Seperti pelaksanaan pemotretan pada umumnya, studio bernuansa putih kini nampak dipenuhi oleh beberapa orang yang telah memiliki perannya masing-masing. Dari mulai fotografer, asisten fotografer, pengarah gaya, pengatur lighting, make up artist, stylist, dan masih banyak lagi pekerjaan lainnya di sana. Tentunya dibalik hasil foto yang bagus, terdapat banyak pekerjaan para profesional yang prosesnya juga tidaklah mudah.

“Oke, good. One more take again,” seru seorang fotografer yang kini tengah melakukan pemotretan.
“Coba sebentar, tambah bunganya lagi. Lipstiknya jufa sedikit kurang glossy kelihatannya,” ujar pengarah gaya tepat sebelum sang fotografer kembali memotret.
Sebagai model yang di foto tersebut, Karin perlu tetap bertahan di posisinya, guna menjaga angle yang sudah diarahkan dengan apik sebelumnya. Seorang makeup artist pun bergegas memoles kembali makeup di wajahnya dan seorang stylist mengarahkan properti bunga sesuai arahan yang diberikan, agar kegiatan pemotretan dapat kembali dilanjutkan.
Beberapa menit kemudian, tatanan makeup dan properti telah selesai diatur sesuai keinginan. Karin pun diminta untuk memasang ekspresi innocent, pandangannya diarahkan untuk tidak menghadap kamera, guna mendapatkan pose foto candid.
“Perfect. Kita shoot lagi ya,” ujar si fotografer yang sudah siap dengan kameranya. Para pengatur lighting juga sudah siap dengan segala pencahayaan yang diletakkan di titik-titik yang sesuai dengan kebutuhan foto.
Ckrek!
Setelah dua kali bunyi khas keluar dari kamera, semua orang yang ada di sana lantas berseru gembira. “It’s a wrap guys!! Thank you semuanya, we did it well!” ujar mereka diiringi hembusan napas dan ekspresi bahagia.
Begitu juga yang terjadi dengan Karin. Perempuan itu menghembuskan napasnya yang terdengar lega ketika ia diperbolehkan untuk keluar dari area pemotretan. Karin pun melenggang ke ruang ganti yang disediakan untuknya dan duduk di kursinya di hadapan sebuah kaca.
Beberapa asisten bergegas untuk membantunya. Dari mulai menghapus makeup-nya, melepaskan aksesoris, sampai tatanan rambutnya yang digunakannya untuk pemotretan barusan.
Karin mencintai pekerjaan yang dijalaninya. Ia bisa menemukan jati diri dan melakukan hal yang digemarinya sebagai sebuah pekerjaan. Meskipun kerap kali merasa lelah, ujung-ujungnya Karin akan tetap bekerja lagi keesokan harinya.
Awalnya Karin tidak mengetahui soal branding dan segala macam yang diperlukan untuk menjadi seorang seorang model maupun beauty influencer. Namun atas tekad besarnya untuk membiayai hidupnya sendiri, siang dan malam Karin giat mempelajari segalanya. Awalnya terasa sulit karena itu hal yang baru untuknya, tapi Karin mau berjuang untuk itu dan kini telah menuai hasil dari usaha kerasnya.
Karin telah begitu mendapat banyak pelajaran baik dari teman, rekan bisnis, maupun para relasi yang lebih dulu terjun ke industri ini. Bicara tentang relasi, di dunia hiburan yang penuh persaingan ini, Karin telah belajar bahwa memiliki hubungan baik dengan siapa pun itu sangat diperlukan. Maka kini Karin dapat menuai hasil dari apa yang ia berusaha tanam di dalam dirinya. Ketika ia membutuhkan bantuan, hubungan baik tersebut bisa membantunya.
Karin kini berhadapan dengan seorang perempuan berusia 24 tahun. Namanya Fannia, seorang yang bekerja sebagai public realtions di Clairs Beauty. Karin sudah membaut janji temu dengan Fannia siang ini di studio, tepatnya setelah ia selesai melakukan pemotretan. Di ruang tunggu itu, Karin dan Fannia akhirnya memutuskan untuk bicara berdua.
“Fan, makasih ya sebelumnya udah mau luangin waktu buat ketemu aku,” ucap Karin.
“Nggak papa, aku senang bisa bantu kamu. Ini juga salah satu bentuk permintaan maaf Clairs Beauty atas apa yang terjadi di Bali. Brand kita meminta maaf atas kesalahan yang kami nggak sadari,” balas Fannia sambil mengulaskan senyumnya kepada Karin.
Detik berikutnya Fannia mengeluarkan sesuatu dari tas yang dibawanya. Fannia pun menyerahkan sebuah map berwarna biru dari tangannya kepada Karin.
“Sesuai informasi yang udah kamu berikan soal perempuan itu, di perusahaan kami, Clairs Beauty Indonesia, tidak ada seorang karyawan yang kamu maksudkan. Dari berbagai divisi dan kantor cabang, aku sudah cek bahwa orang yang kamu cari bukan termasuk karyawan kami. Karena kejadiannya udah cukup lama, waktu kita kontak pihak hotel untuk meminta CCTV, mereka bilang nggak bisa ngasih itu. Kamu bisa cek di map itu, semua nama tim kami yang hadir di acara waktu itu ada di sana,” jelas Fannia.
Karin mencermati semua perkataan Fannia. Saat ini segalanya terasa masuk asal. Sangat jelas bahwa kejadian malam itu sengaja direncanakan oleh seseorang. Belum terlihat motif dari tindakan tersebut, tapi yang jelas apa pun yang orang itu susun telah sangat apik. Segalanya terasa membingungkan bagi Karin. Namun satu hal yang kini terpikirkan olehnya, disini yang dijebak adalah ia dan Aryan. Apakah artinya seseorang dibalik ini juga memiliki hubungan dengan Aryan?
***
Begitu Aryan mengabari bahwa lelaki itu telah sampai, Karin segera berpamitan untuk pulang lebih dulu kepada beberapa orang tim yang masih berada di studio. Karin juga sudah mengatakan pada Dara bahwa hari ini ia akan pulang bersama Aryan.
Saat netra Karin menangkap sebuah mobil BMW sport hitam yang fameliar, ia segera melangkahkan kakinya ke sana. Karin pun membuka pintu di samping kemudi dan masuk ke dalam. Begitu Karin mendaratkan dirinya di jok mobil, ia menoleh pada Aryan dan mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin ia sampaikan soal Arumi Lestari.
“Perempuan yang malam itu bawa aku ke kamar kamu, dia bukan karyawan Clairs Beauty. Jadi kita nggak bisa cari tau identitasnya melalui Clairs. Petunjuk kuat yang kita punya saat ini cuma informasi pasien atas nama Arumi Lestari dari rumah sakit itu,” ujar Karin.
Sebelumnya Karin dan Aryan memang telah berencana untuk menemukan perempuan itu melalui bantuan Clairs Beauty. Namun kini keduanya dihadapkan oleh sebuah kenyataan baru yang mengharuskan mereka menemukan cari lain untuk mencari sosok Arumi Lestari.
Aryan terdiam dan nampak tengah memikirkan semua penjelasan yang barusan Karin utarakan. Rupanya Aryan memikirkan hal yang sama dengan yang sebelumnya Karin pikirkan. Pasti ada motif dari sebuah perbuatan, tapi Aryan tidak terpikirkan siapa yang kira-kira memiliki tujuan terhadapnya maupun Karin.
Beberapa saat kemudian, sebuah pemikiran pun terlintas di benak Aryan. Lelaki berparas oriental itu ia memicingkan matanya dan berujar, “Kita bisa dapetin informasi soal perempuan itu. Aku akan coba minta tolong sama papaku. Dulu papa pernah menyelidiki sesuatu dan itu berhasil. Jadi ada kemungkinan papa bisa bantu kita. We will see.”
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷