Rasa Percaya Sebagai Fondasi Sebuah Perasaan

Karin mendapati Aryan datang ke rumah kakaknya secara tiba-tiba. Rey masih ada di sana juga, mereka sedang mengobrol di paviliun kecil yang berada di seberang kolam renang di halaman belakang.

Aryan menatap Rey sekilas, lalu menatap ke arah Karin. “Aku mau jemput kamu pulang. Aryan menjelaskan maksud kedatangannya ke sini. “Kavin chat aku barusan,” tambah Aryan sebelum akhirnya melenggang dari hadapan Karin dan Rey.

Aryan membiarkan Karin dan Rey untuk mengobrol berdua. Lelaki itu akan menunggu Karin selesai berurusan dengan Rey. Dulu ego begitu menguasai dirinya, tapi kini sisi terlemahnya yang justru tersentuh.

Aryan lebih bisa mengontrol emosinya. Sekarang Aryan dapat merasakannya. Jadi begini rasanya melihat orang yang kamu sukai bersama dengan orang lain. Aryan hanya memiliki Karin diatas hukum dan agama, tapi belum memiliki hatinya. Aryan pun memutuskan untuk tidak memuaskan egonya, ia membiarkan Karin bersama Rey. Aryan tahu, bahwa ia memiliki waktunya sendiri untuk meluluhkan hati Karin.

***

Karin mengantar Rey sampai ke teras rumah kakaknya. Setelah mengobrol cukup lama, Rey akhirnya berpamitan untuk pulang. Begitu Karin kembali dan langkahnya sampai di ruang tamu, ia mendapati Aryan tengah berada di sana. Karin pun segera berjalan menghampiri Aryan dan mengambil tempat di sofa di samping Aryan.

“Karin, kalau kamu masih mau nginep di sini, it’s oke. Sebentar lagi aku pulang,” ujar Aryan.

“Kamu bilang mau jemput aku tadi. Gimana jadinya?” balas Karin.

Aryan nampak gugup, ia tidak langsung dapat menjawab akan ucapan Karin barusan. “Kavin tadi chat aku, katanya dia khawatir sama kamu. Terus Kavin nyuruh aku ke sini.” Aryan menampakkan cengirannya.

Karin lantas menatap Aryan dengan tatapan aneh dan sedikit menyelidik.

“Kavin yang khawatir atau kamu?” tanya Karin dengan nada jenakanya tapi tetap terlihat tenang dan santai.

Skak mat.

Aryan sungguh dibuat mati kutu oleh Karin. Kalau yang sudah-sudah Aryan dikenal jagoannya flirt, justru kini dirinya yang seperti terkena tembakan panah cinta sampai menembus ulu hatinya. Aryan tidak dapat berkutik, ia pun akhirnya mengakuinya begitu saja.

“Hmmm … iya. Aku khawatir sama kamu,” ujar Aryan.

Detik berikutnya Karin nampak mengulaskan senyum kecilnya. Lucu sekali ekspresi Aryan beberapa saat yang lalu. Karin baru pertama kali melihatnya dan ia berpikir apakah itu karena dirinya? Rasanya agak mustahil Karin berhasil membuat Aryan seperti itu. Lho, memangnya Karin habis melakukan apa barusan? Kenapa ia juga tidak menyadarinya sama sekali?

***

Karin tidak mengatakan soal sepenuhnya yang terjadi, tapi Aryan seolah mengerti. Karin masih membutuhkan waktu untuk sendiri, jadi Aryan membiarkan Karin untuk tetap menginap di rumah kak Syerin malam ini.

Ini sudah pukul 10 malam, Karin masih mendapati Aryan di rumah kakaknya. Lelaki itu belum menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Karin yang belum bisa tidur pun menghampiri Aryan dan Kavin di ruang keluarga. Kavin yang mengerti akan situasinya, segera beranjak dari sana, membiarkan kedua sejoli itu memiliki waktu dan tempatnya hanya untuk mereka berdua.

“Kak, makasih ya kamu udah sempetin buat dateng ke sini,” ujar Karin membuka obrolan lebih dulu. Karin mempertemukan netranya dengan netra Aryan, detik berikutnya perempuan itu mengulaskan senyum tulusnya.

I feel better when I knew you here,” ujar Karin lagi.

Aryan sedikit tidak percaya mendengarnya ujaran Karin. Aryan pun balas menatap Karin dalam, berikutnya ia meraih satu tangan Karin dan menggenggamnya.

“Kak, malam ini aku mau coba sesuatu,” ujar Karin kemudian.

Karin kembali mengulaskan senyumnya, kali ini nampak sedikit lebih lebar. Kemudian Karin membalas genggaman tangan Aryan di tangannya, bahkan memberikan sedikit usapan lembut di punggung tangan itu menggunakan ibu jarinya.

“Aku mau coba membangun rumah itu sama kamu, rumah kita,” Karin menjeda ucapannya sesaat. Ia nampak memikirkan kata-kata yang tepat untuk menyampaikannya. Cara Aryan menatapnya seperti ini, tatapan yang lembut dan penuh afeksi itu, sudah cukup kuat untuk menghancurkan tembok pertahanan yang selama ini Karin bangun.

“Kak, kamu … mau tidur di sini malam ini?” pertanyaan Karin itu seketika sukses membuat seluruh indera yang Aryan miliki membeku. Tolong seseorang katakan pada Aryan bahwa barusan ia tidak salah mendengar.

***

Di dalam sebuah kamar yang cukup luas, ditemani sebuah temaram lampu tidu, serta di bawah bed cover tebal, Aryan dan Karin kini saling berhadapan dan melempar pandangan.

“Karin, kamu tau,” ucap Aryan membuka sebuah pembicaraan.

“Tau apa?” balas Karin.

Aryan kemudian mengarahkan tangannya untuk mendarat di sisi kiri dadanya, tepat di mana jantungnya berada. “It’s hurt, here,” ujar Aryan.

“Kamu serius? Kamu nggak papa kan, Kak? Kalau kamu becanda, ini nggak lucu lho, Kak.” Karin justru berujar panik.

Detik berikutnya Aryan nampak mengulaskan senyum lebarnya.

“Kamu ada-ada aja sih. Kenapa akting begitu?” cetus Karin.

“Tadi di sini emang sakit, Karin,” Aryan membuat wajahnya menjadi memelas sebisa mungkin. Tangan Aryan masih menepuk di mana jantungnya berada. “Aku cuma memiliki kamu di atas agama dan hukum, tapi aku nggak memiliki hati kamu. Ralat, bukan nggak, tapi belum. Makasih kamu udah ngasih kesempatan itu malam ini,” tutur Aryan sambil tidak lepas memandang wajah Karin.

Karin tatapannya berubah menjadi sendu. Mendengar apa yang dirasakan Aryan, itu begitu menyentuh sisi hatinya. Perlahan-lahan Karin memangkas jaraknya dengan Aryan, hingga kini ruang di antara mereka terasa lebih sempit.

“Kak, kamu udah ngantuk belum?” tanya Karin.

Meskipun tidur merupakan salah satu hobinya selain berenang dan basket, Aryan akan berusaha menahan kantuknya untuk malam ini.

“Nggak, aku belum ngantuk,” ucap Aryan akhirnya.

“Aku mau cerita sesuatu sama kamu,” jelas Karin.

“Kamu mau cerita apa? You can tell me,” ujar Aryan.

Karin nampak memikirkannya sejenak. Ia mengatakan ia bersedia membagi cerita ini kepada Aryan. Hanya pada lelaki itu, Karin belum menceritakannya pada siapa pun, bahkan Kavin mau pun Dara, dua orang terdekat dalam hidupnya.

“Seminggu yang lalu, mamanya Rey minta untuk ketemu sama aku,” ucap Karin memulainya. Dari sana lah akhirnya mengalir cerita soal orang tua Rey yang tidak merestui hubungannya dengan Rey. Karin begitu hancur saat itu, ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat untuk menghadapi semuanya. Kenyataannya tidak semudah yang Karin pikirkan. Mendorong Rey menjauh dari hidupnya, bukanlah hal yang dapat Karin lakukan begitu saja. Rey adalah sosok yang selama ini ada untuknya, selama 2 tahun terakhir, Rey hadir di dalam hidup Karin dan memberikan kasih sayang yang Karin butuhkan.

“Akhirnya ini cuma akan nyakitin aku dan Rey. Harusnya sejak awal kita akhirin semuanya,” Karin mengangkat wajahnya yang sebelumnya tertunduk. Karin menatap Aryan, mengunci pandangan pria itu, lalu Karin berujar, “Kak, aku nggak ingin bersikap egois terhadap kita. Aku mau ngasih kamu ruang untuk memastikan perasaan kamu ke aku. Begitu pun aku, aku mau perasaan aku ke kamu nantinya adalah yang sebenar-benarnya. Aku nggak ingin kita saling menyakiti lagi suatu hari dan berakhir menyesali semuanya.”

Karin sadar bahwa sesuatu yang dipaksakan pada akhirnya tidak akan menjadi baik. Karin meyakinkan Aryan, bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal hubungan mereka, karena sejatinya seorang nahkoda tahu kemana harus mengarahkan kapalnya untuk sampai di pelabuhan yang tepat. Sama halnya dengan hati seseorang, ia tidak akan salah memilih kemana harus berlabuh. Karin akan berlari menuju Aryan, sekalipun jaraknya begitu jauh, jika memang Aryan adalah takdirnya. Karin mengatakan bahwa Aryan dapat memegang ucapannya itu.

Aryan pun akhirnya mengangguk. Ia mengerti maksud perkataan Karin. Aryan menerimanya dan ia siap akan keputusan Karin apa pun nantinya. Karin berhak untuk menentukan jalan hidupnya. Kalau pun tidak bersama Aryan, lelaki itu akan merasakan sakit, tapi Karin akan bahagia. Itu adalah tujuan Aryan sejak menyadari perasaannya terhadap Karin. Aryan ingin Karin bahagia meskipun bukan bersamanya.

Melihat Karin dengan kesedihan di raut wajahnya, membuat Aryan ikut merasa hancur. Di satu sisi, hatinya memang sakit mendapati bahwa Karin begitu mencintai Rey. Namun rasa peduli itu lebih dominan mengisi dirinya. Aryan lebih mementingkan bagaimana cara membuat Karin merasa lebih baik. Karin terluka, maka Aryan bersedia menjadi sandaran untuk perempuan itu.

Ada yang lebih baik dari semua itu, yakni saat Aryan mengetahui bahwa Karin bersedia membagikan cerita tersebut kepadanya, hal itu terasa sangat berharga bagi Aryan.

Ketika Aryan sebulir cairan bening meluncur dari pelupuk mata Karin dan terjun hingga ke pipinya, Aryan lekas mengarahkan tangannya dan mengusap pipi Karin. Selama beberapa detik, Karin mengeluarkan semua bentuk curahan kesedihannya di hadapan Aryan. Karin sedikit tidak percaya ia melakukannya, tapi ia merasa lebih lega setelahnya. Karin merasa nyaman begitu Aryan menyeka air matanya.

Setelah Karin dapat menenangkan dirinya, ia menahan tangan Aryan yang hendak menjauh dari sisi wajahnya. Karin mengulaskan senyum kecilnya, itu sebuah senyuman yang tampak sedikit malu-malu.

“Kavin tadi chat apa ke kamu sampai kamu dateng ke sini?” tanya Karin setelah mengusap sekilas punggung tangan Aryan yang masih berada di wajahnya. Rasanya hangat, perlahan Karin mulai merasa lebih baik dengan semua yang terjadi, dengan kehadiran Aryan di sisinya.

“Kavin bilang, dia liat kamu dalam kondisi yang kurang baik. Menurut Kavin kamu butuh aku, jadi dia minta aku ke sini. Malam ini ada dua orang yang percaya sama aku, Kavin dan kamu. Karin, terima kasih ya kamu mau berbagi cerira itu sama aku. That’s a pleasure for me.”

Karin menyunggingkan senyumnya lalu ia tertawa sekilas. “Alright. ayaknya Kavin ada di tim kamu deh, Kak.”

“Jelas,” cetus Aryan cepat.

Mendengar ucapan Aryan dengan nada percaya dirinya serta tampang lempengnya khasnya, mau tidak mau membuat Karin tergelak cukup kuat. Tawa Karin berangsur terhenti setelah beberapa detik, itu bertepatan dengan Aryan yang mengunci tatapannya.

Aryan menatap Karin lembut, kemudian lelaki itu berujar, “Karin, I want to be a reason for that smile and laugh. Some times I will see your tears, but that’s totally okay. You need to know that I would willing to rub that tears. Okey?”

Detik berikutnya Karin mengangguk menyetujuinya. Malam ini Karin telah mempercayai Aryan seutuhnya. Ia bersedia dari dalam hatinya yang terdalam, membagikan kesedihannya yang selama ini mungkin sulit ia lakukan, sekalipun kepada orang-orang yang telah lama hadir di hidupnya.

“Kak, aku tau kamu udah ngantuk sebenarnya,” celetuk Karin sembari memperhatikan raut wajah Aryan yang memang sudah terlihat mengantuk.

Oke, that’s true. Tapi aku tetep mau dengerin cerita kamu,” ucap Aryan masih sambil menatap Karin dengan sisa kesadarannya. Mungkin beberapa detik lagi lelaki itu akan terlelap, begitu pikir Karin.

“Kak, I have prepared a gift for you. Are you curios about that?” ujar Karin pelan di dekat Aryan.

Beberapa detik kemudian, Karin terkesiap begitu Aryan kembali membuka kelopak matanya yang sebelumnya telah setengah terpejam. Kini raut wajah Aryan tampak lebih segar dari sebelumnya, seolah rasa kantuk itu telah menguap dan hilang begitu saja.

“Hadiah untuk aku? Kamu serius?” tanya Aryan.

“Aku kira kamu tadi udah tidur lho,” ujar Karin dengan raut keheranannya.

“Aku masih bisa denger, Karin. Apa hadiahnya? Atau ini surprise?” Karin pun segera mengangguk. “Iya, ini surprise. Lusa kamu ada janji keluar?” tanyanya kemudian.

“Aku bisa cancel semuanya,” putus Aryan dengan cepat.

“Hmmm … oke. Lusa aku mau ngasih kamu hadiahnya. I prepared a date for us,” Kalau sebelumnya Karin masih memiliki kendalinya, kini begitu Aryan menatapnya penuh arti seperti ini, Karin merasa bahwa hatinya berantakan. Kendali Karin telah terlepas, hingga kini rasanya dunia Karin sekarang terhenti berputar. Pandangan Karin hanya dapat tertuju kepada Aryan.

“Apa hadiahnya? Can I get a clue for the date?” ujar Aryan bertubi-tubi, tampak tidak sabar dan begitu penasaran.

“Kamu sabar dong, Kak. Udah, sekarang kamu tidur. Katanya tadi kamu ngantuk,” tutur Karin.

“Karin, kalau gini aku jadi nggak bisa tidur,” aku Aryan blak-blakan.

“Kamu harus tidur, Kak. Kalau nggak, nanti aku nggak jadi kasih hadiahnya lho,” ujar Karin yang kini sudah membalikkan tubuhnya untuk memunggungi Aryan.

Karin berusaha memejamkan matanya, tanpa Aryan melihatnya, Karin nampak mengulaskan senyum lebarnya.

Aryan akhirnya mengangguk setuju. Aryan pun pasrah, lelaki itu memutuskan akan segera tidur, untuk memastikan Karin memberikan hadiahnya sesuai janji perempuan itu padanya. Sekarang justru terasa sulit bagi Aryan untuk memejamkan matanya. Rasanya Aryan ingin membeli mesin waktu agar bisa sampai di hari yang dinantikannya. Apa pun yang berkaitan dengan Karin, rasanya membuat Aryan hampir gila.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷