Pusat Kehidupan Aryo
Pandangan Aryo sedari tadi tidak lepas dari pintu ruangan UGD di hadapannnya. Ia tidak dapat berpikir jernih. Di dalam kepalanya, kini berkecamuk segala macam kemungkinan yang dapat terjadi pada Tiara dan bayinya.
Beberapa bodyguard yang bersamanya sedari tadi, urung untuk mengeluarkan sepatah kata pun. Baru kali ini para pria bertubuh kekar itu melihat atasan mereka dalam kondisi yang bisa dibilang sejatuh-jatuhnya. Aryo terlihat kacau. Pria itu menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi. Ada yang menyadap nomor handphone-nya dan mengirim pesan untuk memanipulasi Tiara. Sehingga istrinya itu datang ke rumah tepat di hari pertemuan antara kedua kubu.
Dari jarak beberapa meter, Rama menatap ke arah Aryo. Setelah menyelesaikan urusan administrasi rumah sakit, ia akan mencoba untuk menenangkan atasan sekaligus sahabatnya itu.
Rama mendapati kedua mata Aryo memerah. Tatapan pria itu memancarkan kesedihan sekaligus amarah secara bersamaan. “Ram, ini semua salah gue. Tiara kayak gini gara-gara gue,” ujar Aryo.
“Bos, lo jangan mikir kayak gitu. Di dalam sana, istri sama anak lo lagi berjuan, dan lo adalah kekuatan untuk mereka. Lo harus yakin semuanya bakal baik-baik aja,” ucap Rama.
Di tengah-tengah kekalutan Aryo tersebut, pria itu mendapati papa dan mamanya berada di sana.
“Mama sama Papa udah tau semuanya. Kenapa kamu sama Tiara nggak pernah cerita,” ujar Felicia.
“Mah, ma-maafin Aryo,” ujar Aryo yang mendapati tatapan kecewa dari kedua mata Felicia. “Aryo sama Tiara nggak mau buat Mama dan Papa khawatir. Kita berniat ngasih tau semuanya saat keadaannya udah membaik,” lanjut Aryo.
“Mah, sudah ya. Ini bukan sepenuhnya kesalahan Aryo dan Tiara,” ujar Edi berusaha menenangkan istrinya.
“Dengan Bapak Aryo Bimo?” ujar sebuah suara yang seketika membuat semua orang menoleh.
Aryo lantas berdiri dari duduknya, “Saya sendiri Dok,” ujarnya pada dokter yang menangangi istrinya.
“Baik, Bapak. Boleh minta waktunya sebentar untuk bicara?” lanjut dokter di hadapannya. Dokter itu mengatakan bahwa penanganan telah selesai di lakukan. Pihak keluarga akan diberi penjelasan oleh dokter terkait kondisi pasien saat ini.
***
Aryo menemui Tiara di ruang rawatnya, setelah beberapa saat lalu ia berbicara dengan dokter mengenai kondisi istri dan bayinya. Tiara masih belum bangun dari tidurnya karena pengaruh obat yang diberikan untuk meredakan rasa sakit yang dialaminya.
Aryo mengarahkan tangannya untuk mengambil tangan Tiara dan menggenggamnya. Ia melayangkan tatapannya pada wajah terlelap Tiara. Wajah yang menjadi pusat hidupnya, yang beberapa jam lalu telah membuatnya merasa luluh lantak.
“Tiara,” ujar Aryo dengan nada suaranya yang bergetar. “Aku hampir aja kehilangan duniaku. Semua yang aku punya, akan percuma kalau tanpa kamu, Ra,” lanjut Aryo sembari menundukkan kepalanya. Ia menciumi punggung tangan Tiara dan merasakan air mata merembas membasahi wajahnya.
“Aryo,” ujar sebuah suara yang terdengar lirih. Aryo mengangkat kepalanya dan mendapati Tiara telah membuka matanya. Sebuah air mata mengalir begitu saja dari pelupuk mata Tiara, wanitanya terisak pilu dan Aryo berusaha untuk menenangkannya.
“Ra, kamu tenang dulu ya,” ujar Aryo ketika Tiara meronta-ronta dan berteriak di dalam dekapannya.
“Aryo ... gimana bayi kita? Dia baik-baik aja kan?” racau Tiara diiiringi suaranya yang terdnegar parau.
Aryo mengurai pelukannya pada torso Tiara. Kemudian dengan telaten tangannya mengusap peluh dan air mata di wajah istrinya sebelum berujar. “Bayi kita baik-baik aja, Ra. Dia kuat dan hebat banget, kayak mamanya,” tutur Aryo.
Mata Tiara berkaca-kaca mendengar penuturan Aryo. Perlahan-lahan kedua sudut bibirnya saling tertarik untuk membentuk sebuah senyuman.
“Ra, mama dan papa udah tau semuanya,” ujar Aryo.
“Gimana reaksi mama dan papa?” tanya Tiara. Apa yang baru saja terungkap dan terjadi pasti memiliki dampak terutama di keluarga mereka.
“Mama sempat marah karena kita nggak ngasih tau apapun sama beliau. Papa lumayan shock waktu tau apa aja yang udah dilakuin oleh kakak kandungnya sendiri selama bertahun-tahun,” jelas Aryo.
“Aryo,” ujar Tiara.
“Iya, Sayang?'”
“Mama dimana? Aku mau ketemu sama mama,” ujar Tiara.
***
Felicia menatap menantunya dengan tatapan hangat dan menggenggam tangan Tiara dengan satu tangannya. Ketika pandangannya beralih pada Aryo di sofa ruang rawat, tatapannya berubah kurang bersahabat.
“Aryo, tugas kamu sekarang jagain istri dan anak kamu yang bener. Mama nggak metoleransi apapun lagi yang bisa membahayakan menantu Mama,” ujar Felicia.
“Iyaa Mamahku, Sayang. Mama tenang aja ya,” ujar Aryo sambil berjalan ke arah dua perempuan yang dicintainya itu.
“Kalau perlu, tambah bodyguard buat jaga di depan ruangan,” ucap Felicia.
“Masalahnya pihak rumah sakit nggak membolehkan itu, Mah. Tapi Mama tenang aja. Aryo di sini akan jagain Tiara dua puluh empat jam per tujuh,” ucap Aryo sambil menampakkan senyum lebarnya.
Tiara yang memerhatikan tingkah Aryo di hadapan Felicia tersebut lantas mengulaskan senyumnya. Bisa-bisanya Aryo bersikap seperti bukan pria berusia 24 tahun di hadapannya dan mamanya.
“Ra, liat nih. Masa dari tadi Mama marahin aku terus, padahal aku udah minta maaf,” adu Aryo pada Tiara dengan nada manjanya. Pria jangkung itu menyandarkan kepalanya di bahu Tiara, meminta istrinya untuk mengusapnya.
“Tiara, pokoknya kalau ada apa-apa, atau Aryo pergi-pergi lagi ninggalin kamu. Kamu bilang aja ke Mama ya, Sayang.”
Tiara mengangguk, “Iya Mah, makasih ya,” ujarnya.
“Anytime, Sayang. Yaudah, Mama pamit dulu ya. Kamu istirahat, besok Mama ke sini lagi sama bunda kamu,” ucap Felicia.
“Oke deh, makasih ya Mamaku Sayang. Kalau nanti Mama sama bunda kesini, Aryo bisa tidur dulu untuk sementara. Aryo nggak khawatir lagi deh, Tiara ada yang jagain,” ucap Aryo sembari menampakkan cengirannya.
“Tiara, kamu tau nggak. Tadi dia nangis kayak anak kecil di depan ruang UGD. Di depan bodyguardnya-nya coba,” cerocos Felicia yang langsung membuat Aryo membelalakkan matanya.
“Mah, jangan bocorin ke Tiara dong,” protes Aryo.
“Yaa, biar istrimu tau kamu kayak gimana. Tiara, dia luarnya keliatan kuat, padahal dalamnya hello kitty,” jelas Felicia yang sudah tau luar dalam putra sematawayangnya itu.
Tiara yang memerhatikan kejadian tersebut tidak kuasa untuk menahan tawanya. Tiara justru meminta di lain waktu agar Felicia bisa membagi cerita tentang Aryo lebih banyak lagi kepadanya.
***
Aryo mengantar mama dan papanya sampai ke depan ruangan rawat Tiara. Jam berkunjung hampir habis dan Tiara juga dianjurkan untuk banyak beristirahat. Istrinya itu telah tidur beberapa menit yang lalu dan orang tuanya memutuskan untuk pamit pulang.
“Kamu sama Tiara nggak akan berpisah kan, Aryo?” tanya Felicia.
“Aryo dan Tiara nggak akan pisah, Mah, Pah,” ujar Aryo. “Kita udah bicara dan coba selesaikan permasalahannya. Awalnya Tiara memang meminta pisah sama Aryo. Ini hal yang berat buat Tiara, bayang-bayang masa lalu itu akan selalu ada di ingatannya,” sambungnya.
Edi menatap putra sematawayangnya, lalu ia menepuk pundaknya. “Aryo, kamu harus tau. Apa yang kamu lakukan telah sangat berarti buat Tiara. Istri kamu melalui banyak perjuangan untuk berada di sisi kamu. Begitu seharusnya yang dilakukan dua orang yang saling mencintai,” tutur Edi.
Aryo mengangguk, “Pah, mungkin semuanya nggak akan sama lagi. Soal perusahaan dan keluarga kita,” ujar Aryo. Edi menangkap ada kekhawatiran dari tatapan mata putranya itu.
“Kamu nggak perlu khawatir. Sekarang kamu dan Tiara fokus dulu aja ke calon anak kalian. Soal kasus itu dan perusahaan, Papa akan membantu kamu,” ucap Edi.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷