Resepsi Pernikahan dan Kondominium

Sebuah ballroom hotel bergaya eropa klasik menjadi tempat digelarnya resepsi pernikahan Aryo dan Tiara. Sekitar tujuh ribu tamu yang hadir memberi ucapan selamat berbahagia untuk kedua mempelai yang tampil menawan malam ini. Berbagai hidangan mewah dan terlihat lezat pun disajikan, mulai dari makanan pembuka hingga makanan penutup.

Wedding Venue

Dari sekian banyak tamu yang datang, seseorang yang tidak Aryo sangka, memberi selamat kepadanya dan Tiara di pelaminan. Eksistensinya itu cukup menarik perhatian, karena sebagian besar kerabat mengenalinya. Perempuan itu merupakan mantan kekasih Aryo yang terakhir, sebelum pria itu akhirnya menggemparkan seluruh lapisan masyarakat dengan kabar pernikahannya yang tiba-tiba. Aurorae Hartanto, hadir di pernikahannya bersama kakeknya yang diundang sebagai kolega bisnis perusahaannya.

Congrats ya, buat kalian berdua. Aku denger, kabar pernikahan kalian diumumin nggak lama setelah aku dan Aryo putus. Kayaknya menambah kekuatan untuk perusahaan bukan alasannya, lalu apa alasannya?” ucap perempuan cantik itu diiringi sebuah senyum penuh arti di wajahnya. Setelah mengucapakannya, Aurorae turun dari panggung pelaminan. Namun beberapa meter dari sana, ia masih menatap kearah Aryo dan tidak berniat pergi dari sana.

“Mantan lo kayak psycho ya,” bisik Tiara di samping Aryo. Detik selanjutnya, ia merasa tatapan mantan kekasih Aryo itu tertuju padanya dengan tatapan yang Tiara sendiri tidak mengerti maksudnya.

Oh my god, I'm scared. She’s look at me? Alright, she’s really look at me,” ucap Tiara lagi sambil tertawa seolah menganggap ini adalah kejadian yang lucu dan cukup seru untuk disaksikan. Tanpa aba-aba, Aryo menarik tangannya untuk turun dari pelaminan. Tiara masih syok dan kebingungan. Jelas saja, Aryo itu sinting, pikirnya. Pria itu telah membuat pengantin meninggalkan tamu-tamunya begitu saja.

This is cute. You hold my hands and take me from there, so I can breathe and take a rest for a minute,” cerocos Tiara ketika Aryo membawanya ke lorong menuju ruangan khusus bride and groom.

Aryo menghempaskan genggamannya begitu saja. Tiara menatap Aryo nyalang dengan kedua matanya yang membola.

“Kabur dari mantan? It’s not a gentleman, Dude,” ucap Tiara sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dada.

“Kita periksa kaki lo,” cetus Aryo.

“Eh? Kaki gue nggak papa kok. Emangnya kenapa?” tampang Tiara justru terlihat seperti orang bodoh sekarang.

“Lo berdiri lama, pakai high heels.” Setelah mengatakannya, Aryo kembali menarik tangan Tiara, namun kali ini terasa lebih halus dibandingkan sebelumnya.

Kini mereka berada di ruangan yang disediakan khusus untuk pengantin. Tiara duduk di sofa dan matanya menatap ke arah Aryo yang sibuk mencari-cari sesuatu di meja.

“Lo nyari apa?” tanya Tiara.

Handsaplast.”

“Jelas nggak ada.”

“Lo tunggu dulu di sini, jangan kemana-mana,” tutur Aryo sebelum ia meninggalkan Tiara di ruangan itu sendirian. Sambil menunggu Aryo, Tiara penasaran apa benar kakinya lecet atau terluka. Ternyata benar saja, tumitnya memerah dan ketika Tiara melepaskan high heels-nya, terdapat rasa perih yang tertinggal di kulitnya.

Aryo lumayan cepat kembali. Namun pria itu tidak membawa apapun di tangannya.

“Di mana handsaplast-nya?” tanya Tiara.

“Lagi di bawain.”

“Lo minta orang buat cari?”

Aryo mengangguk menjawab pertanyaan Tiara.

“Gue nggak melakukannya semata untuk lo,” celetuk Aryo lantas mengalihkan pandangannya dari Tiara.

“Ohhh ya? Terus?” Tiara justru menatap Aryo lekat tanpa berniat mengalihkan fokusnya pada apapun selain pria itu.

I know, you use me to escape, from your ex girlfriend. Lo masih cinta dia rupanya,” sambung Tiara.

“Lo kayak tau segalanya aja tentang hidup gue,” ucap Aryo dengan kedua alisnya yang menyatu. Ekspresinya seolah mengejek Tiara yang bertingkah sok mengetahui semua tentangnya.

Tiara mengangkat kedua bahunya. “Yaa, gue emang nggak tahu sih. Ohiya, gue mau diskusiin seusautu sama lo.”

“Kalau kita diskusi, nggak akan selesai hanya dengan satu kalimat dari kita masing-masing. Kita tunda dulu,” ucap Aryo.

“Kapan?”

Maybe tonight.”

“Kenapa harus nanti malam?”

“Ini kita sudah berdiskusi, Tiara. Malam ini kita punya banyak waktu.” Aryo memangkas jaraknya dengan Tiara, aroma maskulin yang dominan bercampur sedikit aroma vanilla lantas memenuhi indra penciuman Tiara.

Tiara bahkan dapat merasakan deru napas Aryo di dekat rahangnya. Tiara mengerjapkan matanya saat Aryo semakin mendekat padanya, lalu ia memejamkan matanya entah untuk alasan apa. Sampai terdengar sebuah ketukan pintu dan menampakkan seorang pria di sana. Aryo dan Tiara berusaha terlihat normal seolah tidak ada yang terjadi. Pria berstelan formal itu memberikan apa yang Aryo minta, lalu pamit setelah membungkukkan badannya.

Tiara memperhatikan Aryo menempelkan handsaplast di kedua tumitnya. Aryo menumpu badannya dengan satu kaki ke lantai dan dengan telaten melakukan kegiatan tersebut.

“Kita harus balik ke pelaminan,” ucapan Aryo membuyarkan fokus Tiara yang beberapa detik lalu hanya menatap pria itu.

***

Tiara tertawa dalam hatinya. Sepertinya Aryo berpikir bahwa hanya pria itu yang merasa paling diuntungkan atas adanya pernikahan ini. Meskipun pernikahan mereka terbilang kilat dan terjadi tanpa adanya perasaan cinta, laki-laki tetaplah akan menjadi laki-laki dengan kebutuhan biologisnya. Namun Tiara sudah mempersiapkan kuda-kuda dan jurus andalannya, jika Aryo berani melakukan sesuatu terhadapnya. Aryo tidak akan mendapatkan apapun darinya sebelum Tiara mendapat apa yang ia inginkan dari menikahi pria itu.

Keduanya telah sampai di tempat yang akan mereka tinggali setelah menikah. Dari pintu masuk menuju bangunannya, membutuhkan waktu sekitar lima menit mengendarai mobil. Tiara mencoba memperkirakan berapa hektar luas rumah yang akan mereka tempati ini.

“Kita nggak tinggal di sini kan? Aryo, tempat ini luas banget.” Mata Tiara masih fokus menyapu ke sekeliling area bangunan itu, sampai mobil yang dikendarai Aryo pun berhenti tepat di depan sebuah bangunan utama, setelah mereka mengitari bundaran air mancur yang besar. Bangunan itu sangat besar dan megah, hingga sukses membuat Tiara membuka mulutnya karena terkejut.

“Kita akan tinggal disini,” jawab Aryo.

“Lo pasti punya tujuan lain dengan kita tinggal di sini, kan?” Tiara melepas seat belt-nya dan membuka pintu mobil, lalu ia menginjakkan kakinya pada jalanan yang kedua sisinya ditumbuhi rumput hijau yang dipangkas pendek. Semua yang ada disini terlihat sangat rapih dan terawat dengan baik.

Aryo menyusul Tiara dan mengitari mobilnya.

What do you think about the purpose?” tanya Aryo sambil menatap Tiara.

“Lo mau jadiin gue asisten lo, kan? Tempat ini bisa diakses atas kuasa lo. Denger ya, jangan harap lo bisa ngekang gue. Pernikahan ini, punya perjanjian yang harus kita sepakatin.” Tiara berjalan lebih dulu menuju entrance dari bangunan itu.

“Lo salah, Tiara.” Aryo menanggapi ucapan Tiara dengan nada tenang khas pria itu ketika menghadapi lawan bicaranya.

“Ohya? Tell me where I’m wrong.”

Aryo berjalan ke arahnya. Kemudian ia menghela pinggang ramping Tiara dan membawa tubuh gadis itu untuk mendekat padanya, sehingga torso Tiara hampir menempel pada tubuh kekarnya.

“Lo suka semua ini, kan? Gimana rasanya menikah dengan calon pewaris Harapan Jaya, hmm … ?” tanya Aryo.

“Apa banyak cewek yang pengen ada di posisi ini? Kalau iya, artinya gue udah sangat beruntung,” balas Tiara.

Aryo tertawa sekilas menanggapi ucapan Tiara tersebut. “Jadi asisten adalah hal yang lebih mudah, dari pada lo mencoba untuk kabur dari tempat ini, Tiara. Gimana, menurut lo?” Aryo mengangkat satu tangannya, lalu ia mengusap sisi wajah Tiara dengan usapan yang lembut. Tiara berusaha menjauhkan wajahnya dan membuang pandangannya dari pria itu. Aryo pun tersenyum smirk lalu menjauhkan tangannya begitu saja dari wajah Tiara.

Tiara berpikir pada awalnya, tidak baik juga menjadi asisten bagi Aryo. Namun melihat sifat aslinya, lebih baik Tiara menjadi asistennya dari pada harus menjadi istri sungguhan untuk pria arogan itu.

Kehadiran dua orang di antara mereka pun menginterupsi. Mereka mengatakan akan membantu membawa barang dari bagasi mobil. Mereka adalah asisten sekaligus bodyguard yang menjaga tempat ini dan tinggal di paviliun yang terpisah dari bangunan utama.

“Tolong langsung bawa ke lantai dua. Terimakasih,” ucap Aryo pada dua orang lelaki yang bekerja untuknya itu. Lantas Tiara mengikuti langkah Aryo yang lebih dulu memasuki kondominium.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷