Penilaian Terhadap Seseorang

Karin melangkahkan kakinya memasuki restoran khas jepang dengan gaya bangunan minimalis. Ketika sampai di bagian resepsionis, Karin lantas menyebutkan sebuah nama kepada pegawai di sana. Setelah pegawai perempuan di hadapannya mengecek pada bagian daftar tamu yang sudah melakukan reservasi, Karin segera diantar untuk sampai ke meja yang di maksud.

Dari jarak kurang dari 100 meter di hadapannya, kini Karin menangkap sosok perempuan paruh baya yang terlihat begitu fameliar baginya. Pegawai yang mengantarnya tadi sempat menarik kursi untuk Karin, sebelum akhirnya pergi meninggalkannya hanya berdua dengan wanita itu.

“Selamat malam, Karina,” sapa Catherine sembari mengulaskan senyum di wajah anggunnya.

“Malam, Tante,” balas Karin dengan sebuah senyuman ramah di parasnya.

Catherine lalu mempersilakan Karin untuk mencoba minuman yang telah tersaji di atas meja. Karin mengucapkan terima kasih, sebelum akhirnya meneguk minuman teh leci dari gelas bening tersebut.

“Makanannya sebentar lagi sampai. Sebelum kita makan, boleh saya sampaikan maksud saya mengundang kamu ke sini?” tanya Catherine.

Karin lantas menjawab Catherine dengan sebuah anggukan. Catherine terlihat mengambil gelasnya, dengan gerakan anggun ia meneguk minuman teh jasmine itu. Setelah meletakkan gelasnya, Catherine pun berujar, “Apa Rey tau kalau kamu ketemu saya malam ini?”

Karin dengan lugas segera menjawab pertanyaan Catherine. “Sesuai yang Tante inginkan, saya tidak akan memberitahu Rey kalau mamanya ingin bertemu dengan saya,” ucap Karin.

Perbincangan keduanya pun terhenti sejenak kala dua orang pelayan mendatangi meja mereka untuk menyajikan makanan. Catherine pun mempersilakan Karin untuk menyantap makanannya. Di tengah-tengah kegiatan makan malam tersebut, Catherine kembali menatap Karin dan berujar, “Saya tahu kalau anak saya sangat mencintai kamu, Karina.”

Karin pun juga tahu bahwa Catherine, mama dari Rey yang kini berada di hadapannya, tidak merestui hubungannya dengan Rey sejak tahu Karin tengah mengandung.

Karin seketika termenung, garpu dan sendok yang sebelumnya bergerak mengambil makanan di piring pun terhenti, kini hanya menggantung di tangannya begitu saja.

“Namun sebagai seorang ibu, tentunya saya ingin yang terbaik untuk anak saya. Kamu paham kan, maksud saya? Sebentar lagi kamu juga akan menjadi seorang ibu,” ucap Catherine lagi.

Setelah mengucapkannya, Catherine kembali menikmati makanannya dengan begitu tenang. Berbeda dengan Karin yang saat ini merasa sudah kehilangan nafsu makannya. Ajakan Catherine untuk bertemu dengannya tidak dapat Karin tolak, meskipun ia sempat menduga bahwa Catherine memang akan mengatakan hal ini kepadanya.

Ketika Karin mengangkat wajahnya yang sebelumnya tertunduk, Catherine menatapnya lurus-lurus, lalu perempuan itu berujar lagi, “Saya meminta kerelaan kamu untuk menjauh dari hidup anak saya.” Seperti bom waktu yang dapat meledak kapan saja, mungkin ini lah saatnya Karin menemui kehancuran yang selama ini ditakutinya.

Karin lantas meletakkan garpu dan sendoknya di atas piring dengan posisi terbalik. Catherine yang melihat hal tersebut, nampak menautkan alisnya dan melayangkan tatapan bertanya kepada Karin.

“Kamu sudah selesai dengan makanannya?” tanya Catherine.

Karin lantas menjawab pertanyaan Catherine dengan sebuah anggukan.

“Karin, kamu tahu kan, sebenarnya saya merestui kamu dan Rey sejak awal hubungan kalian. Kamu mahasiswi berprestasi di kampus, sopan, baik dan kamu juga cantik,” Catherine menjeda ucapannya selama beberapa detik. Tatapan Catherine yang sebelumnya masih ramah menatap Karin, kini berubah menjadi minim ekspresi.

“Saya pikir, kamu sempurna untuk anak saya, tapi kejadian yang menimpa kamu membuat saya harus kembali berpikir. Saya nggak ingin kamu membawa pengaruh yang tidak baik untuk Rey. Jadi, saya minta kamu benar-benar menghilang dari hidup anak saya. Saya hanya ingin itu Karina, saya mohon.sama kamu, lakukan permintaan saya.”

Pandangan Catherine mengenai Karin seperti berubah seratus delapan puluh derajat. Semudah itu seseorang menilai orang lain dari apa yang terlihat oleh mata dan terdengar oleh telinga. Catherine hanya menganggap Karin sebagai perempuan yang hamil di luar nikah, itu merupakan suatu aib dan perilaku yang buruk.

“Tante, saya tahu apa yang terjadi pada saya bukanlah sesuatu yang dapat dibenarkan atau patut dijadikan contoh. Tapi apa seseorang hanya akan melihat satu keburukan seseorang untuk menilainya secara keseluruhan,” ucap Karin.

Ucapan Karin tersebut anehnya terasa benar di dalam pemikiran Catherine. Namun lagi-lagi, Catherine segera menampik semua itu dan tetap bersikap bahwa keputusannya meminta Karin meninggalkan Rey adalah yang terbaik.

“Karin, kamu bahkan mengkhianati anak saya. Kamu selingkuh di belakangnya sampai hamil anak lelaki lain. Kamu pikir, orang tua mana yang rela anaknya bersama perempuan seperti itu?”

Mendengar seluruh kalimat yang dilontarkan Catherine, rasanya seperti meremukkan hati Karin hingga hancur berkeping-keping. Dengan sisa kekuatan yang Karin miliki, ia berusaha menatap mata wanita berusia 50 tahunan di hadapannya ini. “Tante, terima kasih untuk undangan makan malamnya,” ucap Karin. “Saya akan berusaha melakukan permintaan Tante. Tapi satu hal yang mungkin Tante harus tahu, saya tidak akan membiarkan Rey memperjuangkan apa yang dilarang oleh orang tuanya. Saya pernah merelakan Rey sejak awal, tapi Rey yang memilih untuk bertahan. Saya tahu Tante, seorang anak tetap harus menghormati orang tuanya. Saya permisi, sekali lagi terima kasih.”

Catherine masih diam di tempatnya dengan segala kebingungan yang kini melandanya. Kalimat perempuan yang begitu dicintai anaknya itu memiliki pembenaran yang begitu kuat di dalam hati Catherine. Kalimat Karin tentang seseorang hanya akan melihat satu keburukan seseorang untuk menilainya secara keseluruhan, itu membuat batin Catherine begitu bergejolak.

Karin melihat Catherine mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Rupanya itu adalah beberapa lembar uang yang kemudian diletakkannya di atas meja. Sebelum Catherine melangkahkan kakinya dari meja itu, wanita itu pun kembali berujar di hadapan Karin, “Ternyata kamu memang pandai berbicara, Karin. Saya akui kamu perempuan yang pintar. Jadi, saya pikir kamu cukup tau bahwa apa yang saya katakan adalah benar. Kalau kamu ada di posisi saya, mungkin kamu juga akan melakukan hal yang sama untuk anak kamu.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷