Perpisahan untuk Memulai Awal yang Baru
Karin menemukan Rey sampai lebih dulu di cafe yang telah mereka sepakati untuk bertemu hari ini. Sebelumnya Karin telah menghubungi Rey dan memintanya untuk bertemu. Ada hal yang ingin Karin sampaikan kepada lelaki itu.
Tidak lama dari waktu mereka memesan, seorang pramusaji pun menyajikan dua buah minuman di atas meja. Secangkir caramel macchiato untuk Rey dan secangkir lagi adalah latte untuk Karin.
Karin meneguk minumannya sejenak, lalu kembali meletakkan cangkirnya di atas meja. Sesaat kemudian, Karin melihat Rey melakukan hal yang sama dengannya. Cara Rey menatapnya, semuanya masih terasa sama. Namun ada yang berbeda dan itu terjadi dengan Karin.
“Rey, hal yang mau aku sampaikan ke kamu adalah aku ingin mengakhiri hubungan kita,” ucap Karin.
Karin menatap Rey tepat di matanya. Iris itu seketika memancarkan luka yang Karin sendiri tidak dapat mendeskripsikannya melalui frasa.
“Karin, maksud kamu apa? Kamu nggak serius sama ucapan kamu, kan?”
“Aku serius, Rey,” ucap Karin dengan nada yakinnya.
Rey segera melayangkan tatapan tanyanya, ia meminta Karin untuk menjelaskan semuanya.
“Aku bakal ngejelasin semuanya sama kamu,” ucap Karin diiringi helaan napas beratnya.
“Rey, I was truly loves you, I did. Tapi aku nggak bisa memaksakan takdir yang nggak berpihak sama kita,” ujar Karin.
“Maksud kamu?”
“Kamu lelaki sempurna dan pacar yang baik. Aku bersyukur memiliki kamu, aku bahagia sama kamu. Tapi satu hal yang kamu harus tau, aku nggak ingin memaksakan semuanya yang akhirnya cuma akan nyakitin kita berdua,” jelas Karin.
Selamanya cinta tidak hanya tentang kesempurnaan. Karin belajar banyak, soal apa yang terjadi di antara mereka. Karin telah menemukan cinta pertamanya. Cinta pertama bukan orang yang pertama kali kamu temui dan kamu cintai untuk pertama kali. Namun cinta pertama adalah orang yang bisa membuat kamu jatuh cinta sedalam itu, untuk pertama kalinya. Kamu tidak akan menyangka kapan dan dimana kamu bertemu dengannya, begitupun dengan siapa cinta pertama kamu.
“Karin, apa dua tahun semudah itu digantikan sama yang beberapa bulan?” tanya Rey. Tanpa Karin menjelaskannya, Rey sudah tahu cinta pertama yang maksud oleh Karin.
Karin menghela napasnya, lalu ia mengangguk. Rey nampak tidak percaya akan jawaban yang diberikan oleh Karin. Rey masih berusaha menampiknya, ia tidak bisa menerima keputusan Karin ini.
“Karin, apa kamu menjadikan dia pilihan saat takdir nggak berpihak ke kita?” Rey bertanya lagi.
Karin mengerti maksud dari pertanyaan Rey tersebut, maka ia memiliki jawaban untuk itu.
“Rey, aku nggak pernah menjadikan kak Aryan pilihan. Pilihan dan memilih, itu dua hal yang berbeda,” ungkap Karin.
Karin menjelaskan pada Rey bahwa hatinya telah memilih Aryan. Karin jatuh cinta pada Aryan tanpa ia memintanya. Karin membutuhkan proses untuk sampai di tahap itu. Waktu yang Rey dan Karin lalui memang lebih lama ketimbang dengan Aryan. Namun rasa cinta dan chemistry itu tidak dapat dibohongi dan digantikan oleh waktu. Sekalipun Karin dan Rey tidak ditakdirkan untuk bersama, kalau hati Karin tidak memilih Aryan, maka Karin tidak akan memutuskan bersama Aryan.
Karin kembali menatap Rey, lalu itu berujar, “Suatu hari, kamu akan nemuin seseorang untuk membuka awal baru yang lebih baik. Terima kasih untuk dua tahun yang indah ini, makasih pernah ada untuk aku. Aku bersyukur karena pernah mengenal kamu.”
Usai ucapan Karin itu, suasana itu tiba-tiba terpecah begitu ponsel di tas Karin berbunyi. Karin lekas mengangkat panggilan tersebut, ia meletakkan ponselnya di dekat telinga.
“Iya, sebentar lagi aku selesai. Oke, kamu tunggu ya,” ucap Karin di telfon dan berikutnya sambungan pun diakhiri.
Karin kembali menatap Rey, ia mengatakan bahwa dirinya harus pergi sekarang. Seseorang telah menjemput Karin, dan Rey jelas mengetahui siapa sosok itu.
“Karin, boleh aku ngajuin permintaan terakhir sebelum aku ngelepas kamu?” tanya Rey yang membuat Karin terdiam di tempatnya. Karin memikirkan perkataan itu. Tergambar jelas di raut wajah Rey, sehancur apa lelaki itu saat ini.
“Kamu mau minta apa?” tanya Karin akhirnya. Karin setuju untuk memenuhi permintaan Rey barusan.
“Can I hug you for the last? You know what, I will always loving you, Karina. You have your own place in my heart.”
***
Selama beberapa detik, Karin berada di pelukan hangat Rey. Karin membiarkan Rey untuk melakukannya. Bagaimana pun, Karin tidak sanggup melihat Rey lebih hancur dari ini. Pelukan itu masih terasa sama seperti dua tahun terakhir. Hanya saja yang berbeda, Karin tidak melingkarkan lengannya di pinggang Rey. Melainkan, Karin mengarahkan tangannya untuk menepuk punggung Rey sekilas. Selang lima detik berikutnya, Rey perlahan-lahan mengurai pelukannya di torso Karin.
“You need to go. He must be waiting on you,” ucap Rey kemudian.
Karin mengangguk sekilas, lalu ia bergerak mengambil tasnya di kursi. “Rey, aku pamit dulu ya,” ujar Karin sebelum melangkah dari hadapan Rey. Ketika sudah beberapa langkah Karin pergi, Rey masih menatap punggung yang menjauh itu. Mata Rey setia tertuju pada Karin, hingga perempuan itu menghampiri sebuah BMW putih di parkiran milik kafe.
Perpisahan akan selalu menyakitkan. Namun perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. Tugas Karin di hidup Rey telah usai, begitu juga dengan tugasnya di hidup Karin. Rey akan belajar merelakan cintanya pergi untuk menemukan cinta sejatinya. Sekalipun harus hancur berkeping-keping untuk itu, Rey pikir inilah level tertinggi cintanya untuk Karin, yakni merelakan cintanya bahagia meski itu bukan bersamanya.
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷