Taruhan untuk Karir dan Masa Depan

Dua hari sudah berlalu sejak kejadian Rey memukul Aryan di lapangan. Gosip tentang Aryan dan Karin yang memiliki hubungan pun mulai santer terdengar di seantero fakultas. Pekerjaan Karin yang notabenenya adalah public figure, membuat berita itu tersebar cepat di media sosial. Karin tidak tahu apa yang akan bertambah buruk lagi dari itu, yang jelas cepat atau lambat, ia yakin, fakta bahwa dirinya hamil akan segera terungkap.

Sepulang kuliah sore ini, Karin memutuskan memberi tahu Syerin dan Vanessa mengenai kehamilannya. Tidak mudah bagi Karin untuk menyampaikan kabar besar ini. Kakak dan ibu sambungnya itu telah begitu menyayangi pada Karin dan Kavin, merawat mereka dengan sepenuh hati. Bagaimana bisa Karin melemparkan bom kepada mereka?

“Kakak, Mami. Karin mau menyampaikan sesuatu,” ucap Karin. Perempuan itu menghela napasnya yang terdengar berat, “Kabar ini akan mengecewakan Kakak dan Mami. Karin minta maaf.” Karin berusaha menatap mata Syerin dan Vanessa, meskipun saat ini itu terasa begitu sulit dilakukan.

Hanya dengan satu kalimat yang barusan diutarakan oleh Karin, sudah cukup untuk menjelaskan situasi yang tengah terjadi. Hampir mirip dengan reaksi Dara waktu Karin memberitahu bahwa dirinya hamil, Syerin dan Vanessa seketika bungkam. Dari tatapan matanya, Karin tahu bahwa kakak dan mamanya itu sangat kecewa terhadapnya.

Beberapa detik berlalu, Syerin pun mengangkat wajahnya yang semula tertunduk. Syerin menatap adik sambungnya itu tepat di manik matanya, “Siapa ayahnya? Kamu kasih tau sama Kakak sekarang,” tutur Syerin.

“Dia kakak tingkat di jurusan Karin, namanya Aryan,” jawab Karin.

Karin mendapati air mata Syerin mengalir membasahi pipinya. Baru pertama kali Karin melihat kakaknya itu menangis karena kecewa terhadapnya.

Syerin beralih menatap Vanessa. “Mam, Syerin gagal Mam,” lirih Syerin. Vanessa pun bergerak mendekap Syerin ke pelukannya, kedua wanita yang begitu Karin sayangi itu menangis bersama karena apa yang telah ia lakukan.

“Syerin gagal menjaga adik Syerin. Papi pasti kecewa Mam,” ucap Syerin lagi.

Saat tangisnya berangsur reda, Syerin berusaha mengatur napasnya dan kembali bertanya pada Karin. “Karin, kamu udah tau apa yang harus kamu lakukan?” tanya Syerin.

“Saat ini kamu punya tanggung jawab yang besar. Jadi orang tua itu nggak mudah, Karin,” sambung Syerin.

Karin menatap Syerin dan Vaness bergantian. “Mami, Kakak. Selama ini ... kalian udah ngasih yang terbaik buat Karin dan Kavin. Karin sayang banget sama kalian. Mami sama Kakak nggak pernah gagal mendidik Karin. Karin nggak membenarkan kejadian ini, tapi apapun itu, Karin nggak ingin kehilangan anak ini. Karin mau mempertahankannya,” tutur Karin panjang lebar.

Syerin menatap adiknya dengan tatapan tidak percaya. Namun tidak berapa lama kemudian, wanita berusia 30 tahun itu membawa tubuh Karin ke dalam dekapannya. Karin balas memeluk kakaknya itu, ia pun mendengar Syerin terisak pilu sambil mengeratnya pelukannya. Kejadian ini telah membuat Syerin hancur, tapi ia tidak ingin adiknya lebih hancur lagi jika ia tidak merangkulnya.

Syerin perlahan-lahan mengurai pelukannya, ia menatap Karin dengan tatapan sayangnya, “Karin, Kakak nggak akan biarin kamu hadapin semua ini sendiri. Ingat ya, Kakak akan selalu ada buat kamu.”

***

Di antara papa dan mamanya, Aryan lebih dulu memberitahu adiknya soal berita besar dua hari yang lalu. Nayna telah tahu apa yang terjadi antara Aryan dan Karin. Nayna mengetahui semuanya soal perempuan yang saat ini tengah mengandung anak kakaknya. Wah ini rumit sekali, kata Nayna.

Nayna kini berada di kamar Aryan, sedang mondar-mandir layaknya setrikaan. Perempuan dengan tinggi 165 centi itu ikutan pusing memikirkan bagaimana nasib kakaknya jika orang tua mereka nanti tahu soal berita besar ini.

“Ko, lo kok santai banget sih,” cetus Nayna. Gadis itu menghampiri Aryan dan menarik lengannya agar pria bertubuh jangkung itu bangun dari kasurnya.

“Lo jadi ngasih tau papa dan mama hari ini, kan?” tanya Nayna.

“Iya, jadi,” jawab Aryan seadanya.

“Mending lo siapin diri dari sekarang deh, dikit lagi papa pulang. Gue nggak nyangka sih lo mainnya jauh banget, Ko. Kok bisa sampai kebablasan sih? Lo nggak pake pengaman emangnya?” cerocos Nayna panjang lebar.

“Malam itu gue hangover, and everything is just happened,” terang Aryan.

Nayna menatap Aryan sambil menyipitkan matanya, “Ohh ... gitu. Jadi maksud lo ini yang pertama buat lo?Ternyata keren juga yaa Koko gue,” Nayna tersenyum sambil menepuk-nepuk lengan Aryan. “Gue nggak tahu papa dan mama akan ngasih reaksi apa pas tau kabar ini. Yang jelas, lo siap-siap aja sama serangan papa. You know your daddy so well, right?”

***

Aryan jelas sangat mengetahui watak papanya seperti apa. Namun apapun resikonya, ia akan siap menanggung itu. Ia harus memberitahu apa yang terjadi, sekalipun harus mendapat pukulan untuk yang pertama kali dari tangan papanya secara langsung, Aryan sudah siap mendapatkannya.

“Pah, Mah, apa yang barusan Aryan sampaikan semuanya adalah benar,” ucap Aryan ketika Aryo dan Tiara masih terdiam. Kedua orang tuanya itu belum menunjukkan tanda-tanda akan merespon perkataannya. Aryan telah mengatakan semuanya, soal dirinya dan Karin yang kini memiliki tanggung jawab besar bersama. Bukan main-main tanggung jawab tersebut, karena menjadi orang tua itu adalah urusan seumur hidup.

Aryan duduk di sofa yang berjarak beberapa langkah dari papa dan mamanya. Ruang keluarga yang luas itu dalam sekejap terasa begitu sunyi, bahkan Aryan dapat mendengar hembusan napasnya sendiri.

Saat Aryan mengarahkan pandangannya yang semula menatap lantai marmer dan kini beralih pada Aryo di hadapannya, Aryan mendapati papanya itu melayangkan tatapan tajam ke arahnya. Sorot itu terasa dapat dapat menghunus jantung Aryan sampai ke yang paling dalam. Papanya terlihat menggulung kedua lengan kemejanya sampai sebatas siku, lalu berjalan dengan langkah lebar untuk menghampirinya.

“Apa perlu kamu kasih tau Papa dan Mama soal perbuatan kamu itu?” tanya Aryo dengan nada sarkasnya.

Aryo terlihat menghela napasnya dan menghembuskannya dengan kasar, “Papa pikir, karena kamu sudah bisa berbuat, maka kamu bisa menyelesaikannya sendiri,” ujar Aryo lagi. Buku-buku tangannya tampak memutih karena mengepal terlalu kuat. Aryo pun mengangkat lengannya dan hendak mengarahkannya pada Aryan. Seolah dapat memprediksi apa yang akan terjadi, Tiara dengan sigap menghampiri Aryo dan segera menahan lengannya. Tiara mengusap lengan suaminya itu, meminta Aryo untuk meredam emosinya.

“Aryan, apa rencana kamu setelah ini? Kamu udah tau apa yang harus kamu lakukan?” tanya Tiara pada putra sulungnya itu.

Aryan pun mendapati tatapan kecewa dari wanita yang sangat dicintainya itu, “I don't know yet, Mom. I'm still think about that,” jawab Aryan dengan suaranya yang sedikit bergetar.

Kedua lutut Tiara rasanya lemas mendengar kalimat yang dilontarkan Aryan. Pegangan tangannya pada lengan Aryo pun mengendur, kedua mata indahnya itu nampak berkaca-kaca.

Aryan melihat Aryo mendekat padanya dan hendak melayangkan tamparan ke wajahnya, tapi sampai lima detik pun berlalu, Aryan tidak merasakan rasa sakitnya yang diprediksinya.

Aryan pun mendapati Nayna tengah melindunginya. Adiknya itu menjadi alasan mengapa papanya mengurungkan niat untuk memukul Aryan.

“Pah, jangan pukul Koko. I'm begging you,” ucap Nayna. Gadis berusia 18 tahun itu lantas menatap Aryo dengan pandangan memohonnya.

“Koko sama kak Karin dijebak, Pah, Mah. Ini bukan sepenuhnya kesalahan Koko,” jelas Nayna.

“Kamu tau itu dari mana Nayna?” tanya Aryo.

Nayna lantas melayangkan tatapannya pada Aryan dan meminta kakaknya itu untuk menjelaskan.

Aryan berdeham sebelum akhirnya ia mengutarakannya, “Aryan dan Karin sepakat untuk tidak mencari tau soal itu, Pah, Mah. Kalau sampai skandal ini tersebar, kemungkinan karir dan masa depan Karin yang jadi taruhannya,” tutur Aryan.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷