The Double Date
Pada sebuah papan besar yang merupakan mood board untuk para model, salah satunya terdapat nama Karina Roland di sana. Di mood board tersebut terdapat foto busana yang akan Karin kenakan pada fashion parade. Ada dua buah gaun cantik yang merupakan brand dari Indonesia, yang malam ini akan dipakai oleh Karin dan dibawa berjalan di atas catwalk.
Sekitar dua minggu yang lalu, Karin mendapat tawaran untuk menjadi perwakilan model dari brand Rachel & Rebecca untuk Fashion Parade di Singapore. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, Karin memutuskan mengambil kesempatan yang diberikan padanya. Karin sudah mendiskusikannya pada Aryan dan lelaki itu mengizinkannya untuk pergi. Sebelumnya Karin juga telah meminta pendapat dokter kandungannya dan rupanya kondisinya juga baik, jadi Karin memutuskan mengambil pekerjaan ini.
Selama kurang lebih 3 jam termasuk persiapan, show tersebut berjalan dengan cukup lancar. Selain bertemu dengan para model dari berbagai negara, Karin juga bertemu dengan para desainer yang memiliki keunikan masing-masing pada setiap rancangan mereka.
“Karina, you look so beautiful and gorgeous,” ujar seorang desainer sembari memperhatikan Karin yang baru saja kembali ke backstage. Gaun off shoulder berwarna putih nampak begitu cantik membalut tubuh semampai Karin.

Karin pun mengulaskan senyumnya pada desainer perempuan bersurai blonde di hadadapannya. “Thank you very much, Alicia,” ucap Karin.
“I hope that next time you willing to wear my design. I will contact your manager as soon as possible,” ucap Alicia lagi.
“It's my plessure. Your design is very amazing too. I will glad to wear it in next project,” balas Karin.
Percakapan Karin dengan Alicia pun berakhir ketika seorang asisten menghampiri Karin dan menyampaikan sesuatu padanya. Nia yang merupakan asisten sudah cukup kenal dengan Karin, menyampaikan sesuatu padanya.
“Oke Nia, makasih ya infonya,” ucap Karin.
“Sama-sama Mbak. Aku ke sana dulu ya, masih ada model yang harus ready sebentar lagi.”
Karin pun menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya Nia melenggang dari hadapannya. Saat Nia sudah menjauh dan menghilang di antara orang-orang, Karin pun bergegas keluar dari backstage.
Kaki jenjang Karin membawanya menuju ke arah ruang tunggu yang dikhususkan untuk keluarga para model. Ketika sampai di sana, mata Karin langsung menangkap sosok yang begitu fameliar baginya. Saat Karin akan menghampiri sosok itu, sebuah bunyi tanda pesan yang masuk dari ponselnya pun menahan langkah Karin.
Karin pun melihat layar ponselnya. Itu adalah pesan dari Rey. Rey mengatakan bahwa ia telah sampai di gedung ini dan akan menemuinya. Karin segera membalas pesan Rey dan mengatakan kalau Rey perlu menunggunya sebentar lagi.
Setelah memberitahu Rey, Karin berniat menghampiri sosok jangkung itu. Namun ketika baru beberapa langkah, orang itu rupanya lebih dulu mendapati kehadiran Karin di sana dan segera melangkah menghampirinya.
Sesampainya sosok jangkung itu hadapan Karin, ia melepas jaket denim yang dipakainya dan mengangsurkannya ke bahu Karin. Sepersekian detik kemudian, Karin memperhatikan kedua bahunya yang sebelumnya terekspos, kini telah tertutup oleh jaket itu.
“Acaranya udah selesai, kan? Biar kamu nggak kedinginan, pakai jaket aku ya,” ujar Aryan seolah dapat membaca pikiran yang ada di dalam benak Karin. Karin pun hanya mengangguk sekilas.
“Kamu udah ketemu sama Kina?” tanya Karin setelah beberapa saat keduanya tidak mengatakan apa pun.
“Kak?” Karin pun kembali melontarkan pertanyaan kala Aryan malah cuma menatapnya.
“Oh iya, belum. Aku belum ketemu sama Kina.” Aryan pun segera menjawab dan mengalihkan tatapannya dari Karin. Kini netranya tidak seintens sebelumnya menatap Karin. Beberapa detik yang lalu, Aryan sempat memperhatikan sampai tidak mampu mengalihkan pandangannya dari Karin.
Karin nampak sangat cantik menggunakan dress itu, pikir Aryan.
“Kamu udah janjian sama Kina?” Karin bertanya lagi pada Aryan.
“Udah. Cuma tadi ada asisten yang namanya Nia, dia tau kalau aku suami kamu. Jadi dia saranin aku buat nunggu di sini. Aku udah coba telfon Kina, mungkin dia belum sempat pegang hp, jadi telfonku belum diangkat.”
Aryan adalah suami Karin, itu lah yang diketahui oleh publik. Namun kenyataan yang terjadi sangatlah berbeda. Sementara yang tidak diketahui publik, Aryan ada di sini untuk mencari Kina, bukan Karin. Jadi sebelumnya Nia memberitahu pada Karin bahwa suaminya sedang menunggunya di ruang tunggu khusus keluarga.
Aryan datang untuk Kina dan mungkin mereka memiliki rencana setelah ini. Karin tidak tahu pasti mengenai hal tersebut. Karin dan Kina berada di project yang sama, tapi mereka mewakili brand fashion yang berbeda.
Aryan dan Karin akhirnya keluar dari ruang tunggu. Karin berniat mengantar Aryan ke backstage di mana Kina berada, tapi langkah keduanya seketika terhenti kala mendapati sosok Kina dari arah yang berlawanan.
“Sayang, maaf ya, aku baru bisa pegang hp. Jadi baru baca chat kamu,” ujar Kina saat dirinya telah berada di hadapan Aryan.
“Nggak papa,” balas Aryan sembari menorehkan senyumnya kepada Kina.
Pandangan Kina sontak beralih dari Aryan kepada Karin yang berada di samping Aryan. Mereka bertiga saling bertatapan selama beberapa detik, sampai Karin akhirnya lebih dulu berujar untuk berpamitan dari hadapan Aryan dan Kina.
Namun saat Karin melangkah berbalik, langkahnya justru tertahan begitu netranya menangkap sosok Rey yang berjarak tidak jauh dari posisinya saat ini. Rey pun segera berjalan menghampiri Karin dan ketika sampai di hadapannya, Rey menatap Karin dengan tatapan bangganya.
“You look so amazing tonight,” ucap Rey masih sambil menatap Karin. Kemudian seulas senyum simpul pun tercetak di wajah Rey.
Karin menatap Rey dengan tatapan bertanya. Seolah tau isi pikiran Karin, Rey pun kembali berujar, “As you see, aku dateng, Karin. Bahkan tadi aku sempat liat kamu di catwalk.” Sebelumnya Rey mengatakan bahwa ia tidak bisa datang, tapi rupanya Rey sudah berniat memberi kejutan untuk Karin dengan kehadirannya yang mendadak.
Senyum Karin pun terulas begitu saja, lalu perempuan itu berujar, “Makasih ya Rey, kamu udah sempetin buat dateng.”
Tentu di sana Rey menangkap sosok Aryan dan Kina yang tidak jauh dari posisinya dan Karin. Sebelum Rey menanyakan sesuatu pada Karin, Kina rupanya lebih dulu membuka suaranya dan perempuan itu rupanya sudah berada di hadapan Rey dan Karin.
“Kalian mau date juga setelah ini?” tanya Kina.
Rey dan Karin pun saling melempar pandangan akan pertanyaan Kina yang spontan itu.
“I think the answer is yes. So same like me and Aryan. Gimana kalau kita double date aja? Nggak usah khawatir publik akan curiga soal hubungan kita. Kamarku lebih dari cukup untuk kita berempat. Aku pastiin semuanya akan aman,” ujar Kina lagi.
Rupanya Aryan sudah berada di samping Kina dan kini menggenggam tangannya. “Kina,” ujar Aryan sambil menatap Kina. Aryan seperti mengetahui maksud tujuan Kina dan lelaki itu mencoba untuk mencegahnya.
“Sayang, nggak papa dong kita double date. Ini buat sekalian ngerayain suksesnya fashion show aku dan Karin,” ujar Kina. Detik berikutnya pun Kina mengalihkan tatapannya pada Karin dan Rey sembari berujar, “Gimana Karin, Rey? Kalian mau kan join sama kita?”
***
Mereka berempat duduk berhadapan sembari menyantap sebuah hidangan makan malam yang dipesan dari restoran yang terletak di lantai bawah hotel ini.
“Karin, Rey, soal kejadian di lapangan waktu itu, gue minta maaf ya sama kalian. Gue nggak bermaksud untuk bersikap kayak gitu,” ujar Kina setelah meneguk minumannya dan meletakkan gelasnya di meja. “Gue hampir aja nyakitin Karin. Gue nyesel banget dan tau kalau gue salah. Karin, sekali lagi gue minta maaf ya,” sambung Kina.
Sebelum kejadian di Bali waktu itu, Karin dan Kina memang saling mengenal dengan baik. Namun kini hubungan keduanya terasa berbeda. Belum ada percakapan antara Karin dan Kina sejak itu, tapi kini mendadak Kina meminta maaf.
Rey pun menatap Karin sejenak, seolah tatapannya bertanya pada Karin mengenai sesuatu. Karin mengulaskan senyumnya, lalu ia mengangguk dan mengusap tangan Rey yang berada di bawah meja.
Karin menatap Kina sembari berujar, “Kina, aku udah maafin kamu. Kak Aryan mungkin udah kasih tau ke kamu soal malam itu. Aku mau memperjelas aja, kejadian di Bali antara aku dan Kak Aryan, semua itu terjadi karena ketidaksengajaan.”
***
“Oke, sebelum double date kita berakhir, kita akan main truth or dare,” ujar Kina memulai pembicaraan di meja itu.
Setelah makan malam selesai, mereka berempat setuju untuk melakukan sebuah permainan. Kina sudah memegang sebuah pulpen dan memutarnya di tengah meja. Saat benda kecil itu berhenti dan mengarah pada seseorang, maka orang itu harus memilih antara truth atau dare.
“Oh my god, it's you're turn,” seru Kina begitu pulpennya berhenti dan mengarah ke Aryan.
“Oke, I choose truth,” ujar Aryan.
Di antara Karin dan Rey yang tidak ingin memberi pertanyaan pada Aryan, Kina pun memutuskan menjadi orang yang akan melempar pertanyaan.
“Did you have a crush before we met?” tanya Kina sembari menatap Aryan.
Sebelum menjawab, Aryan menatap satu persatu mereka yang ada di sana. Berakhirlah tatapannya pada Kina dan ia berujar, “Yes, I did.”
“Can you give us more clue?” tanya Kina lagi.
“Oke. The clue is you know her.”
“Oh my god. Really?“
“Yes. But it's only a past. Nggak ada hubungannya dengan saat ini. I just amazed with her, I never think it is a love, that's it,” ungkap Aryan.
Permainan akhirnya dilanjut setelah Aryan menyelesaikan jawabannya. Kini Aryan yang mendapat giliran memutar pulpennya dan benda itu pun berhenti menghadap tepat ke arah Rey.
Rey pun memilih truth dan giliran Karin yang akan melontarkan pertanyaannya.
“Do you have a biggest secret in your life? You can tell us the clue, just a little bit,” ujar Karin sambil menatap Rey.
Rey nampak berpikir sejenak, alis tebal lelaki itu lantas menyatu. Rey berdeham sebelum akhirnya menjawab. “Oke, I have that one. I know someone who have crush on Karin. Just it,” ujar Rey memberikan jawabannya.
Permainan pun kembali dilanjutkan. Kini Karin yang mendapat giliran untuk bermain.
“I choose dare,” ucap Karin.
“Alright. Gue akan kasih dare buat Karin,” sahut Kina tepat setelah Karin memilih.
“Take a note guys, I'm just curious about this. Karin, apa lo punya perasaan ke seseorang di ruangan ini? Tentu selain Rey, karena udah jelas kan kalau lo mencintai Rey,” ujar Kina.
Mendengar ujaran dari Kina, Rey langsung menatap ke arah Kina. Kina yang mendapat tatapan kurang enak dari Rey itu kembali berujar, “Tenang, Rey. Ini cuma permainan, kan? Nggak menutup kemungkinan kalau Karin punya perasaan ke Aryan. Aku nggak meragukan pacarku, aku cuma penasaran aja.”
“Kina, dengan lo bilang lo nggak meragukan pacar lo, artinya lo meragukan Karin,” ujar Rey dengan nada sarkasnya.
“Lho, kalau gitu lo juga meragukan Karin dong? Kalau lo percaya sama Karin dan hubungan kalian, everything is oke if I asked Karin like that.” Kina menatap Karin dan Aryan secara bergantian. Aryan pun membalas tatapan Kina dengan tatapan memperingati.
“Kina, kamu bisa minta Karin ngelakuin sesuatu, tapi semua tetap ada aturannya. Kalau kamu nggak bisa ngikutin aturannya, lebih baik kita udahin aja permainan ini,” ujar Aryan.
Karin pun menatap Rey dan mencoba untuk menenangkan kekasihnya. Beberapa saat kemudian, Karin mengalihkan tatapannya pada Kina dan berkata, “Kina, kamu bisa kasih tau aku apa yang harus aku lakuin untuk dare.”
“Oke, ini simple kok. Kamu buktiin kalau kamu emang nggak ada perasaan ke pacarku. Kiss him and the dare will complete,” ucap Kina.
Ucapan Kina yang terasa sangat enteng keluar dari mulutnya itu rupanya dapat membuat emosi Rey tersulut. Rey masih diam di tempatnya, tapi Karin tau kekasihnya itu sedang berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak.
“Kina, kamu udah kejauhan. It's not make sense at all. We need to stop this,” tegas Aryan.
Kina menatap Aryan dengan tatapan memicingnya. “Oh, atau kamu udah mulai ada perasaan ke Karin? Nggak ada salahnya dengan kissing, kan? Kalau kalian nggak ada perasaan. Kenapa seolah-olah kalian berdua lagi sama-sama nyembunyiin sesuatu?” balas Kina yang masih bersikap keras kepala.
Tanpa aba-aba, Rey pun meraih tangan Karin dan memintanya untuk bangun dari duduknya. Karin mengangguki ajakan Rey tersebut. Ia akan mengambil tasnya di sofa baru kemudian mereka bisa pergi dari sana.
“Rey, sebentar,” ujar Karin menahan Rey ketika mereka hampir sampai di pintu. Karin pun berbalik untuk kembali berhadapan dengan Kina dan Aryan.
“Kina, seharusnya kamu nggak perlu pembuktian apa pun. Seharusnya kamu bisa melihat dan percaya. Selama ini Kak Aryan ngelakuin semua untuk kamu karena dia mencintai kamu,” ujar Karin. Setelah menatap Kina, kini Karin beralih menatap Aryan, “Kak, aku pamit dulu ya. Makasih buat makan malamnya, aku sama Rey permisi.”
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷