Pertarungan, Cinta, dan Ego
Sesuai perkataannya, dalam waktu 10 menit Aryo sudah tiba di rumahnya. Ia melewati jalur tersembunyi yang memang dimiliki oleh rumahnya, setelah Egha memberi tahu titik keberadaan Tiara. Aryo mempersiapkan senjata yang dibawanya, ia memasukkan peluru berkekuatan besar ke dalam loading peluru.

Sesampainya Aryo di lantai 3, ia tidak bisa langsung menemui Tiara dan melawan Reynaldi begitu saja. Saat ini keselamatan Tiara menjadi taruhannya. Aryo bersumpah dalam hatinya bahwa ia tidak akan membiarkan Reynaldi menyentuh Tiara seujung kukunya sekalipun.
Aryo mengamati keadaan sekitar dari posisinya saat ini. Keberadaannya tidak boleh diketahui oleh Reynaldi sebelum dirinya berhasil sampai di dekat Tiara.
“Kamu lihat, kan? Perasaan cinta cuma akan membuat kamu lemah. Dan smua usaha kalian akan sia-sia hari ini,” ujar Reynaldi di hadapan Tiara. Di belakangnya, Elnino menyusul Omnya dan menyerahkan sebuah pistol ke tangannya.
Tiara menatap Reynaldi dengan tatapan nyalangnya. Rasa amarah belasan tahun yang singgah di dalam hatinya, kini telah menghancurkan semua rasa takut yang sebelumnya ia miliki. Reynaldi Brodjohujodyo, kini berdiri di depannya dan Tiara bukanlah gadis kecil yang hanya bisa menangis seperti sebelas tahun lalu.
Tiara menatap Reynaldi tepat di manik matanya. Tatapan itu seperti mata pisau tajam yang siap menghunus siapa pun yang melihatnya. “Anda salah besar, Reynaldi Brodjohujodyo. Bagaimana Anda bisa bicara soal cinta. Kalau perasaan setulus dan sesuci itu tidak pernah Anda rasakan, di dalam hati Anda sendiri,” ujar Tiara sambil pandangannya tidak lepas dari Reynaldi.
Sebagian dari dalam diri Reynaldi membenarkan perkataan yang dilontarkan oleh Tiara. Itu telah membuat ego yang menempati posisi paling tinggi di hatinya tersentil.
“Hati-hati dengan apa yang kamu katakan, Tiara. Oh, tidak, Michelle.” Reynaldi menatap Tiara sambil tersenyum tipis, “Saya pastikan kamu akan menyesal karena telah membuat Aryo melawan Omnya sendiri.”
“Drop your gun now,” ujar Egha ketika melihat Reynaldi mengangkat pistolnya dan bersiap untuk menarik pelatuknya.
“I said, drop your gun now,” lanjut Egha sambil matanya tidak lepas mengawasi situasi di sekitarnya. Anak buah di belakangnya ia perintahkan untuk tidak menyerang dahulu, karena kapan saja Reynaldi bisa menarik pelatuknya dan itu akan beresiko tinggi bagi Tiara.
“Om mau membuat Aryo menyesal, benar begitu? Then do it by yourself, right know,” ujar sebuah suara bariton yang seketika membuat Reynaldi meoleh ke arah sosok itu. Tiara, Egha, dan beberapa orang yang ada di sana terkejut kala mendapati keberadaan Aryo di antara mereka, terlebih pria itu datang dengan kedua tangan kosong.
“Kamu memilih menghancurkan keluarga kamu sendiri hanya untuk dia? Seharusnya orang tua kamu malu, Aryo. Kamu nggak pernah jadi kebanggaan di keluarga kita,” ujar Reynaldi.
Aryo mengernyitkan alisnya diiringi tawa rendahnya, seolah ucapan Reynaldi tidak berarti baginya. “You don't even deserve to said about our family with that mouth,” ujar Aryo dengan penekanan di setiap kata-katanya, tapi nadanya tetap terdengar tenang dan ekspresi wajahnya sedamai air di danau.
“Aryo akan pastikan Om mendapat balasan dari semua perbuatan yang telah Om lakukan,” sambung Aryo. Ia mengetahui satu kelemahan dari Reynaldi, yakni fakta bahwa Omnya itu terlalu mudah untuk disentil egonya.
Reynaldi lantas mengarahkan pistolnya ke arah Tiara, ia membidik Tiara sebagai sasaran tembaknya. Namun tepat sebelum itu terjadi, Aryo bergerak cepat untuk melindungi Tiara. Egha dan anak buahnya serempak mengarahkan senjata mereka pada pasukan Reynaldi.
Suara tembakan dari pistol Reynaldi terdengar sangat kencang dan menggelegar di seluruh penjuru lantai 3. Tiara yang berada di dekapan Aryo tidak merasakan rasa sakit sedikitpun. Mata Tiara melebar dan menatap Aryo di hadapannya dengan pandangan terkejut bercampur khawatir.
Tiara terisak di dalam dekapan Aryo “What's on your mind? Are you crazy?” tangis Tiara pecah saat itu juga membayangkan hal terburuk yang terjadi. Aryo tidak mengatakan apapun, ia hanya mengeratkan pelukannya di torso Tiara, menggunakan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi Tiara. Satu tangan Aryo yang bebas mengambil pistol dari saku jaketnya, ia menarik pelatuknya dan langsung mengarahkannya pada Reynaldi.

Tiara menutup matanya dalam dekapan Aryo, ia hanya mendengar pria itu menembak berkali-kali. Hingga beberapa saat kemudian, Tiara menangkap suara pecahan guci dan dinding kaca besar yang terdapat di lantai tiga.
Terjadi pertempuran yang sengit antara tim Aryo dan Reynaldi dengan durasi yang cukup lama. Tepat ketika Reynaldi hendak melarikan diri, tim polisi sampai di sana dan melumpuhkan langkah Reynaldi dengan menembak tepat di kaki kiri pria itu. Reynaldi terjatuh dan merintih kesakitan saat tangannya harus bersentuhan dengan pecahan kaca di lantai.
“Letakkan senjata Anda sekarang,” perintah salah satu polisi yang ada di sana. Mereka langsung bergerak untuk menangkap Reynaldi dan juga beberapa anak buahnya. Selain itu Elnino juga ditahan karena membantu tersangka melakukan percobaan pembunuhan terhadap Mutiarani Ivanka Brodjohujodyo.
Rudi menghampiri Aryo dan Tiara. Pria itu mengatakan semua bukti telah di serahkan ke pihak berwenang dan kasus akan langsung di proses menggunakan jalur hukum.
“Om, terima kasih banyak untuk semuanya. Tanpa Om mungkin kita nggak bisa mengungkap kasus ini,” ujar Aryo kepada Rudi.
“Sama-sama. Kamu juga udah berjuang sampai sejauh ini,” balas Rudi sambil menepuk pundak Aryo.
“Ra, I'm oke. Aku nggak kena pelurunya,” ujar Aryo memberitahu Tiara. Aryo sudah mengantisipasi dengan menggunakan jaket anti peluru di dalam kemejanya.
“Kenapa kamu nggak bilang? Kamu bikin aku panik tau nggak,” ujar Tiara diiringi helaan napas panjang yang lolos dari bibirnya.
“Tiara, ka-kamu berdarah ... ?” ujar Aryo sambil memerhatikan sebuah cairan berwarna merah yang mengalir di betis Tiara hingga ke pergelangan kakinya.
Tiara tidak menyadari rasa sakit yang mungkin saja sudah sedari tadi menyerangnya. Kini saat sebuah darah mengalir membanjiri kakinya, Tiara baru merasakan bagian perutnya terasa keram dan seketika sekujur tubuhnya menegang. Rasa sakit tersebut begitu luar biasa sampai Tiara tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata dari bibirnya.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷