Tempat untuk Pulang

Hari ini Zio mengajak Kaldera untuk bertemu dengan keluarganya. Zio ingin mengenalkan Kaldera sebagai kekasihnya. Ini adalah rencana pertemuan yang kedua, setelah rencana pertama waktu itu tidak terlaksana sebagaimana mestinya.

“Kal, aku telfon mama dulu ya. Harusnya mama udah sampe, tapi kayaknya beliau kejebak macet,” ucap Zio. Kaldera pun mempersilakan Zio untuk menghubungi mamanya.

Zio menjauh dari Kaldera beberapa langkah. Kaldera tetap di tempatnya, tapi matanya tidak bisa lepas menatap punggung tegap Zio. Ada pancaran kekhawatiran dari tatapan Kaldera. Jika kejadian gagal bertemu itu terulang lagi hari ini, Kaldera tidak mempersalahkannya sama sekali. Ini bukan tentang dirinya, tapi ini tentang Zio. Kaldera khawatir Zio akan kembali kecewa dan jadi merasa bersalah terhadapnya.

Sekitar 5 menit kemudian, Zio kembali ke meja mereka. Lelaki itu lantas menorehkan senyum tipisnya. “Kal, barusan mama ngabarin kalau beliau mendadak nggak bisa dateng. Aku juga udah hubungin mas Raegan, tapi dia nggak angkat telfonnya. Kayaknya mereka nggak bisa dateng deh hari ini,” jelas Zio.

Dari tatapannya, Zio terlihat kecewa dan merasa bersalah. “Kal, maaf ya. Aku udah buat kamu nunggu, tapi malah nggak jadi ngenalin kamu ke keluargaku,” ucap Zio.

Kaldera menggeleng sekilas, perempuan itu lantas mengulaskan senyum lembutnya. “It's oke, Zio. Aku yakin, akan ada waktu yang tepat untuk aku ketemu keluarga kamu. Masih banyak waktu, kan?”

Kaldera mengatakan pada Zio bahwa ini bukan masalah besar dan Zio tidak perlu merasa bersalah terhadapnya. Toh jika tidak sekarang, Kaldera yakin akan ada saatnya ia dapat mengenal keluarga Zio.

Kaldera lantas meraih satu tangan Zio dan menggenggamnya ringan. Zio menatap tangan besarnya yang digenggam oleh tangan kecil Kaldera.

Begitu Kaldera tersenyum padanya seperti ini, rasanya ada seberkas cahaya yang menerangi dunia Zio yang gelap. Zio dapat merasa lebih baik dengan keberadaan Kaldera di sisinya. Zio begitu merasa bersyukur saat mengetahui ia memiliki seseorang untuk dijadikan tempat pulang.

***

Kaldera dan Zio sudah menjalin hubungan selama kurang lebih satu tahun. Mereka adalah dua remaja yang dipertemukan dan kemudian saling jatuh cinta secara bertahap. Mereka melakukan banyak hal bersama, saling support, dan saling memberi perhatian.

Kaldera telah mengisi hidup Zio yang terasa gelap dan hampa, terlebih sejak kedua orang tua Zio bercerai. Sama seperti yang Kaldera lakukan, Zio juga mewarnai hari-hari Kaldera. Lelaki itu hadir seperti pelangi di hidupnya. Zio adalah penyemangat bagi Kaldera dikala ia lelah dan rasanya ingin menyerah terhadap hidupnya.

Seiring berjalannya waktu, Zio pun ingin sekali mengenalkan Kaldera kepada keluarganya. Namun situasinya berbeda, Kaldera tidak ingin Zio mengenal keluarganya. Kaldera mengetahui betul sifat dan karakter tantenya. Latar belakang keluarga Zio yang berkecukupan, berbeda dengan Kaldera, membuat tantenya kerap kali penasaran soal kekasihnya dan berpikiran yang macam-macam.

Pikiran monolog Kaldera seketika terhenti begitu ninja sport hitam miliki Zio berhenti tepat di depan gang menuju rumahnya. Kaldera segera turun dari motor Zio, ia melepas helm di kepalanya dan memberikannya pada Zio.

“Zio, makasih yaa untuk malam ini. Aku kenyang terus kalau jalan sama kamu,” ujar Kaldera diiringi cengiran kecilnya.

Zio nampak mengulaskan senyumnya, lalu tangannya terangkat untuk merapikan sedikit rambut Kaldera yang berantakan.

“Lain kali boleh nggak aku anter kamu sampe depan rumah?” tanya Zio. Lelaki itu masih di sana, belum berniat menyalakan mesin motornya untuk pergi dari hadapan Kaldera.

“Sampe sini aja nggak papa, Zio. Biar kamunya nggak kejauhan,” ujar Kaldera.

“Emang kenapa aku nggak boleh anter kamu? Aku kan pacar kamu. Aku harus mastiin kamu aman sampe rumah dong.”

“Iya, boleh. Tapi kapan-kapan aja, oke?”

Zio akhirnya menganggukinya. Lelaki itu menatap Kaldera sesaat, kebiasaan yang ia lakukan sebelum mereka berpisah setelah bertemu.

“Kamu hati-hati di jalan ya, bawa motornya jangan ngebut,” peringat Kaldera.

“Iya, Kal. Yaudah aku pulang dulu,” ucap Zio.

Kaldera mengangguk sekilas. “Kalau udah sampe rumah kabarin aku,” pesan Kaldera.

Zio tersenyum, lalu mengacungkan dua ibu jarinya sekaligus. Saat Zio membuka kaca helm full face-nya dan siap menjalankan motornya, Kaldera melambaikan tangannya diiringi senyum semringahnya.

Kaldera masih di sana saat Zio sudah tidak terlihat oleh netranya. Sejujurnya Kaldera hanya tidak ingin Zio sampai bertemu dengan tantenya. Ini hari Sabtu dan tantenya libur bekerja, jadi kemungkinan beliau ada di rumah. Entah sampai kapan Kaldera akan melakukannya. Namun yang jelas, Kaldera tidak ingin sampai tantenya menyakiti Zio, entah melalui perkataan atau hal lainnya yang sama sekali tidak ingin Kaldera bayangkan.

***

Sepi dan kosong. Itulah yang beberapa tahun belakangan ini Zio rasakan ketika ia pulang ke rumahnya.

Zio mencoba untuk baik-baik saja, tapi kenyatannya, ia tidak bisa terus membohongi dirinya sendiri. Zio merasa kesepian. Mengingat rumah ini yang dulunya terasa hangat dan ramai, berbeda dengan situasi sekarang. Itu lah yang akhirnya merubah Zio menjadi pribadi yang dingin dan tertutup. Namun kepada beberapa sahabatnya, Zio bersedia menceritakan kesedihannya, menjadikan mereka tempat berbagi. Berbeda lagi jika sedang bersama Kaldera. Selain dapat mencurahkan perasaannya, Zio dapat menjadi pribadi yang lebih ceria, humoris, penyayang, dan sosok yang sangat peduli.

Ketika sampai di teras rumahnya, Zio melepas sepatu converse-nya dan menaruhnya di rak sepatu.

Orang tuanya berpisah sejak Zio memasuki SMP. Mamanya yang sempat merasa hancur, memilih lebih sering bekerja untuk melampiaskan kesedihannya. Harapan terakhir Zio adalah kakaknya. Zio mempunyai kakak laki-laki. Namun sejak perceraian orang tuanya, kakaknya sibuk bekerja. Kakaknya yang perfeksionis lebih mementingkan karirnya untuk dapat mencukupi kebutuhan keluarga. Zio mencoba mengerti, bahwa saat ini kewajiban besar itu ada di kedua pundak kakaknya. Namun semuanya yang telah berubah, perlahan juga telah menghancurkan pribadi seorang Redanzio.

Klise.

Zio adalah anak broken home. Masa-masa emas remaja yang seharusnya ia miliki, telah hilang begitu saja. Zio seperti tidak punya rumah dalam artian yang sesungguhnya. Tempat tinggal yang berwujud ini, hanyalah sebuah bentuk, tapi Zio tidak mengenal apa arti tempat pulang yang sebenarnya.

Kehadiran Zio di ruang tamu disambut oleh mbak Yuni. Beliau adalah wanita yang sudah bekerja di rumahnya dari kakaknya remaja hingga sekarang. Sekalipun sudah diberikan kesempatan untuk pensiun, mbak Yuni ini tidak ingin meninggalkan keluarga yang sudah dianggapnya sebagai keluarga sendiri.

“Mas Zio, Mbak udah siapin makan malam di meja ya. Tadi ibu ngabarin, katanya malam ini nggak bisa pulang, harus dinas ke luar kota. Kalau mas Raegan, beliau ada meeting, belum tau bisa pulang jam berapa,” ujar mbak Yuni.

Setelah mengucapkannya, perasaan mbak Yuni menjadi tidak tega dan ikut merasa bersedih melihat tuan mudanya itu. Zio adalah anak yang baik, hanya saja keadaan yang merubahnya menjadi pribadi yang sekarang.

“Mas Zio jangan ngerokok terus ya, mending makan nasi Mas. Nanti kalau Mas Zio ngerokok lagi, Mbak aduin ke mbak Kaldera lho Mas,” ucap mbak Yuni lagi.

Beberapa kali Zio kerap menceritakan tentang Kaldera kepada mbak Yuni. Seperti tentang Kaldera yang sering meminta Zio untuk mengurangi rokoknya. Dari perhatian yang Kaldera tunjukkan untuk Zio tersebut, mbak Yuni pun merasa senang melihat ada sosok yang begitu sayang dan perhatian terhadap tuan mudanya.

“Iya Mbak, Zio kurangin kok rokoknya,” ujar Zio.

Zio pun mengatakan bahwa mbak Yuni bisa pulang dan tidak masalah ia di rumah sendiri. Mbak Yuni mengiyakan dan akhirnya berpamitan pulang. Sepeninggalan mbak Yuni, Zio langsung naik ke lantai atas di mana kamarnya berada.

Zio akan mencoba untuk tidur. Mungkin dengan beristirahat, bisa membuatnya merasa lebih baik. Zio kecewa karena hari ini mamanya dan kakaknya tidak dapat datang. Keadaan ini kadang memang masih sulit baginya, tapi Zio akan mencoba melupakan soal keluarganya yang memang sudah berbeda, yang memang sudah tidak dapat kembali utuh dan bersama.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂