Pikiran dan Hati yang Tidak Sejalan

Dara sedang mengecek bagian inbox pada email yang ia khususkan untuk urusan pekerjaan Karin sebagai beauty influencer dan model. Matanya memindai satu persatu email masuk itu, berharap mendapat balasan berupa kabar baik. Namun harapannya sirna seketika kala yang ia dapatkan justru keterbalikan dari sebuah harapan. Beberapa brand mengajukan pembatalan kontrak untuk bekerja dengan Karin, selain itu rencana endorse yang sebelumnya sudah di ajukan pun tidak jadi dealing.

Dara mengambil ponselnya dan segera mendial nomor Karin. “Halo Rin,” ucap Dara begitu sambungannya terhubung.

Karin yang berada di lokasi yang berbeda dengan managernya itu, dapat langsung menebak kabar apa yang akan Dara sampaikan. Helaan napas berat Dara, sudah menjelaskan semuanya.

We still have a chance, Rin. Don't be worry. Nanti malam gue apart lo ya. Lo lagi craving apaan gitu nggak? Bilang aja, nanti sekalian gue bawain,” ucap Dara dengan nada cerianya, berusaha membuat Karin merasa baik-baik saja.

“Dar, I'm sorry, I ruin everything. Selama ini lo udah kerja keras untuk karir gue, tapi gue malah—”

“Lo ngomong apa sih, Rin. Dengerin gue, pa pun yang terjadi sama lo, gue akan selalu ada buat lo. Lo inget itu.”

***

Di tempat lain, Karin baru saja mengakhiri sambungan telfonnya dengan Dara. Karin lekas memasukkan barang-barangnya ke dalam tote bag miliknya. Hari ini Karin resmi kehilagan gelar mahasiswa berprestasi setelah pihak kampus mengetahui bahwa ia hamil di luar nikah. Namun di antara banyak hal berat yang datang padanya, Karin berusaha mensyukuri kebaikan yang masih terjadi padanya. Seperti siang ini, dosennya memberi tahu bahwa tidak ada kelas dan hanya memberi tugas individu. Jadi Karin dapat langsung pulang ke apartemennya.

Semenjak Karin mengandung, ia merasa jadi cepat lelah. Belum lagi mual-mual yang di alaminya beberapa kali mengakibatkan konsentrasinya terganggu ketika ia berada di kampus.

Saat Karin keluar dari lift dan sampai di lobi gedung, ia menemui Rey di sana. Hari ini Rey mengatakan memang berencana mengantarnya pulang.

“Rey, kita date-nya di apart aku aja ya. Nggak papa, kan?” tanya Karin.

It's oke. Dara ada rencana mau ke apart kamu nggak?”

Karin menghela napasnya, “Oh iya tadi bilang mau ke apart sih, tapi agak maleman. Soalnya Dara masih ada kuliah sampai jam 6.”

“Kalau Dara dateng, nanti aku pulang. Dara bisa nginep nggak malam ini di apart kamu?”

“Kenapa nyuruh Dara nginep?”

“Buat temenin kamu di apart.”

“Rey, kok kita ke parkiran mobil? Kamu biasanya kan bawa motor,” ucap Karin saat baru sadar bahwa kini ia dan Rey berjalan ke arah parkiran mobil

“Iya, aku bawa mobil,” ujar Rey. Sesampainya langkah mereka di depan sebuah Honda HRV berwarna putih, Rey membukakan pintu penumpang di samping supir dan mempersilakan Karin untuk masuk.

Karin pun bergerak masuk ke dalam mobil itu. Dalam hatinya Karin membatin. Perempuan itu akhirnya mengerti apa yang sedang dilakukan oleh Rey untuknya.

***

“Kamu ngantuk?” tanya Rey sambil memerhatikan mata Karin yang tampak sayu. Kegiatan kencan sederhana mereka hari ini adalah masak bersama dan menonton siaran netflix dari TV layar tipis di ruang tamu apartemen Karin.

Rey lantas mengarahkan tangannya untuk mengusap kepala Karin. Ia menatap Karin dengan tatapan penuh afeksinya, lembut, dan teduh sekali. Karin hanyut mendapati perlakuan Rey terhadapnya.

“Rey,”

“Ya?”

I just wanna say that I love you,” ucap Karin sambil mengulaskan senyumnya.

Everything happened and knowing that I still having you in my life, I'm so grateful, Rey,” tutur Karin.

“Karin, aku mau ngomong sesuatu sama kamu,” ucap Rey.

“Kamu mau bilang apa?” Kini Karin menopang satu sisi wajahnya menggunakan tangan, menatap Rey lekat. Selama Karin masih menatapnya seperti itu, Rey tahu bahwa Karin sungguh mencintainya.

“Aku mau menikahi kamu,” ucap Rey gamblang. Tiga detik berlalu dan perkataan Rey itu masih membuat Karin terdiam. Karin tidak tahu harus menjawab apa.

“Rey, kamu—”

“Aku serius, Karina. Aku nggak ingin liat kamu sendirian hadapin semuanya sendiri,” jelas Rey. Lelaki itu mengatakan walau ia bukan ayah dari anak yang dikandung Karin, ia mencintai anak itu sama sepertia ia mencintai Karin.

“Rey, kamu tau orang tua kamu nggak setuju. Aku nggak ingin kamu melakukan sesuatu yang dilarang sama orang tua kamu. Mereka yang udah membesarkan kamu, Rey,” terang Karin. Karin berusaha mengatakannya meskipun di waktu yang sama hatinya sendiri terasa sakit.

Rey mengambil kedua tangan Karin, ia mengenggamnya sambil menatap netra Karin lamat-lamat. “Aku akan berjuang buat dapatin restu dari orang tuaku. Karin, aku mau tetap sama kamu dan bisa selalu jagain kamu. Kamu mau kan nunggu aku buat nikahin kamu?”

Karin menatap Rey sesaat sebelum ia menganggukkan kepalanya. Namun tidak bisa Karin pungkiri bahwa pikirannya mengatakan hal lain, berbanding terbalik dengan hatinya. Kemungkinannya sangat kecil untuknya dan Rey bisa bersatu dengan kondisinya saat ini. Karin mencintai Rey dan menginginkan hidup bersamanya, tapi situasinya sungguh jauh berbeda.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷