Sebuah Solusi Terbaik
Koridor lantai 5 gedung tersebut terlihat lumayan ramai oleh lalu lalang orang. Di jam seperti ini, biasanya para mahasiswa maupun mahasiswi menggunakan waktu istirahat mereka untuk makan siang. Sama dengan yang dilakukan oleh Karin, perempuan itu berniat keluar kelas untuk ke kantin, tapi langkahnya seketika terhenti kala mendapati sosok yang fameliar di depan kelasnya.
Begitu melihat keberadaan Karin, lelaki bertubuh tinggi itu langsung menghampirinya.
“Karin, aku mau ngomong berdua sama kamu,” ucap Aryan. Setelah kejadian di lapangan waktu itu, dimana Aryan mengetahui fakta bahwa Karin tengah mengandung darah dagingnya, Aryan baru menemuinya lagi. Aryan menjelaskan maksudnya bahwa ia ingin membicarakan soal apa yang saat ini terjadi di antara mereka.
“Oke.” Hanya itu yang terlontar dari bibir Karin setelah Aryan mengutarakan maksudnya menemui Karin siang ini.
Karin mengikuti langkah Aryan, berjalan di sisinya. Saat mereka melewati beberapa orang, Aryan dan Karin tidak dapat mencegah orang-orang itu untuk tidak menatap ke arah mereka dengan tatapan ingin tahu. Selama ini yang publik tahu adalah Aryan kekasihnya Shakina. Aryan nampak tidak peduli dengan tatapan mereka. Terkadang kita hanya perlu membiarkan publik untuk menerka-nerka, karena tidak semuanya perlu menjadi bahan konsumsi.
“Kita ngobrolnya sambil makan siang. Kamu mau makan sesuatu?” tanya Aryan pada Karin. Otomatis Karin menghentikan langkahnya dan memberikan atensinya kepada Aryan.
Karin pun menjawab bahwa ia ingin makan fast food yang ada di dekat gedung fakultas mereka.
“Oke. Kita ke sana,” putus Aryan.
***
Aryan memerhatikan Karin menikmati makanannya dan tampak sangat lahap. 15 menit pun berlalu dan Karin selesai lebih dulu dibandingkan dengan Aryan. Jadi sekarang giliran Karin yang menonton Aryan menghabiskan makanannya.
Tidak lama berselang, Aryan sudah selesai dengan makanannya. Lelaki itu meneguk colanya lebih dulu, lalu mengatakan pada Karin bahwa ia akan memulai pembicaraannya.
Karin merapikan piring bekas makannya sekalian milik Aryan. Ia menggeser itu untuk menjauh, sebelum Aryan membuka suaranya.
“Karin, kamu tau kan ini nggak mudah buat kamu,” ucap Aryan sambil menatap iris legam Karin. “Aku mau nawarin kamu solusi yang terbaik untuk kita berdua,” sambung Aryan.
“Maksud kamu solusi apa?” tanya Karin yang belum memahami maksud perkataan Aryan sepenuhnya.
“Kita masih terlalu muda untuk jadi orang tua. Kamu paham itu kan?” tutur Aryan.
Karin memandang Aryan selama beberapa detik. Saat ini ia sudah sangat mengerti maksud dari kalimat yang Aryan lontarkan padanya.
Karin berujar tanpa berniat mengalihkan tatapannya dari Aryan, “Nggak papa kalau kamu nggak menginginkan anak ini. Tapi aku nggak mau kehilangan dia.”
“Kamu nggak bisa rawat dia sendiri,” ujar Aryan lagi.
“Aku bisa,” kekeuh Karin.
Aryan berusaha menjelaskan pada Karin tentang situasi yang terjadi. Mereka tidak saling mencintai, bagaimana mungkin dapat bersatu. Karin memiliki kekasih, begitupun dengan Aryan. Aryan memberi solusi pada Karin untuk menggugurkan kandungannya, pikirnya itu yang terbaik untuk masa depan Karin juga.
“Aryan, mungkin solusi itu yang terbaik buat kamu,” ujar Karin.
Aryan menatap Karin dengan tatapan bertanyanya.
Karin kembali menatap Aryan lekat, “Tapi satu hal yang perlu kamu tau, anak ini nggak salah apa-apa. Aku berhak untuk memperjuangkannya, karena dia juga anakku. I think you understand,” pungkas Karin.
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷