She Tought That She's Not Love Him

Setelah membeli beberapa makanan, Raegan dan Kaldera berjalan menuju sebuah taman yang tidak jauh posisinya dari pantai. Taman ini terletak di selatan kota, tidak terlalu dekat dengan keramaian tapi tidak terlalu terpencil juga. Di taman ini pengunjung diperbolehkan untuk berpiknik, karena areanya yang juga lumayan luas.
Udara sore ini tampak cerah. Langit berwana biru terang, awan putih nampak indah dilihat dari bawah sini. Raegan dan Kaldera telah memilih sebuah spot untuk mereka tempati dan duduk di atas kain yang disewakan oleh pengelola taman ini.
Kaldera mulai membuka tas belanjaan yang berisi makanan yang sudah mereka beli. Kaldera mengambil makanan milik Raegan lebih dulu lalu memberikannya kepada pria itu. Baru setelahnya Kaldera akan menyantap miliknya. Sebenarnya hari ini merupakan acara dadakan. Tadi sepulang sekolah, Raegan menjemput Kaldera dan mengajaknya ke tempat ini. Kaldera tiba-tiba kepikiran apa yang ingin Raegan katakan padanya. Di tengah-tengah pemikirannya itu, pergerakan Raegan dari posisinya mengalihkan pikiran Kaldera. Raegan mengambil sebuah tisu dari dalam tas belanja, mengambilnya satu lembar, lalu mengasurkannya kepada Kaldera.
Dengan bahasa tubuhnya, Raegan menunjuk ujung bibir Kaldera. Kaldera baru setelah itu mengerti, ia pun segera mengambil tisu yang disodorkan Raegan, lalu mengusapkan tisu itu di dekat bibirnya. Pasti ada bekas makanan di sana dan Kaldera cukup malu harus terjebak di tengah situasi seperti ini bersama Raegan.
“Habis ini mau sewa sepeda sebelum ke skywalk?” tanya Raegan. Kini pria itu telah menyelesaikan kegiatan makanannya dan hanya menatap Kaldera yang masih menyantap makanannya.
“Emangnya ada sewa sepeda deket sini Mas?”
“Ada, nggak jauh dari sini kok. Gimana?”
Kaldera mengangguk antusias dengan segera. “Mau,” ucapnya spontan. Nadanya suara Kaldera begitu bersemangat kala mengucapkannya. Sebuah senyum juga seraya terukir di wajah cantik itu.
“Oke,” ucap Raegan kemudian. Menyaksikan senyum Kaldera hari ini membuat Raegan ikut tersenyum. Ujung-ujung bibirnya tidak kuasa untuk saling menarik satu sama lain.
***
Setelah piknik, Kaldera dan Raegan memang berencana untuk pergi ke skywalk. Raegan mengatakan bahwa ia ingin mengambil foto pemandangan malam hari di sana. Namun Raegan teringat bahwa Kaldera suka naik sepeda. Raegan mengetahui itu saat ia pergi ke kamar Zio dan menemukan foto polaroid yang Zio simpan apik di laci mejanya. Ada momen di mana Zio dan Kaldera naik sepeda bersama. Di balik polaroid itu, ada sebuah catatan kecil yang ditulis oleh Zio. Zio menuliskan bahwa Kaldera sangat suka naik sepeda. Jadi Raegan berniat mewujudkan kegiatan itu untuk Kaldera. Raegan ingin membuat Kaldera bisa tersenyum dan kembali bahagia seperti sediakala. Meskipun mungkin tidak akan pernah sama dengan saat sebelum Zio pergi.

Jadi sebelum ke skywalk, Raegan dan Kaldera menyewa dua buah sepeda. Mereka berkeliling di sekitar area taman, tepatnya di atas jalanan khusus untuk sepeda mau pun skuter listrik yang disewakan di dekat pantai. Kegiatan sederhana selama kurang lebih 30 menit itu rupanya mampu membuat Kaldera merasa bahagia.
Saat hari sudah mulai gelap, Kaldera dan Raegan memutuskan untuk menyudahi kegiatan mereka bersepeda. Sebelum menuju mobil, keduanya membeli minum di pedagang kaki lima untuk meredakan dahaga yang tengah menyerang.
Tidak lama kemudian, keduanya telah berada di dalam perjalanan untuk menuju skywalk. Selama di dalam mobil, Kaldera memikirkan sesuatu. Rasanya Kaldera baru saja menemukan dirinya yang baru, versi dirinya yang sudah mulai bisa menerima kepergian orang yang dicintainya. Dirinya seperti hilang sejak kepergian Redanzio. Tepatnya Kaldera sulit untuk tersenyum dan merasa bahagia.
“Mas,” ucap Kaldera.
Raegan lantas menoleh kepada Kaldera. Mereka baru saja sampai dan Raegan menarik rem tangan saat mobilnya telah terparkir lurus sempurna.
“Kenapa Kal?” tanya Raegan.
Kaldera kemudian menatap Raegan lurus-lurus, pandangannya terasa begitu penuh makna. “Makasih ya untuk hari ini,” ungkap Kaldera, nadanya terdengar begitu tulus. Tanpa perlu menjelaskan maksud rasa terima kasih itu, Raegan dapat mengerti alasan Kaldera mengatakannya.
Raegan lantas mengulaskan senyum segarisnya. Mungkin Kaldera belum mengetahuinya. Raegan ingin membuat Kaldera bahagia bukan semata karena amanat dari Zio, tapi ada alasan lain yang mendasari hal tersebut. Raegan melakukannya karena perlahan ia mulai mencintai Kaldera. Raegan melihat Kaldera sebagai seorang perempuan, dan rasa sayangnya pada Kaldera melebihi kasih sayang seorang kakak kepada adiknya.
***

Sebelum berjalan menuju area skywalk, Kaldera menunggu Raegan mengambil sesuatu dari jok belakang mobil. Tidak lama saat Raegan kembali, Kaldera mendapati lelaki itu membawa sebuah blazer jaket berwarna abu-abu di tangannya.
Raegan menyodorkan jaket itu, meminta Kaldera untuk memakainya. Kaldera belum menerima sodoran itu, ia justru melempar tatapan bertanya kepada Raegan.
“Ini udah malem, anginnya lumayan kenceng. Kamu pakai jaket aku ya,” ujar Raegan.
Kaldera akhirnya menerima jaket itu dan memakainya. Setelah itu Kaldera mulai mengikuti langkah Raegan. Langkah Kaldera sedikit melambat di belakang Raegan, membuat Raegan akhirnya ikut melambatkan langkahnya agar bisa sejajar dengan Kaldera. Entah mengapa Kaldera menjadi gugup. Debaran jantungnya tidak seperti biasanya. Padahal tadi masih normal-normal saja. Ini terjadi sejak saat Raegan memberikan jaketnya untuk dipakai oleh Kaldera.
Setelah Raegan dan Kaldera membeli 2 buah cemilan sebagai syarat untuk masuk ke tempat itu, mereka kini tengah berjalan di jembatan layang Senayan yang menyuguhkan pemandangan luar biasa itu.
Kaldera tahu tempat ini, tapi ia mengatakan pada Raegan bahwa dirinya belum pernah ke sini. Jembatan layang yang terletak bagian metropolitan kota ini memang dibuka untuk umum. Saat malam hari, pengunjung sedang ramai-ramainya. Tentu yang menjadi incaran mereka adalah pemandangan kota yang sangat cantik. Bertabur lampu-lampu jalanan dan lampu dari gedung, destinasi ini menjadi sangat menarik untuk dikunjungi, terutama pada malam hari.
Kaldera menikmati cemilannya dengan seksama. Dalam hatinya, Kaldera berusaha menepis segala pemikirannya tentang sikap Raegan yang belakangan ini agak berbeda terhadapnya. Begitu Kaldera menoleh ke arah Raegan, lelaki itu rupanya juga tengah menatapnya. Mereka sama-sama canggung akhirnya. Kaldera menahan senyumnya, Raegan pun terlihat terkekeh pelan. Kaldera memperhatikan itu, nampak dua buah lesung pipi di wajah Raegan.
Sekitar kurang lebih 10 menit kemudian, Raegan telah menghabiskan cemilannya lebih dulu. Pria itu mengatakan pada Kaldera akan kembali setelah membuang sampah bungkus makanannnya. Tanpa Kaldera sadari, tujuan Raegan bukan hanya membuang sampah, melainkan ia sekalian ingin mengambil potret Kaldera dari belakang. Senyum Ragean lantas mengembang, saat ia menatap hasil jepretan di ponselnya yang begitu cantik. Lampu dan pemandangan di sini memang indah, tapi sosok yang bersamanya malam ini lebih indah dari pada apa pun.

“Kal,” ujar Raegan begitu pria itu kembali.
“Iya Mas?”
“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu,” ucap Raegan.
Raegan berusaha menatap mata Kaldera. Raegan yang selama ini mudah saja menatap mata itu, kali ini hal tersebut terasa sulit untuk ia lakukan. Jantung Raegan berdegup cukup kencang dan ia merasa gugup. Bahkan angin malam di sini tidak mampu menghalau hawa hangat yang tiba-tiba merambat di kulit wajahnya.
Kaldera tengah memberikan seluruh atensinya untuk Raegan. Kaldera menunggu Raegan mengatakannya, kedua alis Kaldera nampak menyatu kala mendapati rona wajah Raegan yang memerah, kontras dengan kulit putihnya.
Akhirnya Raegan berani menatap mata itu. Kini pandangannya hanya tertuju pada Kaldera, seolah orang-orang yang berlalu di sekitarnya tidak berarti baginya.
“Kaldera, I have a feeling on you,” ucap Raegan. Detik berikutnya, Raegan meraih satu tangan Kaldera yang bebas. Raegan menggenggam tangan kecil itu, lalu ia kembali berujar, “Aku sayang kamu, Kal. Perasaan aku ke kamu lebih dari perasaan sayang seorang kakak untuk adiknya. Aku melihat kamu sebagai seorang perempuan, bukan seorang adik.” Raegan menjeda ucapannya sesaat. Raegan memperhatikan reaksi Kaldera setelah mendengar penuturannya. Ada keterkejutan di wajah itu serta sebuah kebimbangan.
Kaldera pun masih membiarkan Raegan menggenggam tangannya. Tangan besar yang selama ini tidak pernah Kaldera bayangkan akan menggenggam tangannya, bahkan dalam mimpi terliarnya sekalipun, tapi hari ini Kaldera mendapati itu.
“Mas, aku—” ucapan Kaldera menggantung.
“Barusan itu serius? Maksud aku … selama ini,” Kaldera tidak dapat melanjutkan perkataannya.
Raegan segera mengangguk pelan. “Aku nggak tahu sejak kapan perasaan itu muncul. Tapi aku ingin kamu tau perasaanku, Kal.”
Kaldera merasakan genggaman tangan Raegan di tangannya mengerat. Dari tatapan mata Raegan, Kaldera dapat melihat ketulusan yang begitu besar yang terpancar dari sana. Namun Kaldera tidak bisa membalas perasaan itu. Lebih tepatnya, ia tidak pernah berpikir bahwa dirinya bisa menyayangi Raegan sebagai seorang pria.
“Mas, aku nganggep kamu sebagai seorang kakak. I can’t imagine that I can love you as a man,” ucap Kaldera apa adanya. Perlahan Kaldera melepaskan tangannya dari genggaman tangan Raegan. Beberapa detik keduanya pun saling terdiam. Mereka sama-sama mengalihkan pandangan ke arah lain.
“Kal, boleh aku tanya satu hal sama kamu?” ujar Raegan. Seketika Kaldera pun kembali menoleh kepada Raegan.
Kaldera segera mengangguk pelan. “Boleh. Kamu mau tanya apa?”
“Apa Redanzio masih ada di hati kamu?”
Mungkin Raegan akan menyesali pertanyaan yang ia utarakan itu. Namun ia lebih ingin mengetahuinya langsung dari Kaldera. “Kal, apa itu yang membuat kamu nggak bisa memulai untuk mencintai lelaki lain?” tanya Raegan lagi.
Pertanyaan Raegan seketika membuat Kaldera menundukkan pandangannya. Kaldera bertanya-tanya dalam hatinya sendiri. Apakah benar ia telah menutup hati karena masih begitu mencintai Zio? Apakah ada alasan lain? Kaldera takut terperangkap pada rasa trauma akan cinta yang akhirnya hanya memberi rasa sakit. Terlebih saat kita harus berakhir kehilangan orang yang kita cintai.
Benar. Kaldera hanya takut untuk kembali memulai. Dari sekian banyak lelaki di dunia ini, mengapa harus Raegan? Mengapa harus sosok yang ketika Kaldera bersamanya ia dapat selalu teringat akan sosok Zio?
Kaldera lantas kembali mendongak, ia menatap Raegan tepat di iris legam pria itu. “Mas, Zio emang masih ada di hati aku. Aku pikir gampang ngilangin perasaan itu, tapi aku salah. Aku masih mencintai Zio,” ungkap Kaldera.
Raegan akhirnya mengangguk mengerti. Ia tidak ingin memaksa Kaldera untuk membuka hati untuknya.
“Kal,” ucap Raegan. Ketika Kaldera balas menatapnya, Raegan mengunci pandangan Kaldera.
“Aku nggak ingin memaksa kamu untuk itu,” Raegan kembali meraih tangan Kaldera, ia menggenggamnya dan mengusapkan ibu jarinya dengan lembut di atas punggung tangan Kaldera.
“Tapi aku akan berusaha membuat kamu pelan-pelan membuka hati, membuat kamu jatuh cinta lagi. Aku akan menunggu kamu selama apa pun itu.”
Kaldera melihat ketulusan dan tidak ada nada memaksa dari perkataan Raegan. Raegan membiarkannya sembuh dari rasa sakitnya terlebih dulu. Perlahan-lahan Raegan juga akan menunjukkan kesungguhan perasaannya kepada Kaldera. Raegan ingin membuat Kaldera kembali ingin membuka hati dan merasakan perasaan cinta yang tulus dari dalam dirinya.
***
Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮
Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜
Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂