Sebuah Sirine Pengingat

Aryo dan Tiara telah membayar kebutuhan yang mereka beli. Terdapat beberapa perabot untuk mengisi rumah yang akan mereka tempati nanti setelah menikah.

Salah satu bodyguard Aryo mengantar sebuah mobil yang lebih normal untuk tuan dan calon nyonya mereka. Bagi Tiara, mobil ini tampak lebih baik di bandingkan tesla X yang pintunya di buka ke atas itu. Lantas Aryo meminta supirnya untuk memberikan kunci mobil padanya dan beliau pun dibebas tugaskan.

“Saya mau nikmatin waktu berdua sama calon istri saya. Kalian saya bebas tugaskan,” ucap Aryo sambil menatap Tiara diiringi senyuman tipisnya. Tiara sedikit terkejut saat lengan Aryo merangkul pinggangnya, sehingga tubuh rampingnya kini menempel dengan pria itu. Kemudian Aryo meraih dan menggenggam tangannya ketika mereka berjalan menuju parkiran, tempat di mana mobil yang dibawakan bodyguard-nya itu berada.

“Tiara, nanti di rumah cuma akan ada dua asisten utama yang tugasnya menjaga keamanan dan kebersihan. Karena lo milih untuk tinggal mandiri dan gue udah nurutin permintaan lo. Jadi, kerjaan rumah yang ringan-ringan bakal kita kerjain berdua. Lo mau ambil bagian apa?” papar Aryo ketika mereka sampai di parkiran khusus pemilik akses VVIP.

“Lo sangat mampu membayar asisten untuk mengurus rumah, Bapak Aryo Bimo Brodjohujodyo. Kenapa gue harus repot-repot bersihin rumah? Tinggal tambah asisten lagi untuk ngurus masalah itu,” ucap Tiara yang tidak terima dengan keputusan Aryo itu. Tiara lantas melepaskan tangannya dari genggaman Aryo. “Untuk apa gue nikah sama calon pewaris Harapan Jaya kalau—”

“Kalau apa?” Aryo memangkas jaraknya dengan Tiara, hingga saat ini wajahnya hanya berjarak sekitar dua centi dari gadis itu.

“Gue nggak pernah minta lo nikah sama gue, remember that fact. Keluarga lo yang meminta—no. Mereka menggunakan reputasi keluarga gue, supaya kita bisa menikah. Are you forget about that?” tanya Aryo.

“Lo nggak perlu bawa orang tua gue dalam hal ini. Lagian lo juga dapet keuntungan dari pernikahan ini. Lo selalu mikirin caranya nyelamatin reputasi lo untuk dapetin posisi pewaris itu, kan?” Tiara meninggalkan Aryo masuk ke dalam mobil lebih dulu. Aryo langsung menyusul calon istrinya itu dengan langkah besarnya.

Di dalam mobil, keduanya pun terjebak dalam suasana hening selama beberapa detik, hingga Aryo memutuskan untuk membuka suaranya lebih dulu.

“Tiara, gue minta maaf. Gue akuin, ucapan gue tadi keterlaluan,” ungkap Aryo dengan penuh penyesalan dalam nada bicaranya.

“Gue mau ada perjanjian di antara kita.” Tiara pun mengalihkan tatapannya dari jendela pada Aryo yang berada di sampingnya.

“Perjanjian apa?”

“Kita tetep dua orang asing walaupun kita udah nikah. Gue yakin lo tau maksud gue,” ujar Tiara.

You can got it. Tapi gue nggak bisa janji, kalau keluarga nggak akan nuntut sesuatu dari kita.”

“Maksud lo?” Kedua alis Tiara bertaut. Ia tidak mengerti maksud perkataan Aryo itu.

Aryo meletakkan satu lengannya di atas stir mobil, lantas ia menatap Tiara dengan lekat, “Kita nggak tau, kapan perusahaan bakal tau soal pernikahan kita terjadi karena skandal tersebut.”

“Itu cuma bakal jadi urusan lo, Aryo. It’s not gonna be my business at all.” Tiara tidak habis pikir kenapa pernikahannya menjadi serumit ini.

“Semua orang tau kita akan nikah, Tiara. Menurut lo, apa artinya sebuah pernikahan tanpa adanya seorang anak?” Pemaparan Aryo itu layaknya sebuah sirine di dalam kepala Tiara. Sirine yang mengingatkannya kembali bahwa pernikahannya dengan Aryo adalah hal yang nyata adanya. Mereka akan menikah secara sah di mata agama dan hukum. Mereka memiliki hak yang akan didapatkan. Di samping itu, ada juga kewajiban yang harus dilaksanakan sebagai suami dan istri.

Tiara tidak memikirkan sampai sejauh itu, bahwa dirinya dan Aryo harus secepatnya memiliki anak. Setelah Aryo menjelaskan padanya, pria itu menyalakan mesin mobilnya dengan Tiara yang tetap bergeming. Selama perjalanan, tidak ada percakapan yang terjadi hingga Tiara melihat pemandangan di depannya adalah pagar rumahnya.

“Aryo,” ucap Tiara ketika Aryo menarik rem tangan mobilnya.

“Kenapa?”

“Bisa kan, kita tunda dulu?” pinta Tiara. “Kita tunda satu tahun dengan alasan gue harus fokus kuliah,” sambungnya dengan wajah memelas.

“Terus mereka akan semakin mempertanyakan, kenapa lo mau nikah sama gue secepat ini? Lo punya jawabannya?”

Tiara menatap Aryo dengan tatapan nyalangnya. “Gue akan bilang, kalau gue pengen nikah sama lo karna uang. Gue nggak punya alasan selain itu,” Tiara membuka pintu mobil dan melangkah pergi sebelum Aryo sempat membalas perkataannya. Di dalam sana, Aryo sedang berusaha menahan gejolak emosinya karena baru saja menghadapi kelakuan ajaib calon istrinya itu.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷