Tanggung Jawab yang Dipertanyakan
Sesuai yang Aryan dan Karin rencanakan, hari ini keduanya akan pergi ke rumah sakit untuk melakukan cek kandungan rutin. Begitu memasuki ruang periksa, Karin diminta untuk berbaring di atas tempat tidur.
Setelah dokter mengoleskan sebuah gel ke perut Karin dan mengarahkan sebuah alat ke sana, seketika layar di samping menunjukkan sebuah bentuk menyerupai lingkaran kecil.
“Nah, ini jantung bayinya,” ujar dokter sembari menunjuk ke satu titik di layar.
Dokter pun mempersilakan Karin dan Aryan untuk mendengarkan detak jantung bayinya. Aryan lantas mendekatkan dirinya ke sisi ranjang di mana Karin berbaring, pandangannya mengarah ke layar dan bergantian menatap Karin.
Begitu sebuah suara terdengar memenuhi ruangan itu, Karin mendapati mata Aryan nampak berkaca-kaca. Karin pun bahagia karena dapat merasakan kehadiran bayinya.
“Detak jantungnya normal ya, Bapak, Ibu. Hasil pemeriksaan lainnya juga bagus,” ujar dokter.
Aryan rupanya masih menatap Karin selama beberapa detik dan sebuah senyum hangat terlukis di wajahnya.
“Makasih ya Dok,” ujar Karin sembari bergerak bangun dari baringannya. Aryan pun membantu Karin yang hendak turun dari ranjang, lelaki itu membantu memegang satu lengan Karin.
Karin dan Aryan lantas diberi penjelasan sedikit oleh dokter terkait hal-hal tentang kehamilan. Sesi itu tidak memakan waktu yang lama, hanya sekitar 20 menit, keduanya sudah keluar dari ruangan itu. Dokter juga memberikan resep vitamin dan obat guna mengurangi morning sickness yang dialami oleh Karin.
***
Karin duduk di salah satu kursi yang disediakan untuk menunggu, sementara Aryan sedang membayar biaya dokter. Karin mengambil kursi di depan apotek, karena setelah membayar biaya kontrol kandungan, Aryan akan menebus resep di apotek dan mereka telah janjian untuk bertemu di sini.
Karin menatap ke sekelilingnya. Hari ini merupakan weekdays, jadi kondisi rumah sakit tidak terlalu ramai seperti biasanya saat weekend. Begitu Karin menoleh ke sisi kirinya, jarak empat bangku kosong dari posisinya, ia melihat seseorang yang terasa fameliar di ingatannya.
Karin yakin bahwa penglihatannya tidak salah. Perempuan yang kira-kira berusia 25 tahunan tersebut adalah karyawan Clairs Beauty yang mengantarnya ke kamar malam itu.
“Arumi Lestari, antrian apotek nomor 83,” ujar seorang apoteker melalui pengeras suara.
Seketika perempuan yang Karin perhatikan itu beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju apotek. Karin memerhatikan setiap pergerakan yang dilakukannya. Namun agar kegiatannya tidak dicurigai, Karin segera mengambil ponselnya dan berakting seolah ia tidak sedang mengamati gerak gerik perempuan itu.
Sampai perempuan itu berlalu dari pandangan Karin dan semakin menjauh dari apotek, Karin pun menghembuskan napasnya. Ia begitu yakin dan tidak mungkin salah melihat. Walaupun malam itu Karin seperti terkena pengaruh alkohol, ia masih ingat bahwa perempuan yang barusan dilihatnya adalah karyawan Clairs Beauty yang membuatnya datang ke kamar Aryan malam itu.
“Karin,” sebuah suara seketika membuat Karin tersadar dan menoleh ke samping. Ia mendapati Aryan berada di sana dan lelaki itu baru saja menyadarkan Karin dari lamunannya.
“Kak,” ucap Karin.
“Kenapa Karin?” Aryan pun melihat ke mana mata Karin menatap, tapi ia tidak menemukan apa pun. Hanya beberapa orang yang tampak sewajarnya berlalu lalang di area rumah sakit.
“Barusan aku liat karyawan Clairs Beauty yang waktu itu bawa aku ke kamar kamu.”
Selama beberapa detik Aryan hanya terdiam setelah mendengar penuturan Karin. Karin memang pernah mengatakan padanya bahwa malam itu ia masuk ke kamar Aryan atas kehendak seseorang. Karin tidak sama sekali memegang key card kamar hotel Aryan saat ia masuk ke sana.
“Karin, kamu yakin kalau yang kamu liat itu dia?”
“Aku yakin, Kak. Aku inget banget wajahnya. Aku nggak mungkin salah,” ujar Karin dengan nada yakinnya.
Setelah memikirkannya dengan kepala dingin beberapa hari yang lalu, ketika Karin juga mulai mengingat detail-detail kejadian malam itu, Aryan pun bertekad untuk mencari tahu siapa dalang di balik semuanya.
Aryan dan Karin kini telah bahagia dengan kehadiran anak mereka, keduanya akan selalu berjuang untuk memberikan kasih sayang yang utuh untuk bayi kecil di kandungan Karin. Namun pada kenyataannya, bukankah seseorang tetap harus bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukannya?
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷