The Birthday Party & Punishment

Malam ini digelar acara ulang tahun di kediaman keluarga besar Brodjohujodyo dan Tiara hadir di sana. Tiara memperkirakan bahwa bangunan ini lebih besar dua kali lipat dari rumah yang menjadi tempat tinggalnya setelah menikah dengan Aryo.

Tiara tidak berniat datang ke acara ini pada awalnya, karena ia tidak berani melanggar perintah suaminya untuk pergi. Bahkan Aryo sendiri tidak hadir di acara ini. Namun takdir berkata lain dan akhirnya membawanya datang kemari. Tadi siang, Tiara dikabari oleh Erza bahwa mama mertuanya mengunjungi rumahnya. Tiara tidak ingin membuat mertuanya itu khawatir karena ketidakberadaannya di rumah, jadi Tiara bergegas pergi ke sana dan Egha yang mengantarnya. Tiara mengatakan pada Egha untuk tidak memberitahu apapun pada Aryo.

Lantas Felicia mengajak Tiara menghadiri acara ulang tahun eyang dan Tiara terpaksa berbohong dengan mengatakan Aryo juga akan datang. Suaminya akan menyusul karena masih memiliki pekerjaan yang harus di selesaikan. Tiara hanya tidak ingin membuat mertuanya khawatir dengan apa yang terjadi padanya dan Aryo.

Disatu sisi, berbohong memang bukanlah hal yang baik, tapi untuk saat ini, mertuanya lebih baik tidak mengetahui dulu apa yang sedang terjadi. Tiara setuju untuk ikut ke acara ulang tahun ini bersama Felicia karena ia memiliki sebuah tujuan, setelah tidak sengaja ia mendengar pembicaraan Aryo dengan Egha. Mereka mengatakan bahwa penyandera Rudi mengancam akan menghabisi Rudi dalam waktu yang tidak lama lagi.

Seperti perkataan Aryo, orang itu besar kemungkinan hadir di acara ini. Orang yang bertanggungjawab atas kepergian ayah kandungnya. Tiara ingin mencari informasi yang barangkali bisa ia dapatkan untuk menyelamatkan Rudi.

Tiara mengatakan pada Felicia bahwa ia akan menyusulnya menemui keluarga Brodjohujodyo yang lain, karena ia harus mencari toilet untuk menyelesaikan panggilan alamnya. Tiara menggunakan alasan tersebut untuk menjalankan rencananya.

Tiara bertanya pada salah satu maid di lantai berapa biasanya para tetua berkumpul. Tempat ini sangat luas, jadi tidak mungkin Tiara mengitarinya tanpa petunjuk sama sekali. Tiara menekan tombol lift di angka 5 sesuai dengan informasi diberikan oleh maid tadi.

Tiara sampai di lantai 5 yang memiliki desain interior yang sedikit berbeda dengan desain di lantai lainnya. Lantai ini di desain dengan gaya minimalis yang benuansa hitam, putih, dan sedikit sentuhan silver. Tiara menyusuri tempat yang memiliki banyak lorong yang tidak terlalu luas ini. Tiara menghafalkan perjalanannya agar ia tidak tersesat saat nanti ingin kembali. Tiara tidak habis pikir apa tujuan tempat yang dibuat seperti labirin.

Tunggu.

Ya, itu dia tujuannya. Tiara menemukan benang merah di kepalanya. Lantai ini dibangun untuk menyesuaikan fungsinya, yakni tempat berkumpul para tetua. Tiara juga tidak tahu dengan pasti, tapi para tetua yang merupakan pemegang saham dan petinggi perusahaan tentu memerlukan privasi yang ketat dan bukankah sebuah rahasia harusnya disimpan dengan rapi?

Tiara melanjutkan langkahnya dan sebuah pemikiran terlintas di benaknya. Bagaimana ia bisa mendapatkan informasi kalau ruangan-ruangan di lantai ini di desain kedap suara. Tiara sukses tidak dapat mendengar suara apapun ketika ia melewati lorong yang di kanan dan kirinya terdapat ruangan.

Tiara memperhatikan sekitarnya dan netranya menangkap sebuah tangga yang hanya terdiri dari beberapa anak tangga. Tangga tersebut menghubungkan ke sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, jadi tempat itu terlihat seperti rumah pohon dari sini.

Tiara melangkahkan kakinya ke sana. Ia menapaki anak tangga dan bersembunyi disamping sebuah pajangan guci mewah yang berukuran lebih besar dari tubuhnya itu. Dari tempatnya saat ini, tentu ia tidak bisa mencuri dengar pembicaraan orang yang ada di dalam, tapi Tiara tidak ingin menyerah begitu saja.

Setelah mendengar bunyi ‘beep’ yang menandakan otomatic door ruangan itu terbuka, Tiara menutup mulutnya dengan tangannya sendiri untuk memastikan ia tidak akan menimbulkan suara sekecil apapun. Seorang pria paruh baya keluar dari ruangan itu bersama seorang pria muda.

Tiara tentu mengetahui siapa pria muda itu. Pria itu adalah Elnino, rival suaminya pada pemilihan jabatan presiden direktur. Namun pria paruh baya yang bersama El tersebut, Tiara tidak yakin ia mengetahuinya, tapi wajahnya fameliar dan apakah pria itu adalah Reynaldi Brodjohujodyo?

“Bukannya semuanya akan lebih mudah kalau kita habisin Rudi?” ucap El.

“Keponakanku, kamu kayaknya masih perlu banyak belajar. Om emang akan habisin dia, tapi nanti. Bukan sekarang.”

“Kapan waktunya?”

“Nggak akan lama lagi. Rudi Abimana tau semuanya soal kejadian sebelas tahun lalu.”

El nampak mengangguk mengerti. “Oh iya, gimana dengan keturunan Erlangga? Apa om udah nemuin keberadaannya?”

“Belum. Sebelum Om mendapatkan bukti kematiannya di depan mata Om, Om akan terus cari dia.”

“Gimana kalau aku bisa bawa bukti itu ke hadapan Om?” tawar El.

“Hidup atau mati?”

“Om tinggal pilih. Om mau aku bawa dia hidup-hidup atau cuma jasadnya aja?”

“Terserah kamu. Lakukan itu untuk Om.”

“Setelah itu, apa yang akan aku dapatkan sebagai balasannya?”

“Apapun yang kamu mau. Om tau, kamu sudah memikirkan ini dari lama.”

“Oke. Aku cuma mau Aryo Bimo dan keluarganya hancur.”

“Itu gampang. Kalau gitu kita sepakat.”

Tiara mendengar semua isi percakapan tersebut dan dua orang itu hendak melangkah melewati tempat persembunyiannya. Tiara menahan napasnya agar keberadaannya tidak diketahui karena sepertinya suara hembusan pelan napasnya saja bisa terdengar di sini.

Tepat sebelum dua orang itu melewatinya, tangannya di tarik kuat oleh seseorang dan sebuah tangan membekap mulutnya. Tiara hampir ketahuan karena ia sempat menimbulkan suara dari mulutnya yang meminta dilepaskan oleh orang yang mendekapnya. Namun Tiara sadar ia tidak bisa melakukan itu untuk saat ini. Maka yang dilakukannya hanyalah menahan napasnya dalam dekapan orang yang tidak diketahuinya tersebut. Orang itu lantas membawanya ke sebuah kamar bernuansa serba hitam. Pintu kamar terkunci otomatis tanpa menimbulkan suara ketika mereka masuk.

“Hey Tiara, it's me. Don’t worry.” Orang itu membuka topi hitam yang digunakannya ketika mereka hanya berdua di dalam kamar tersebut.

Tiara mendapati sosok Aryo yang hanya berjarak beberapa centi darinya saat ini. Baru saja Tiara menghembuskan napas lega, tiba-tiba semuanya menjadi gelap dan ia hampir saja tidak dapat melihat apapun.

“Aryo, kenapa lampunya mati?”

“Nggak papa, Sayang. Sebentar lagi lampunya nyala.”

Sesuai perkataan Aryo, beberapa detik kemudian, lampunya pun kembali menyala. Tiara mengamati suaminya yang berada dihadapannya itu.

“Gimana kamu tau aku disini?” tanya Tiara.

“Harusnya aku yang tanya kamu. Kenapa kamu datang ke acara ini?”

“Maaf Aryo, aku—”

“Dengan kamu datang ke sini, sama aja membahayakan keselamatan kamu sendiri. Kita nggak tau kemungkinan apa yang bisa dia lakukan.”

“Aryo, aku udah tau semuanya. Aku dengar pembicaraan kamu sama Egha soal penyandera om Rudi. Kalau kamu tetap lanjutin penyelidikan ini, aku yang bisa kehilangan kamu. Orang itu dan El, mereka kerja sama buat hancurin kamu,” ucap Tiara dengan napasnya yang tidak beraturam. Aryo meraih pergelangan tangannya, tapi Tiara langsung bergerak untuk menolaknya.

Aryo menghela dagu Tiara pelan, meminta perempuan itu untuk menatapnya, “Tiara, dengerin aku.”

“Apa?”

“Aku nggak akan biarin mereka merealisasikan rencana itu.” Aryo meraih lengannya, lalu membawa torso Tiara ke dekapannya.

“Kamu percaya ya sama aku?” tanya Aryo pelan.

“Aku percaya kamu. Tapi mereka bener-bener bahaya, Aryo. Aku nggak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya. Kamu nggak ngerti ya,” ucap Tiara dengan nadanya teramat khawatir. Ada sebuah perasaan tidak nyaman yang bergelayut di pikirannya setelah ia mendengar percakapan Reynaldi dan El.

Aryo lantas mengurai pelukannya. Ia menatap wajah Tiara, lalu kedua tangannya menangkup kedua sisi wajah istrinya itu.

You are my whole world, Tiara. Kamu yang buat aku mau berjuang untuk memenangkan kasus ini. You don’t need to be worry, oke?” Aryo kembali memeluknya kali ini lebih erat. Pria itu menaruh tangannya di pinggang Tiara dan membelai rambut panjang istrinya.

“Sekarang kita turun dari lantai ini, tanpa seorang pun yang akan tahu. Aku akan telfon mama dan bilang kamu pulang sama aku.” Aryo mengulurkan tangannya di hadapan Tiara untuk kemudian perempuan itu raih dan genggam.

***

“Tiara, aku terpaksa harus ngasih kamu hukuman,” ujar Aryo dengan saat mereka berhasil keluar dari tempat diadakannya pesta. Tiara tidak tahu caranya, tapi yang pasti Aryo mengatakan tidak akan ada yang tahu mereka keluar dari sana.

“Tapi—”

“Kamu tahu kan, kamu udah ngelakuin kesalahan?” tanya Aryp.

“Iya, aku tau aku salah. Tapi kamu juga sembunyiin faktanya dari aku, Aryo.”

“Kamu jahat.” Tiara masuk ke mobil lebih dulu dan Aryo segera menyusul istrinya itu.

“Hukumannya tetap harus kamu jalanin, Tiara,” ucap Aryo ketika ia sudah berada di dalam mobil dengan Tiara.

“Aku juga punya hukuman buat kamu,” ujar Tiara.

“Oke, aku akan terima hukuman itu.” Aryo mengakui dirinya juga salah dengan menyembunyikan fakta terkait penyanderaan Rudi Abimana. Aryo melakukannya karena ia punya alasan. Ia tidak ingin Tiara kepikiran dan menjadi stress karena itu dapat memengaruhi kondisi janin yang dikandung istrinya.

“24 jam kamu harus ada di sampingku. Ohya, tapi kayaknya nggak bisa. Kamu tetap harus ke kantorm kan? Oke, gini aja. Selama kamu nggak di kantor, kamu harus sama aku dan ada di samping aku. Aku harus tahu apapun yang terjadi dan berkaitan sama kamu tanpa terkecuali,” tutur Tiara.

“Itu hukuman?” tanya Aryo sambil menyatukan alisnya dan sebuah senyum terbit di wajahnya.

“Iya, itu hukumannya,” ujar Tiara yakin.

“Ada hukuman lain?”

“Nggak ada. Cuma itu dan kita nggak akan berdebat lagi soal ini. Bapak Aryo Bimo, anda harus mematuhi hukumannya.”

“Oke, aku terima hukuman kamu. Aku udah minta Erza siapin penthouse yang nggak terlalu besar untuk kita. Gimana kalau kita pindah ke sana?”

“Rumah kita yang sebelumnya emangnya kenapa?” tanya Tiara.

“Di sana udah nggak aman, Tiara. Kemungkinan besar mereka udah curiga sama kita.”

“Mereka masih curiga soal itu, Aryo. Mereka belum tau dengan pasti.”

“Maksud kamu?”

“Dia nggak akan diam, sebelum dia nemuin Michelle Taninka di hadapannya.”

***

Selama di perjalanan, Tiara memberi tahu pada Aryo semua isi percakapan yang ia dengar antara Elnino dan Reynaldi. Beberapa minggu belakangan, Aryo meminta timnya untuk menyelidiki satu persatu riwayat para tetua yang sebelumnya menjabat sebagai Presiden Direktur Harapan Jaya Group. Sebelas tahun yang lalu, tepatnya saat Reynaldi Brodjohujodyo menjabat sebagai Presdir, ditemukan beberapa berkas mengenai hal yang dilakukan omnya itu selama masa menjabat. Berkas-berkas tersebut terdiri dari data pengeluaran perusahaan untuk pembelian property ilegal dan beberapa juga adalah pengeluaran yang dipergunakan untuk hal yang tidak ada korelasinya dengan kepentingan perusahaan.

Aryo tidak punya waktu lagi karena Reynaldi akan menghabisi Rudi dalam waktu dekat. Berdasarkan informasi yang didapat oleh Tiara, untuk menarik musuh ke dalam perangkap, diperlukan sebuah umpan yang besar. Reynaldi ingin menemukan keturunan Erlangga di hadapannya, jadi Aryo harus memberi umpan tersebut pada Reynaldi.

Egha memerhatikan tuan dan nyonyanya dari kaca kecil dekat kemudi di jok belakang mobil. Aryo dan Tiara sudah lengket lagi seperti diberi power glue. Padahal beberapa menit yang lalu, tuan dan nyonyanya itu saling berdebat untuk menyuarakan pendapat masing-masing.

“Kamu harus minta maaf sama Egha,” ujar Aryo pada Tiara. Aryo merengkuh istrinya dari samping yang membuat Tiara nampak kecil di dalam dekapannya.

“Aku tahu kesalahanku. Tapi kenapa minta maaf Egha?”

“Aku marahin Egha karena nurutin kamu datang ke pesta itu. Bisa-bisanya Egha lebih nurut sama kamu ketimbang aku, bosnya sendiri.”

Tiara mendongak untuk menatap wajah Aryo yang berada lebih tinggi dari posisinya. Bibir perempuan itu mem-pouty diiringi puppy eyes-nya. “Bukan salah Egha, tapi salah aku. Maaf ya, aku udah buat kamu khawatir. Egha maafin gue juga ya,” ucap Tiara dengan nada penuh penyesalannya.

“Ohiya, kamu belum tau hukuman kamu.” Aryo meletakkan telunjuknya di ujung hidung Tiara, lalu sedikit menekannya gemas disana.

“Kamu tega ngehukum istri sendiri?”

“Aku tega karena aku sayang kamu.”

“Oke. Jadi apa hukumannya?”

Aryo mengangkat tangannya dan mengusap sisi kepala Tiara dengan lembut, lalu ia mengambil mantel untuk memakaikannya di tubuh Tiara.

“Nyonya Mutiarani Ivanka Brodjohujodyo, hukuman untuk Anda adalah, Anda harus diawasi oleh tambahan bodyguard yang akan menjaga Anda selama 24 jam.”

Really? 24 jam?”

Aryo tertawa mendapati ekspresi Tiara yang menggemaskan menurutnya. “Intinya, kalau kamu pergi kemana pun, kamu akan selalu di kawal. Oke, Ma'am?

Tiara nampak berpikir. Ia tidak bisa membayangkan hal tersebut. Namun situasinya mengharuskan begitu dan Tiara tidak ingin membuat Aryo khawatir terhadapnya.

Oke, Sir. I will accept the punishment.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷