Started The Project

Tiara sampai di lantai satu dan mendapati Aryo sudah menunggunya di sana dan pria itu masih dengan stelan kantornya.

“Jam berapa ini Tiara?”

“Hampir jam sepuluh.”

“Ayo kita bicarain yang tadi sempat kita tunda.”

“Gue pikir udah nggak ada yang perlu dibicarain.” Tiara menatap Aryo dengan tatapan datarnya.

“Kenapa? Beberapa jam yang lalu lo bersikeras diskusiin itu sama gue.”

Tiara terdiam tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Lo tau, apa yang gue lakukan adalah untuk ngelindungin lo. Di saat gue ngelakuin itu, justru lo yang membahayakan diri sendiri.” Aryo menunjukkan sebuah foto di ponselnya. Aryo mendapatkan dari salah satu omnya yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan. Om nya itu sangat mendukungnya, sehingga berbaik hati menyerahkan foto itu padanya untuk disimpan saja.

Good job for you. Gue nggak nyangka bisa nikah sama diktator yang keren kayak lo.” Tiara bertepuk tangan sambil menyunggingkan senyum smirk-nya. Kemudian Tiara hendak mengambil langkah pergi melewati Aryo, namun pria itu menahan pergelangan tangannya.

“Gue mau ke kamar, jadi tolong lepasin gue,” desis Tiara.

“Gue lepasin, setelah lo jelasin apa yang lelaki itu perbuat ke istri gue, di depan mata gue sendiri.”

“Lo nganggap gue istri lo, di saat lo cuma butuh kuasa atas gue? Hello sir, you can’t do anything you want to do.” Tiara mengatakannya dan pegangan tangan Aryo terlepas pada tangannya. Tiara tidak ingin perasaannya terhadap Aryo semakin dalam karena ia tahu pada akhirnya mereka tidak akan pernah bisa bersama. Dari awal pertemuannya dengan Aryo, Tiara sadar ia memiliki perasaan terhadap lelaki ini, tetapi lebih baik membangun tembok antara dirinya dan Aryo untuk kebaikan keduanya.

“Terus dengan mudahnya lo berpikir untuk ngasih keluarga keturunan? Lo pikir semudah itu untuk punya anak?” tanya Aryo.

Tiara berbalik kemudian menatap pria itu, “Bukannya gampang aja buat lo? Gue cuma aset lo untuk dapetin posisi itu. Asal nantinya lo nggak akan punya perasaan untuk gue. Kita bisa punya anak, habis itu cerai. Gimana?”

“Gimana dengan perasaan lo sendiri?”

It’s easy. Every woman never think about love only for one men. So we can start our project?

***

Siang ini Tiara mengunjungi rumah mertuanya. Mertuanya meminta supir menjemput Tiara agar datang ke rumah. Mamanya ituberencana menyiapkan surprise untuk papa mertuanya dan suaminya karena hari ini adalah hari ulang tahun keduanya yang jatuh bersamaan.

“Malam ini, kalian menginap disini saja ya,” ucap ibu mertuanya pada Tiara. Melihat reaksi menantunya itu, Felicia lantas menyunggingkan senyumannya.

“Tenang aja, suami kamu pasti mau kok. Semenjak Aryo nikah, rumah ini makin sepi. Habis semua ini matang, tolong siapin bekal untuk diantar ke kantor suamimu ya,” tutur Felicia.

Tiara mengiyakan ucapan mertuanya diiringi senyuman. Bagaimanapun ia tidak enak menolak permintaan Felicia untuk menginap. Lagipula suaminya itu kan anak tunggal, jadi wajar mertuanya merasa rumah sebesar ini begitu kosong sejak Aryo menikah.

“Kenapa Tiara? Apa Aryo sibuk banget di kantor jadi dia jarang luangin waktunya buat kamu?” duga ibu mertuanya ingin menebak apa yang sedang dipikirkan olehnya.

“Aryo besok harus ke luar kota karena urusan pekerjaan, Mah. Jadi kayaknya kita nggak bisa menginap malam ini,” ujar Tiara mengatakan alasan mungkin mereka tidak bisa menginap.

“Ohya? Artinya dia ninggalin kamu berhari-hari dong? Entah apa yang ada dipikiran dia. Padahal kalian itu kan pengantin baru. Harusnya dia sama ngurangin waktu untuk pekerjaannya itu.”

Tiara membantu mertuanya menata makanan yang telah matang di piring-piring putih besar lalu meletakkannya di meja makan. Sepertinya mertuanya salah menangkap, malah kini mertuanya ingin dirinya dan Aryo menghabiskan waktu bersama hanya berdua.

“Kalau seperti ini terus, kalian susah punya waktu bersama. Yaudah gini aja, malam ini kalian harus menginap disini ya. Mama pastiin Aryo setuju,” ucap ibu mertuanya sambil memegang tangan Tiara, lalu menepuk punggung tangan menantunya itu dan tersenyum hangat.

***

Pukul tujuh malam, Aryo berada di perjalanan pulang dari kantornya. Jalanan ibukota seperti biasa dipenuhi oleh kendaraan yang menyebabkan jalanan padat. Mobil Aryo mau tidak mau ikut terjebak macet dan hanya bergerak sedikit demi sedikit.

“Tuan, tadi ibu Feli bilang kalau Bapak harus ke rumah dulu untuk mengambil titipan ibu.” Mendengar penuturan supir pribadinya Aryo menyatukan alisnya.

“Tumben. Biasanya mama langsung nelfon saya sendiri.”

“Ibu bilang, Tuan cuma diminta untuk mampir sebentar.”

“Oh yaudah Pak, kita langsung ke rumah mama aja.”

Aryo menoleh ke samping jok dan terdapat tas bekal yang tadi siang diantar ke kantornya. Wajahnya mengernyit curiga namun ia mengulaskan senyum semringah setelahnya.

Aryo tidak tahu mamanya bisa seromantis ini padanya di hari ulang tahunnya. Mamanya itu mengirimkan kotak bekal disertai notes kecil berwarna peach berisi kalimat doa yang begitu indah untuk hari ulang tahunnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷