Started Falling for You

Aryo mendapat tugas mengajarinya memasak mulai hari ini hingga setidaknya sampai Tiara bisa masak makanan kesukaan pria itu.

Sebenarnya, Aryo tidak terlalu pemilih terhadap makanan. Namun terasa sulit bagi Tiara yang belum ahli memasak. Meski Tiara mengatakan, gadis itu sering membantu bundanya di dapur, tapi tetap saja ia harus belajar dari orangnya langsung agar racikannya sesuai dengan selera Aryo.

Setelah 30 menit di dapur, akhirnya Tiara mendapat tugas mencuci piring kotor. Aryo mengambil alih teflon dan melanjutkan memasak sarapan untuk mereka, setelah Tiara hampir saja membakar seisi dapurnya.

“Padahal tadi cuma kebesaran dikit apinya. Lo bisa lanjut ajarin gue masak, Aryo. Yaa ... boleh ya ...?” pinta Tiara sambil menunjukkan wajah memelasnya.

Tiara masih ingin melanjutkan sesi les memasaknya bersama Aryo, tapi lelaki itu justru menyuruhnya duduk manis dan menunggu makanannya siap. Rupanya Tiara tidak menyerah untuk meminta perhatian Aryo yang sedang fokus dengan kegiatan memasaknya itu.

“Nanti lo malah kenapa-napa,” ujar Aryo.

“Gue nggak bakal membakar rumah ini, Aryo.”

Indeed. Tapi lo membahayakan diri lo sendiri, Ra. Kita berdua bisa ada dalam bahaya.”

“Oke-oke. Karena lo udah berjasa untuk perut gue pagi ini, you can ask me for one wish. You can tell what you want.” Tiara mengekori Aryo yang membawa sepiring besar masakan yang sudah siap ke meja makan.

“Permintaan gue cuma satu. Gimana kalau kita nggak langgar perjanjian yang udah kita sepakatin?” ucap Aryo sambil menatap ke mata Tiara.

“Kenapa? Bukannya dengan punya keturunan akan menguntungkan posisi lo yang sekarang?”

You’re right, Tiara.”

“Keluarga lo juga menginginkan keturunan dari kita, kan?”

Aryo nampak berpikir sejenak, mereka duduk berhadapan setelah ia menarik kursi meja makan.

“Kita bakal cari cara, biar mereka nggak buru-buru minta anak dari kita.”

“Sebelum kita cerai, keluarga akan nuntut anak dari kita. Satu tahun bukan waktu yang sebentar, Aryo. Kayak yang lo bilang sebelum kita nikah, mereka bisa curiga sama pernikahan kita. Keluarga lo bisa aja minta lo nikah lagi, karena kalau sama gue, lo nggak akan mendapatkannya.” Tiara mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk, lalu ia menaruhnya di hadapan Aryo.

“Kenapa lo bisa nyimpulin kayak gitu?” tanya Aryo dengan kerutan yang muncul di dahinya.

“Kalau nggak ada keturunan dalam keluarga, pilihan itu bisa diambil, kan? Kalau gitu, lebih baik kita cerai lebih cepat aja. Karena gue nggak mau di madu dan gue nggak bisa ngeliat itu dengan mata kepala gue, Aryo.”

“Kenapa lo nggak bisa meihat itu?” tanya Aryo yang belum mengerti mengapa Tiara dapat berpikiran sedemikian rupa.

Tiara menghela napasnya sejenak, lalu ia menatap Aryo tepat di iris matanya, “I have a reason. Like you said before, about the feeling, I can’t ignore my feeling to you. I break the rules, because I started falling for you,” ujar Tiara sambil menatap tepat ke dalam mata Aryo.

***

“Kita akhiri rapat hari ini, kalian bisa istirahat.” Aryo mengakhiri rapat yang dipimpin olehnya. Satu persatu karyawan pun mulai meninggalkan ruangan.

Aryo mengecek Rolex di pergelangan tangannya, memperkirakan sisa waktu yang dimilikinya sebelum jadwal berikutnya.

“Ram, tolong cek jadwal gue setelah makan siang nanti,” ucap Aryo pada asistennya ketika mereka keluar dari ruang rapat.

“Lo jadi pembicara di seminar kampus jam 2 siang,” ujar Rama.

“Oke, tolong siapin mobil untuk gue ke sana.”

“Siap Bos.”

***

Hari ini jadwal Aryo cukup padat dan banyak yang harus ia lakukan di kantor. Sebagai kandidat presiden direktur yang selanjutnya, pria itu harus bekerja dua kali lipat menjelang hari pemilihan. Ada dua kandidat, yakni dirinya dan sepupu laki-lakinya, Elnino.

Ketika terlahir dan dibesarkan di keluarga pebisnis, Aryo tahu apa yang harus ia lakukan untuk masa depannya. Bersaing dengan sepupunya sendiri, termasuk salah satu yang harus ia hadapi.

Aryo jadi ingat kalimat Tiara tentang adanya anak dalam pernikahan mereka. Soal gadis itu yang mengungkapkan perasaan padanya dan meminta cerai lebih cepat, jika dirinya memilih mengikuti jejak eyang kakung. Tiara berpikiran bahwa bersama gadis itu Aryo tidak akan memiliki keturunan.

Sepupunya yang merupakan rivalnya itu, sudah memiliki dua orang anak. Terlebih anak pertamanya yang kira-kira seumuran Kelvin, adalah laki-laki. Hal tersebut membuat posisi El sebagai calon penerus lebih kuat dibanding dirinya.

Pintu ruangannya di ketuk dan nampak asistennya muncul disana.

“Bos, mobil lo udah siap.”

“Oke.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷