Sebuah Pengampunan
Aryo sampai di penthouse dan langsung menuju kamarnya. Pria itu membuka pintu kamar dan langsung melenggang untuk masuk. Setelah meletakkan kunci mobilnya dan melonggarkan dasi di kerah kemejanya, ia bergerak menghampiri Tiara di atas kasur.
“Hey ... ” sapa Aryo sembari menyematkan sebuah kecupan di pucuk kepala Tiara.
Beberapa detik kemudian setelah mereka berpelukan ringan, Tiara membalikkan tubuhnya untuk menghadap Aryo.
“Maaf, aku nggak bisa nemenin kamu datang ke sidang final hari ini,” ujar Tiara dengan suara pelannya. Hari ini Tiara merasa kurang enak badan dan Aryo pun memintanya untuk tidak ikut ke persidangan.
“Nggak papa, Sayang. Oh iya, kamu nggak ingin tau hasil putusan Majelis Hakim?”
Tiara terdiam dan tidak langsung menjawab pertanyaan Aryo. Aryo yang melihat itu menjadi sedikit khawatir. “Aryo, ak-aku ....” Tiara berucap terbata dan matanya kini nampak berkaca-kaca.
Air mata sukses mengalir dari kedua pelupuk mata Tiara dan napasnya terdengar tidak beraturan. Aryo pun berusaha menenangkannya dan membawa torso Tiara ke dalam dekapannya.

Selama kurang lebih sepuluh menit, Aryo hanya membiarkan Tiara menangis sesenggukkan di pelukannya. Tiara menumpahkan semua rasa sakit yang telah ia pendam selama ini. Saat tangis Tiara mulai reda, Aryo memberikan kata-kata penenang dan mengusap punggungnya dengan gerakan vertikal, berharap Tiara dapat merasa lebih baik.
“Nggak papa kalau kamu mau nangis,” ujar Aryo pelan di dekat Tiara.
Mereka mengurai pelukannya, Aryo mendapati mata Tiara nampak dan keduanya kini hanya saling menatap.
“Aryo, aku yang udah menyebabkan retaknya keluarga kamu. Aku masih marah atas kepergian ayah dan bunda. Maafin aku,” ucap Tiara.
Aryo menangkup kedua sisi wajah Tiara, “Kamu nggak boleh ngomong gitu, yaa?” titah Aryo. Ia mengatakan kalau Tiara tidak pantas berpikir bahwa ia penyebab terpecah belahnya keluarga. Semua yang terjadi memiliki sebab akibatnya, dan Reynaldi pantas mendapat akibat dari semua perbuatannya di masa lalu.
Selama sebelas tahun, Tiara mencoba menyembunyikan semua rasa marah dan dendam tersebut. Namun pada akhirnya, semua itu meluap ke permukaan. Setelah cukup lama dirinya terlihat baik-baik saja di luar, tanpa orang lain tahu, Tiara begitu terluka di dalam. Tiara tidak dapat mencurahkan seluruh emosinya bahkan di hadapan Andi maupun Alifia. Ketika ia menikah dengan Aryo, Tiara merasa afeksinya terpenuhi dan ia bersedia membagi rasa sedihnya di hadapan pria itu.
Tiara mengulaskan senyumnya saat dirinya sudah merasa lebih baik. Mendapati Aryo menatapnya dengan jarak sedekat ini, membuat Tiara malu. Apalagi matanya terasa sulit untuk dibuka sehabis menangis dan mungkin wajahnya terlihat bengkak.
“Mukaku bengkak ya?” tanya Tiara.
“Engga, Sayang.” Aryo tersenyum sembari menyelipkan helaian rambut Tiara ke belakang telinga.
“Udahan nangisnya? Kamu udah ngerasa lebih baik?” tanya Aryo.
Tiara mengangguk. “Udah,” ujar Tiara sambil mengusap kedua matanya.
Selama beberapa detik, keduanya hanya saling menatap satu sama lain. Tiara berusaha menenangkan pikirannya. Ia mendapati Aryo berada di sisinya, mendekapnya, dan itu sudah lebih dari cukup bagi Tiara untuk merasa lebih baik.
“Ra,” ujar Aryo.
“Hmm?”
“Aku nggak akan pernah bisa menghapus kenangan itu dari memori kamu. Itu akan tetap ada dan mungkin sesekali kamu akan teringat. Kalau kamu ingin meluapkannya lagi kayak tadi, kamu boleh melakukannya,” tutur Aryo.
Tiara mengangguk, “Kamu bener, aku nggak akan bisa ngelupain itu. Tapi bedanya, sekarang aku punya kamu. Kehadiran kamu yang buat aku berdamai sama ego dan rasa sakit itu. Aku juga belajar banyak hal dari kejadian ini,” ungkapnya.
“Ohya? Apa yang kamu pelajari?”
“Aku harus menerima dan memaafkan, walaupun kadang aku masih mikir, dia nggak pantas dapat pengampunan itu. Luka itu nggak akan hilang, tapi rasa sakitnya nggak akan mengontrol aku lagi. Aku udah maafin dia,” ungkap Tiara.
Detik berikutnya, Aryo mendapati senyum cantik Tiara yang selalu di tunggunya ketika menatap paras itu. Senyum yang Aryo tahu adalah tanda bahwa wanitanya benar-benar sudah merasa lebih baik. “You are so amazing, Ra,” ujar Aryo.
Tiara meletakkan tangannya di sisi wajah Aryo lalu ibu jarinya memberikan usapan lembut berulang di sana.
“Kamu perempuan hebat dan kuat. Aku bangga banget sama kamu. Makasih ya Ra, kamu udah bertahan di sisi aku,” tutur Aryo.
“Aku mau tanya sesuatu sama kamu, boleh?” tanya Tiara.
“Sure.”
“Kemarin kamu beneran nangis di depan bodyguard kamu?” tanya Tiara yang kini berusaha menahan senyumannya.
Aryo menghela napasnya, “Mama cerita lagi sama kamu?” tanyanya.
“Mama cerita banyak lah pokoknya. Tapi bener sih yang mama bilang. Kamu badannya doang L-men, hatinya mah bebelac.” Akhirnya tawa Tiara menyembur juga.
“Kamu udah bisa ketawa? Barusan aja nangis sampai sesenggukkan gitu,” ledek Aryo.
Tiara mencebikkan bibirnya, “Kan kalau nangis jadi jelek. Masa kamu mau liat istrinya jelek sih? Aneh.”
“Mana jelek? Masih cantik gini.” Aryo mengarahkan tangannya untuk mengunyel-nguyel pipi gembil Tiara.
“Aryo ... pipi aku tambah gede ya kayaknya?” tanya Tiara.
“Iya nih. Kamu jadi chubby.”
“Serius? Aku nimbang sih kemarin udah naik tiga kilo. Kata dokter bisa naik lebih dari sepuluh kilo sampai sembilan bulan nanti.”
“Ya nggak papa dong.”
“Yakin? Bukannya kamu suka liatin cewek-cewek yang langsing di Instagram,” ujar Tiara.
“Mana ada, Sayang,” balas Aryo dan ia memerhatikan raut wajah Tiara yang berubah sedikit murung. “Aku nggak liat lagi, deh. Janji,” imbuh Aryo.
“Berarti kamu emang liat kan?”
“Itu muncul di explore, Sayang. Kamu mau log in Instagram aku?”
“Buat apa?”
“Kalau kamu nggak suka, kamu boleh block atau unfollow. Beres, kan?”
Tiara menyipitkan matanya dan sedetik kemudian senyum semringah muncul di wajahnya. “Aryo, aku nggak pernah nangis kayak tadi. I don't know, I'm just felt so emotional today.”
“It’s oke.” Aryo mengusap sisa peluh di wajah Tiara menggunakan kedua tangannya.
Tiara mendekatkan dirinya pada Aryo, “Peluk lagi,” ujarnya.
“Iyaa, sini,” balas Aryo sambil menyunggingkan senyumnya.
“Cium,” cicit Tiara ketika Aryo sudah mendekapnya.
“Cium apa?”
“Cium pipi.”
“Cium ini enggak?” tanya Aryo sambil menunjuk bibir Tiara menggunakan jari telunjuknya.
“Enggak,” jawaban Tiara membuat Aryo mengernyitkan alisnya. “Enggak nolak maksud aku,” sambung Tiara.
“Mau berapa kali?” tanya Aryo.
“Bebas. Terserah pak Bos aja.”
“Oke, akan dilaksanakan. Sesuai permintaan Nyonya Besar.”
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷