Saat Pabrik Kembali Berproduksi

Karin ingat perkataannya pada Aryan saat ia melepas lelaki itu pergi ke Aussie dua tahun yang lalu. Karin mengatakan bahwa sejatinya kasih sayang dan cinta tidak selalu tentang raga yang bersama. Selama dua orang sejoli memiliki kepercayaan tersebut di dalam hati mereka, memiliki sebuah komitmen yang kuat, maka cinta tidak akan memudar karena terkikis oleh sebuah jarak.

Justru rasa rindu yang begitu menggebu tersebut yang kini sukses menciptakan gelora-gelora cinta di hati Karin. Karin menatap sebuah pintu putih di hadapannya. Sebuah rumah sewa dengan pintu rumah bernomor 87 itu akhirnya terbuka, setelah Karin menekan bel yang ada di samping daun pintu.

“Papa!” Seruan gembira itu seketika terdengar. Nampak sosok lelaki jangkung tengah berdiri di hadapan Karin dan Svarga.

Detik itu juga, Aryan terlihat terkejut mendapati kehadiran Karin dan bocah lelaki yang nampak berbeda sejak terakhir mereka bertemu. Begitu Aryan melihat Svarga tengah menengadahkan wajahnya untuk menatapnya dan merentangkan tangan tanda meminta digendong, Aryan segera membawa anak lelakinya ke dalam gendongannya.

“Papa, we missed you so much,” Svarga mengucapkannya dengan begitu lancar. Seketika mata Aryan berkaca-kaca, anaknya sudah sehebat ini dalam berbicara.

Satu tangan Aryan yang bebas lantas meraih Karin untuk bergabung ke pelukannya. “Papa juga kangen banget sama Svarga dan Mama,” ujar aryan.

Tinggi tubuh Karin yang hanya sebatas bahu Aryan, membuat perempuan itu terlihat mungil saat berada di dekapan lelakinya. Karin lantas menengadahkan wajahnya untuk menatap Aryan, pandangan mereka bertemu, dan itu rasanya sudah cukup membayar semua rindunya selama dua tahun belakangan.

“Anak kita hebat banget. Mama ngajarin apa sih selama Papa nggak ada?” tanya Aryan.

“Aku ajarin bahasa Inggris, membaca, berhitung. Habis ini gantian kamu yang ajarin ya,” ucap Karin sembari menyunggingkan senyum simpulnya. Aryan lekas menganggukinya dan mengajak Svarga bertosan ala lelaki.

“Mama, are you crying?” celetuk Svarga saat melihat mata Karin nampak berkaca-kaca. Seolah dapat merasakan yang tengah Karin rasakan, Svarga berusaha menangkan mamanya itu.

It’s oke, Sayang. Mama ngga papa,” tutur Karin lembut.

“Mama kenapa tadi nangis?” tanya Svarga yang masih penasaran. Karin tahu bahwa anaknya itu pintar dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

“Papa tau kenapa Mama barusan nangis,” ujar Aryan yang seketika membuat perhatian Svarga teralih padanya.

Svarga lantas menoleh pada Aryan dan bertanya, “Emangnya kenapa Pah, Mama kok nangis?”

“Mama was cried because she was happy. Svarga, Papa, dan Mama udah ketemu lagi sekarang, makanya mama *happy. Are you happy too to met me?” tanya Aryan.

Yes! I’m happy Papa. Mama pasti happy banget udah bisa ketemu Papa, soalnya Mama kangen Papa setiap hari,” celotek Svarga.

“Emang Mama bilang apa, Nak?” tanya Aryan berusaha menggali informasi dari anaknya itu.

“Svarga, Mama kan nggak bilang apa-apa,” ucap Karin sembari mengulaskan senyum penuh arti ke arah anaknya.

Namun anak kecil tetaplah pada hakikatnya yang kelewat berbicara jujur. Sambil menampakkan senyum tampannya, bocah laki-laki berusia empat tahun itu akhirnya berujar, “Waktu Mama kangen Papa, pasti Mama nangis. Terus Mama bilang, Svarga, Mama kangen sama Papa. Terus Mama peluk Svarga deh, soalnya kata Mama Svarga mirip Papa.”

“Mana ada Mama kayak gitu,” elak Karin begitu Svarga selesai bercerita. Dua laki-laki beda generasi itu malah mengulaskan senyum penuh arti ke arah Karin. Berikutnya Aryan kembali menarik Karin mendekat saat perempuan itu berusaha menjauh. Aryan lalu menyematkan sebuah kecupan halus di kening Karin. “Bener gitu Sayang, yang dibilang Svarga?” tanya Aryan pada Karin.

Akhirnya dengan perlahan Karin pun mengangguk. Ia tidak bisa mengelak lagi, anak kecil adalah makhluk tersuci suci yang tidak akan bisa berbohong. Jadi pastilah Aryan langsung mempercayai omongan anaknya itu.

Masih sambil mendekap dua cinta di hidupnya, Aryan lantas berujar lagi pada Karin, “Sekarang udah nggak kangen lagi, kan? Kamu bisa peluk Svarga versi dewasanya sepuas yang kamu mau. Gimana?”

***

Karin sebelumnya memang telah mengabari Aryan bahwa dirinya dan Svarga akan sampai besok di Australia. Namun secara tiba-tiba dan tanpa sepengetahuannya, Aryan mendapati istri dan anaknya berada di depan rumahnya. Katakan bagaimana Aryan tidak terkejut? Rasanya melebihi seperti memenangkan sebuah lotre, meskipun dalam hidupnya Aryan belum pernah mendapat hadiah yang biasa bernilai besar tersebut.

Satu jam yang lalu, setelah bermain bersama Aryan, Svarga akhirnya tertidur karena kelelahan. Momen antara anak dan ayah yang baru saja Aryan dapatkan tersebut, rasanya dapat begitu membuat hatinya menghangat. Kini di kamar satunya, Aryan dan Karin tersisa, mereka sedang melepas rindu yang sedikit masih terasa.

Kini Karin dapat kembali merasakan hangatnya berada di pelukan tubuh besar dan kekar Aryan. Seperti yang Aryan katakan, Karin bebas memilikinya. Aryan tidak akan kemana-mana, ia berjanji bahwa mereka tidak akan terpisahkan lagi. Aryan merindukan bagaimana cara Karin mendekap torsonya, bagaimana perempuan itu memberi usapan di pipinya, hingga aroma parfum vanilla bercampur floral segar yang dapat Aryan hirup ketika ia memeluk tubuh Karin.

“Sayang, anak kita sekarang udah pinter banget ya. Pemikirannya, tutur katanya. Dia anak yang hebat, karena dia punya Mama sehebat kamu,” ujar Aryan.

Karin nampak mengulaskan senyum kecilnya, lalu mereka saling bertukar pandang. Posisi Karin kini berada di dalam dekapan lengan kekar Aryan. Satu lengan Aryan dijadikan oleh Karinsebagai bantalan, sehingga dengan posisi menyamping, Aryan dapat memandangi wajah perempuannya begitu lekat.

“Anak kita juga punya Papa sehebat kamu. Setiap hari dia selalu nanyain kamu, kadang dia sendiri yang minta sama aku buat telfon atau videocall Papanya.”

Aryan lantas mengangguk seraya mengulaskan sebuah senyum. Aryan lalu mengatakan pada Karin bahwa dirinya ingin sekali menjadi papa yang bisa menjadi contoh yang baik untuk anak-anak mereka kelak.

“Anak-anak kita nanti?” tanya Karin sambil masih setia menatap Aryan dengan lekat.

“Iya, Sayang. Anak-anak kita nanti.”

Karin nampak berpikir sejenak. Dua detik setelahnya, Aryan mendapati Karin menahan senyuman dengan melengkungkan kedua belah bibirnya ke dalam.

“Tapi kan anaknya belum ada, baru satu,” ucap Karin dengan suara pelannya.

“Yaa … kita bisa bikin lagi dong, Sayang. Aku sih siap kapan aja kamu mau.” Aryan mengucapkan kalimatnya seringan kapas yang terbang terbawa angin.

“Kak,” celetuk Karin kemudian.

“Iya, Sayang?” tanya Aryan seraya mengusapkan satu tangannya di sisi wajah Karin, itu terasa hangat ketika permukaan kulit tangan Aryan menyentuh kulit pipinya.

“Kamu mau nggak kalau kita punya anak lagi dalam waktu dekat?” tanya Karin. Tatapannya begitu dalam dan mendamba ketika menatap Aryan. Hingga rasanya Aryan dibuat hampir ingin gila, persis saat pertama kali mereka melakukan hubungan itu setelah resmi memutuskan bersama.

“Mau dong, Sayang. Kita bisa program untuk itu. Is it okey, kalau kamu hamil lagi? Pekerjaan dan cita-cita kamu, nanti gimana?”

Aryan selalu menanyakannya pada Karin terlebih dulu, lelaki itu selalu menempatkan Karin di prioritas yang pertama. Aryan tahu bahwa Karin mempunyai cita-cita untuk karir modelnya. Masih banyak yang Karin ingin capai di dalam hidupnya dan Aryan akan mendukung perempuan itu untuk mewujudkannya. Kalau Aryan sendiri, ia ingin mereka punya anak lagi, bahkan dalam waktu dekat. Namun ini bukan hanya tentang dirinya, pernikahan berjalan karena adanya dua orang. Jadi, aryan ingin benar-benar memastikan bahwa Karin siap, baik secara fisik maupun mental. Karin yang akan mengandung dan melahirkan, maka keputusan finalnya ada di tangan Karin.

Perlahan tapi pasti, akhirnya Karin mengangguk setuju. Karin mengatakan bahwa ia ingin hamil lagi, ia ingin mengandung anaknya Aryan. Saat Karin mengutarakan jawabannya tersebut, Aryan pun dibuat membuncah dan rongga dadanya terasa berdesir hangat.

Aryan lantas menatap Karin dengan tatapan haru bercampur memuja. Aryan tenggelam ke dalam mata bulat dengan iris legam yang tampak sempurna itu. Dari hanya sebuah tatapan, mereka tahu bahwa mereka sama-sama menginginkannya. Karin lantas balas tatapan Aryan, ia memberikan afeksinya yang besar. Saat seorang lelaki tahu cara mencintai dan menghargai perempuannya, maka ia akan mendapatkan balasan cinta yang lebih besar dari yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Karin, can I have you only for me, for this night?” tanya Aryan lembut. Cara Aryan menatap Karin dengan tatapan penuh memuja dan mendamba seperti ini, membuat Karin tersadar bahwa dirinya tidak akan bisa mencintai lelaki selain Aryan sedalam ini. Kalau bukan Aryan, maka Karin tidak menginginkannya.

“Kak, I’m all yours,” ucap Karin, nadanya yang terdengar begitu tulus.

Aryan mendapati netra Karin memindai menatapnya. Setiap celah paras Aryan, di sanalah iris Karin tertuju. Kemudian seraya mengulaskan senyum lembutnya, Karin kembali berucap, “If it’s not you, then I don’t want to.”

***

Pada hakikatnya, cinta adalah tentang memberi dan menerima. Jika kamu ingin mendapatkan seseorang yang tulus mencintaimu, maka lakukanlah yang terbaik, agar Tuhan yakin bahwa kamu pantas untuk mendapatkannya. Kamu tidak perlu menjadi sosok yang sempurna,kamu hanya perlu melakukan yang terbaik, memberikan versi terbaik yang ada di dalam dirimu.

Aryan teringat saat empat tahun yang lalu, saat di mana dirinya bertemu dengan Karin. Aryan dan Karin hanyalah dua orang asing yang memiliki tembok pembatas yang begitu tinggi. Sampai akhirnya mereka sama-sama berusaha menghancurkan tembok tersebut.

Hingga pernikahan keduanya yang sudah menginjak usia 5 tahun, Karin tetaplah perempuan yang sama. Karin adalah perempuan yang memiliki hati yang begitu tulus dan baik. Karin adalah perempuan yang menghormatinya karena Aryan adalah ayah biologis dari anak yang dikandung Karin. Semenyakitkan apa pun posisi Karin saat itu, tidak sama sekali menggoyahkan hatinya untuk melangkah pergi dari hidup Aryan. Padahal waktu itu Karin bisa memilih pergi dan tidak peduli ketika Aryan hancur. Namun Karin justru datang padanya mengobati luka itu, membalutnya rasa sakit tersebut dengan cinta yang begitu tulus.

Pemikiran monolog Aryan tiba-tiba terpecah begitu terdengar suara pintu kamar yang terbuka. Dari celah pintu yang kecil itu, Aryan dapat melihat sosok Karin yang terlihat begitu menawan. Aryan segera bergerak dari posisinya dan membuka pintu itu lebih lebar.

Begitu sepenuhnya melihat sosok Karin di hadapannya, selama beberapa detik Aryan hanya mampu terdiam di tempatnya. Karin begitu mempesona dengan balutan gaun tidur berbahan sutranya. Aryan sekilas mengalihkan tatapannya dari Karin. Shit, Aryan mengumpat dalam hati. Mengapa sesuatu sudah menegang di bawah sana, padahal belum ada yang terjadi.

“Kak,” ujar Karin pelan, menyadarkan keterdiaman Aryan.

Seketika Aryan kembali menatap ke arah Karin. “Iya Sayang?” tanya Aryan seraya menampakkan senyum canggungnya.

“Kamu kenapa?” Karin nampak heran dengan ekspresi Aryan itu.

Aryan segera menjawab Karin dengan sebuah gelengan kecil. Ketika netra mereka akhirnya bertemu di satu titik dan saling mengunci, Aryan segera meraih lengan Karin dan meletakkannya di satu sisi pundak miliknya. Kemudian Karin merasakan pinggangnya dihela mendekat ke arah Aryan, hingga tubuh keduanya kini hampir saja menempel satu sama lain.

Do you like to dance with me, Sweety?” tanya Aryan dan ia menunggu Karin menjawabnya.

Karin nampak berpikir selama beberapa detik. Alis Karin menyatu, detik berikutnya ia berujar, “It sounds nice tho. But … I think, mostly women don’t like question.”

Karin menahan senyumannya begitu melihat kerutan muncul di kening Aryan. Karin sengaja melakukannya. Ia ingin mendapati berbagai ekspresi lucu lelakinya dan hanya boleh diperlihatkan di depannya saja, khusus untuknya.

Oke, we will see. Uhm ... I want to have a dance with you this night, would you like to?”

It’s still a question,” ucap Karin.

Alright, alright.” Kemudian Aryan berdeham dua kali dan sambil masih menatap Karin dengan tatapan penuh arti, ia kembali berujar, “Hai, Sweety. You look really wonderful this night. I adore you so much. I will give you the best of me, not a perfectness. Because when I’m with you, I’m already feel perfected. So please, have a dance with me.”

Detik berikutnya, Karin nampak mengulaskan senyum manisnya. Kemudian menggunakan satu tangannya, Karin mengusap sisi wajah Aryan dengan lembut. “Sure. I want to dance with you this night,” ucap Karin sambil kemudian meraih tangan Aryan, lalu Karin menyelipkan jemarinya di antara jemari besar milik prianya.

couple dancing close up

***

Udara di luar rumah yang saat ini terasa cukup sejuk, membuat beberapa orang memilih menghabiskan waktu akhir pekan mereka untuk berada di dalam rumah. Ini hampir mencapai akhir tahun, di mana di negara Australia sedang mengalami musim dingin. Salju turun cukup deras hingga memenuhi jalanana, dan rasanya heater di dalam rumah hampir gagal menjalankan tugasnya. Namun itu menjadi cukup bagus dan kini semuanya terasa sempurna untuk Aryan dan Karin. Cuaca telah menyempurnakan suasana romantis yang Aryan dan Karin telah ciptakan sebelumnya.

Di dalam kamar bernuansa putih itu, setelah usai berdansa ditemani sebuah lagu klasik yang sebelumnya telah di setel oleh Aryan, keduanya kini tengah saling mencumbu bibir satu sama lain.

Gif kiss close up

Karin masih mengenakan gaun sutranya, Aryan bilang lebih baik begitu untuk sementara. Lelaki itu tidak ingin Karin nanti kedinginan. Padahal sesuatu dari dalam diri Aryan telah bergejolak, otaknya memberi seruan agar ia segera menggalkan gaun tersebut dari tubuh Karin.

Ketika beberapa saat mereka mengurai cumbuan untuk saling mengambil napas, netra Karin yang sebelumnya menatap netra Aryan, kini perlahan-lahan turun ke arah bibir penuh pria itu. Karin memperhatikan belah bibir itu lekat, lalu ia berujar dengan lembut, “I missed this so bad.” Karin masih di sana, mengagumi bentuk ciptaan yang maha kuasa, matanya lantas nampak sedikit berkaca-kaca. “Dua tahun rasanya lama banget ya,” ujar Karin pelan.

Karin lalu menengadahkan wajahnya untuk kembali mempertemukan netranya dengan netra Aryan. Mereka sama-sama menunggu momen ini terjadi, melalui penantian demi penantian yang rasanya begitu panjang. Ada rindu yang terasa menyiksa, ada hangat tubuh dan aroma khas yang begitu didambakan.

Sebelum kembali melakukannya, Aryan memberikan usapan lembut di pipi Karin menggunakan ibu jarinya. Detik berikutnya, dengan sedikit menundukkan kepala, Aryan akhirnya bergerak mencumbu halus belah bibir Karin. Wanitanya menyambutnya dengan begitu mesra, rasanya ada rindu yang coba Karin salurkan melalui bibirnya yang kini membalas pagutan bibir Aryan.

Aryan pun memperdalam cumbuannya, seperti menikmati mie kuah favoritnya, begitu lah kira-kira gaya yang Aryan gunakan untuk memuaskan wanitanya. Ketika Aryan bergerak mempercepat temponya, ia dapat merasakan hembusan napas Karin dan mendengar lenguhan indah dari bibirnya, dan itu berhasil mengalirkan gelora-gelora asmara di sekujur tubuh Aryan.

Peluh nampak membanjiri pelipis Karin, selama mereka masih bercumbu, Aryan pun berusaha membantu Karin untuk mengusapnya. Dari pelipis hingga turun ke sisi wajah, rahang, dan kini tangan Aryan berhenti di pinggang ramping Karin. Aryan memberikan usapan sensual di sana, lelaki itu melakukannya dengan begitu apik. Karin juga memberikan respon yang baik, ia menahan tangan Aryan yang tengah berada di bagian belakangnya, mengisyaratkan lelaki itu untuk mengusap dua kembar miliknya di sana.

“Kak …” ucap Karin dengan napasnya yang terengah-engah.

“Iya, Sayang?” balas Aryan, ia menghentikan ciumannya, lalu sedikit menjauhkan wajahnya dari Karin untuk dapat menatapnya.

“Gerah banget, Kak,” Karin masih berusaha mengatur napasnya yang naik turun. Karin lantas mengalungkan kedua lengannya di leher Aryan, perempuan itu sedikit berjinjit agar pandangannya dapat lurus sejajar dengan Aryan.

Just open it, my gown,” ucap Karin lagi.

You sure?” tanya Aryan ingin memastikan.

Karin segera menganggukkan kepalanya. Berikutnya Aryan langsung bergerak mendekap tubuh Karin dengan kedua lengannya. Karin merasakan tangan Aryan sudah beranjak ke pundaknya, Aryan perlahan-lahan menurunkan gaun sutra itu dari sana, hingga bahu Karin kini tampak polos. Aryan menghujani kecupan-kecupan kecil di pundak Karin, tapi seperti yang sudah-sudah, itu tidak akan cukup di satu area. Aryan pun melancarkan kecupannya ke tulang selangka Karin dan menjelajahi hampir semua bagian leher wanitanya. Saat Aryan semakin dalam mencumbu, Karin memberikan usapan lembut di area belakang kepalanya, jemari lentik Karin menyelinap di antara helai halus surai legam milik Aryan.

You’re scent smell so good, Sweety,” ucap Aryan saat pria itu akhirnya selesai dengan kegiatannya. Aryan masih terengah di sana, rasanya seperti habis melakukan workout lebih dari 20 menit. Hampir semua tubuh bagian atas Karin telah Aryan jamah, gaun merah, tentu sudah tanggal dan terpental entah kemana.

Netra Aryan kini dengan jelas disuguhi tubuh bak jam pasir milik Karin. Hanya tersisa sebuah bra renda hitam dan underwear putih yang menutupi istrinya. Surai panjang Karin yang tergerai sepanjang punggungnya, menambah pesona menawan perempuan itu. Anggun dan cantik, Aryan hampir gila karena peringai Karina saat ini.

Damn it, you’re look freaking pretty, Sweety,” ujar Aryan dengan suaranya yang terdengar sedikit serak.

Karin lantas mengarahkan telunjuknya dan berhenti tepat di depan bibir Aryan, “Language, Baby,” ucap Karin seraya menampilkan sebuah senyum cantik di wajahnya.

Okey, I’m sorry Sweety. Aku tadi kelepasan.”

Karin tertawa pelan sekilas. “Oke then, it's oke. I think uhmm ... I like that, when you’re cursing.”

Really?” tanya Aryan sambil tersenyum, tapi ia masih tidak percaya kalau Karin justru menyukainya.

Yes. You look really hot while you’re doing it.”

You want more?” tanya Aryan.

Karin mengangguk sekali, “Hu-um, just do it when we’re doing it,” Karin menatap Aryan lekat, lalu ia kembali berujar, “And only for me*.” Karin menyukainya, ketika Aryan melakukannya. Umpatan yang justru terdengar manis saat Aryan mengucapkannya, serta gayanya ketika berbicara, membuat Karin ingin mendengarnya lagi dan lagi. Hanya ketika mereka melakukannya, hanya ketika mereka sama-sama dimabuk asmara. Mereka telah begitu jatuh satu sama lain, jatuh yang indah untuk yang kesekian kalinya.

***

Karin mengucapkan terima kasih kepada Aryan atas segalanya. Perlakuan pria itu padanya, selalu dapat membuat Karin merasa begitu dicintai. Aryan bersedia menunggu Karin menemui puncak pelepasannya. Mayoritas pada beberapa wanita, membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menemui ujung sensasi kenikmatan saat bercinta, dibandingkan dengan pria yang biasanya bisa lebih cepat.

“Sayang, udah?” tanya Aryan sambil memperhatikan Karin yang berada di bawahnya. Napas Karin berhembus naik turun. Kemudian dengan perlahan, Karin menjawab dengan sebuah anggukan. Karin telah menemui pelepasannya, setelah mereka melakukannya beberapa kali, dari malam hingga kini waktu menunjukkan pukul 2 dini hari.

“Kak, you are so amazing. I adore you, truly,” ucap Karin dengan suara pelan. Karin memejamkan matanya secara otomatis, ketika merasakan cairan hangat kini tengah memenuhi miliknya di bawah sana.

Saat Karin kembali membuka matanya, Aryan menatapnya lekat dan pria itu berujar, “You are more amazing, Sweety. Thank you for everything that you gave to me.” Aryan memberikan dua kali usapan lembut di kepala Karin.

Karin hanya menatap ke binar indah di mata Aryan ketika lelaki itu bergerak sekali lagi di atasnya. Gerakan indah pinggul Aryan saat mereka melakukannya, selalu membuat Karin terpana.

Begitu Aryan memperdalam miliknya pada milik Karin, Aryan memberi kecupan penuh cinta di bibir Karin. Karin bercucuran air mata, ketika sepenuhnya dirinya telah dipenuhi oleh Aryan. Karin tidak lagi memejamkan matanya, ia ingin melihat mata Aryan. Karin ingin merasakan pancaran cinta yang lelaki itu berikan untuknya.

“Aku lepas ya, Sayang?” Aryan bertanya lagi pada Karin.

“Iya, tapi pelan-pelan ya,” jawab Karin.

Aryan lantas menganggukinya. Setelah menyemburkan cairannya di surganya dengan cara menghentaknya sekali lagi, sebisa mungkin, Aryan pun melepaskannya dengan lembut. Selama proses itu terjadi, suara Karin yang sangat seksi mengelukan namanya terdengar memenuhi indera pendengaran Aryan. Karin mengelukan nama Aryan, bahkan hingga beberapa kali dan diiringi oleh dua buah umpatan.

Babe, language,” ucap Aryan sambil tertawa kecil.

Karin segera mengatupkan bibirnya. Saat Aryan bergerak mengambil selimut untuk mereka berdua, Karin mengatakan bahwa dirinya juga kelepasan mengucapkannya begitu saja. Berikutnya Aryan justru mendapat tatapan memicing dari Karin.

“Kamu bilangnya tadi mau langsug dilepas. Malah tambah cepet,” omel Karin.

Aryan mau tidak mau akhirnya tergelak. Wajah istrinya terlihat menggemaskan saat ini. “Kamu gemes banget sih kalau lagi ngomel gini,” ujar Aryan.

“Apaan tuh maksudnya tadi. Kenapa nggak langsung dilepas?” Karin masih menggerutu.

Bukannya dapat jawaban, Karin justru merasakan tubuhnya langsung didekap oleh Aryan. Perlahan tapi pasti, Karin balas melingkarkan kedua lengannya di tubuh besar Aryan.

“Tadi masih sisa sedikit, Sayang. Siapa tau di antara yang terakhir itu ada calon anak kita, kan sayang kalau dibuang gitu aja,” ujar Aryan.

Detik berikutnya, Karin bergerak mengurai pelukan mereka. Mata bulat Karin kini semakin terlihat besar kala menatap Aryan.

“Kamu nih ya, iseng banget sih. Kebiasaan,” ujar Karin.

“Tapi kamu suka, kan?” tanya Aryan dengan nada jenakanya.

“Suka, tapi sakit. Besok kalau aku nggak bisa jalan gimana.”

“Kalau besok kamu nggak bisa jalan, kamu istirahat aja di kasur. I will service you, my queen. Kamu mau apa? Aku turutin semuanya buat kamu.”

Karin mana bisa lama-lama mempertahankan rasa marahnya pada Aryan kalau begini caranya. Tingkah suaminya itu terlalu manis untuk dilewatkan. Karin tidak sanggup kalau Aryan sudah mengeluarkan jurus-jurus cintanya seperti tadi.

“Dimaafin nggak akunya?” tanya Aryan, suaranya terdengar lembut.

“Iya, aku maafin,” ucap Karin akhirnya.

“Maafin aku ya Sayang, janji deh nggak kayak gitu lagi. Okey?”

Karin mengangguk sekali. Kemudian tanpa Aryan sangka, Karin lebih dulu bergerak memangkas jarak mereka untuk mendekap tubuh Aryan. Karin memberikan usapan sayang di punggung polos Aryan. Saat keduanya hampir saja terlelap, rupanya Karin kembali membuka matanya.

“Kak, aku mau dipangku sama kamu,” celetuk Karin.

Aryan sedikit terkejut akan permintaan Karin itu. Namun ia telah berjanji untuk menuruti semua keinginan Karin. Maka akhirnya mereka bergerak untuk merubah posisi. Masih dengan tubuh yang polos, Aryan duduk dan menyandarkan punggungnya ke header kasur. Kemudian Karin mengambil posisi di atas pangkuan Aryan, Karin melingkarkan lengannya di pundak Aryan dan menyandarkan kepalanya di bahu lebar lelaki itu.

Katanya Karin ingin tidur dengan posisi mereka seperti ini. Karin sudah mulai mengantuk ketika sepuluh menit berlalu, tapi sebelum sempat memejamkan matanya, Karin mendongak lagi kala mendengar perkataan Aryan.

For the first time I heared you cursing, it is so cute, Sweety,” ujar Aryan.

It’s because of you,” balas Karin. Matanya terpejam, tapi jiwa Karin masih di sana.

Can I hear it again?” tanya Aryan.

Karin lantas bertanya dengan satu alisnya yang terangkat, “Hadiahnya apa kalau aku lakuin?”

“Hmm … hadiahnya satu paket ciuman dari Aryan Sakha. Gimana?”

Oke, deal. Tapi kasih hadiahnya dulu, nanti baru aku lakuin,” ucap Karin.

Aryan lantas mengangguk setuju. Kemudian dengan sedikit memiringkan kepala, Aryan mulai bergerak mengulum bibir Karin. Selama itu terjadi dan semakin jauh mereka bercumbu, Karin yang semula membaringkan tubuhnya pada dada bidang Aryan, kini telah menegakkan punggungnya. Masih duduk di atas pangkuannya Aryan, Karin pun membalas lumatan demi lumatan yang Aryan berikan padanya.

couple kissing sit down

“Akhh …” lenguh Karin sesaat setelah Aryan melancarkan lidahnya ke dalam rongga mulut Karin. Karin merasakann ini begitu nikmat, hingga tubuhnya memberi respon cepat, menggeliat mengikuti irama penyatuan tersebut.

Aryan mendekatp tubuh Karin untuk masuk kedalam pelukan hangatnya. Peluh mereka yang saling bertukar, merdunya lenguhan Karin, semuanya terasa begitu sempurna. Tidak hanya itu, Aryan tidak pernah lupa memberikan service luar biasa pada Karin. Jemari Aryan menari di punggung polos Karin, memberikan sensasi menakjubkan untuk wanitanya.

Shit.” Umpatan Karin akhirnya lolos begitu saja dari mulutnya. Mereka pun menjauh sesaat, Karin menatap Aryan dengan pandangan penuh cintanya, lalu tidak lama dari itu, Karin menangkup kedua sisi wajah Aryan menggunakan kedua tangannya. Sebelum kembali mencumbu milik prianya, Karin pun berujar, “I want you more, again, and always.”

Karin menjelajahi wajah Aryan, lalu Karin memberi ciuman di bibir lelakinya. Di sela-sela kegiatan tersebut, Karin tanpa sadar mengumpat lagi. “Fuck,” ujar Karin dengan napasnya yang tidak beraturan. Saat Aryan menatapnya sambil menampilkan senyum manisnya, Karin sadar bahwa ia sungguh dibuat gila karenanya.

Let’s do it again before we get sleep,” ujar Karin kemudian.

Aryan segera mengangguk, lalu netanya menjejalajahi paras cantik Karin. Sebelum hendak kembali mencumbu bibir manis Karin, Aryan mengatakan sesuatu. “Sayang, kemungkinan kamu bisa langsung hamil lho kalau gini.”

It’s good then,” balas Karin sambil menampakkan senyum kecilnya. Karin masih menatap Aryan lekat, ia mengatakan bahwa ada informasi yang perlu Aryan ketahui. “Kalau perhitungan aku nggak salah, ini hari ke sepuluh setelah hari pertama aku datang bulan.”

Aryan nampak mencerna ucapan Karin itu. Sebagai seorang suami, Aryan lumayan cukup tahu tentang cara menghitung siklus masa subur seorang perempuan. Perempuan biasanya menghitung masa subur mereka dari hari pertama menstruasi terakhirnya. 10-17 hari sejak hari tersebut, maka itulah yang dikatakan masa subur bagi seorang wanita.

Kedua kelopak mata Aryan lantas melebar. Detik berikutnya, mereka bersamaan mengulaskan sebuah senyuman.

“Sayang, kamu mau berapa babak lagi? We can do it until dawn if you want it too,” ujar Aryan.

“Kamunya kuat emang? Nggak capek?” tanya Karin sambil memicingkan matanya.

Aryan selalu punya jawaban di kepalanya. Lantas sambil menyunggingkan senyum menggoda, lelaki berparas orientel itu berujar, “Kamu bisa buktiin sendiri, seberapa kuat suami kamu, Sayang. You want to prove it?”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷