Pertumpahan Darah dan Janji untuk Bahagia

2 bulan yang lalu, Aksa menerima tawaran pekerjaan sebagai seorang freelancer di bidang IT. Ia dikenalkan pada seseorang yang akan menggunakan jasanya senior yang merupakan alumni sekolahnya.

Aksa menerima pekerjaan tersebut tanpa memikirkannya lebih jauh. Aksa membutuhkan uang, bisnis keluarganya sedang mengalami masa sulit, dan sebagai anak lelaki pertama ia ingin bisa membantu ekonomi keluarganya itu.

Malam ini di sebuah kafe tempat biasa Aksa berkumpul dengan teman-temannya, ketidakhadirannya di sana segera mengundang tanya dari para temannya. Termasuk Redanzio, salah satu sahabat Aksa yang cukup dekat dengannya.

“Zio, lo tau si Aksa kemana?” tanya Aldi kepada Zio.

“Dia nggak ngasih tau gue kenapa nggak bisa dateng malem ini,” jawab Zio apa adanya.

Gilang, salah satu temannya menghampiri Zio dan duduk di sampingnya. “Kemarin gue nggak sengaja denger dia ngomong di telfon. Katanya malam ini dia mau dateng ke suatu tempat untuk urusan kerjaannya.”

“Tuh anak belakangan ini aneh banget deh. Dia sama sekali nggak cerita soal kerjaan freelancenya, nggak biasanya dia kayak gitu,” celetuk Karel sembari tangannya menyalakan pemantik untuk rokoknya.

Setelah percakapan itu, ponsel Zio yang berdering membuatnya berpamitan untuk mengangkat panggilan itu sejenak. Zio menjauh dari teman-temannya dan rupanya itu adalah telfon dari Kafka, sepupunya Aksa.

Zio mendengarkan perkataan Kafka dengan seksama. Kedua netranya seketika membola. Rupanya sikap aneh Aksa yang tidak ingin terbuka pada teman-temannya memiliki sebuah alasan.

“Aksa nge-share location ke gue. Gue nggak tau maksudnya apa, tapi firasat gue nggak enak. Gue mau ke sana.”

“Kafka,” ucap Zio yang menahan Kafka menutup telfonnya.

“Kaf, share lokasinya ke gue juga,” sambung Zio.

“Jangan bilang lo mau ke sana juga? Aksa kayaknya belum cerita ke lo soal pekerjaannya. Zio, tapi ini bahaya, atasannya Aksa ternyata bukan orang sembarangan. Kalau lo mau ke sana, lo nggak bisa bawa banyak orang.”

***

Malam ini Kaldera tidak bisa tidur setelah mendapat pesan dari Zio. Kekasihnya itu mengatakan kalau ia berniat pergi ke suatu tempat untuk membantu sahabatnya, yakni Aksa.

Zio hanya mengirimkan sebuah kalimat dan meyakinkan Kaldera kalau semuanya akan baik-baik saja. Namun entah kenapa Kaldera tidak dapat berpikiran jernih saat ini.

Kaldera khawatir dan sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Ini jam 10 malam dan Kaldera tidak tahu apa yang akan Zio lakukan di luar sana.

Tanpa berpikir panjang, Kaldera mengambil cardigan-nya, handphone, serta dompetnya. Ponsel Zio tidak aktif sehingga Kaldera tidak bisa menghubunginya untu mengetahui di mana lelaki itu sekarang.

Kaldera masih memiliki satu harapan yang dapat membuatnya mengetahui lokasi tujuan Zio. Kafka, sepupu Aksa itu pasti tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi. Kafka berada di dalam situasi yang sulit. Ia adalah orang yang telah membuat Zio berkeinginan datang membantu Aksa. Meskipun Kafka tahu Zio tidak akan suka jika Kaldera terlibat, tapi di satu sisi Kafka juga tidak tega mendengar permohonan Kaldera kepadanya.

***

Kaldera berusaha memantapkan hatinya ketika melangkah memasuki bangunan tua itu. Ia kembali mengecek apakah benar ini lokasinya, berharap ia salah tujuan. Namun rupanya tidak. Lokasi ini sesuai dnegan yang diberitahu oleh Kafka.

Bangunan yang dulunya adalah ruko-ruko bertingkat yang menjual berbagai busana di tengah kota ini, telah lama menjadi tempat yang diasingkan dan tidak lagi terawat.

Kaldera melangkah semakin dalam, ia menelusuri bangunan itu di mulai dari lantai satu hingga saat ini kakinya sudah sampai di lantai 3. Cahaya yang minim di tempat itu, membuat Kaldera kesulitan menemukan keberadaan Zio. Kaldera ingin meminta bantuan, tapi ia tidak tahu kepada siapa harus memintanya. Satu-satunya yang mungkin dapat membantunya adalah keluarga Zio. Namun bukannya memperbaiki keadaan, sepertinya itu malah akan menambah masalah dengan membuat keluarga Zio khawatir.

Saat Kaldera sampai di lantai 4 bangunan itu, beberapa meter dari tempatnya kini, ia dapat melihat sosok yang dikenalnya. Di sana ada Zio dan Aksa. Namun yang membuatnya terkejut adalah kehadiran seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam. Wajahnya tidak begitu jelas dari jangkauan mata Kaldera, tapi yang jelas pria itu membawa sebuah senjata tajam di satu tangannya.

Kaldera berusaha tidak menimbulkan suara, meskipun ia terkejut bukan main. Kaldera ingin sekali berlari ke sana dan menarik Zio dari bahaya yang ada di depan matanya itu, tapi Kaldera tahu ia tidak dapat melakukannya. Di tengah pikiran kalutnya itu, Kaldera memutuskan untuk bersembunyi di antara etalase-etalase dan manekin pakaian yang cukup untuk menutupi keberadaannya di sana.

Dari tempat persembunyiannya, Kaldera dapat melihat kalau Aksa tengah berbicara dengan pria yang membawa senjata itu. Entah apa yang mereka bicarakan, sepertinya itu berhubungan dengan pekerjaan freelance yang dilakukan oleh Aksa.

Begitu Kaldera melihat pria itu melepaskan pelindung kulit dari pisau tajam di tangannya, entah apa yang ada di pikirannya, Kaldera mengaktifkan kamera di ponselnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Kaldera memotret saat pria itu hampir saja mengarahkan senjatanya pada Aksa. Namun yang membuat Kaldera hampir saja menjatuhkan ponselnya, adalah ketika Zio berusaha mencegah pria itu dan berakhir justru ia yang tertusuk, benda tajam itu tertancap tepat di bagian perutnya. Kaldera menyaksikan itu semua dan ingin lari ke sana, tapi Kaldera tahu ia tidak bisa melakukannya saat ini.

Kaldera merasakan kedua matanya memanas, dadanya sesak tidak karuan, ia jelas-jelas menyaksikan di depan matanya seseorang yang dicintainya telah disakiti.

Segera setelah Zio jatuh ke lantai sambil memegangi area bawah perutnya, pria asing itu pergi dari sana. Usai kepergian orang itu, Kaldera tidak menunda lagi untuk keluar dari persembunyiannya.

Begitu melihat Kaldera di sana, Zio dan Aksa nampak terkejut. Kaldera menahan air matanya untuk meluncur, ia luluh lantak di samping Zio, kedua lututnya berusaha menumpu tubuhnya yang rasanya lunglai.

“Zio ... ” hanya itu yang terucap dari bibir Kaldera.

Kaldera mendekat pada Zio, membiarkan Zio memeluk tubuhnya untuk mencari kekuatan di sana. Kaldera tidak dapat mengucapkan apapun, tiba-tiba semua rasa takut menyerangnya.

“Kal ... makasih ya. Makasih kamu pernah hadir di hidup aku. Aku sayang kamu Kal,” Zio mengurai pelukannya dari tubuh Kaldera. Kedua netra coklat gelap Zio memandang Kaldera dengan tatapan penuh sayang.

“Kal, you are everything that I'm dreamed of. Walau nanti tanpa aku, janji kamu selalu bahagia. Yaa?”

Kata-kata Zio itu terus terngiang di benak Kaldera. Namun sampai saat Kafa datang bersama ambulans yang tadi sempat Kaldera hubungi, Kaldera belum bisa membuat janji yang Zio pinta padanya itu.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂