Taruhan untuk Karir dan Masa Depan

Dua hari sudah berlalu sejak kejadian Rey memukul Aryan di lapangan. Sepulang kuliah sore ini, Karin berniat memberi tahu Syerin dan Vanessa mengenai kehamilannya. Tidak mudah bagi Karin untuk menyampaikan kabar besar itu. Kakak dan ibu sambungnya itu telah begitu sayang pada Karin dan Kavin, merawat mereka dengan sepenuh hati. Bagaimana bisa Karin melemparkan bom

“Kakak, Mami. Karin mau menyampaikan sesuatu. Kabar ini akan mengecewakan Kakak dan Mami. Karin minta maaf,” ucap Karin membuka suaranya. Karin berusaha menatap mata Syerin dan Vanessa.

Hanya dengan satu kalimat yang diutarakan Karin, sudah cukup menjelaskan situasi yang tengah terjadi. Hampir mirip dengan reaksi Dara waktu Karin memberitahu kalau dirinya hamil, Syerin dan Vanessa seketika bungkam. Dari tatapan matanya, Karin tahu bahwa kakak dan mamanya sangat kecewa terhadapnya.

Beberapa detik berlalu, Syerin pun mengangkat wajahnya yan gsemual tertunduk. Syerin menatap adik sambungnya itu tepat di manik matanya. “Siapa ayahnya? Kamu kasih tau Kakak sekarang,” tutur Syerin.

“Dia kakak tingkat di jurusan Karin, namanya Aryan,” jawab Karin.

Karin mendapati air mata Syerin mengalir membasahi pipinya. Baru pertama kali sejak bertemu dengan Syerin, Karin melihat kakaknya itu menangis karena kecewa terhadapnya.

“Mami,” Syerin giliran menatap Vanessa. “Mam, Syerin gagal Mam,” lirih Syerin. Vanessa bergerak mendekap Syerin ke pelukannya, kedua wanita yang begitu Karin sayangi itu menangis bersama karena perbuatannya.

“Syerin gagal menjaga adik Syerin. Papi pasti kecewa Mam,” ucap Syerin lagi.

Saat tangisnya mulai reda, Syerin berusaha mengatur napasnya dan kembali bertanya pada Karin. “Karin, kamu udah tau apa yang harus kamu lakukan? Saat ini kamu punya tanggung jawab yang besar. Jadi orang tua itu nggak mudah, Karin,” jelas Syerin.

“Mami, Kakak. Selama ini kalian udah ngasih yang terbaik buat Karin dan Kavin. Karin sayang banget sama kalian. Mami sama Kakak nggak pernah gagal mendidik Karin. Karin nggak membenarkan kejadian ini, tapi apapun itu, Karin nggak ingin kehilangan anak ini. Karin mau mempertahankannya,” tutur Karin panjang lebar.

Syerin menatap adiknya tidak percaya. Namun tidak berapa lama kemudian, wanita berusia 30 tahun itu membawa tubuh Karin ke dekapannya. Karin balas memeluk kakaknya, ia mendengar Syerin terisak pilu.

“Karin,” ujar Syerin ketika ia mengurai pelukannya, “Kakak nggak akan biarin kamu hadapin semuanya sendiri. Inget ya, Kakak selalu ada buat kamu.”

***

Di antara papa dan mamanya, Aryan lebih dulu memberitahu adiknya soal berita besar dua hari yang lalu. Nayna telah tahu apa yang terjadi antara Aryan dan Karin. Nayna tahu semuanya soal perempuan yang saat ini tengah mengandung anak kakaknya. Wah ini rumit sekali, pikir Nayna.

Nayna kini berada di kamar Aryan, sedang mondar-mandir layaknya setrikaan.

“Ko, lo kok santai banget sih,“cetus Nayna. Gadis itu menghampiri Aryan dan menarik lengannya dengan susah payah agar pria bertubuh jangkung itu bangun dari kasur.

“Lo jadi ngasih tau papa dan mama hari ini, kan?” tanya Nayna.

“Iya, jadi,” jawab Aryan seadanya.

“Mending lo siapindiri deh dari sekarang, dikit lagi papa pulang. Gue nggak nyangka sih lo mainnya jauh banget, Ko. Kok bisa sampai kebablasan sih? Lo nggak pake pengaman emangnya?” cerocos Nayna panjang lebar.

“Malam itu gue hangover, and everything is just happened,” terang Aryan.

Nayna menatap Aryan sambil menyipitkan matanya, “Ohh ... gitu. Jadi maksud lo ini yang pertama buat lo? Duh, keren juga yaa Koko gue,” Nayna tersenyum sambil menepuk-nepuk lengan Aryan. “Gue nggak tahu papa dan mama akan ngasih reaksi apa pas tau kabar ini. Yang jelas, lo siap-siap aja sama serangan papa. You know your daddy so well, right?”

***

Aryan jelas sangat mengetahui watak papanya seperti apa. Namun apapun resikonya, ia akan siap menanggung itu. Ia harus memberitahu apa yang terjadi, sekalipun harus mendapat pukulan untuk yang pertama kali dari tangan papanya langsung, Aryan sudah siap mendapatkannya.

“Pah, Mah, apa yang barusan Aryan sampaikan semuanya benar,” ucap Aryan ketika Aryo dan Tiara masih terdiam. Kedua orang tuanya itu belum menunjukkan tanda-tanda akan merespon perkataannya. Aryan telah mengatakan semuanya, soal dirinya dan Karin yang kini memiliki tanggung jawab besar bersama. Bukan main-main tanggung jawab itu, karena menjadi orang tua adalah urusan seumur hidup.

Aryan duduk di sofa yang berjarak beberapa langkah dari papa dan mamanya. Ruang keluarga yang luas itu sekejap terasa begitu sunyi, bahkan Aryan dapat mendengar hembusan napasnya sendiri.

Saat Aryan mengarahkan pandangannya dari yang semula menatap lantai marmer dan kini beralih pada Aryo di hadapannya, Aryan mendapati papanya melayangkan tatapan tajam kearahnya. Sorot itu terasa dapat dapat menghunus jantung Aryan sampai ke yang paling dalam. Papanya terlihat menggulung kedua lengan kemejanya sampai sebatas siku, lalu berjalan dengan langkah lebar untuk menghampirinya.

“Apa perlu kamu kasih tau Papa dan Mama soal perbuatan kamu itu?” tanya Aryo dengan nada sarkasnya.

Aryo terlihat menghela napasnya dan menghembuskannya secara kasar, “Papa pikir karena kamu sudah bisa berbuat, maka kamu bisa menyelesaikannya sendiri,” ujar Aryo lagi. Buku-buku tangannya tampak memutih karena mengepal terlalu kuat. Aryo mengangkat lengannya dan hendak mengarahkannya pada Aryan. Seolah dapat memprediksi apa yang akan terjadi, Tiara lekas menghampiri Aryo dan segera menahan lengannya. Tiara mengusap lengan suaminya itu, meminta Aryo untuk meredam emosinya.

“Aryan, apa rencana kamu setelah ini? Kamu udah tau apa yang harus kamu lakukan?” tanya Tiara pada putra sulungnya itu.

Aryan pun mendapati tatapan kecewa dari wanita yang sangat dicintainya itu, “I don't know yet, Mom. I'm still think about that,” jawab Aryan dengan suaranya yang sedikit bergetar.

Kedua lutut Tiara rasanya lemas mendengar kalimat yang dilontarkan Aryan. Pegangan tangannya pada lengan Aryo pun mengendur, kedua mata indahnya itu nampak berkaca-kaca.

Aryan melihat Aryo mendekat padanya dan hendak melayangkan tamparan ke wajahnya, tapi Aryan tidak merasakan rasa sakitnya yang diprediksinya.

Dua detik berlalu, Aryan pun mendapati Nayna melindunginya. Adiknya itu menjadi alasan mengapa papanya mengurungkan niat untuk memukul Aryan.

“Pah, jangan pukul Koko. I'm begging you,” ucap Nayna. Gadis berusia 18 tahun itu lantas menatap Aryo dengan pandangan memohon.

“Koko sama kak Karin dijebak, Pah, Mah. Ini bukan sepenuhnya kesalahan Koko,” jelas Nayna.

“Kamu tau itu dari mana Nayna?” tanya Aryo.

Nayna lantas melayangkan tatapannya pada Aryan dan memintanya untuk menjelaskan. Aryan berdeham sebelum akhirnya lelaki itu mengutarakannya, “Aryan dan Karin sepakat untuk tidak mencari tau soal itu, Pah, Mah. Kalau sampai skandal ini tersebar, kemungkinan karir dan masa depan Karin yang jadi taruhannya,” tutur Aryan.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷