Rencana dan Kerja Sama Baru
Masih dengan mata yang terpejam, Aryo meraba-raba kasur di sampingnya. Dahinya mengkerut ketika hanya udara yang menyapa tangannya. Pria itu lekas membuka netranya dan benar saja, ia tidak melihat keberadaan istrinya di sampingnya.
Aryo berjalan keluar kamar dan menuruni tangga, ia pun menemui Felicia di dapur. Kemarin dirinya dan Tiara memutuskan untuk menginap di rumah orang tuanya. Tiara mengatakan ada baiknya mereka berkunjung. Istrinya itu memikirkan bagaimana Edi dan Felicia begitu merindukan kehadiran anak mereka di rumah.
Setelah mengambil segelas air putih dari kulklas, Aryo bertanya pada Felicia tentang keberadaan Tiara.
“Papamu mau jogging, terus Tiara pengen ikut katanya, mau temenin papa. Yaudah pergi berdua deh mereka.” Penjelasan Felicia sukses membuat Aryo membelalak dan hampir saja gelas kaca di tangannya meluncur begitu saja. Bagaimana bisa Tiara berpikiran untuk jogging padahal perempuan itu tengah mengandung.
“Kamu kenapa? Kok ekspresimu begitu?” tanya Felicia sambil memerhatikan putranya.
“Nggak papa. Aryo mau susul Tiara dulu deh Mah,” Aryo hendak pergi dari sana dan mengambil kunci mobilnya, tapi aksinya itu tertahan ketika melihat papanya dan Tiara sudah kembali. Kedua orang itu membawa satu bungkus plastik yang ternyata berisi empat bungkus nasi uduk.
“Tadi pulang jogging Tiara sama Papa beli nasi uduk, Tiara pengen katanya. Sekalian aja deh beliin buat kamu dan Mama juga,” tutur Edi.
Aryo melempar tatapan meminta penjelasan pada Tiara yang hanya di balas dengan cengiran kecil oleh istrinya itu. Aryo mengehela napasnya, lalu menarik kursi meja makan di samping Tiara. Mereka berempat pun memutuskan sarapan bersama. Felicia dan Tiara lantas mengambilkan piring untuk Edi dan Aryo.
“Tadi jogging-nya lama nggak Pah?” tanya Aryo di sela-sela suapannya.
“Enggak lama kok,” sahut Tiara sebelum Edi sempat menjawab pertanyaan Aryo.
“Iya, nggak lama kok. Emang kenapa?” tanya Edi.
“Tiara nggak boleh jogging Pah, dia kan lagi—”
“Aku udah sembuh, Aryo. Itu Pah, Mah, kemarin Tiara sempat nggak enak badan aja,” sela Tiara sebelum Aryo hampir saja mengatakan bahwa dirinya tengah mengandung.
“Ohhh gitu. Mama kirain Tiara hamil lho tadi. Bikin kaget aja kamu, Aryo,” sahut Felicia yang langsung membuat Tiara dan Aryo saling melempar pandangan.
***
Edi mendapati putranya mengetuk pintu ruang kerjanya dan mengatakan ingin berbicara mengenai hal yang lumayan penting.
“Ada apa Aryo? Apa yang mau kamu bicarain soal perusahaan?” tembak Edi tepat sasaran.
“Iya Pah, ini soal perusahaa,” jawab Aryo.
Edi mengulaskan senyum lembut khasnya. “Kamu bisa bicarakan apapun itu sama Papa.”
“Mama ada bilang sesuatu ke Papa sebelumnya?”
Edi mengangguk. “Mama ke rumah kamu beberapa hari yang lalu. Beliau bilang Tiara nggak ada di sana. Kamu sama Tiara udah baik-baik aja, kan?”
Aryo mengangguk. “Yes. We are fine after we fixed our problem. Day by day, about me and her it's just getting better.“
“Alright, Papa senang dengarnya. Kamu sama Tiara bisa menjalani pernikahan kalian dengan baik. Kamu tau, permasalahan dalam pernikahan akan selalu ada, tapi bisa selesai kamu ingin menyelesaikannya. So apa yang mau kamu tanyakan soal perusahaan ke Papa?”
“Ini soal penarikan saham yang jumlahnya cukup besar oleh pemagang saham, Pah. Saat ini masalah itu cukup membaut kondisi perusahaan chaos. Aryo ingin meminta bantuan Papa dan mama,” ungkap Aryo.
Edi menatap putranya sesaat sebelum menorehkan senyum bangganya, “Papa akan dengan senang hati membantu kamu. Papa ngeliat usaha kamu selama ini, kamu sudah belajar banyak dan menerapkannya dengan sangat baik.”
“Makasih Pah,” ujar Aryo diiringi senyumnya.
Sebelum pamit pergi dari ruang kerja Edi, Aryo menyampaikan sesuatu kepada papanya. “Pah, ada hal lumayan besar yang lagi Aryo kerjakan saat ini. Aryo melakukannya sebagai pemimpin perusahaan dan sebagai suami Tiara. Saat ini Aryo nggak bisa kasih tau ke ke Papa dan mama, tapi suatu saat Aryo akan sampaikan. Aryo harap Papa dan mama mendukung apa yang Aryo lakukan. Seperti yang Papa ajarkan, Aryo akan selalu ada di pihak yang benar.”
***
Seseorang menekan tombol di samping elevator, membuat pintu gandanya kembali terbuka. Pandangan kedua orang itu lantas bertemu dan hanya ada mereka berdua di dalam.
“Lantai berapa?” tanya Aryo pada Aurorae. Ya, perempuan yang satu lift dengannya itu adalah Aurorae.
“Lantai sepuluh. Aku ada urusan dengan salah satu pemegang saham di sini,” jelas Aurorae seolah dapat membaca pikiran Aryo.
“Oke.” Aryo menekan tombol angka sepuluh sesuai yang disebutkan oleh Aurorae.
“Aku tau soal penarikan saham di perusahaan ini,” ujar Aurorae sebelum ia keluar dari lift.
Aryo pun ikut turun di lantai 10 dan mengikuti langkah Aurorae.
“Sure. Berita itu pasti kesebar dengan cepat,” ujar Aryo.
“Kamu lupa, Kakek aku juga salah satu pemegang saham di Harapan Jaya?” ujar Aurorae.
“Beliau ingin menarik sahamnya juga? Maksud aku, salah satu yang sudah menarik sahamnya punya hubungan bisnis dengan perusahaan beliau,” terang Aryo.
“Kakek masih memikirkan buat narik atau enggak. Aku minta kakek untuk mempertimbangkan dulu. Aku ngerasa ada yang aneh dari semuanya.”
“Maksud kamu apanya yang aneh?” tanya Aryo.
“Project pertama kamu sebagai presiden direktur berjalan baik dan profit-nya sangat memuaskan. I don't know, but aku ngerasa ada permainan di balik pemegang saham yang mau narik saham mereka secara tiba-tiba. Apalagi alasannya cuma karena kebijakan baru yang kamu buat. Mereka yang mau narik sahamnya, adalah mereka yang selama ini bersikap loyal kepada Harapan Jaya. I smell something wrong in here.“
“Aku udah sempat mikirin itu, Aurorae. Tapi saat ini fokusku adalah membujuk para pemegang saham agar tidak menarik sahamnya. I still have a chance for that.”
“Yes, kamu harus dapatkan kesempatan itu.”
“Aurorae, aku mau meminta bantuan kamu. Selain soal pemegang saham, aku lagi ngerjain satu hal yang cukup besar. Kalau kamu bersedia, aku akan kasih tau kamu soal project tersebut,” jelas Aryo.
“You ask me to help you?” tanya Aurorae yang langsung diangguki oleh Aryo. “Ketika kamu meminta bantuan kepada seseorang, kamu akan selalu meminta sama orang yang tepat dan kamu percaya orang itu bisa melakukannya. Apa ini bisnis? Apa yang aku dapatkan kalau aku berhasil?” tanya Aurorae.
“Apapun yang kamu mau. Tapi satu hal yang nggak bisa, jangan minta balikan sama aku.”
Aryo tertawa sekilas, lalu ia menatap Aryo. “Satu hal yang kamu perlu tau, Aryo. Awalnya itu memang sulit, tapi aku berhasil move on dari kamu. Kamu jadi lebih baik bersama dia, aku bisa lihat itu dan aku ikut senang.” Aurorae mengulaskan senyum tulusnya.
“Oke. So are we deal for the project?” Aryo mengulurkan tangannya di hadapan Aurorae.
Aurorae tersenyum tipis sambil mengedikkan kedua bahunya. Perempuan itu lantas menerima uluran tangan Aryo, ia menjabatnya, “Alright. We are deal.”
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷