Tempat untuk Pulang

KKaldera menoleh ke samping tempat duduknya yang langsung disambut sebuah senyum oleh Redanzio. Hari ini Zio mengajak Kaldera untuk bertemu dengan keluarganya, Zio ingin mengenalkan Kaldera sebagai kekasihnya. Ini rencana pertemuan yang kedua, setelah rencana pertama waktu itu tidak terlaksana sebagaimana mestinya.

“Kal, sebentar aku telfon mama dulu ya. Harusnya sih udah sampe, mungkin mama kejebak macet,” ucap Zio. Kaldera pun mempersilakan lelaki itu untuk menghubungi mamanya.

Zio menjauh dari Kaldera beberapa langkah. Kaldera tetap di tempatnya, tapi matanya tidak bisa lepas menatap punggung tegap Zio. Ada pancaran kekhwatiran dari tatapan itu. Jika kejadian gagak bertemu itu terulang lagi hari ini, Kaldera tidak mempersalahkannya sama sekali. Ini bukan tentang dirinya, tapi tentang Zio. Kaldera khawatir Zio kecewa lagi dan jadi merasa bersalah terhadapnya.

Begitu Zio kembali ke meja mereka, lelaki itu menorehkan senyum tipisnya. “Kal, barusan mama ngabarin kalau beliau mendadak nggak bisa dateng. Aku juga udah hubungin kakakku, tapi dia nggak angkat telfonnya. Kayaknya mereka nggak bisa dateng hari ini,” jelas Zio.

Dari tatapannya, Zio terlihat kecewa. “Kal, maaf ya. Aku udah buat kamu nunggu, tapi malah nggak jadi ngenalin kamu ke keluargaku,” ucap Zio.

It's oke, Zio. Aku yakin, akan ada waktu yang tepat untuk aku ketemu keluarga kamu. Masih banyak waktu, kan?” ujar Kaldera sembari mengulaskan senyum hangatnya. Kaldera mengatakan pada Zio bahwa ini bukan masalah yang besar dan Zio tidak perlu merasa bersalah padanya. Toh jika tidak sekarang, Kaldera yakin akan ada saatnya ia dapat mengenal keluarga Zio.

Kaldera lantas meraih satu tangan Zio, lalu ia menggenggamnya ringan. Zio seketika menoleh, menatap tangan besarnya yang digenggam oleh tangan kecil Kaldera.

Begitu Kaldera tersenyum padanya seperti saat ini, rasanya ada seberkas cahaya yang menerangi dunia Zio yang gelap. Zio dapat merasa lebih baik dengan keberadaan Kaldera di sisinya dan mengetahui ia memiliki seseorang untuk menjadi tempat pulang.

***

Kaldera dan Zio sudah menjalin hubungan selama satu tahun. Mereka adalah dua remaja yang dipertemukan dan kemudian saling jatuh cinta secara bertahap.

Kaldera mengisi hidup Zio yang terasa gelap dan hampa, terlebih sejak orang tua Zio bercerai. Sama seperti yang Kaldera lakukan, Zio juga mewarnai hari-hari Kaldera. Lelaki itu hadir seperti pelangi di hidupnya. Zio ingin sekali mengenalkan Kaldera kepada keluarganya.

Kaldera tidak ingin Zio mengenal keluarganya, ia mengeahui betul sifat dan karakter tantenya itu. Latar belakang keluarga Zio yang berkecukupan, berbeda dengan Kaldera, membuat tantenya kerap kali penasaran akan latar belakang kekasihnya itu dan berpikiran yang macam-macam.

Pikiran Kaldera seketika terhenti begitu ninja sport hitam Zio berhenti tepat di depan gang menuju rumahnya. Kaldera segera turun dari motor Zio, ia melepas helmnya dan memberikannya pada Zio.

“Makasih yaa untuk malam ini. Aku kenyang terus kalau jalan sama kamu,” ujar Kaldera diiringi cengiran kecilnya.

Zio nampak mengulaskan senyumnya, lalu tangannya terangkat untuk merapikan sedikit rambut Kaldera yang berantakan.

“Lain kali boleh aku anter kamu sampe depan rumah?” tanya Zio. Lelaki itu masih di sana, belum berniat menyalakan mesin motornya dan pergi begitu saja.

“Sampe sini aja nggak papa, Zio. Biar kamunya nggak kejauhan,” ujar Kaldera.

“Emang kenapa nggak boleh? Aku kan pacar kamu. Aku harus mastiin kamu aman sampe masuk rumah.”

“Iya, boleh. Tapi kapan-kapan aja, oke?”

Zio akhirnya menganggukinya. Lelaki itu lantas menatap Kaldera sesaat, kebiasaan yang ia lakukan sebelum mereka berpisah setelah bertemu.

“Kamu hati-hati di jalan, bawa motornya jangan ngebut lho,” peringat Kaldera.

“Iya, Kal. Yaudah aku pulang dulu ya,” ucap Zio.

Kaldera mengangguk sekilas. “Kalau kamu udah sampe rumah kabarin aku.”

Zio tersenyum, lalu mengacungkan dua ibu jarinya sekaligus. Begitu Zio mebuka kaca helm full facenya dan siap menjalankan motornya, Kaldera melambaikan tangannya sebelum lelaki itu benar-benar tidak terlihat lagi dari pandangannya.

Kaldera masih di sana saat Zio sudah pergi. Sejujurnya Kalder hanya tidak ingin Zio sampai bertemu tantenya. Ini hari Sabtu dan tantenya libur bekerja, jadi kemungkinan beliau ada di rumah. Entah sampai kapan Kaldera akan melakukannya. Ia tidak ingin sampai tantenya menyakiti Zio, entah dengan perkataannya ceplas ceplosnya atau apapun itu.

***

Sepi dan kosong. Itulah yang beberapa tahun ini Zio dapatkan ketika pulang ke rumahnya.

Zio mencoba baik-baik saja, tapi nyatanya ia tidak bisa terus membohongi dirinya sendiri. Zio merasa kesepian. Mengingat rumah ini yang dulunya terasa hangat, berbeda dengan situasi yang sekarang, merubah Zio menjadi pribadi yang dingin. Namun kepada beberapa sahabatnya ia membagi kesedihannya, menjadikan mereka tempat berbagi. Berbeda lagi kalau lagi sama Kaldera. Selain dapat mencurahkan perasaannya, Zio dapat menjadi pribadi yang lebih ceria, humoris, penyayang, dan sosok yang peduli.

Ketika sampai di teras rumahnya. Zio melepas sepatu converse-nya dan menaruhnya di rak sepatu.

Orang tuanya berpisah sejak Zio memasuki SMP. Mamanya yang sempat hancur, memilih lebih sering bekerja untuk melampiaskan kesedihannya. Harapan terakhir Zio adalah kakaknya. Zio mempunyai kakak laki-laki. Namun kakaknya juga sama saja. Kakaknya yang perfeksionis lebih mementingkan karirnya untuk dapat mencukupi kebutuhan keluarga. Zio mencoba mengerti bahwa saat ini kewajiban besar itu ada di pundak kakaknya, tapi semuanya yang telah berubah perlahan juga menghancurkan pribadi seorang Redanzio.

Klise.

Zio adalah anak broken home. Masa-masa emas remajanya berbeda dengan kebanyakan anak lain. Ia tidak memiliki rumah dalam artian yang sesungguhnya. Tempat tinggal yang berwujud ini hanyalah bentuk, tapi Zio tidak mengenal apa arti tempat pulang yang sebenarnya.

Kehadiran Zio di ruang tamu lantas disambut oleh mbak Yuni. Beliau adalah wanita yang sudah merawatnya dari kakaknya kecil sampai sekarang. Sekalipun sudah diberikan kesempatan untuk pensiun, mbak Yuni ini tidak mau meninggalkan keluarga yang sudah di anggapnya keluarga sendiri. Terlebih lagi, beliau tidak tega kalau harus meninggalkan Zio sendiri jika rumah sedang kosong seperti ini.

“Mas Zio, Mbakk udah siapin makan malam ya. Tadi ibu ngabarin, katanya malem ini nggak bisa pulang, harus dines ke luar kota. Kalau mas Raegan, beliau ada rapat, belum tau bisa pulang jam berapa.”

Setelah mengucapkannya, rasanya mbak Yuni rasanya tidak tega dan ikut merasa bersedih melihat tuan mudanya itu. Zio adalah anak yang baik, hanya saja keadaan yang memaksanya menjadi seperti ini.

“Mas Zio jangan ngerokok terus ya, mending makan nasi Mas. Nanti kalau Mas Zio ngerokok lagi Mbok bilangin mbak Kaldera lho Mas.”

Beberapa kali memang Zio cerita tentang Kaldera kepada Mbok Yuni, seperti tentang Kaldera yang kerap meminta Zio mengurangi rokoknya. Dari sikap Kaldera terhadap Zio itu, mbak Yuni pun senang juga melihat ada sosok yang begitu sayang dan perhatian terhadap tuan mudanya itu.

“Iya Mbak, Zio kurangin kok rokoknya.

Zio pun memilih naik ke lantai atas di mana kamarnya berada. Ia mengatakan pada mbak Yuni bahwa beliau bisa pulang dan tidak masalah kalau Zio harus sendiri di rumah.

Zio akan mencoba untuk tidur. Mungkin dengan beristirahat, bisa membuatnya merasa lebih baik. Zio pun berharap ia dapat melupakan soal keluarganya yang memang sudah berbeda, memang sudah tidak bsia kembali utuh dan bersama-sama.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂