Permintaan Terakhir
“Gimana perkembangan kasus Zio? Apa semuanya berjalan lancar?” tanya seorang perempuan berusia 30 tahun yang kini ada di hadapan Raegan.
Raegan mematikan laptopnya, lalu ia melangkah menuju ke sofa di sudut ruang kerjanya dan mengambil tempat di samping perempuan itu. “Semuanya lancar. Polisi udah ngeluarin surat penangkapan dan langsung nahan pelakunya.” Raegan mengulaskan senyum tipisnya pada perempuan itu. Kaluela Gabriel, kekasih hatinya. Kaluela menemuinya tidak berapa lama setelah kejadian Raegan harus menghadapi dua bocah SMA yang tiba-tiba datang ke kantornya siang ini.
“Raegan, aku minta maaf ya. Aku nggak bisa langsung terbang dari Sydney waktu hari pemakaman,” ucap Kalu dengan nada penuh penyesalannya.
“Nggak apa-apa. Kejadiannya cepet banget dan hari itu juga Zio langsung dimakamkan. Habis ini kamu mau berkunjung ke makam?” tanya Raegan.
“Sure. Aku belum ngirim doa secara langsung untuk Zio. Oh iya, gimana keadaan mama sekarang?”
“Mama udah lumayan membaik, walaupun kadang beliau masih suka nangis,” jelas Raegan.
“Kamu temenin mama terus ya. Kurangin sedikit kerjaan kamu. Mama pasti butuh seseorang untuk ada terus di sampingnya,” saran Kalu yang segera diiyakan oleh Raegan.
“Oh iya, Arjuna tadi bilang kalau kamu baru aja kedatangan tamu. Siapa yang dateng?” Kaluela membuka tas bekal berisi makan siang yang dimasaknya sendiri untuk Raegan. Kalu baru saja sampai di Jakarta kemarin malam dan menemui Raegan hari ini di kantornya.
“Dia pacarnya Zio, dia dateng sama lelaki yang merupakan sepupu tersangka kasus itu. Aku nggak ngerti kenapa dia milih ada di pihak tersangka, bukannya berada di pihak yang sama denganku.” Raegan sedikit melonggarkan ikatan dasi di lehernya. Mengingat kejadian tadi, rasanya emosi Raegan bisa naik lagi ke permukaan dengan begitu mudahnya.
“Sayang, mungkin kamu harus lebih ngertiin dia. Anggap dia kayak adik kamu. Aku ngerasa, dia adalah alasan Zio bisa bangkit dari kesedihannya semenjak mama dan papa berpisah. Pasti ada alasan pacarnya Zio dateng ke sini tadi. Aku yakin, dia cinta banget sama Zio,” Kaluela tahu betul apa yang dialami keluarga kekasihnya, tepatnya sejak orang tua mereka berpisah.
Saat itu Zio baru saja menginjak masa menuju remaja, dan perpisahan orang tuanya telah membuat Zio menjadi pribadi yang dingin dan tidak tersentuh. Bahkan hubungan Zio dengan Raegan tidak terlalu baik sejak saat itu. Raegan sibuk bekerja, begitupun dengan Indri. Zio masih begitu kecil untuk dapat memahami bahwa keluarganya tidak lagi utuh. Tanpa Raegan dan Indri sadari, yang Zio butuhkan adalah eksistensi keduanya, bukan sekedar materi yang melimpah.
“Kamu baru aja nyalahin aku?” tanya Raegan, tatapannya nampak nanar dan ada penyesalan dari nada bicaranya. Raegan merasa bersalah dan sepertinya ia tidak perlu memastikan itu lagi dengan bertanya kepada Kaluela.
“Aku nggak nyalahin kamu, Raegan. Aku tau, kamu selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk mama dan juga Zio. Hanya aja, kadang kamu nggak tahu caranya nunjukin kasih sayang kamu,” ucap Kalu terang-terangan.
“Kalu, sekarang aku lagi ngelakuin itu. Aku pastiin pelakunya akan dapet hukuman yang setimpal. Aku mau nebus semua kesalahanku sama Zio. Aku tau, aku belum sempat menjadi kakak yang baik untuk dia,” ucap Raegan.
“No, kamu nggak boleh bilang kayak gitu. Aku yakin, Zio sayang banget sama kamu. Kamu udah ngelakuin yang terbaik, Raegan,” Kaluela mengulaskan senyum lembutnya pada Raegan. Hal itu akhirnya dapat sedikit menenangkan perasaan Raegan yang lumayan kalut hari ini.
Kalimat Kaluela tiba-tiba membuat Raegan teringat akan perkataan Zio sesaat sebelum menghembuskan napas terakhinya. Perkataan itu hanya dikatakan kepada Raegan tanpa sepengetahuan Kaldera atau siapapun itu. Setelah memberikan wasiat pada Raegan dan Kaldera, Zio meminta waktu berdua untuk bicara dengan Raegan saja.
Mas, gue cinta banget sama Kaldera. Gue nggak mau siapa pun nyakitin dia. Kalau gue nggak bisa bertahan, cuma lo orang yang gue percaya untuk jagain Kaldera. Gue tau, lo punya kak Kalu yang sempurna dan lo cinta banget sama dia. Tapi coba lo mengenal Kaldera dulu. Kalau akhirnya lo nggak jatuh cinta, lo cuma perlu sayang sama dia kayak lo sayang sama gue. Tolong jaga dia untuk gue ya Mas? Mungkin ini permintaan terakhir gue.
***
Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮
Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜
Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂