Tempat Tinggal Baru dan Obat Luka Lebam
Kabar besar soal Aryan dan Karin telah sampai juga ke telinga Edi dan Felicia, opa dan omanya Aryan. Felicia menghubungi putranya, meminta Aryo untuk membatalkan keputusannya tersebut. Namun yang terjadi adalah Aryo tetap kekeuh pada pendiriannya.
Tidak ada yang berhasil membujuk Aryo untuk tidak memberikan pelajaran berharga pada anak lelakinya. Tiara, Nayna, dan Felicia, ketiga perempuan yang dicintai Aryo itu, tidak dapat menggugurkan niatnya untuk mencabut fasilitas Aryan.
Hampir semua fasilitas yang Aryan miliki telah disita, kini lelaki itu hanya memiliki tabungan sebesar 10% dari dana tak terbatas yang ia punya sebelumnya. Seolah belum cukup dengan itu, papanya juga memintanya untuk pergi dari rumah.
Aryo menahan Tiara dan Nayna yang hendak menyusul langkah Aryan. Sebagai seorang ibu, Tiara mana tega melihat anaknya pergi dari rumah.
“Sayang, Aryan sudah besar. Dia harus belajar berpikir dan mengambil keputusan yang tepat,” ujar Aryo pada Tiara.
Tiara pun melayangkan tatapannya pada Aryo, “Setidaknya jangan minta dia pergi dari rumah. Nggak ada seorang ibu yang bisa melihat anaknya pergi dan nggak punya tujuan,” ucap Tiara.
Hati Aryan yang mendengar penuturan mamanya itu, seketika terasa seperti dihantam kuat. Beberapa langkah lagi, kakinya hampir sampai di pintu rumah. Sebelum benar-benar pergi, Aryan memutuskan untuk memutar balik langkahnya dan berbicara pada mamanya.
Aryan menatap Tiara, “Mama nggak perlu khawatir sama Aryan. Aryan akan berusaha menyelesaikan masalah Aryan,” ujar Aryan.
Setelah itu Aryan mengalihkan tatapannya kepada Aryo, tapi papanya itu terlihat tidak sudi untuk sekedar melihatnya. “Pah, Aryan tau kata maaf nggak cukup untuk semua rasa kecewa yang Papa dan Mama. Tapi Aryan janji, Aryan hanya akan kembali ke rumah setelah membuat Papa dan Mama bangga,” tutur Aryan.
Usai mengatakannya, Aryan berbalik dan melangkahkan kakinya untuk pergi. Tiara dan Nayna menatap kepergian Aryan dengan tatapan terlukanya. Nayna menghampiri mamanya dan menenangkanya, ia membawa Tiara ke dalam pelukannya.
“Mah, percaya sama koko ya. Koko bakal balik kok. Nayna tau, suatu hari koko akan membuat Mama dan Papa bangga.”
***
Nayna meminta tolong pada pak Hamid, supir pribadinya, untuk tidak langsung mengantarnya pulang ke rumah. Fakultas Ekonomi dan Bisnis menjadi tujuan perempuan dengan surai legam sebahu itu. Setibanya di gedung bernuansa biru dan putih tersebut, Nayna segera melangkahkan kakinya untuk masuk.
Nayna menempelkan ponselnya di telinga setelah mendial nomor Leon. Tidak lama kemudian, Leon pun mengangkat telfonnya. “Halo, kak Leon. Iya kak, gue udah di lobi. Oke kak, makasih ya.” Sambungan pun di akhiri dan Nayna menunggu Leon yang katanya akan segera menghampirinya.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Nayna menunggu Leon datang. Pria jangkung dengan potongan rambut undercut itu bersedia membantunya untuk bertemu dengan seseorang yang ia ingin temui.
Nayna mengikuti langkah Leon dan akhirnya mereka sampai di kantin fakultas. Bertemulah Nayna dengan sosok perempuan berambut hitam legam sepunggung. Sosok itu merupakan seorang diceritakan oleh Aryan kemarin padanya. Karina Titania Roland, perempuan itu menatap Nayna dan lantas mengulaskan senyum tipisnya.
“Lo berdua silakan ngobrol. Gue tinggal dulu ya Nay, Rin,” ucap Leon. Nayna dan Karin pun mengangguki Leon. Sampai punggung Leon menjauh dari pandangan mereka, Nayna maupun Karin belum ada yang membuka suara.
“Hai, Kak Karin. Kenalin, aku Nayna, adiknya Kak Aryan,” Nayna mengulaskan senyum sopannya sembari mengulurkan tangannya di atas meja.
Karin segera membalas uluran tangan itu, “Karin.”
“Aku minta maaf udah ganggu waktu Kak Karin hari ini. Sebelumnya aku emang minta tolong kak Leon untuk ketemu sama Kakak. Aku udah tahu juga soal Kakak dan Kak Aryan.”
Kedua mata Karin nampak melebar kala mendengar penuturan Nayna. Karin terdiam, ia tidak tahu harus memberi respon apa. Sejak kejadian di lapangan tempo hari, Karin memang belum mendengar apapun lagi soal Aryan.
“Kak Aryan udah ngasih tau papa dan mama soal semuanya. Rencananya hari ini mama mau ketemu sama Kak Karin, tapi beliau berhalangan. Tiba-tiba tadi pagi mama sakit dan harus di infus. Udah dua hari yang lalu mama kurang semangat untuk makan ataupun bangun dari tempat tidur,” terang Nayna.
“Nayna, apa itu karena masalah ini?” tanya Karin.
“Papa dan mamaku memang shock banget waktu dengar kabar ini. Kak Aryan dapat pelajaran dari papaku. Orang tuaku bilang, mereka nggak ingin kehilangan nyawa kecil itu, Kak. Mereka sayang sama bayi itu. Kakak mau pertahanin, kan?” tanya Nayna. Sorot matanya memancarkan tatapan penuh harap.
Karin mengerti apa yang sedang coba disampaikan oleh Nayna. Karin pun mengangguk. “Kakak nggak pernah berniat untuk gugurin kandungan ini, Nayna,” papar Karin.
Nayna yang mendengar itu lantas mengulaskan senyumnya. “Kalau mama udah sembuh, Kakak mau ketemu sama mama? Mama bilang mau bicarain semuanya, Nayna belum tau itu apa, tapi yang jelas, kita nggak akan membiarkan Kakak jalanin ini sendiri,” jelas Nayna.
Karin terlihat bingung untuk memberikan jawaban. Perempuan itu berdeham, sebelum akhirnya memiliki keputusan untuk menjawab. Karin pun menganggukkan kepalanya tanda ia setuju untuk bertemu dengan mamanya Aryan. Ia dan Nayna pun bertukar nomor ponsel sebelum keduanya harus berpisah.
“Oke, kalau gitu, kita ngobrol lagi ya nanti Kak. If you need anything, just text me. I’m an aunty right now,” ucap Nayna.
Mendengar perkataan Nayna, membuat seulas senyum tersungging di bibir Karin. “Nay, makasih ya,” ucap Karin.
Nayna menampakkan cengiran manisnya, “Anytime, Kak. Aku siap di repotin sebagai aunty.”
Di tengah situasi tersebut, kehadiran Leon menginterupsi Nayna dan Karin. “Udah selesai ngobrolnya?” tanya Leon.
Kedua perempuan di hadapan Leon itu lantas mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. Nayna sekali lagi berpamitan pada Karin. Namun sebelum Nayna benar-benar pergi, Karin menahannya, “Nay, aku titip ini ya.” Karin menyerahkan sebuah wadah berbentuk tube berukuran sedang dari tasnya ke tangan Nayna.
Nayna memerhatikan benda yang kini berada di tangannya. “Ini buat siapa Kak?” tanya Nayna saat mendapati benda tersebut adalah obat untuk luka lebam.
“Buat Aryan. Di olesin ke lukanya 3 kali sehari, biar cepat sembuh,” jelas Karin.
Nayna lantas memasukkan obat itu ke dalam tas kecilnya. “Sure. Aku pastiin koko pakai ini 3 kali sehari. Makasih banyak ya Kak,” ucap Nayna sembari tersenyum simpul.
“Nay, Leon, aku duluan ya. Aku ada kelas lima menit lagi,” pamit Karin setelah mengecek arloji di pergelangan tangannya. Nayna menganggukinya dan membiarkan Karin untuk berlalu lebih dulu.
“Ceritanya kamu jadi kurirnya Aryan sama Karin, gitu Nay?” tanya Leon sepeninggalan Karin dari sana.
“Ya gitu deh, Kak,” Nayna tertawa sekilas. “Habisnya aku tuh khawatir banget lho sama koko. Aku yakin, dua hari ini dia pasti makan makanan instan. Sok-sokan bisa tinggal mandiri, padahal mah, koko tuh manja banget. Kak Leon tau lah koko gimana,” ujar Nayna panjang lebar.
Tadi Nayna memang mengatakan pada Karin bahwa setelah dari sini, ia akan mengunjungi apartemen dimana saat ini Aryan tinggal. Nayna khawatir terhadap kakaknya itu, ia tidak yakin Aryan akan melakukan semuanya dengan benar.
Di dalam perjalanan Nayna menuju apartemen, gadis itu kembali melihat obat luka lebam yang di berikan Karin untuk Aryan. Hal kecil, tapi kok rasanya dalam sekali.
Benda ini bukan untuk Nayna, ia hanya kurir, kalau kata Leon. Namun Nayna saja berhasil tersentuh, hingga sebuah senyum cerah terukir sempurna di wajahnya. Melalui benda kecil tersebut, Nayna yakin, kakaknya yang berhati baja itu akan tersentuh. Kali ini, Nayna bahkan berani bertaruh dengan dirinya sendiri.
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷