The Confession

Aryo dan Tiara memutuskan untuk menelfon Felicia sebelum mereka berangkat. Suara mama terdengar begitu bahagia mengetahui Aryo dan Tiara akan pergi honeymoon selama satu minggu.

“Mah,” ucap Tiara sebelum mengakhiri telefonnya dan menyusul Aryo untuk turun ke bawah.

“Iya Tiara, ada apa? Apa ada tips yang belum Mama kasih tau sama kamu?” tanya Felicia dengan nadanya yang terdengar bersemangat dan bahagia.

“Sebenarnya ada hal lain yang mau Tiara sampaikan Mah,” ucap Tiara.

“Apa itu, Sayang?”

“Aryo dan Tiara mau minta maaf. Kita udah buat Mama dan papa nunggu lama untuk ini.”

***

Tiara berada di dalam mobil sementara Aryo sedang turun untuk memastikan kondisi ban mobil mereka. Tiara membuka jendela di sampingnya dan melongokkan kepalanya. “Masih lama?” tanyanya pada Aryo.

Aryo berjalan mendekati Tiara. “Sebentar lagi. Kenapa?”

“Tapi mobilnya nggak papa kan?”

“Cuma kurang angin, diisi nitrogen dikit udah bisa jalan lagi.”

“Oke. Nggak mau nunggu di mobil aja?” saran Tiara.

“Nunggu di luar kayaknya panas,” sambung Tiara terdengar meyakinkan.

Voila.

Aryo pun menurutinya.

Ketika Aryo baru masuk dan menghadap ke arah Tiara, gadis itu menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Bukan sebuah tatapan jahil atau jutek khasnya. Tatapan itu seperti menyimpan banyak hal yang belum mampu untuk diungkapkan.

“Ra, kenapa?” tanya Aryo.

“Nggak papa,” jawab Tiara dan Aryo pun nampak bingung.

“Yaudah gue turun dulu ya. Kayaknya udah selesai isi nitrogennya,” Aryo hendak membuka pintu mobilnya untuk turun, tapi Tiara menahan lengannya.

Tidak sampai dua detik setelahnya, Aryo mendapati Tiara mencium bibirnya. Awalnya Tiara hanya menempelkan bibirnya pada bibir Aryo. Kemudian mereka saling menjauh dan memberi ruang, kedua mata mereka pun saling bertemu. Setelah sebuah anggukan dan senyum kecil di bibir Tiara, Aryo mulai mengambil penuh kendalinya. Ia melumat lembut belah bibir Tiara dan perlahan Tiara mulai mencoba membalas ciuman itu.

“Kita lupa sesuatu,” ucap Tiara ketika ia memutus sepihak pagutan bibir mereka dan tangannya menahan dada bidang Aryo. Padahal Aryo baru akan mengabsen bagian dalam mulutnya.

Kini yang didapati Tiara adalah Aryo dengan wajah tampannya, tapi terlihat bodoh disaat bersamaan. Tiara pun tertawa mendapati ekspresi Aryo yang baru pertama kali ia saksikan itu.

“Kasian masnya nungguin lo buat bayar. Emang isi nitrogen selama ini?”

“Tapi tadi itu baru sebentar, Ra,” ucap Aryo dengan wajah memelasnya.

***

Tempat yang menjadi tujuan mereka ditempuh dalam waktu delapan jam dengan perjalanan udara menggunakan penerbangan first class. Perjalanan yang cukup menguras tenaga tersebut terbayarkan dengan pemandangan yang tidak ternilai. Maladewa atau yang dikenal dengan Maldives itu menjadi destinasi honeymoon Aryo dan Tiara.

Ketika menginjakkan kaki di Alimatha, salah satu pulau tercantik di Maldives, Aryo dan Tiara disambut oleh pemandangan air laut berwarna biru yang cantik dan begitu jernih. Selain itu alam cantik di sekitaran pantai nampak begitu menakjubkan, membuat pikiran terasa tenang dan rileks ketika memandangnya.

Tiara menoleh dan mendapati Aryo menghampirinya dari arah belakang. Tiara memperhatikan penampilan Aryo yang nampak berkali lipat lebih tampan dengan stelan kemeja oversized putih dan celana chino pendek berwarna caramel.

Tiara sudah tidak sabar menuju pantai, jadi Aryo sedikit kelimpungan ketika mendapati Tiara menghilang dari sisinya. Aryo harus bertemu dengan pengurus resort terlebih dulu untuk mengambil kunci dan ia langsung mencari keberadaan Tiara.

“Gue kira lo ilang tadi,” ujar Aryo.

“Nggak mungkin lah gue ilang. Emang siapa juga yang mau nyulik gue. Lo tau dari mana gue di sini?”

“Pake perasaan nyarinya,” ujar Aryo sambil melemparkan tatapan menggodanya pada Tiara. Padahal sebenarnya ia bertanya pada salah satu petugas resort untuk menemukan keberadaan istrinya itu.

“Lo suka tempat ini?” tanya Aryo ketika ia berhasil menyamai langkahnya dengan Tiara.

Tiara tersenyum dan ia mengangguk dengan antusias. Aryo mengikuti Tiara yang berjalan menyusuri pantai dan gadis itu mempercepat langkahnya. Tiara menoleh dan menjulurkan tangannya ke belakang, sambil menorehkan senyum jahil khasnya.

Catch me if you can,” tantang Tiara dengan suaranya yang sedikit ia kencangkan guna mengalahkan deru ombak yang mengajak suaranya beradu.

Don't regret it then,” balas Aryo.

Baru sekitar seratus meter ia berlari, Aryo sudah berhasil menangkapnya. “Say that you’re regret for teased on me,” ucap Aryo di dekat telinganya.

Never,” jawab Tiara dengan nada jahilnya.

“Kalau begitu, Anda akan mendapatkan hukuman, Nyonya.”

Lengan Aryo bergerak menghela tubuh Tiara agar mereka saling berhadapan. Kemudian dengan gerakan halus, Aryo menghela kedua lengan untuk Tiara melingkar di bahunya.

“Atas alasan apa saya dihukum?” tanya Tiara.

“Alasannya karena Anda telah membawa bencana indah ke dalam hidup saya, Nyonya Tiara,” ujar Aryo sambil mengunci pandangan Tiara. Tiara yang ditatap seperti itu otomatis mengulaskan senyumnya.

“Ra, I want to make a confession to you,” Aryo menjeda ucapannya dan menyelam ke iris legam Tiara. “I'm falling for you, Tiara,” Aryo mengulaskan senyumnya hingga dua buah eye smile tercetak di wajahnya. “I want you to stay with me. I want to see your smile every day, and make you happy to be my side. I love you more than I can ever saying. Maaf, aku baru ngasih tau kamu soal perasaanku.”

Tiara mencerna semua kalimat yang Aryo utarakan, ia lantas menatap Aryo dengan tatapan harunya. Ia mengatakan bahwa dirinya benar-benar merasa bahagia setiap waktu yang dijalaninya bersama Aryo. Momen tersebut akan selalu tersimpan di dalam memorinya. Momen bersama orang yang membuatnya merasakan perasaan cinta hingga sedalam ini.

I will keep this happy moment with you in my memory,” Tiara mengangkat tangannya untuk mengusap sisi wajah Aryo. Aryo balas menatap Tiara penuh cinta, lalu ia mengarahkan tangannya untuk mengusap tangan Tiara yang masih berada di sisi wajahnya.

Tiara berpikir bahwa ia sudah jatuh cinta pada Aryo sejak tangannya terulur dan menyebutkan namanya di hadapan pria ini. Meskipun saat itu Tiara belum yakin terhadap perasaannya, Tiara sangat ingin Aryo mengingat pertemuan mereka dan berharap akan dipertemukan di lain kesempatan. Takdir pun menjawab keinginannya. Namun kenyataan kembali menghempaskan Tiara ke dalam jurang yang terpaksa memisahkan perasaannya pada Aryo. Sebuah kejadian di masa lalu yang mungkin akan menjadi penyebab retaknya rumah tangga mereka.

Tiara lantas menangkup kedua sisi wajah Aryo dengan tangannya. “Aryo,” Tiara menjeda ucapannya sesaat, ia menatap Aryo dengan tatapan sayangnya, “Thank you for loving me. You know, from the day we met, I started fell in love with you. I don't have any idea with that, but that is the truth.

Tiara and Aryo at Beach

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷