Revenge Plan & The Best Gift
Kedatangan Aryo ke acara keluarga besar mengundang tanya para anggota keluarga karena ia datang ke sana sendiri. Aryo tidak berniat menjelaskan apapun mengenai istrinya dan pernikahannya. Acara malam ini dilaksanakan untuk merayakan pengangkatan resmi presiden direktur Haraapan Jaya Group yang baru. Saat Aryo mengambil segelas minuman soda di meja, Prawira Brodjohujodyo datang menghampirinya.
“Aryo, selamat ya, atas jabatan kamu yang baru. Kamu pantas mendapatkannya,” ucap Prawira Brodjohujodyo diiringi sebuah senyum di wajahnya.
“Terima kasih, Eyang,” balas Aryo sopan.
Prawira menatap cucunya dan menepuk pundaknya. “Sekarang perusahaan berada di kedua pundak kamu. Eyang harap kamu bisa menjadi pemimpin yang bijak dan adil.”
Aryo pun mengangguk, “Ohiya Eyang, Aryo boleh menyampaikan satu hal?”
“Tentu. Kamu boleh mengatakannya.”
“Soal menjadi pemimpin yang bijak dan adil, Aryo masih perlu banyak belajar,” ujar Aryo sambil menatap sosok yang baru saja menghampiri mereka.
Prawira pun menoleh dan mendapati salah satu putranya bergabung dengannya dan Aryo.
“Mungkin Om Reynaldi bisa bantu Aryo. Aryo akan belajar lebih banyak lagi dari beliau,” ucap Aryo sebelum meneguk minuman dari gelasnya.
“Kamu benar. Kamu bisa belajar banyak dari Reynaldi. Dulu saat Reynaldi memimpin perusahaan, Harapan Jaya mengalami masa gemilangnya. Mungkin Eyang belum bisa bersikap adil terhadap keluarga sendiri, tapi Eyang percaya kamu dapat melakukannya, Aryo. Kamu dan El, kalian cucu Eyang yang sama-sama hebat. Kalian sudah melakukan yang terbaik sampai hari ini,” tutur Prawira.
“Aryo, selamat atas jabatan kamu yang baru. Om ikut senang, meskipun Om dan Eyang memberikan suara kami pada El. Tapi Om yakin, kamu bisa melakukan yang terbaik untuk perusahaan kita,” ujar Reynaldi sambil menatap Aryo, lalu pria itu tersenyum sekilas.
Aryo mengangguk, “Terima kasih Om. Om sudah mengajarkan banyak hal yang berharga untuk Aryo.”
***
Tiara mendapati ponselnya berdering ketika ia kembali dari kamar mandi. Tiara tidak langsung mengangkat panggilan tersebut ketika membaca ID call di layar ponselnya. Ia menarik napas dan menghembuskannya, setelah itu ia menggeser layar ponselnya ke tanda hijau.
“Halo?” sapanya.
“Tiara,” sapa balik suara yang sangat fameliar itu.
Tiara menahan isakan yang ingin lolos dari bibirnya kala mendengar suara yang amat dirindukannya itu.
“Boleh aku ketemu kamu?” Aryo kembali berbicara di telepon ketika Tiara tidak mengatakan apapun.
“Malam-malam gini?”
“Iya. Aku harus ngasih tau kamu sesuatu yang penting.”
“Oke. Aku juga mau ngasih tau kamu sesuatu,” balas Tiara.
Setelah itu sambungan pun diakhiri. Tiara mengambil sesuatu dilaci nakas samping tempat tidurnya. Benda itu adalah sebuah amplop yang akan ia berikan kepada Aryo.
***
Aryo datang ke rumahnya dan meminta izin menemui Tiara kepada Ayah dan Bunda. Andi dan Alifia memberikan mereka izin untuk bertemu dan berbicara berdua.
“Gimana pun kalian masih suami istri. Ayah sama Bunda nggak punya hak melarang Aryo menemui istrinya,” ucap Andi sebelum membiarkan Aryo dan Tiara bicara berdua di ruang tamu.
Suasana malam hari di rumah Tiara sudah sepi karena kedua adiknya sudah tidur. Untung saja Kelvin tidak mendapati Aryo datang ke rumahnya. Adiknya itu kerap kali menanyakan soal Aryo dan alasan kenapa kakaknya kembali ke rumah bukannya tinggal bersama pria itu.
“Aku juga mau bilang sesuatu. Tapi kamu bisa duluan,” ujar Tiara membuka percakapan.
Aryo menatapnya dan pria itu sedikit berdeham sebelum berbicara. “Tiara, aku nggak ingin kita berpisah. Aku akan perjuangin kamu dan pernikahan kita. Aku tahu, kata maaf sebanyak apapun nggak akan pernah cukup untuk mengganti yang terjadi sebelas tahun lalu,” Aryo menjeda ucapannya.
“Semua yang udah kita lewatin, membuat aku punya satu tujuan, yaitu membahagiakan kamu. Aku akan berjuang untuk mengungkap kasus itu, Ra. Aku ingin ayah kamu mendapat keadilan itu.”
“Kamu mau ngelakuin apa?” tanya Tiara mencoba mencerna kalimat yang Aryo utarakan.
“Aku mau orang yang ngelakuin perbuatan itu mendapat balasan yang setimpal.”
Mata Tiara melebar dan ia menatap Aryo seolah omongan pria itu adalah lelucon. “Kamu tau, itu terlalu bahaya dan resikonya besar, Aryo. Kamu nggak bisa ngelawan keluarga kamu sendiri,” ucap Tiara dengan tatapan seriusnya.
“Aku ngelakuin itu sebagai pemimpin perusahaan dan sebagai suami kamu, Tiara. Aku nggak bisa membiarkan dia hidup tenang setelah dia ninggalin luka itu buat kamu.” Aryo mengambil kedua tangan Tiara untuk digenggam dengan tangannya.
“Kamu orang paling keras kepala yang aku tahu,” ucap Tiara.
“Aku tau, Ra,” Aryo menundukkan kepalanya. Sesaat kemudian ia kembali menatap Tiara. “Ohiya, kamu mau ngomong apa ke aku? Aku udah selesai dan aku harap kamu akan mendukung rencanaku.”
Tiara lantas menaruh sebuah amplop putih diatas meja. Aryo melihat benda itu dan melemparkan tatapan tanya pada Tiara.
“Gimana pun keadaan kita sekarang, kamu harus tetap tau soal ini,” ucap Tiara sebelum Aryo membuka amplop ditangannya dan mengambil kertas yang ada di dalam.
Aryo mulai membaca dengan seksama. Surat itu menyatakan hasil pemeriksaan kandungan atas nama Ny. Mutiarani Ivanka Brodjohujodyo yang berasal dari rumah sakit. Setelah membaca isinya, Aryo meletakkan kertas tersebut di atas meja. Tiara pun mendapati tatapan terkejut bercampur haru Aryo yang diarahkan padanya.
“Se-sejak kapan Ra?” ucap Aryo dengan sedikit terbata.
“Kata dokter usianya baru 2 minggu. Waktu diperiksa, kondisinya sehat dan semuanya bagus,” ujar Tiara.
Tiara menatap Aryo dan tersenyum lembut, “Selamat ya. Kamu akan jadi seorang Ayah.”
Aryo nampak terkejut dan berusaha mencerna kalimat yang diucapkan Tiara. “Ra, ini beneran kan?” tanya Aryo ingin memastikan dan Tiara langsung mengangguk.
Aryo menghembuskan napasnya, “Apa dia bikin kamu repot selama ini?” tanya Aryo.
“Sedikit sih. Dokter bilang itu hal yang wajar waktu awal kehamilan,” papar Tiara.
Aryo bergerak dari posisinya, ia lantas berlutut di lantai, lalu berbicara di dekat perut Tiara.
“Hello, little one. Terima kasih ya, kamu telah hadir di antara kita. Kamu harus tau, kita sayang banget sama kamu. Kamu sayang juga sama ibu kamu kan? Kalau gitu, jangan buat ibu terlalu cape ya. Kamu anak hebat, kan?” Aryo mengulaskan senyum bahagia bercampur harunya. Dadanya terasa berdesir hangat dan ia tidak dapat membendung air matanya lagi.
Tiara menyaksikan pertama kalinya Aryo menangis di hadapannya. Dadanya berdegup dan berdesir hingga menimbulkan rona kemerahan di kedua belah pipinya.
“This is such a best gift for me. Terima kasih Ra,” ungkap Aryo.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷