Perasaan yang Belum Disadari

Suasana kelas Analisis dan Permodelan E-Business siang itu terlihat begitu damai dan tenteram. Itu lah yang akan terjadi ketika dosen yang mengampu mata kuliah tersebut masuk ke dalam jajaran dosen yang terkenal killer. Mata kuliah itu hanya hadir setiap 2 kali seminggu, tapi rasanya dua hari tersebut berjalan seperti dua abad lamanya.

Bapak Hari Tanjung, seorang dosen berusia 50 tahunan tersebut menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, sebelum akhirnya beliau berujar, “Hari ini saya akan membagikan hasil ujian tengah semester kalian minggu lalu.”

Pak Hari mengambil salah satu kertas hasil ujian dari dalam map yang dibawanya. Setelah melihat sebuah nama di sana, beliau lekas memanggil satu nama tersebut. “Aryan Sakha Brodjohujodyo. Coba silakan maju ke depan,” ucap pak Hari.

Seketika semua mata di ruangan itu mengarah kepada sosok lelaki jangkung yang kebetulan duduk di baris kedua dari depan. Aryan memasang tampang lempengnya, seolah panggilan pak Hari barusan tidak membuatnya merasa panik atau terbebani barang sedikitpun. Berikutnya Aryan segera bergerak dari kursinya dan melangkahkan kakinya ke depan kelas.

Sesampainya Aryan di hadapan pak Hari, semua pasang mata masih menatap intens ke arahnya. Aryan tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia tidak merasa membuat kesalahan pada dosen yang terkenal killer di hadapannya ini.

“Maaf Pak, ada keperluan apa memanggil saya ke depan?” tanya Aryan begitu pak Hari belum mengatakan apa pun padanya.

“Kamu mengerjakan ujian kemarin gimana? Menurut kamu mudah atau sulit, soal yang saya berikan?” tanya pak Hari.

Aryan pun menjawab bahwa soal yang diberikan pak Hari tidak mudah, tapi tidak terlalu sulit juga baginya. Saat teman-temannya kemarin belum selesai mengerjakan, Aryan termasuk yang cukup cepat menyelesaikannya sehingga ia bisa pulang lebih dulu.

“Aryan, Kamu dapat nilai 100 di ujian saya. Waktu saya buat soal ujiannya, saya pikir nggak akan ada yang bisa mendapat nilai sempurna. But again, congrats for your achievement. You made it,” ucap pak Hari sembari menyerahkan kertas di tangannya kepada Aryan.

***

Kantin rooftop siang ini nampak ramai oleh para mahasiswa maupun mahisiswi yang mempunyai waktu luang. Sebagian dari mereka sedang menunggu kelas atau sekedar mengerjakan tugas di sana.

Di tempat tersebut juga mereka biasa menghabiskan beberapa batang rokok atau menghembuskan uap vape, karena memang kantin atas merupakan smooking area. Mayoritas tempat ini memang banyak digunakan untuk nongkrong, sementara kantin di bawah lebih sering digunakan bagi yang ingin menikmati makanan.

Di salah satu meja yang diisi oleh para lelaki di pojok kantin itu, mereka nampak sedang mengobrol mengenai beberapa hal. Topik pun tiba-tiba berganti, mereka membicarakan nilai 100 yang di dapat oleh Aryan di kelas pak Hari. Nilai sempurna yang sepanjang sejarah tidak pernah diberikan oleh dosen yang terkenal galak itu, kini telah pecah rekor.

Leon dan William, selaku sahabat Aryan sejak waktu yang lama, tengah menganggung-agungkan nama lelaki itu. Mereka mengatakan bahwa pihak kampus tidak pernah keliru menjadikan Aryan salah satu mahasiswa berprestasi di jurusan mereka. Selain banyak memenangkan lomba yang berhubungan dengan mata kuliah jurusan, seorang mahasiswa berprestasi juga harus memiliki nilai akademik yang bagus. William mengatakan bahwa rupanya Aryan tidak cuma modal tampang saja untuk membuatnya dikagumi para cewek cantik di kampus, tapi rupanya sahabatnya itu modal otak juga.

Leon nampak menggeser sekotak rokok ke hadapan Aryan. “Sebatang aja,” ujar Leon yang sudah lebih dulu menyalakan rokoknya dengan pemantik. Detik berikutnya Leon menghisapnya dan menghembuskan asapnya. Aryan pun menatap rokok yang disodorkan oleh Leon dan yang membuat Leon terkejut adalah Aryan kembali menolak tawarannya.

“Udah sini, buat gue aja kalau Aryan nggak mau,” seru William yang baru kembali dari membeli minuman.

“Lo beneran udah berhenti?” tanya Leon sambil menatap Aryan dengan tatapan penuh tanya.

“Bukan berhenti, gue coba buat kurangin,” jelas Aryan.

“Will, bener kan apa yang gue bilang. Lo nggak percaya sih sama gue. Sahabat lo beneran mau tobat ini,” ucap Leon pada William.

Kemarin William memang tidak percaya saat Leon bilang Aryan tidak datang ke club. Sekarang akhirnya William percaya setelah mendengar langsung pernyataan yang keluar dari mulut Aryan.

“Lo ada rencana buat sepenuhnya berhenti rokok?” tanya William pada Aryan.

“Ada sih gue rasa,” cetus Leon sebelum Aryan sempat menjawab pertanyaan dari William.

“Gila, keren banget lo Bro. Ngomong-ngomong bener kata Leon ini karna istri lo? Karin ngelarang lo clubbing gitu?” William yang masih penasaran itu pun mengkorek lebih jauh.

“Karin nggak ngelarang gue. Gue menghargai dia dan itu juga demi kesehatan gue. Gue harap lo berdua bisa respect sama keputusan gue,” jelas Aryan.

“Oke, gue akan respect keputusan lo itu,” ujar William akhirnya.

Tidak lama berselang, William berpamitan untuk pergi lebih dulu karena ia ada kelas yang berbeda, hingga tersisa Aryan dan Leon di sana.

“Nanti sore habis kelas lo ada acara?” tanya Leon.

“Ada,” jawab Aryan.

“Gue tebak pasti Karin lagi.”

“Iya. Gue mau nganterin Karin cek kandungan.”

“Kalau Juma’t gimana? Lo free?” tanya Leon lagi.

“Belum tau. Emang kenapa?”

“Anak-anak ngajakin makrab ke puncak. Anjir lah, kalau nanyain jadwal lo kayak gini, berasa lebih-lebih dari Karin gue. Emang beda ya kalau udah nikah.” Leon pun tertawa sekilas.

Aryan mengangguki Leon. “Sekarang gue punya tanggung jawab dan prioritas. Kina bukan lagi prioritas gue, tapi Karin dan anak gue sekarang yang utama.” Aryan pun mengatakan ia akan mengabari Leon seandainya memungkinkan ia ikut acara malam keakraban di puncak.

Leon terkesiap mendengarnya kalimat yang Aryan ucapkan. Leon tidak menyangka, perlahan-lahan ia dapat melihat perubahan positif dari sahabatnya itu.

“Aryan, lo dengerin gue deh. Gini ya, gue udah coba menganalisa perilaku lo ke Karin, gitu juga sebaliknya Karin ke lo,” ujar Leon.

“Maksud lo?” tanya Aryan yang tidak dapat menebak ke mana arah pembicaraan sahabatnya itu.

“Gue melihat sikap lo ke Karin udah beda. Sebenarnya lo udah mulai ada rasa ke Karin, tapi lo belum sadar itu. Setiap aspek kehidupan lo sekarang, lo selalu bawa Karin di dalamnya. Beda sama awal-awal lo nikah sama dia. Yaelah, gue kenal lo udah berapa lama sih,” tutur Leon panjang lebar.

Leon yang notabenenya merupakan sahabat Aryan sejak SMP dan telah begitu mengenal sosok Aryan, mengatakan bahwa sebenarnya sudah timbul perasaan Aryan kepada Karin. Aryan hanya belum menyadarinya dan menganggap perilakunya ke Karin hanyalah bentuk rasa tanggung jawab terhadap anak mereka.

Aryan pun memikirkan kata-kata Leon selama beberapa saat. Namun akhirnya Aryan menampik dugaan yang Leon layangkan tersebut.

“Yee malah mau pergi nih anak,” decak Leon begitu melihat Aryan mengambil tasnya dan menyampirkannya di satu pundaknya.

Sebelum Aryan pergi dari sana, Leon kembali menahan Aryan dengan perkataannya. “Karin bisa ngasih dampak yang positif buat lo. Tanpa lo sadar, Karin alasan terbesar untuk lo jadi orang yang lebih baik. Gue harap sih lo secepatnya menyadari itu.”

“Terus apa yang gue harus lakuin kalau itu emang benar?” Aryan justru bertanya kepada Leon. Kini Aryan menjadi bingung usai memikirkan perkataan sahabatnya itu.

You need to tell your feeling to her. Mungkin itu nggak akan mudah, tapi nggak ada salahnya buat lo coba dulu. Jangan sampai lo menyesal saat dia udah benar-benar pergi. Gue pikir Karin orang yang tepat dan dia pantas untuk lo perjuangin. Kalau lo butuh bantuan, lo bisa kasih tau gue. Good luck, Bro.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷