Rencana Honeymoon
Tiara bukan tipe perempuan yang akan mencucurkan air matanya ketika ada perempuan lain mencoba mendekati suaminya menggunakan alasan pekerjaan. Tiara sudah menahan untuk menyumpal mulut perempuan itu menggunakan kata-kata dari mulutnya sendiri sejak di stasiun, tapi sekarang ia tidak bisa menahannya lagi.
Sudah cukup kesempatan yang ia berikan pada perempuan itu. Aryo memang memintanya menunggu sampai pria itu pulang, lalu mereka berencana pergi ke suatu tempat di Lembang pada malam harinya. Namun semua itu menjadi gagal berkat perempuan bernama Aurorae Hartanto.
Tiara tahu dari Rama bahwa project yang sedang Aryo kerjakan itu berhubungan langsung dengan Aurorae yang mana mewakili perusahaan milik kakeknya sendiri.
Tiara menunggu Aryo cukup lama di sebuah ruangan yang hanya terdapat meja dan sofa. Tiara hampir tertidur karena bosan menunggu. Akhirnya ia memutuskan keluar untuk mencari Rama karena ingin meminta bala bantuan. Sebenarnya suaminya itu Rama atau Aryo sih. Namun tidak adalah pilihan lain karena kini perutnya terasa sangat keroncongan dan ia harus mencari amunisi. Mana tahu ia akan bertarung dengan perempuan itu, kan? Kalau begitu, Tiara tidak ingin sampai kalah hanya karena kekurangan tenaga.
Tiara berjalan melewati lorong lantai empat untuk menuju lift yang terdapat di ujung lorong.
“Lagi cari apa?”
Tiara lantas menoleh ke arah sebuah suara yang menyapanya ketika ia baru akan menekan tombol lift.
“Cari suami gue,” ucap Tiara pada Aurorae.
“Harusnya kalau dia suami kamu, nggak perlu mencarinya, dia akan datang ke kamu,” ujar Aurorae lagi.
“Harusnya juga, lo nggak berhak mencampuri urusan kita. Karena apapun urusan gue sama dia, adalah urusan antara suami dan istri.”
“Seberapa kamu tau tentang suami kamu? Jangan berpikir kamu tau semuanya, Tiara.” Aurorae melipat kedua lengannya di depan dada.
“Terus lo ini apa, Aurorae? Perempuan yang masih mengharapkan lelaki yang udah jadi suami orang, hmm?”
Tiara menorehkan senyumnya sekilas, lalu berniat melewati Aurorae begitu saja, tapi tangannya di tahan oleh Aurorae.
“Lepas,” ucap Tiara.
“Lo harus tahu satu hal yang akan buat kamu terkejut, Tiara.” Aurorae menatapnya dengan tatapan penuh kemenangan. “Dia nggak cinta kamu dan selamanya kamu nggak akan bisa buat Aryo jadi milik kamu. Ekspresi kamu nunjukin bahwa apa yang aku bilang benar.”
Tiara beralih meraih tangan Aurorae yang memegang tangannya, lalu ia berusaha menggerakkan tangan gadis itu menjauh darinya dan Aurorae merintih kesakitan karena itu.
Saat kejadian itu berlangsung, orang yang menjadi topik dari perdebatan mereka datang dan melerai keduanya.
“Tiara.” Aryo menyebut namanya lebih dulu dan melepaskan cengkramannya dari pergelengan tangan Aurorae.
Tiara menatap Aryo dengan tatapan tidak percayanya.
“Apa?” ucap Tiara ketika Aryo menatapnya seolah dirinyalah yang melakukan kesalahan di sini.
“Ohh, dia penting banget ya buat lo?” tanya Tiara.
Aryo hanya menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaannya.
“Oke, lo pilih dia aja. Gue pergi,” ucap Tiara sebelum melangkahkan kakinya untuk pergi dari hadapan Aryo dan Aurorae.
***
Rencananya dengan Tiara terpaksa batal karena kejadian semalam. Aryo terbangun di kamar hotel tanpa sedikit pun informasi tentang keberadaan Tiara dari asistennya. Beberapa orang yang bekerja untuknya, ia tugaskan untuk terus mencari keberadaan Tiara. Erza memberinya kabar melalui pesan bahwa Tiara sama sekali tidak kembali ke rumah mereka di Jakarta hingga saat ini.
Aryo kembali mengecek ponselnya dimana terakhir sebelum tidur hanya hal itu yang ia lakukan. Namun apa yang ia harapkan tidak ada di sana. Tiara sama sekali tidak menghubunginya. Sesaat kemudian, terdengar ketukan di pintu kamarnya dan ternyata asistennya yang berada di sana.
“Udah ada info soal Tiara?” tanya Aryo pada Rama.
Rama terlihat agak terkejut karena bosnya tidak pernah bersikap seperti ini kepada wanita manapun yang pernah berada di hidupya. Rama berpikir bosnya itu telah begitu mencintai istrinya.
***
Aryo menghembuskan nafasnya sambil menatap pintu berpelitur putih di hadapannya. Ia langsung menempuh perjalanan dari Bandung menuju Jakarta, ketika Egha mengiriminya pesan kalau Tiara sudah kembali ke rumah. Beberapa waktu lalu Aryo memang sudah mengganti akses masuk rumahnya, sehingga Tiara bisa mengaksesnya sendiri menggunakan visualnya.
“Tiara,” panggil Aryo untuk yang kesekian kalinya. Ia belum menyerah meminta Tiara membuka pintu kamarnya karena gadis itu meguncinya dari dalam.
Aryo berusaha memutar otak agar setidaknya Tiara mau membuka pintunya. Masalah dimaafkan, Aryo akan dapatkan kata maaf itu belakangan, ketika emosi Tiara sudah mulai pudar terhadapnya.
“Tiara, gue mau ngomong sesuatu sama lo,” ujar Aryo.
“Gue yakin lo bisa denger gue dari dalam. Mama udah minta kita untuk pergi honeymoon sejak awal kita nikah. Tapi karena persetujuan yang harus kita sepakatin, gue bohong sama mama tenang semuanya. Mama dan papa cuma tau tahu kalau pernikahan kita baik-baik aja,” jelas Aryo.
Di dalam kamarnya, Tiara mendengarkan dengan seksama kalimat yang Aryo ucapkan. Tiara bangun dari posisi tidurnya, ia duduk di kasur dan mempertimbangkan haruskah ia membuka pintunya untuk Aryo.
“Gue nggak mau buat semuanya jadi semakin sulit untuk lo. Gue tahu semua yang tante gue bilang ke lo waktu di rumah eyang. Keluarga juga udah mulai curiga tentang pernikahan kita. Kemungkinan terburuknya kalau nggak ada anak kita akan berpisah secepatnya. Keluarga akan ngambil cara lain demi melanjutkan keturunan. Ra, lo buka dulu pintunya, ya? Gue khawatir sama lo,” Aryo mengakhiri ucapannya.
Sesaat kemudian, terdengar bunyi pintu yang terbuka. Ketika pintu sudah terbuka, Aryo langsung membukanya lebih lebar agar ia dapat melihat Tiara. Aryo memerhatikan kondisi Tiara yang nampak berbeda. Wajahnya terlihat pucat pasi dan warna pink alami menghilang dari belah bibirnya.
“Ra, are you okay?” tanya Aryo dengan nada khawatirnya.
“Gue cuma demam,” ujar Tiara.
Aryo mengarahkan punggung tangannya untuk menyentuh kening Tiara.
“Besok juga sembuh sendiri,” sambung Tiara.
“Lo emang harus cepat sembuh, Tiara. Karena kita akan pergi honeymoon,” ujar Aryo.
“Siapa yang udah setuju? Tuan Aryo Bimo yang terhormat, jangan berpikir Anda memahami segalanya tentang saya. Mungkin Anda lebih paham mantan pacar Anda yang sangat penting bagi Anda itu.”
“Tiara, gue minta maaf atas sikap gue yang kemarin. Gue nggak ingin dengan lo bertengkar sama dia, nantinya ada masalah baru lagi,” tutur Aryo. Tiara yang mendengar permintaan maaf itu sebenarnya juga bingung dimana letak kesalahan Aryo. Tiara sedikit ragu bahwa pria yang di hadapannya saat ini adalah Aryo Bimo, pria yang selama ini ia kenal. Pria angkuh bin arogan itu kini tengah meminta maaf atas sesuatu yang sebetulnya Tiara tidak yakin juga bahwa itu kesalahan Aryo.
“Gue akan bikin lo maafin gue. Gimana pun caranya,” sambung Aryo.
“Lo yakin mau ngelakuin apa aja?” tanya Tiara.
“Lo bisa kasi tau gue, apapun itu.”
“Oke kalau gitu. Jadi perawat gue sampai gue sembuh. Ohiya, gue juga mau lego disney yang unlimited edition itu.”
***
Tiara beberapa kali tersenyum mendapati Aryo sungguhan merawatnya seharian ini. Meskipun pria itu terlihat kaku dan tidak pandai dalam urusan merawat orang sakit, tapi Tiara cukup senang. Sebenarnya Tiara tidak butuh dirawat. Ia bisa meminum obat dan istirahat yang cukup. Namun rasanya nyaman sekali mendapati seseorang yang ia cintai ada untuknya saat kondisi terasa kurang baik.
“Tiara,” ujar Aryo usai ia mengangkat plester pereda demam di kening Tiara. Aryo sudah selesai dengan kegiatannya, dari mulai membuatkan Tiara makanan dan menyuapinya, memberi obat untuk Tiara, serta menemaninya menyusun lego disney baru yang seketika mencipatakan raut bahagia di paras Tiara.
“Gue minta maaf ya,” ucap Aryo.
“Belum dimaafin,” balas Tiara dengan nada jahilnya.
“Berarti nanti dimaafin, kan?” tanya Aryo sambil mengernyitkan alisnya. Tiara tersenyum jenaka, tapi setelahnya ia mengangguk. Aryo menghela napasnya tahu Tiara sudah memaafkannya.
“Tadinya gue merasa egois banget saat ingin dapet perhatian lebih dari lo. Tapi bukannya itu wajar kalau kita mengharapkan untuk punya anak? Ohh iya satu lagi, gue nggak pernah memulai pertikaian itu sama mantan lo,” papar Tiara.
“Jadi, kita mau pergi honeymoon kemana?” lanjut Tiara sambil menatap Aryo lekat. Mata bulat gadis itu terlihat berbinar dan Aryo selalu suka menatap kedua mata indah itu.
“Lo belum sembuh total, Tiara,” ujar Aryo.
“Gue udah sembuh, Aryo. Kayaknya lo yang terlalu khawatir deh sama gue.” Tiara sengaja menatap Aryo dengan seksama hingga membuat Aryo salah tingkah.
“Oke, lusa kita ke Maldives. Atau lo punya tempat lain yang mau lo kunjungin?”
“Maldives sounds good. Gue suka pantai.” Tiara tersenyum semringah hingga menampakkan deretan gigi depannya.
“Lo mau tidur jam berapa? Liat, ini udah jam dua belas. Besok lagi ya nyusun legonya,” bujuk Aryo pada Tiara yang masih terlihat bersemangat menyusun perintalan mainannya yang jumlahnya tidak sedikit.
“Oke. Nyusun lego bisa di lanjutin besok. Yang penting kita jadi ke Maldives.” Tiara lekas bergerak merapikan mainan barunya dan meletakkan boksnya di sudut kamarnya.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷