Perasaan Tidak Selamanya Tentang Memiliki
Rafael mengulurkan tangan pada Feli yang langsung disambut ramah oleh mama mertuanya. “Halo Tante,” ucap Rafael sambil tersenyum ramah dan sopan.
“Tante cantik banget, mirip sama Tiara,” tambah Rafael saat menatap wanita paruh baya di hadapannya yang terlihat sangat cantik dan anggun.
Tiara menatap Rafael dan mertuanya secara bergantian. Feli hanya menanggapi ucapan Rafael dengan seulas senyum manis.
“Mah, Tiara sama Rafael mau ngerjain tugas kelompok. Sama Vania juga, nanti nyusul ke sini,” ujar Tiara.
“Iya, tadi Mama udah minta tolong sama Icha buat siapin ruang belajarnya. Kalian kerjain tugasnya di sana ya,” tutur Feli. Lantas Tiara berpamitan dengan Feli untuk berlalu dan Rafael mengekori langkahnya dari belakang.
***
Tiara melirik jam yang terdapat di ruang belajar. Sekarang menunjukkan tepat pukul 9 malam.
“Akhirnya selesai juga,” ujar Vania. “Nih ya guys, udah selesai power point kita. Proposalnya ada di Tiara, video di lo Rafael, tinggal lo edit sama tambahin subtitle ya jangan lupa,” tutur Vania.
“Proposalnya nanti sekalian gue print sama jilid cover tebel ya,” ujar Tiara dan teman-temannya mengangguki. Setelah membereskan barang dan memastikan tidak ada yang tertinggal, Tiara mengantar teman-temannya turun ke lantai satu dan mereka berjalan ke area teras.
“Ra, lo balik apa nginep di sini?” tanya Vania.
“Gue nginep di sini. Soalnya suami gue mau nginep di kantornya,” ujar Tiara.
“Lho, kasian dong, nggak bisa bucin,” celetuk Vania sambil mengulaskan senyum menggodanya.
“Rumah ini bukan rumah lo Ra?” Seketika Rafael kebingungan.
“Ini rumah mertua gue, Raf,” jelas Tiara.
Ditengah-tengah suasana itu, terlihat sebuah BMW putih tengah memasuki pekarangan rumah. Tiara seketika mengernyit heran, karena ia tahu mobil yang baru saja terparkir sempurna itu adalah milik suaminya.
Benar saja ternyata itu suaminya. Mata Tiara tidak lepas dar sosok yang baru saja turun dari mobil. Aryo pun menghampirinya dan menyapa teman-temannya.
“Udah selesai kerja kelompoknya?” tanya Aryo sambil menatap Tiara dan teman-temannya bergantian.
“Baru aja selesai. Ini kita mau pulang. Raf, lo anterin gue pulang, kan?” celetuk Vania lalu gadis itu melirik Rafael dan menyenggol lengannya menggunakan sikut.
Rafael yang sedari tadi melihat Tiara dan Aryo pun buyar karena tingkah Vania. “Oke,” hanya itu yang terucap dari bibir Rafael.
Sebelum pergi dari sana, Vania berpamitan dengan Tiara dan juga Aryo. Notabenenya Vania yang masih sedikit kaget karena ini pertama kali ia bertemu sosok suami sahabatnya, buru-buru menggeret Rafael pergi dari sana. Selama ini Vania hanya melihat sosok Aryo melalui foto di internet dan instagram pribadi pria itu maupun instagram milik Tiara.
“Lo kenapa deh Van? Aneh banget,” celetuk Rafael ketika ia dan Vania berjalan ke tempat dimana mobilnya terparkir.
“Baru pertama kali gue liat langsung suaminya Tiara. Puji Tuhan, sahabat gue punya suami ganteng banget,” cerocos Vania dan Rafael memerhatikan temannya yang tersenyum agak aneh itu.
“Yaelah, lebay lo,” balas Rafael.
“Yee. Lo kenapa sih? Kok kayak bete gitu,” ujar Vania.
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil milik Rafael, tapi pria itu belum juga menyalakan Xpander hitamnya.
“Gue udah bilang sama Tiara, gue mutusin buat lupain perasaan gue buat dia,” aku Rafael.
Vania pun terdiam sesaat begitu mendengarnya. Perempuan itu nampak terkejut lalu ia berujar, “Lo selama ini crush-in Tiara?” Vania menahan tawanya keluar, ia takut membuat perasaan Rafael semakin tidak karuan.
Rafael kemudian mengangguk pelan. “Tadi Tiara bilang kan, kalau dia mau nginep di rumah mertuanya karena suaminya pulang malem dan nggak bisa jemput.”
“Yaa ... terus?”
“Tapi tiba-tiba suaminya dateng dan mungkin mau jemput Tiara. Dan lo liat nggak tadi sebahagia apa ekspresi Tiara?”
Vania baru menyadarinya dan ia membenarkan perkataan Rafael. “Lo pinter banget deh, Raf. Nggak nyesel gue sekelompok sama lo.”
“Omongan lo ngalor ngidul ya, Van. Tiba-tiba bahas kelompok,” Rafael tertawa sekilas.
“Yaelah, niat gue baik kali. Biar lo nggak mellow mellow amat. Lagian nih ya, lo crush-in cewek yang jelas-jelas udah jadi bini orang. Lo nekat juga ya gue liat-liat,” ujar Vania dengan nada becandanya.
“Gue suka sama Tiara udah lama. Tapi kayaknya emang bukan jodoh. Gue akan relain perasaan gue buat Tiara. Dia udah bahagia sama suaminya. Gue sadar akhirnya, kalau perasaan yang kita punya nggak selamanya harus berbalas dan berakhir memiliki orang itu,” ucap Rafael.
“Keren banget lo bisa ikhlas gini, Raf. Gue salut sama lo,” ujar Vania. Lantas Vania menepuk pundak Rafael sekilas, “Udah, lo nggak usah galau. Suatu hari, lo bakal nemuin cewek yang sayang sama lo. Kayak Tiara yang bucin banget ke suaminya. Lo tenang aja, ada saatnya kok nanti buat lo,” tutur Vania.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷