Pengisi Daya

Sudah 3 hari Tiara tidak mengikuti pelajaran di kampusnya. Hari ini perempuan itu akan kembali masuk kuliah. Tubuhnya sudah terasa lebih baik dan mual-mualnya sudah sedikit berkurang. Saat Tiara menunggu ojek online-nya di depan rumah, ia mendapati Akmal berada sana.

“Ra, ada yang perlu gue omongin,” ujar Akmal pada Tiara setelah pria itu memarkirkan motornya di depan rumah.

“Ada yang gue mau gue omongin juga Mal,” balas Tiara.

Tidak lama ojek online yang dipesan Tiara datang berbarengan dengan sebuah BMW hitam. Seseorang turun dari mobil mewah tersebut dan menghampiri Tiara.

“Egha?” ujar Tiara sambil memerhatikan sosok asisten suaminya itu.

“Selamat pagi, Non Tiara. Saya yang akan mengantar Nona ke kampus hari ini,” ucap Egha padanya dengan sopan.

“Tapi ojek online gue udah dateng,” ucap Tiara memberitahu Egha.

Egha menghampiri ojek online tersebut dan menyerahkan selembar uang seratus ribu. Setelahnya yang terjadi adalah ojek online yang dipesan Tiara pergi begitu saja.

“Kenapa lo yang nganter gue ke kampus?” tanya Tiara pada Egha.

“Saya melakukan tugas yang diperintahkan Tuan Aryo. Tuan menyampaikan maafnya pada Non Tiara karena tiba-tiba pergi tanpa pamit. Ada pekerjaan yang harus segera dikerjakan oleh Tuan,” jelas Egha.

“Tuan khawatir dengan kondisi Non Tiara. Jadi Tuan memerintahkan saya mengantar Non ke kampus. Tuan Aryo ingin menjaga Non Tiara dan anak yang sedang Non kandung,” sambung Egha.

***

Saat ini kehamilannya sudah diketahui oleh Akmal karena pria itu mendengarnya secara langsung dari Egha, bodyguard yang diperintahkan untuk menjaganya. Tiara mengatakan pada Akmal untuk tidak memberitahu siapa pun dulu mengenai kondisinya. Rentetan kejadian yang hampir saja mencelakainya, membuat Tiara harus lebih hati-hati karena saat ia tidak membawa dirinya sendiri. Ia membawa satu nyawa kecil bersamanya yang begitu ia sayangi.

Setelah kelas terakhir mereka, Akmal dan Tiara memutuskan untuk mengobrol berdua.

“Gue khawatir target kita udah mencium semuanya dengan mereka sandera ayah gue. Apa lo tau sesuatu atau mereka udah mencurigai lo Ra?” Akmal mengutarakan hal yang mengganggu pikirannya beberapa hari belakangan.

“Sesuatu yang mau gue sampaikann ke lo, berhubungan sama apa yang barusan lo bilang. Gue belum tahu mereka udah mencurigai gue atau enggak.” Tiara menjelaskan pada Akmal Reynaldi selama ini telah memata-matai mereka dan hampir sabotase keamanan rumahnya. Sesuai dengan bukti 1 yang ditemukan Rudi, Reynaldi adalah orang disebut oleh Erlangga melalui rekaman suara tersebut.

“Aryo lagi cari tau apakah dia orang yang sama dengan orang yang nyandera om Rudi. Kalau dia orang yang sama, ada kemungkinan dia sandera om Rudi karena mau lenyapin bukti perbuatannya 11 tahun lalu,” papar Tiara. Tiara juga menjelaskan bahwa Aryo telah mengetahui tujuannya menikahi pria itu dan latar belakang orang tua kandung Tiara yang telah tiada.

Akmal nampak berpikir. Apa yang dikatakan Tiara besar kemungkinan adalah benar. Selama ini target sasaran mereka telah memantau apa yang terjadi dan menyandera Rudi karena ayahnya adalah sahabat baik Erlangga.

“Kita nggak bisa nunggu, Mal. Mereka bisa ngelakuin apa aja ke ayah lo. Gue nggak mau sampai mengorbankan orang lain dalam rencana ini. Aryo udah tau semuanya dan punya rencana untuk mengungkap Reynaldi dengan tangannya sendiri,” tambah Tiara.

“Ayah sama bunda sudah tau kalau gue menikah dengan seseorang dari keluarga yang menyebabkan ayah gue tiada. Tapi gimana pun, Aryo adalah suami gue, jadi ayah sama bunda juga nggak bisa larang Aryo ketemu gue dan anak yang gue kandung.”

“Apa rencana yang dia punya?” tanya Akmal.

“Sementara Aryo masih ngumpulin informasi dan dokumen sebanyak-banyak untuk dijadiin bukti yang kuat. Meskipun saat ini posisi Aryo bisa memberikan privilege lebih untuk ngejalanin rencananya, tapi ini nggak akan mudah,” Tiara menatap Akmal dengan tatapan penuh rasa bersalahnya. “Mal, gue minta maaf karena gue mengorbankan ayah lo sampai sejauh ini. Gue janji akan bawa om Rudi balik dengan keadaan selamat,” jelas Tiara.

You don't need to said that, Tiara. Om Erlangga adalah sahabat baiknya ayah dan ayah udah anggep lo kayak anaknya sendiri. Jadi lo nggak perlu minta maaf, okey?

“Tiara, gue mau nanya satu hal sama lo,” ujar Akmal.

You free to ask me.

“Lo bahagia sama dia?” tanya Akmal.

Tiara menatap Akmal sesaat, lalu ia menjawab pertanyaan lelaki itu dengan sebuah anggukan.

“Kalau lo bahagia sama dia, artinya dia orang yang tepat untuk lo. Lo pernah bilang sama gue, cinta akan rela berkorban meskipun harus berdarah untuk itu. Dia melakukannya demi lo Ra, tanpa mikirin seberapa bahayanya itu untuk dia.”

***

Aryo mempunyai pekerjaan yang cukup banyak hari ini. Jabatan barunya sebagai presiden direktur membuatnya memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Aryo berdiri sebentar dari kursinya untuk meregangkan otot-otot di tubuhnya yang terasa kaku dan pegal. Ia menghabiskan waktunya lebih banyak didepan layar dan duduk dikursi.

Suara ketukan pintu yang terdengar membuat Aryo mempersilakan seseorang di balik sana untuk masuk. Ternyata Rama yang mengingatkannya tentang pukul berapa waktu sekarang. Kerutan di dahi Aryo muncul, tidak biasanya asistennya itu mengingatkan soal waktu padanya.

“Kantor tutup tiga puluh menit lagi Bos. Bener lo masih mau disini?”

“Sebentar lagi gue selesai.”

“Oke. Gue tungguin lo selesai.”

Rama memang sudah lama mengemban sebagai asistennya di kantor, lebih tepatnya sejak Aryo baru memulai karirnya di perusahaan ini sebagai karyawan biasa. Rama merangkap asisten sekaligus kepala bodyguard-nya dan selalu setia padanya.

“Ram, lo bisa pulang duluan,” ujar Aryo.

“Yaelah lo, kayak sama siapa aja.”

“Lo punya keluarga yang nunggu lo di rumah. Mereka akan khawatir kalau lo pulang telat,” ucap Aryo memperjelas perkataannya.

“Lo juga punya orang yang khawatir sama lo,” ujar Rama yang lantas membuat Aryo mengalihkan atensinya dari layar laptopnya.

Your wife. Dia peduli banget sama lo, sampe minta tolong sama gue buat pantau lo, biar lo nggak gila kerja mulu,” jelas Rama.

***

Rumahnya terasa hampa tanpa kehadiran Tiara. Aryo merasa seperti saat ia belum menikah, saat masih bujang dulu. Tidak ada yang menyambutnya ketika ia kembali, tidak ada yang menyiapkannya makanan, dan tidak ada yang menyiapkan pakaiannya setelah mandi.

Aryo memiliki alasan tidak ingin menikah cepat-cepat, meskipun keturunan merupakan hal yang begitu penting di keluarganya. Setiap pernikahan di keluarganya akan menghadirkan persaingan baru dan selalu ada pengorbanan. Aryo dibesarkan di keluarga pebisnis dan membuatnya tidak ingin menikah terlalu cepat. Ia tidak ingin hal buruk terjadi pada keluarga kecilnya dan mengorbankan apa yang ia cintai hanya karena persaingan tersebut.

Sebelumnya Aryo begitu menyukai kehidupannya yang tanpa ikatan pernikahan. Ia bisa menjalin hubungan dengan perempuan yang ia inginkan, tanpa terikat dan menjadikan orang yang ia cintai sebagai sasaran empuk rivalnya atau oknum-oknum yang tidak berada dipihaknya. Namun pertemuannya dengan Tiara merubah cara berpikirnya. Perempuan itu memberinya pelajaran pada hal kecil bernama ‘tanggung jawab’ yang masih sering ia lalaikan. Tiara mampu menariknya seperti magnet, membolak-balikkan hatinya dan membuatnya memiliki keinginan membangun sebuah keluarga. Ia ingin melindungi Tiara, menyayanginya, serta rela berkorban untuknya.

Aryo berpikir saat itu Tiara belum mencintainya. Aryo menemukan fakta bahwa Tiara memiliki tujuan menikah dengannya yang Aryo tidak belum tahu pasti apa tujuan tersebut. Aryo mendapatkan informasi itu dari Aurorae. Ternyata benar, Tiara memang memiliki tujuan mencari bukti kuat untuk mengungkap kecelakaan ayah kandungnya. Namun pada saat mengetahuinya, Aryo tetap memutuskan menikahi Tiara dan bertekad membuat perempuan itu mencintainya.

Aryo melewati lantai 1 rumahnya dan mendapati foto-foto pernikahannya dengan Tiara yang digantung di dinding. Ada satu yang berukuran paling besar, yakni foto ketika malam resepsi yang diambil secara candid. Di foto itu, Tiara terlihat menatapnya dari samping. Mata Tiara berbinar menatapnya dan saat itu Aryo tidak menyadari hal tersebut. Aryo mengulaskan senyumnya sambil memandangi foto itu.

Aryo meminta Tiara menikah dengannya tanpa mengetahui sebenarnya Tiara mencintainya atau tidak. Itu seperti sebuah kejahatan, pikir Aryo. Di usia Tiara yang masih muda, perempuan itu harus menikah secara tiba-tiba dengan orang yang baru ia kenal dan rasa cinta itu mungkin belum ada. Itu pasti terasa berat untuk Tiara dan Aryo kerap kali merasa bersalah karena telah membuat orang yang ia sayangi menderita. Setelah ia mengetahui bahwa Tiara juga mencintainya sejak tangan gadis itu terulur dan menanyakan namanya, Aryo merasa menjadi lelaki yang paling beruntung memiliki orang yang ia cintai juga mencintainya dan kini seutuhnya menjadi miliknya.

Aryo berjalan menuju dapur karena perutnya terasa keroncongan. Di atas meja makan dapur rumahnya, ia menemukan berbagai lauk makanan yang ditata rapi di dalam storage makanan. Makanan-makanan itu merupakan menu favoritnya. Apakah mungkin istrinya yang mengirimkan semua ini?

***

Semalam Aryo tertidur cukup nyenyak setelah beberapa hari lalu jam tidurnya tidak menentu. Ia baru tidur lewat tengah malam dan harus bangun pukul 7 pagi untuk berangkat ke kantor. Saat pertama membuka mata, yang pria itu cari adalah ponselnya. Andaikan saja ada Tiara saat ini, Aryo akan mendekap istrinya sampai nyawanya terkumpul sempurna. Tiara bagaikan isi daya untuknya, sehingga tanpa Tiara dirinya akan seperti robot tanpa baterai.

Aryo mengaktifkan ponselnya dan berniat menghubungi Tiara. Kalau saja rindunya dapat dijadikan harta, Aryo sudah menjadi Bill Gates kedua di dunia. Setelah menekan caller ID Tiara, Aryo pun menunggu sambungan teleponnya terhubung.

“Halo?” Beberapa detik kemdudian, terdengar suara lembut yang amat dirindukannya.

“Aryo, kenapa nelfon?” Tiara kembali bersuara setelah Aryo hanya diam.

“Aku nggak bisa bangun Ra ... ” ujar Aryo dengan nada manjanya.

“Maksud kamu? Gimana sih, kok nggak bisa bangun? Kamu kenapa?”

“Nggak ada tenaga,” jawab Aryo.

“Kamu kenapa?” Nada suara Tiara terdengar khawatir.

“Aku butuh isi daya biar nyawaku ke kumpul. Tapi pengisi dayaku lagi nggak ada di sini.”

“Ada-ada aja. Emang apa yang bisa ngisi daya kamu?”

“Istri aku.”

Keduanya pun sama-sama terdiam. Tanpa Aryo tahu, di sana Tiara sedang gugup dan menahan senyumnya.

“Ra.”

“Iya?

“Aku udah bisa bangun habis denger suara kamu.”

“Okee. Udah jam 8 lho ini. Kamu nggak siap-siap ke kantor?”

“Iya, habis telfon kamu aku mandi.”

“Oke. Kamu jangan telat makan lagi. Tidurnya jangan kemaleman. Ohiya, kamu suka nggak sama makanannya?” Sebenarnya Tiara hanya ingin mengalihkan pembicaraan. Sayangnya Aryo tidak dapat melihat senyum kecil yang tercetak di bibir istrinya.

“Makasih ya. Udah aku makan, enak semua. Aku suka banget.”

Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Aryo beranjak bangun untuk membuka pintunya.

“Ra, nanti aku telfon lagi ya. Aku mau siap-siap. Bye,” ucap Aryo sebelum mengakhiri sambungan telfonnya dengan Tiara.

“Bye.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷