mencumbunya dengan sangat lembut, hati-hati, seolah tidak ingin menyakiti Karin.

Sekitar tiga menit berikutnya, Aryan mengurai ciumannya, “Hei, are you okay?” tanya Aryan saat ia memerhatikan kondisi Karin. Wajah Karin sepenuhnya memerah, Aryan pikir Karin lebih mabuk darinya.

Karin menggeleng, ia merasa tidak baik-baik saja saat ini. “I'm not feeling good and I'm sweating,” ucap Karin.

Just do it again, please,” pinta Karin. Ia menjinjitkan kakinya untuk meraih pundak Aryan, hingga kini tinggi keduanya menjadi sejajar. Karin memajukan wajahnya, ia segera melayangkan kecupan halus di bibir Aryan. Karin melakukannya dengan cukup baik, tidak hanya mengecup, tangannya bergerak mengusap tengkuk Aryan. Itu menciptakan sensasi mendebarkan bagi Aryan, ditambah kini Karin melesakkan lidahnya, membuat saliva mereka saling bertemu.

Are you sure you want it?” tanya Aryan begitu Karin mengakhiri ciuman sensualnya. Karin mendekap torso Aryan, menciptakan rasa hangat di tubuh keduanya.

I'm sure,” bisik Karin di dekat Aryan.

Karin memberikan usapan di punggung Aryan dengan gerakan searah, membuat pria itu seketika memejamkan matanya, menikmati sentuhan yang Karin berikan.

Setelah mendapat jawaban itu, Aryan meletakkan lengannya di bawah kedua paha Karin, ia menggendong Karin di depan tubuhnya. Sesampainya di kamar, Aryan membaringkan Karin di atas sebuah ranjang king size. Karin bergerak dari posisinya, ia memosisikan tangannya melepas dress hitamnya, tapi nampak kesulitan untuk melakukan itu sendiri.

Aryan and Karin's Hotel Room

Aryan ikut bergabung bersama Karin di atas kasur setelah pria itu melepas kemeja hitamnya. “Let me help you,” ucap Aryan. Pemandangan tubuh shirtless Aryan membuat Karin menggigiti bibir bawahnya. Pahatan otot tubuh sempurna Aryan, mendorong Karin untuk membayangkan bagaimana rasanya benda-benda itu jika disentuh.

Aryan pun bergerak memosisikan tubuhnya di belakang Karin. Tangannya mulai menyentuh resleting gaun di punggung Karin, ia menariknya dengan satu tarikan.

Beberapa detik kemudian, dress hitam Karin berhasil terlepas dari tubuhnya. Aryan mendapati pemandangan punggung putih dan halus milik Karin. Perasaan dari dalam diri Aryan begitu mendorongnya untuk merasakan halus punggung Karin menggunakan jemarinya.

Aryan lekas menempatkan Karin untuk berada di bawahnya. Ia memandangi paras Karin sesaat sebelum melesakkan jemarinya untuk menyisir surai lembut Karin. “You're so gorgeous,” ucap Aryan sambil menjelajahi setiap inci bentuk wajah Karin. Karin begitu cantik. Kedua mata yang berukuran agak besar, hidung kecil yang tinggi, serta bibir merah yang tipis itu. Karin sempurna dan indah.

Karin balas menatap paras rupawan Aryan, “God was happy when he created you,” ucap Karin.

“Kamu udah bilang itu tadi,” ujar Aryan diiringi tawa kecilnya.

“Oh iya? Aku lupa,” ucap Karin. “Di sini dingin banget, ta-tapi panas juga,” lanjut Karin sambil melengkungkan bibirnya ke dalam, guna menahan perasaan yang begitu bergejolak dari dalam dirinya.

“Ada selimut. Kamu mau?” tanya Aryan. Karin menjawab Aryan dengan sebuah gelengan di kepalanya. Aryan pun terlihat bingung dan lantas menanyakan apa yang Karin inginkan.

I-I just want you. I want you to hug me,” ucap Karin dengan suaranya yang terdengar parau.

Aryan menatap wajah Karin sesaat, sebelum akhirnya kembali mencumbu bibir merah ceri miliknya. Kali ini Aryan melakukannya dengan sedikit intens, ia memberikan hisapan dan gigitan di bibir bawah Karin sampai meninggalkan rasa nyut-nyutan di sana.

Kali ini Karin lumayan kualahan membalas lumatan Aryan, pria itu melakukannya dengan tempo yang lumayan cepat, hingga Karin dapat mendengar bunyi cecapan memenuhi indera pendengarannya. Karin meletakkan tangannya di pundak Aryan, mengusapnya dan meremasnya untuk memberikannya kekuatan.

Beberapa menit berlalu, Karin merasakan Aryan menjauhkan belah bibirnya. Mata mereka bertemu sesaat sebelum Aryan mencium area di sekitar ujung bibirnya. Melihat bibir Karin yang bengkak, membuat naluri Aryan tergerak untuk mengusapkan ibu jarinya dengan lembut di sana, berharap Karin dapat merasa lebih baik.

I want you too so bad,” lirih Aryan di tengah napasnya yang beradu indah bersama Karin.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk tulisan dan juga penulisnya.

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷