Target yang Selanjutnya
Pukul 8 malam di kediaman berlantai dua yang megah itu, sosok lelaki muda bertubuh lumayan kekar itu dipersilakan untuk memasuki rumah. Arjuna, bodyguard pribadi Raegan itu mengetuk pintu berpelitur putih di hadapannya ketika ia sampai di tempat tujuannya.
Setelah pintu dibukakakn oleh seorang asisten rumah tangga yang bekerja di sana, Arjuna melangkahkan kakinya untuk masuk.
“Malam, Pak. Sesuai permintaan Anda, saya ingin menyerahkan laporan tentang kegiatan sehari-hari Kaldera,” ucap Arjuna.
Begitu Raegan mempersilakannya untuk memberikan laporan itu, Arjuna lekas meletakkan sebuah map coklat besar di atas meja atasannya. Berikutnya Raegan membuka map itu dan melihat dengan seksama hasil foto yang didapatkan oleh Arjuna.
“Menurut kamu, ada yang aneh dari apa yang kamu amatin?” tanya Raegan, ia masih memegang foto-foto itu di tangannya.
“Ada, Pak. Dari hasil pengamatan saya dan tim bodyguard, gadis itu ngelakuin kerja part time dari senin sampai kamis. Hampir setiap hari dia pulang malam, sekitar jam 8. Selebihnya kegiatannya seperti remaja pada umumnya.”
“Gimana kondisi di rumahnya?” tanya Raegan.
“Maksud Bapak? Semuanya tampak normal Pak sejauh ini. Kaldera tinggal dengan tantenya yang setelah saya selidiki, beliau adalah wali sah Kaldera sejak kedua orang tuanya meninggal.”
“Ada satu hal yang aneh dan kamu tidak sadar itu. Menurut kamu kenapa seorang wali yang bertanggung jawab membiarkan anak remaja yang masih sekolah bekerja paruh waktu sampai malam hari.”
Arjuna seketika terpaku. Ia terlihat tidak menyangka sekaligus kagum akan pemikiran atasannya yang begitu cerdas. “Beberapa kali saya dapatin kalau di rumah itu hanya ada Kaldera. Walinya tidak ada di sana,” ungkap Arjuna sambil mencoba ikut memikirkan semuanya.
“Saya minta kamu cari tau lagi. Dapetin informasi soal walinya Kaldera. Apapun itu yang kamu daparkan, pastiin sampaikan ke saya.”
“Baik, Pak. Secepatnya saya akan laksanakan.”
Setelah itu Raegan memperbolehkan Arjuna untuk meninggalkan ruangannya. Sepeninggalan Arjuna, Raegan teringat perkataan Kaldera padanya. Sebagian hatinya percaya bahwa perkataan Kaldera benar, gadis itu tidak membohonginya. Kaldera pernah mengatakan bahwa bahwa Aksa merupakan sahabat dekat Zio. Jadi kemungkinan besar, memang tidak ada motif kejahatan yang dimiliki Aksa hingga membuatnya berakhir membunuh Zio.
Atas pemikirkan itu, Raegan mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang di ujung sana. Begitu telfonnya terhubung, Raegan langsung disapa oleh suara orang yang begitu fameliar baginya.
“Raegantara Rahagi, apa ada yang bisa saya lakukan untuk membantu kamu?” tanya orang itu.
“Langsung saja saya sampaikan. Saya ingin Anda menangani kasus pembunuhan adik saya. Saya ingin membahas itu secepatnya.”
***
Aksa menemui seseorang yang ingin bertemu dengannya di sel tahanan siang ini. Aksa sedikit tidak percaya ketika ia menemukan Raegan berada di sana. Pria itu adalah sosok yang membuat tuntutan terhadapnya. Jelas saja Aksa terkejut dan menerka-nerka apa alasan Raegan datang untuk menemuinya.
Aksa menarik kursi di hadapannya. Raegan tidak datang sendiri, pria itu membawa seorang pengacara bersamanya.
“Saya hanya akan memberi kamu satu kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya soal kejadian malam itu,” ucap Raegan.
Awalnya Aksa tidak ingin membuka suaranya sama sekali. Ia takut salah mengambil langkah. Bagaimana pun Raegan adalah lawannya dan ia tidak tahu apa motif Raegan meminta Aksa mengatakan yang sebenarnya.
“Klien saya akan memberi Anda kesempatan untuk menceritakan detail kejadian yang sebenarnya. Apa yang terjadi malam itu, Anda bisa memberi tahu kami. Apa yang Anda katakan akan jadi pertimbangan klien saya untuk mencabut tuntutannya terhadap Anda atau tidak. Jika perkataan Anda terbukti benar, Anda bisa bebas dari sini,” jelas Erwin, pengacara yang duduk di samping Raegan.
Setelah bebebrapa menit memikirkan perkataan Erwin, Aksa akhirnya setuju untuk menceritakan kejadian malam itu. “Leonel Nathan Tarigan, orang itu yang membunuh Zio. Bukan saya pelakunya,” ucap Aksa memulai kalimatnya.
Dari kalimat tersebut akhirnya mengalir cerita apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Aksa memiliki urusan dengan seseorang yang membayar pekerjaan freelance-nya dan Zio datang ke sana karena menduga bahwa Aksa berada dalam bahaya.
Ketika Aksa menyebutkan nama tersebut, Raegan langsung mengetahui siapa sosok Leonel Nathan Tarigan.
“Jawab dengan jujur pertanyaan saya. Apa kamu tau kamu berurusan dengan siapa?”
“Saya hanya bekerja dengannya karena seseorang yang mengenalkan kami. Saya nggak tau siapa sosok Leonel yang sebenarnya,” Aksa mengatakan apa yang ia ketahui, bahwa ia memang tidak tahu siapa sosok atasannya itu.
“Yang jelas, dia adalah orang yang punya kekuatan dan kuasa. Di tidak akan tinggal diam sampai tujuannya tercapai,” tambah Aksa. Lelaki itu juga mengungkapkan bahwa tujuan Leonel adalah dirinya. Entah hidup atau mati, Leonel ingin mendapatkan Aksa dengan tangannya sendiri.
Dari cerita Aksa tersebut, Raegan dapat menarik kesimpulan. Perlahan semuanya mulai terasa jelas. Malam itu Leonel membunuh Zio karena adiknya telah terlibat dan menghalangi Leonel untuk mencapai tujuannya.
“Kamu harus bisa membuktikan kalau kamu tidak bersalah. Saya akan bantu kamu dan saya harap kamu bersikap kooperatif. Saya nggak bisa mencabut tuntutannya dan membiarkan pelaku sebenarnya lolos gitu aja. Saya akan tetap mencari pelaku pembunuhan adik saya dan memastikan dia mendapat hukumannya,” ujar Raegan.
Aksa yang mendengar itu dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Anda nggak bisa melawan Leonel. Dia orang yang sangat berbahaya,” terang Aksa. Ekspresi wajah Aksa ketika mengatakannya dipenuhi oleh ketakutan. Aksa sungguhan memperingati Raegan bahwa pria itu tidak bisa melawan Leonel.
Dari situasi yang tengah terungkap itu, Erwin mengatakan bahwa mereka masih bisa mencari bukti bahwa Leonel bersalah. Di tempat kejadian perkara, pasti ada sesuatu yang bisa dijadikan bukti.
Sebelum Raegan dan Erwin pergi dari sana, Aksa teringat sesuatu dan mengatakan bahwa ada satu orang saksi yang kemungkinan dapat memberi kesaksiannya di pengadilan nanti.
“Siapa orang itu?” tanya Raegan, tatapannya begitu serius dan terasa dapat menguliti Aksa.
“Kaldera.” Aksa menyebutkan satu nama. “Kaldera adalah satu-satunya saksi mata di tempat kejadian perkara itu,” tambah Aksa.
Kalau meminta pendapat Erwin, pria itu jelas menyarankan bahwa Kaldera harus bersaksi untuk membebaskan Aksa dan menjadikan Leonel sebagai tersangka.
Sebelum Raegan beranjak dari kursinya, Aksa membisikkan sesuatu kepadanya. “Kita nggak tau apa yang Leonel sekarang rencanakan. Dia bisa aja menargetkan orang-orang yang berhubungan dengan kasus ini. Dia bisa melakukan apa aja yang dia inginkan. Leonel bisa aja menjadikan Kaldera sebagai targetnya.”
***
Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮
Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜
Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂